BABAD PASEK – KISAH PERJALANAN PARA RESI KE BALI*


*Catatan Harian Sugi Lanus, 18 Juli 2015.

Kisah ini berdasarkan lontar Babad Pasek (lontar salinan oleh penyalin I Kt. Sengod dikerjakan tahun 1987, bersumber dari sebuah lontar tua di Desa Pidpid, Karangasem), salinan ini menjadi koleksi Pusat Dokumentasi Bali. 

Alkisah dimulai dengan puji dan puja kehadapan Hyang Siwa dan semua para Dewa mohon ijin untuk menulis sejarah leluhur yang telah suci semoga tidak terkena kutukan dan mala petaka.

Ada seorang raja yang bernama Maya Denawa, sakti yang tiada taranya, sangat angkuh, bengis, perilakunya seperti raksasa, menjadi raja di Bali. Bali morat-marit.

Babad ini kemudian meloncat ke riwayat gunung yang ada di Bali. Ada 4 gunung yang mula-mula ditempatkan di Bali oleh Hyang Pasupati; di empat penjuru: Di Timur – Gunung Lempuyang; Di Selatan – Gunung Andhakasa; Di Barat – Gunung Watukaru, Di Utara – Gunung Bratan.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.14 PM

Keadaan pulau Bali masih dikisahkan masih goyang, tidak stabil, maka Hyang Pasupati memotong puncak gunung Semeru lalu diletak di tengah diberi nama gunung Tolangkir (sekarang dikenal sebagai Gunung Agung). Gunung Tolangkir meletus untuk pertama kalinya pada tahun 148, kedua kalinya pada tahun 191, kemudian pada tahun 196.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.25 PM

Sang Hyang Pasupati memerintahkan tiga putranya yaitu Bhatara Ghenijaya, Bhatara Mahadewa, Bhatari Danu supaya pergi ke Bali.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.33 PM

Bhatara Ghenijaya berkahyangan di Lempuyang, Bhatara Mahadewa di Besakih, Bhatari Danu di Ulundanu.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.48 PM

Ada lagi putera Sang Hyang Pasupati yang datang ke Bali; Bhatara Tamuwuh berkahyangan di Batu Karu, Hyang Manik Kumayang di Gunung Bratan, Hyang Manik Gelang di Pejeng, Hyang Tugu di Andhakasa.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.56 PM

DARI MAYADANAWA KE BHEDAMUKA – PANCA PANDITA KE BALI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Kembali diceritakan angkara murka yang bernama Mayadanawa sifatnya sangat angkuh, kejam dan tidak mengakui kebesaran Tuhan. Karena itulah ia diserang oleh para desa dibawah pimpinan Bhatara Indra, Mayadanawa dibinasakan. Setelah arwahnya meneriman buah dari karmanya, maka menjelma kemablai bersama permaisurinya berupa anak kembar bernama Masula Masuli. Masula kawin dengan adiknya yang bernama Masuli. Inilah yang menjadi raha di Bali dan mempunyai putera bernama Sri Tapa Ulung alias Bhedamuka.

Sang Hyang Pasupati memerintahkan kelima cucunya Sang Panca Pandita yaitu: Mpu Ghenijaya, Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, dan Mpu Baradah, supaya pergi ke Bali, memberikan tuntunan batin.

BERJUMPA SRI ERLANGGHYA – MPU BHARADAH & MPU GHENIJAYA TINGGAL DI PEJARAKAN

Dalam perjalanannya melalui kerajaan Daha. Raja Daha yang bernama Sri Erlangghya mohon supaya Sang Panca Resi bersedia tinggal di sana. Setelah diadakan perundingan, maka Mpu Ghenijaya dan Mpu Bhradah tinggal di sana sedangkan, sementara Mpu Mahameru langsung ke Bali, disusul Mpu Gana dan Mpu Kuturan.

Mpu Bharadah mendampingi kakaknya Mpu Ghenijaya, sementara berkahyangan di Pajarakan, Jawadwipa, tidak ke Bali.

