PAWUKON: KALENDER BUDAYA DAN IMAJINASI KEBANGSAAN


Oleh: Sugi Lanus

Di bawah ini hanya cuplikan dari working paper riset makna kultural dari pawukon di Lombok, Bali, Jawa, Sunda.

Suku Sunda, Jawa, Bali dan Lombok bisa dikatakan menjadi suku-suku yang sangat vital posisi tawarnya terbentuknya negara Indonesia. Hal ini mengingat warganya, khususnya Jawa dan Sunda, adalah mayoritas dan ‘penentu sejarah’ – baik dari segi jumlah dan juga dari segi panjangnya kesejarahan mereka sebagai sebuah rumpun bangsa serta pengalaman pengoranisasian mereka dari masa pre-historis sampai masa kerajaan kuna dan modern.

Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan bangsa Sunda, Jawa, Bali dan Lombok yang panjang itu diikat oleh sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu oleh pada sistem kalender pawukon – pawukon (30 x 7 hari = 210 hari) dan wewaran (terdiri dari siklus putaran 1 sampai siklus putaran 10) yang diikatkan atau dikombinasikan dengan sitem lunar dan solar – yang mulai dikenal semenjak jaman Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi.

Pawukon sampai saat ini masih sangat relevan mengatur kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok. Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih relevan dimainkan pawukon dan wewaran dalam kehidupan masyarakat Sunda, Jawa, Bali dan Lombok:
1. Mengatur kalender atau agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan (Padewan lan upacarane), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).
2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup, pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut dirangkai atau dilalui lewat slametan (Kabilaèn lan tulak slamêtane).
3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’ dan ruwatannya (Pacandran lan pralambange apadene pangruwate).
4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara jiwa dan obat penghilang lara (Sarat pangupajiwa lan tamba lêlara).
5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup dengan alam dan manusia lain, ini ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gêmêt sajroning wuku sawiji).

Pawukon adalah ‘sistem keyakinan bersama yang padu secara imajiner’ yang menyatukan ‘imajinasi’ mereka sebagai sebuah rumpun bangsa-bangsa. Dalam kehidupan rumpun manusia Sunda, Jawa, Bali dan Lombok (Indonesia), sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kebangsaannya’ masing-masing, mereka dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan bersama, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, ditambah ‘perangai’ wewaran yang memuat berbagai simbul kultural dan sarat mitos. Warga rumpun bangsa Sunda, Jawa, Bali dan Lombok yang lahir sebelum kemerdekaan Indonesia – yang nantinya membentuk negara Indonesia – dari berabad-abad lampau, semenjak nenek moyang mereka, telah diasah dan ‘bertemu’ dalam ‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut, dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh kedalaman rasa akibat berpedoman pada kalender pawukon yang sama.

Pawukon telah berperan sebagai untaian yang mempersatukan irama kehidupan rumpun manusia Sunda, Jawa, Bali dan Lombok secara ‘ritmik-kalenderik’: Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan ‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga berbagai mitologi yang melingkupinya; Bagaimana menemukan hari baik buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan dan berbagai ragam karya untuk kehidupan; Bagaimana memposisikan diri dan mengambil peran dalam memaknai gelagat dan perubahan bangsanya.

Pawukon secara ‘misterius’ menjadi salah-satu pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, dan memberi andil dalam membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang archaic dan kontekstual, namun kurang mendapat perhatian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s