HANACARAKA & DIALEKTIKA KEJAWEN


– Catatan Harian Sugi Lanus, Redite 17 Mei 2015.

Masuknya Islam ke Jawa menjadikan wilayah Jawa sebagai tempat dimana ajaran ketuhanan Islam harus disemai di atas sisa-sisa peninggalan peradaban Siwa dan Buddha.

Akasara Jawa pun tidak lepas dari strategi “dialektika politik Kejawen” yang menggarap urutan alphabet Jawa dari ‘ka-kha-ga-nga’ menjadi ‘ha-na-ca-ra-ka’.

Ada indikasi kuat setelah Islam hampir menguasai seluluh wilayah Jawa abad 17, urutan alphabet dan aksara Jawa dirubah dan “dimodernisasi”, disusupkan kisah baru tentang dua-caraka-yang-sama-sakti ‘Hanacaraka’. Munculah kisah caraka (abdi)-nya Aji Saka dan caraka-nya Muhammad yang bertarung ‘pada-jaya-nya’, pertarungan pilih tanding, sama saktinya.

Di bawah ini adalah alphabet Jawa Kuna (lihat foto/gambar).

Alphabet ‘ha-na-ca-ra-ka’ pun mempengaruhi pengajaran aksara Bali, baca tulis, dulunya perpedoman pada alphabet Jawa Kuno dan Bali Kuno, dengan pengajaran aksara diawali dengan menghafal dan menilis aksara “ka-ki-ku-ke-ko” lalu dilanjutkan dengan “ga-gi-gu-ge-go” dan seterusnya.

Pengajaran Hanacaraka di Bali dan kisah hilangnya 2 aksara, yang katanya hanyut di Selat Bali, diperkirakan baru muncul sekitar tahun 1875 seiring pendidikan sekolah rakyat kelas 2 di Bali (Buleleng) memakai/mengadopsi pengajaran aksara Jawa. Buku pedoman pengajaran sekolah rakyat selanjutnya disusun oleh I Ranta mengadopsi pengajaran baca tulis aksara Jawa. Sebelum itu pengajaran di kalangan Bali dengan cara “ka-ki-ku-ke-ko”. Tidak ada dulu kisah 2 aksara jatuh/hayut/kecag di Selat Bali. Aksara yang disebut hanyut itu masih tetap dipakai dalam lontar-lontar Bali sampai kini.

Alphabet Hanacaraka pertama kali muncul dalam karya “Serat Sastra Gending” karya salah satu Raja Jawa yang masyur yaitu Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma (1593-1645), dikenal sebagai Sultan Agung, memerintah Jawa pada tahun 1613 sampai 1645. Penyusunan Ha-na-ca-ra-ka itu termuat penjelasannya dalam karya tersebut sebagai berikut:

1. Bahasa Jawa.

“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.

Bahasa Indonesia.

“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (aksara) dan bunyi gending (macepat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”

2. Bahasa Jawa

“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.

Bahasa Indonesia

“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.

3. Bahasa Jawa.

“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”

Bahasa Indonesia

“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.

4. Bahasa Jawa.

“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.

Bahasa Indonesia.

“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.

5. Bahasa Jawa.

“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.

Bahasa Indonesia.

“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.

6. Bahasa Jawa.

“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.

Bahasa Indonesia

“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”.

SULTAN AGUNG menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending, beliau memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. istem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Sekalipun kalender dicampur, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke tahun 1547 Jawa.

Hanacaraka dan Kalender Jawa yang “direkomposisi” oleh Sultan Agung adalah sebuah “dialektika Kejawen”. Kalender Jawa ini mengakomodasi kalender kebudayaan Jawa sekaligus kalender Islam. Hancaraka memuat kisah bahwa aksara di Jawa dibawa oleh Aji Saka, sekaligus menyerap kisah kedatangan utusan Nabi Muhammad.

Apa yang kita bisa pelajari dari Sultan Agung: Beliau memilih “mendamaikan’ ajaran leluhur dengan “ajaran yang datang belakangan”, dibanding mempertentangkan keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s