MPU MAHAMERU, MPU GANA & MPU KUTURAN KE BALI

Mpu Mahameru pada hari Jumat Kliwon Wuku Pujut, hari kelima belas paruh bulan gelap sekitar bulan Nopember 990 berkahyangan di Besakih.

Mpu Gana sampai di Bali pada hari Senin Kliwon Wuku Kuningan pada hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan April 997, berkahyangan di Pura Dasar Gelgel.

Mpu Kuturan sampai di Bali pada hari Rabu Keliwon wuku Pahang hari keenam paruh bulan terang sekitar bulan Sepetember 1000, berkahyangan di Silayukti.

Tahun-tahun tersebut sangat penting dilihat dari beberapa data efigrafi yang ditemukan di Bali dimana periode ini adalah masa Pemerintahan Raja Udayana dan Mahendradatta atau dikenal sebagai Gunapriya Dharmapatni.

 MPU GHENIJAYA KE BALI

Setelah Mpu Ghenijaya memberikan ilmu kepada para putranya beliau pergi ke Bali dan sampai di Silayukti pada hari Kamis Paing Wuku Medhangsya hari pertama paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1058. Di sana beliau disambut oleh adik beliau Mpu Kuturan. Dari Silayukti beliau melanjutkan perjalanan ke Besakih diantar oleh Mpu Kuturan. Dari sana melanjutkan perjalanan ke Besukih diantar adik beliau.

Di Besukih diadakan pertemuan membahas kepanditaan. Selesai pertemuan para reshi itu pulang ke Kahyangannya masing-masing.

Mpu Ghenijaya menuju Lempuyang di Kahyangan ayahnya.

MPU BHRADAH KE BALI

Mpu Bhradah pergi ke Bali untuk menengok kakak-kakak beliau dan sampai di Silayukti diterima oleh Mpu Kuturan. Di sini Mpu Kuturan ingin menjajaki kesaktian Mpu Bharadah. Setelah itu Mpu Bhradah melanjutkan perjalanan ke Dasar Gelgel menghadap Mpu Gana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Besukih menghadap Mpu Mahameru. Terakhir menuju Lempuyang menghadap Mpu Ghenijaya. Dari sini kembali ke Daha.

Dalam sumber sejarah yang lain disebutkan Mpu Bharadah ke Bali diutus oleh Raja Erlangga untuk meminta saran mengambil Bali sebagai bagian kekuasaannya salah satu anaknya.

 SILSILAH PANCA PANDITA KE SAPTA RESI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Mpu Bharadah berputera Mpu Siwagandhu dan Mpu Bawula (Bahula).

Mpu Ghenijaya berputera tujuh orang: Mpu Ktek, Mpu Kanandha, Mpu Wiranjaya, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka dan Mpu Dangka.

Mpu Ktek kawin dengan Dyah Subhadri mempunyai putera bernama Sang Hyang Pamaca. Mpu Kananda kawin dengan putra Mpu Swetawijaya berputra 1 orang bernama Mpu Swetawijaya. Mpu Wiranjana berputra Mpu Wiranata. Mpu Witadharmma berputra Mpu Wira Dharmma. Mpu Ragarunting berputra Mpu Wirarunting. Mpu Preteka berputra Mpu Pretekayajnya. Mpu Dangka berputra Mpu Wira Dangkya.

Sang Hyang Pamaca berputera: Mpu Wiradharma, Mpu Pamacekan, Ni Ayu Bratta. Mpu Sweta Wijaya berputera Mpu Sangkul Putih. Mpu Wiranata berputra Mpu Purwwanata, Ni Ayu Wetan, Ni Ayu Tirtha. Mpu Wiradharmma berputera Mpu Lampita, Mpu Panandha, Mpu Pastika. Mpu Wirarunting berputera Mpu Pramadaksa. Mpu Pratekayajnya berputera Sang Preteka. Mpu Dangkya berputera Sang Wira Kadangkan, Ni Dangki, Ni Dangka.

