TANTRA SUBHUTI DI JAWA TAHUN 1292 A.D.


Oleh Sugi Lanus

Catatan singkat ini hanya ingin menggaris bawahi bahwa di sekitar masa 1292 A.D di Jawa berkembang paham Tantra Subhuti.

Disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama bahwa Raja Jawa teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama. Sang Raja menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat jelatah. Raja Jawa ini berpulang ke alam Buddha di tahun 1292 A.D.

Tantra Subuti dari Subhuti?

‘Subhuti’ adalah salah satu dari Sepuluh Besar Sravaka Sakyamuni Buddha, dan terutama dalam memahami kekosongan. Dalam Prakrit dan Pali, namanya secara harfiah berarti “Keberadaan Mulia” (su: “baik”, bhūti: “eksistensi”). Dia juga kadang-kadang disebut sebagai atau “Subhuti Tertua” (Sthavira Subhuti). Dia adalah seorang arhat yang dipersamakan dengan para arahat terkenal seperti Sariputra, Mahakasyapa, Mahāmaudgalyāyana, Mahākātyāyana dan Ānanda.

Di antara tradisi Mahayana, Subhuti mungkin paling dikenal sebagai murid langsung yang menerima ajaran Sang Buddha ketika Beliau berbicara ketika menyampaikan Sutra Intan (Skt Vajracchedikā Prajnaparamita Sutra.), sebuah ajaran penting dalam genre Prajnaparamita. Ini, bersama dengan Sutra Hati (Skt. Prajnaparamita Hṛdaya), adalah salah satu Sutra paling terkenal di antara kedua praktisi dan non-praktisi Buddhisme. Subhuti juga bertanggung jawab untuk banyak eksposisi di Sutra Prajnaparamita sebelumnya. Dalam Sutra Teratai (Skt. Saddharma Pundarika Sutra), Bab 6 (penganugerahan Nubuat), Buddha melimpahkan nubuat pencerahan pada Subhuti, bersama dengan Sravaka lain seperti Mahakasyapa, Mahākātyāyana, dan Mahāmaudgalyāyana.

Ajaran Subhuti dalam Buddhisme Theravada kurang menonjol.

Apakah Tantra Subhuti yang ada di Jawa ini merujuk pada Ajaran Subhuti? Hal ini masih perlu didalami secara seksama. Tentang hal ini ahli Tantra termaksyur Shingo Einoo dalam bukunya“Genesis and Development of Tantra”, halaman 118-123, selintas saja menyinggung Tantra Subhuti. Masih tidak terjawab apa yang dimaksud dengan Tantra Subhuti.

Kemunculan ajaran Tantra Subhuti yang dipelajari oleh Sang Raja Jawa yang berpulang pada tahun 1292 sedikit banyak memberi gambaran Buddhisme apa yang berkembang di masa itu, bahwa Buddha paham Tantra yang berkembang, lebih pada berdasar dari tradisi Mahayana dibandingkan Theravada.

Berikut kutipan lengkap Pupuh 43 Kitab Negarakertagama yang menyebutkan Ajaran Subhuti tersebut:

1). liɳ niɳ çastra narendra pandawa rika dwapara nuni prabhu, gogendu tri lawan/ çakabdi diwaçanyantuknireɳ swahpada, ndah santuknira tembayiɳ kali tkaɳ rat/ murkka harohara, nhiɳ saɳ hyaɳ padabhijna daraka rumaksaɳ loka dewaprabhu.

Menurut kisah kesastraaan menyebutkan bahwa raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. “Gogendu tri lawan” (lembu gunung bulan tiga = 3179) digabung dengan tahun Saka disanalah tahun beliau berpulang ke alam kematian. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru‐hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam Sadabhijna (kebijaksanaan), dapat menjaga jagat sebagaimana Dewaprabu sang raja yang penuh kemuliaan.

2). nahan hetu narendra bhakti ri pada çri çakyasinhasthiti, yatnagegwan i pancaçila krtasaskarabhisekakrama, lumra nama jinabhisekanira saɳ çri jñanabajreçwara, tarkka wyakaranadiçastran inaji çri natha wijñanulus.

Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama.

3). ndan/ ri wrddanireki matra rumgep/ sarwwakriyadyatmika, mukyaɳ tantra subhuti rakwa tinnöt kempen/ rasanye hati, puja yoga samadi pinrihiran amrih sthityanin rat kabeh, astam/ taɳ ganacakra nitya madulu ddann eniwöhiɳ praja.

Di usia beliau yang mapan beliau menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.

4. tan/ wwanten karnö khadi nrpati sakweh sanatita prabhu, purnnen sadguna çastrawit/ nipuna riɳ tatwopadeçagama, darmmestapageh iɳ jinabrata mahotsaheɳ prayogakriya, nahan hetuni tusni tusnira padaikaccatra dewaprabhu.

Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, sempurna pemahaman beliau akan enam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan taat pada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung, Dewaprabu.

4). riɳ çakabdi jakaryyama nrpati mantuk/ riɳ jinaindralaya, sankai wruhnira riɳ kriyantara lawan/ sarwwopadeçadika, saɳ mokteɳ çiwabuddaloka talahan/ çri natha liɳ siɳ sarat, rinke sthananiran dinarmma çiwabuddarcca halp/ nottama.

Tahun saka ‘laut bangsawan arya yama’ (1214 = 1292 A.D.) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang up cara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa‐Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa‐Budha terlampau indah permai.

5). lawan/ riɳ sakgala pratista jinawimbhatyanta riɳ çobhita, tkwan narddanareçwari mwan ika saɳ çri bajradewy apupul, saɳ rowaɳ nira wrddi riɳ bhuwana tungal/ riɳ kriya mwaɳ brata, hyaɳ werocana locana lwiriran ekarcca prakaçeɳ praja.

Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman sejati dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana‐Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, termasyur.

Joko Dolok & Candi Jawi

Yang dimaksud dengan Sang Raja Jawa, berdasarkan Kitab Negarakrtagama, yang bergelar Sri Jnanabajreshwara, penganut Tantra Subhuti adalah Raja Krtanegara (1268–1292)

Di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara. Bait terakhir Pupuh disebut di atas sesuai dengan peninggalan di Candi Jawi.

Disamping Kakawin Negarakrtagama, prasasti tahun 1289 pada arca Joko Dolok, yang kini disimpan di Kota Surabaya, menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya. Patung Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya.

Salinan prasasti pada Patung Joko Dolok, terbaca sebagai berikut:

  1. adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
  2. anw atas sarwwasiddhim wā, wande’hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
  6. nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
  10. yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe’pi naksatre, mitre ahendramandale
  16. saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto’ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno’pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatpara
  19. dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj’a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah 

Terjemahan bebas:

1). Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata(Pencipta), Sang Maha Tahu yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan keniscayaan.

2). Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang menggambarkan kemuliaan raja.

3). Adalah Arya Bharada yang terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu, berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan supranatural).

4). Terkemuka di antara para yogi besar, yang hidupnya penuh ketenangan, penuh kasih dan makhluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.

5-6). Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).

7-9). Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang mempunyai permaisuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.

10-12. Tersebutlah, seorang raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra (red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan agama Buddha) – layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah di bumi.

13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (arca) setelah pengabdiannya sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi – demi kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.

18-19. Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk mempersiapkan kisah ini.

joko dolog-prasasti

Arca Joko Dolok yang mulanya ditemukan di daerah Kandang Gajak. Kandang Gajak termasuk dalam wilayah desa Beijong, Kecamatan Trowulan, Kab Mojokerto. Pada tahun 1817, arca dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis, dan saat ini terdapat di Taman Apsari, dekat pusat Kota Surabaya, Jawa Timur.

Keberadaan prasasti di patung Joko Dolok atau dikenal sebagai Prasasti Wurare, yang menyebutkan tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare), bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, dimaksudkan sebagai penghormatan bagi Raja Krtanegara dari kerajaan Singhasari Jawa Timur yang kekuasaanya sampai ke Bali dll, yang dipercaya mencapai pencerahaan sampai Jina (Buddha Agung), sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kakawin Negarakrtagama, bahwa Krtanegara menganut paham Buddha dengan upakara dan ritualnya, Tantra Subhuti.

Sebagai Jina, beliau bergelar Jnanaciwabajra. Baik kitab Pararaton dan Nagarakrtagama menyebutkan beliau bergelar Çiwabuddha, ketika beliau berpulang (mokteng atau lina) disebutkan beliau kembali ke Çiwabuddhaloka atau Çiwabuddhalaya.

Beliau sebagai raja di masa hidupnya telah memberi warna dan peninggalan-peningalan keagamaan yang sesuai dengan paham yang dianut beliau. Berbagai patung dan peninggalan bercorak Buddhisme yang dibangun atau dibuat periode ini kemungkinan adalah penjabaran paham/ajaran Tantra Subhuti.

Masih perlu dijejaki apakah Tantra Subhuti ini terkait dengan ajaran percampuran Çiwabuddha yang berkembang kemudian? Apakah Tantra Subhuti ini menjadi muasal kependetaan Hindu bercorak Buddha yang sampai kini masih berkembang di Bali dan berpusat di Desa Budakeling, Kabupaten Karangasem, sekarang? Dua pertanyaan ini mendasar untuk ditelusuri oleh para peminat dan peneliti pertemuan Siwa dan Buddha di Bali dan Jawa. Kesejarahan Tantra Subhuti masih terbuka untuk kita pahami secara seksama dan lebih mendalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s