“NANDURIN KARANG AWAK”: MENYEMAI DI LADANG DIRI.


Oleh Sugi Lanus
 
Nandurin Karang Awak” diambil dari sebaris kalimat yang ditulis Ida Pedanda Made Sidemen dalam puisi (geguritan) berjudul “Selampah Laku“.
 
Karang‘ berarti tanah, ‘awak‘ berarti diri (di dalamnya mencakup diri saya, kamu atau pribadi lainnya), sedangkan ‘nandurin’ berarti mengolah atau menanam. Frase “nandurin karang awak” merupakan ucapan atau nasihat sang penyair kepada sang istri ketika memulai pengisahan perjalanan hidupnya, sebagaimana yang disurat dalam Geguritan Selampah Laku.
 
Kutipan sebait bait lengkap dari Geguritan Selampah lagu yang berisi ‘karang awak’ sebagai berikut:
 
“Beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo ring desa-desa.”
 
Syair itu dapat diartikan:
 
“Kanda sekarang, bersiap menjalani hidup dalam kesederhanaan, tidak punya tanah sawah, pekarangan badan-lah yang (kita) tanami, menjalani hidup dengan pedoman pengetahuan dan kesahajaan pedesaan, sebagaimana berlaku di desa-desa.”
 
Entitas ‘karang‘, ‘awak‘ dan ‘tandurin‘ sebenarnya independen. Namun, dalam kehidupan, ketiganya justru saling tergantung satu sama lain, dalam relasi oleh manusia dengan alam dan budaya agraris. ‘Nandurin‘ menjadi representasi dari kegiatan pertanian, ‘karang‘ menjadi representasi alam, dan ‘awak‘ adalah representasi diri manusia.
 
Melalui gagasan ini, Ida Pedanda Made Sidemen mengajak setiap pembacanya untuk melihat ke dalam diri sendiri dan tidak lagi menoleh ke mana-mana untuk memulai hidup yang bersahaja.
 
Ketika beliau mengatakan bahwa “karang awake tandurin” ketika itu beliau menganjurkan kita utk tak menoleh kemana-mana, bahkan tidak lagi perlu kita melanjutkan kalimat2 dalam karya sastra beliau yang sedang kita baca: “Masuki diri sendiri, pahami diri, renungi sampai ke akar-akarnya diri”.
 
Beliau menulis sastra untuk berhenti “bersastra” lalu menuju “laku diri”.
 
Kesastraan kita, jika bercermin dari karya Selampah Laku, sejauh ini cenderung bersastra utk ‘mendebat’. Menjadi rumit dengan diri. Peranda Made dalam karya-karya beliau–Selampah Laku dll– mengembalikan esensi kata ‘sastra’, yang berakar pada SAS-TRA, yaitu aliran yang membebaskan..
 
Beliau mengajak kita menuju ke aliran sastra yang mengalir di bumi bermuara di dalam hulu diri. Yang paling radikal, beliau mengajak kita terbebas dari sastra itu sendiri, setelah cukup mengantar kita di tepian diri, kita dimintanya meletakkan ‘perahu sastra’ itu di luar, utk menjadi berani berhadap-hadapan dg diri sendiri, merenungi diri. Jika bandingkan dg filsafat Barat, “Selampah Laku” adalah karya perenungan essensialis sekaligus ekstensialis. Essensi dan eksistensi diri direnungi, dimasuki, lebih jauh untuk ditanami (tandurin).
 
Bagi anak petani seperti saya, kata ‘karang‘ dan ‘awak‘ itu adalah ‘variable identitas’ dan ‘variable spiritualitas’; petani ‘mengada’ dengan adanya ‘awak‘ dan ‘karang‘. Jika petani ‘tanpa karang’ ia bukan petani. Jika petani tanpa ‘awak’, ia bukan manusia berkesadaran. Ketika 2 kata ini (karang+awak) digabung menjadi phrase “Karang awak“, phrase ini telah berdiri dan mengkristal menjadi formula filsafati yang berakar pada masyarakat pertanian yang menjungjung harga diri petani, petani yang menempuh jalan ‘ketuhanan’ dengan cara memasuki diri. Menjadi petani, dengan berbekal petunjuk sastra filsafati ini artinya petani mencangkul dan menyemai benih-benih di ladang tegalan dan sawah di luar, sekaligus berladang-tegalan-sawah di dalam diri ‘karang awak‘.
 
Ida Pedanda Made Sidemen mewariskan karya-karya filsafati yang sangat mendalam. Kadang kita baru membacanya sepenggal-sepenggal, tapi sudah latah mendiskusikan dan pongah menjadikannya slogan atau pamflet; akibatnya kitapun terhantar menuju pemahaman “sepenggal-sepenggal”, dan melahirkan pola tingkah “setengah-setengah” (nyalah-nyalah).
 
Ida Pedanda Made Sidemen lahir pada tahun 1878 di Intaran, Sanur, Bali, dan berpulang pada tahun 1984. Selain menghasilkan geguritan, beliau juga mencipta kidung, teks religius, dan puisi tradisional yang biasa disebut kakawin. Selain dikenal luas sebagai penulis karya tulis di atas daun lontar, Ida Pedanda juga dikenal sebagai pengukir topeng, pembuat kulkul (kentongan dari kayu), arsitek tradisional atau undagi yang banyak merestorasi dan renovasi Pura-Pura di Sanur sampai Gianyar.
 
“Nandurin Karang Awak” adalah metafor dunia agraris, metafor yang memancing kerinduan kita untuk menengok hijau sawah dan kemuning tegalan. Ida Pedanda Made Sidemen mengajak kita kembali membumi. Setelah kita menginjakkan kaki pikiran kita di atas di bumi, beliau menyapa kita untuk ingat diri, kembali ke ‘awak’, yang ternyata di dalamnya menunggu bentangan ‘karang’ persawahan yang harus kita garap sendiri, dalam sunyi, dan harus kita garap sendiri.
 
*Versi Inggeris catatan ini dibaca dalam acara ‘tribute night’ untuk Ida Pedanda Made Sidemen, digelar pada malam pertama penyelenggaraan ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’, Selasa (5/10/2011), di Pura Dalem Ubud sekitar pukul 19.30 WITA. Tema dari ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’ adalah “Nandurin Karang Awak: Cultivate The Land Within”.

One thought on ““NANDURIN KARANG AWAK”: MENYEMAI DI LADANG DIRI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s