PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*


1. PEMANGKU

Pemangku adalah orang terpilih yang tugasnya memuja Tuhan, bukan yang lain.

Pemangku diharap menjadi pembimbing umat untuk senantiasa bakti pada Tuhan dan menjunjung nilai-nilai kebenaran dharma.

Lontar Kusumadewa mengatakan:

“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tatwa DewaDewa Tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana Tattwa, I Pamangku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi krama pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharmam, mangda patut pangambile mwang pamargine. “

Terjemahannya:

“Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma kahyangan Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti, paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya”.

Kitab Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma adalah pedoman pemangku dalam bertindak dan mengabdi kepada Beliau. Pemahaman mereka akan hakikat kesusilaan yang bisa mengantar pemangku tidak salah jalan, tidak terjebak urusan duniawi, dan menjadi lupa tugas utamanya sebagai orang terpilih untuk memuja Tuhan, dan bukan memuja yang lain-lain.

2. KAUM PENDUSTA

Pemangku wajib menjauhi kaum pendusta.

Hal ini jelas disebutkan dalam kutipan Lontar Tattwa Siwa Purana sebagai berikut:

“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarayudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta“.

Terjemahannya:

“Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan JANGAN MENGHADAP/DEKAT ATAU BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT (naya dusta).”

Pemangku diharapkan fokus dirinya keurusan ketuhanan, bukan lagi terjebak urusan duniawai dan dilarang bergaul dengan kaum pendusta.

Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.

Menjadi pemangku adalah perjanjian yang bersangkutan untuk menarik diri menjadi 100% abdi Tuhan, tidak jadi jongos siapapun, memuja setiap hari di hadapan “sesuhunan niskala” (keilahian tertinggi) dan mengabdi dalam pelayanan keagamaan.

Hal ini jelas disebutkan dalam lontar Tattwa Siwa Purana:

“SamaIih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer”.

Terjemahannya:

“Dan apa bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer”.

Dengan melepas pekerjaan duniawai itu diharapkan pemangku bisa ajeg memegang prinsip swadharma dan memegang prinsip bergaul benar: aja parek ri salwiring naya dusta” (TIDAK MENGABDI & BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT).

3 DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN 

Pemangku wajib mendemontrasikan sikap terpuji di depan umat. Tidak mudah terhasut terjebak urusan duniawi, dan tetap berhati jernih.

Pemangku yang terpuji dan dicintai umat Hindu tentulah pemangku yang bisa mendemontrasikan pemahamannya tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma; mampu memberi pencerahan umat tentang pedoman hidup lurus, filsafat ketuhanan dan kesusilaan di depan umat.

Demonstrasi pemangku sebagai pelopor pelaksanaan agama yang teguh memuja Tuhan sangat ditunggu kehadirannya di tengah zaman yang memuja kuasa dunia dan uang.

Pemangku yang mampu secara bijaksana mendemontrasikan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai suci itulah yang akan mengharumkan nama Agama Hindu Bali dan mengantar umat menuju jagat sukerta

Jagat sukerta atau jagat-hita-ya—the benefit of the whole universe—terjadi jika pemangku dan sulinggih memberi contoh (mendemontrasikan) pada umat bahwa dirinya adalah panutan yang bisa menjadi pelopor dalam penegakan jati diri, tidak terbayar dan tergiur uang, dan teguh untuk tidak mempolusi udara (dyauh santir), penyelamatan ozon (antariksam santih), ibu pertiwi (prthivi santir), menjaga air-sungai-danau-teluk-laut (apah santir), menjaga tumbuh-tumbuhan (osadhayah santih), dan hutan (vanaspatayah santir).

|| dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir osadhayah santih I vanaspatayah santir visvedevah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi ll

Semoga ada kedamaian di langit

Semoga ada kedamaian di luar angkasa

Semoga ada kedamaian di bumi

Semoga air menjadi sumber kedamaian

Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian

Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian

Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian

Semoga ada kedamaian dimana-mana

Semoga ada kedamaian dalam bathin saya.

[Yajur Veda 36.17]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 21 April 2015

3 thoughts on “PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*

  1. “Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.”

    Menarik sekali Bli. Khusus untuk yg tyang kutip diatas, para pemangku tentunya dalam menjalankan tugas juga perlu kesejahteraan. Jadi, dengan pengertian diatas , tentunya para pemangku tidak boleh bekerja? Seperti yang ada d lapangan, tidak sedikit pemangku itu punya anak yang masih kecil, sementara beliau menjalankan kepemangkuan karena keturunan. Semisal kebetulan saja ayah beliau sudah tiada. Dalam hal itu bagaimana Bli?

    Suksma.

    1. Pemangku di jaman dahulu mendapat hak pelaba pura. Sekarag pelaba entah siapa yang urus. Memang menjawab ini bukan perkara mudah. Tapi setidaknya pemangku, dengan membaca aturan-aturan kepemangkuan, beliau-beliau harus selektif memilih pekerjaan atau tidak sembarangan memilih aktivitas yang tidak dipahami. Pemangku dituntun sadar dan selektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s