WEDA SATRIA


*Catatan Harian Sugi Lanus

Banyak lontar koleksi Raja Raja Bali dulu isinya KAVACA-MANTRA: Mantra Perang. Peneguhan hati. Mantra perlindungan batin dan sang diri. Di samping kavaca-mantra, para raja dan satria punya Weda Satria, puja pagi para sastria, yang dipanjatkan wajib sebagai berdoa dan puja pagi seorang satria.

Raja dalam prosesi pengangkatannya di-ABHISEKA. Lewat proses diksha. Sehingga wajib hukumnya bagi raja untuk melalukan “suryasewana” dengan pedoman Weda Satria, sama dengan sulinggih harus nyurya sewana, hanya beda manual book saja.
Puja pagi Raja ini yang membedakan Raja dengan satria biasa, atau orang kebanyakan, adalah seorang Raja melakukan puja pagi, pedomannya Weda Satria.

Wesya dan pedagang punya Puja Pagi tersendiri. Buka warung atau toko, di pasar dengan sembahyang di Pura Melanting dll.  Para tani dan pekerja pertanian punya Puja sesuai Dharma Pamaculan. Puja dari menjemput air, membenih, biyu kukung dstnya sampai panen dan meletakkan hasil di lumbung.

SEMUA WARNA PUNYA KEMULIAAN YANG SEPADAN DI HADAPAN SEMESTA ALAM. Semua punya puja pagi dan puja swadharmanya. Jika dijalankan dengan baik, seorang petani bisa mencapai kemuliaan tertinggi sebagaimana juga jika seorang sulinggih tekun melakukan puja.

Melihat Puja dari masing masing warna itu dengan pedomannya yang ada di berbagai lontar, sangat jelas, sangat rinci, semua warna menuju keheningan Puja dalam warna puja masing masing.

Keindahan puja petani luar biasa. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa BULIR-BULIR PADI yang dipetik dari lahan pertanian orang Bali, di tangan orang Hindu yang melakukan kerja keras dan puja mendalam, BULIR PADI adalah BULIR-BULIR DOA & KERINGAT.

Puja Satria atau Weda Satria telah banyak dilupakan. Jika trah para satria tiada paham puja (gegelaran) yang harus diujarkan sebagai doa kepada alam semesta dan jiwa umat manusia, masih adakah kaum satria?

Puja dan peneguhan batin yang kita ucapkan sebagai janji diri itulah yang membedakan kita dengan warna kekaryaan kita. Kekaryaan (jenis pekerjaan dalam mencari makan dan penghidupan) kita dan doa/puja yang menyertai tersebut yang disebut dalam terminologi kuno India sebagai Varna.

Tanpa doa puja dan kekaryaan kita tidak punya SWADHARMA, kita tidak punya VARNA, kita hanya penumpang gelap dalam kehidupan. Inilah visi Hindu klasik, agar kita punya atau memilih SVADHARMA dan VARNA, kekaryaan pengabdian dilengkapi puja doa bagi semua makhluk.

Puja Satria, Puja Wesya, Puja Sudra, Puja Brahmana, semuanya sama mulia: Sama-sama mendoakan kesucian dan keharmonisan semesta dan isinya. Secara instrinsik semua puja mantra mereka sepadan, setara, yang nantinya membedakan adalah dorongan niat apa yang memboncengi puja doa mereka. Tidak penting lagi kita trah Brahmin, Satria, Wesya, Sudra, atau lahir dari Candala: Ketulusan atau kepongahan kah yang memboncengi doa-doa kita itu? Di situlah letak pembedanya.

Doa-doa tertulus yang utama, bukan doa-doa yang diucapkan siapa.

Pesan dari sistem Varna adalah kekaryaan yang kita pilih (atau kita jadikan pekerjaan atau pengupa jiwa) adalah warna kita, apapun latar belakang historis leluhur kita. Mobilitas (perpindahan) warna dan swadharma terjadi dalam sejarah. Brahmana menjadi punggawa, petani menjadi pertapa atau biksu, satria menjadi candala karena berbuat di luar etika, dstnya.  Ini memang sulit menerima terutama yang masih berpikir ada warna yang lebih mulia dari yang satunya. Kalau berani berpikir merdeka, dan secara mendalam mengakui masing masing warna punya kemulian masing-masing, maka memilih doa sesuai swadharma kita masing masing sekarang bukan hal yang kontraversial.

Pitutur dan petuah leluhur Bali: “Ngiring margiang swadharmane sowang-sowang”. Marilah jalankan swadharma kita masing-masing (tidak usah dipertentangkan tapi tekuni sedalam-dalamnya swadharma atau kekaryaan kita masing-masing).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s