Demikianlah yang menurunkan Sanak Pitu.

silsilah sapta resi berdasar babad pasek copy.JPG copy 

SAPTA RESI KE BALI & PIODALAN PARAHYANGAN

Setelah Sang Brahmana Panca Pandita pulang menuju alam niskala, maka sang Sapta Resi mengadakan perundingan membicarakan upacara di Pura Besukih yang jatuh pada bulan Oktober.

Dimufakati bersama untuk bersama-sama pergi ke Bali. Pada hari Selasa Legi Wariga hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1116 sampailah SangSapta Resi beserta para puteranya di Bali, langsung menuju Basukih.

Sapta Resi kemudian melangsungkan piodalan secara berantai:

1). Pada hari Kamis Wage dan Jumat Keliwon Sungsang diadakan upacara Sugi-manek di Besukih, sudah itu di Pura Dasar, di Silayukti dan terakhir di Lampuyang.

2). Hari Kamis Legi Dungulan upacara piodalan di giri Lampuyang.

3). Senin Keliwon Kuningan upacara Piodalan di Pura Dasar Gelgel.

4). Rabu Keliwon Paang upacara Piodalan di Silayukti.

5). Selasa Keliwon Tambir upacara Piodalan Bhntara di Basukih.

Sesudah itu para Resi kembali ke Jawa.

KISAH BEDAMUKA & KETURUNAN SAPTA RESI (PASEK GELGEL)

Dikisahkan setelah kalahnya raja Bali yang bergelar Sri Bedamuka oleh Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada, keadaan pulau Bali menjadi lenggang. Maka dari itu Patih Mada mohon kepada keturunan Sang Mpu Sanak Pitu (tujuh bersaudara) supaya datang ke Bali, untuk memelihara dan ngemong Kahyangan-kahyangan di Bali.

Perintaan Patih Mada dapat dipenuhi, maka berangkatlah para resi itu itu ke Bali dipimpin oleh Mpu Dwijaksara. Kedatangannya di Bali disambut dengan gembira oleh masyarakat Bali.

Ada seorang pendeta sakti bernama Sang Hyang Kapakisan yang menjadi penasehat Patih Mada. Beliau berputera Wangbang Kapakisan. Wangbang Kapakisan berputra Sri Juru diangkat menjadi raja di Blambangan, Maharaja Bhima diangkat menjadi raja di Pasuruhan, Sri Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, yang wanita menjadi raja di Sumbawa, Sri Kresna Kapakisan beristana di Samprangan.

Keturunan Sang Resi Sanak Pitu menghadap raja dipimpin oleh Patih Ulung.

Bandesa Karajaan berputera Ni Luh Kaywan dipersenbahkan kepada Mpu Kanaka berputera Pangeran Kayumas dan Wira Manokling. Wira Manokling mengikuti Mpu Kanaka ke Jawa, sedang Pangeran Kayumas tetap di Bali, inilah yang menurunkan Warga Bendesa Mas di Bali.

Dari naskah-naskah lain kita menemukan informasi bahwa ketika Danghyang Nirartha ke Bali di jaman Waturenggong, beliau sempat tinggal di Desa Mas dan menikah dengan salah satu putri Pangeran Bendesa Mas. Keturunan Danghyang Nirartha dari sinilah yang sekarang disebut Brahmana Mas.

Sri Kresna Kapakisan berputera, Dalem Samprangan, Dalem Tarukan, Dalem Ketut Smara Kapakisan. Dalem Ketut adalah raja yang memulai beristana di Gelgel.

Untuk selanjutnya Bali diperintah oleh raja dinasti Kresna Kapakisan dibantu oleh para keturunan Arya yang mengiring ke Bali. Lebih lanjut dijelaskan keturunan Resi Sanak Pitu tersebar di pulau Bali dengan tugas tertentu dari Raja/dalem. Warga keturunan Sapta Resi ini disebut Warga Pasek Sanak Pitu (Sapta Maha Gotra).

Di Bali juga ada warga Pasek Bali yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Calagi Manis, Pasek Kayuselem, Pasek Pempatan, Pasek Kori Tiying.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s