KISAH BUAH BEKUL dalam RAMAYANA dan MAHABHARATA


Text oleh Sugi Lanus, diadaptasi dari sumber alam maya.

Pohon Bekul di Bali ditemukan di perbukitan Bukit Jimbaran dan Pecatu, juga di perbukitan kering di Karangasem dan juga Buleleng. Buah pohon Bekul disebutkan beberapa kali dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia buah ini disebut buah Bidara atau Widara, punya nama Sansekerta: Vadari, Badari, Vadara. Dalam bahasa Inggris disebut Jujabe atau Plum India.

Dalam Ramayana, ketika Rama dan Lakshmana sedang mencari Sita yang diculik oleh Rahwana, mereka berjumpa dengan sebuah pohon Bidara dan bertanya apakah dia telah melihat Sita? Alkisah, kala itu pohon-pohon masih bisa melihat, mendengar dan berbicara seperti manusia. Mendengar pertanyaan Rama, pohon Bidara menjawab bahwa ia sebenarnya sudah berusaha untuk menyelamatkannya dengan menarik dengan duri-duri ranting dan batangnya pakaian Sita. Ia kemudian menunjukkan ada benang terjerat dalam cabang pohonnya dan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari kain Sita. Pohon itu kemudian menunjuk ke arah mana Sita dibawa pergi secara paksa oleh Rahwana.

Rama memberkati pohon Bidara karena telah mencoba menyelamatkan Sita dan memberikannya anugerah bahwa tidak peduli seberapa buruk itu hancur dan dipotong, itu tidak akan mati dan bahkan jika akar tunggal itu yang tersisa, akan bermunculan lagi, tumbuh sebagainya pucuk segar dan menjelma menjadi ranting dan cabang. Berkat berkah anugrah Sang Rama inilah kenapa pohon Bidara tahan banting dan memiliki kemampuan untuk tumbuh di daerah terkering sekalipun.

Dalam bagian lain dari Ramayana, disebutkan seorang pemuja Rama, bernama Shabari, menawarkan buah Bidara untuk Rama ketika dalam pengembaraannya di hutan mencari Sita. Shabari memeriksa dan mencicipi setiap buah, untuk mengetahui apakah buah itu matang sebelum ditawarkan kepada Rama.

Rama menerima buah yang telah terlebih dulu dicicipi oleh Shabari, dan mengatakan jika ada sesuatu yang ditawarkan kepadanya dengan kemurnian hati dan dengan perasaan yang tulus; itu adalah suci dan murni inti persembahan. Berangkat dari cerita inilah, sampai sekarang di India, buah Bidara dianggap suci dan dipakai dalam banyak upacara keagamaan dan dipersembahkan kepada para dewa.

Alkisah lain tentang buah Bidara terkait pertemuan Rishi Bharadwaja dengan Apsara Ghritachi, bidadari cantik bermata besar menawan. Apsara Ghritachi suatu hari melewati pertapaan Rishi Bharadwaja. Itu terjadi dimasa muda Rishi Bharadwaja. Melihat bidadari Ghritachi, benihnya jatuh. Sang Rishi mengambil benih di tangannya dan meletakkannya dalam tangkup daun. Dari benih ditempatkan dalam tangkup daun yang menyerupai cangkir itu lahirkan seorang gadis dengan keindahan yang tak tertandingi.

Rishi Bharadwaja memberinya nama Sruravati. Dia meninggalkannya di pertapaan untuk bertapa di hutan Himavat. Sruravati, saat ia tumbuh dewasa, menjalani kehidupan sebagai seorang putri Brahmana, mulai berlatih pertapaan untuk bisa mendapatkan Indra, penguasa dari kesucian, sebagai suaminya. Untuk mendapatkan keinginannya, ia mengamati beragam jenis mantra dan puasa. Indra dalam wujud Rishi Vasishtha datang ke pertapaan Sruravati. Rishi Vasishtha adalah sosok terkemuka diantara para pertapa. Sruravati menyembah kepadanya: “O engkau harimau di antara pertapa, katakan padaku perintah-Mu. Saya bersumpah akan melakukan pelayanan, apapun perintah-Mu. Saya akan melayani Engkau menurut ukuran dari kekuatan saya, saya tidak akan, bagaimanapun, memberikan kepadamu tangan dan tubuhku untuk Sakra. Saya memuaskan Sakra, penguasa tiga dunia, dengan sumpah untuk “mati raga dalam pertapaan”. Mendengar ini, Dewa Indra yang berwujud Vasistha menjawab: Penebusan dosa adalah akar dari kebahagiaan terbesar. Orang-orang yang membuang tubuh mereka setelah melakukan ‘mati raga’ memperoleh status dewa. Ingatlah kata-kata saya. Apakah engkau sekarang, ya gadis diberkati, siap merebus lima biji Bidara ini. Untuk menguji kesetiaan Sruravati, Indra menghambat didih Bidara. Setelah dibersihkan sendiri, Sruravati mulai tugasnya merebus lima Bidara pemberian Sakra alias Indra yang datang berkedok Rishi Vasishtha. Sruravati merebus Bidara dan setelah beberapa hari belum juga masak lima biji Bidara itu. Kayu bakarnya semua telah dipakai, tiada tertinggal. Melihat api akan mati, Sruravati mulai mempersembahkan tubuhnya sendiri sebagai bahan bakar untuk merebus buah Bidara. Pertama-tama ia menyodorkan kakinya ke dalam tunggu api. Ia sama sekali tidak keberatan kaki terbakar. Wajahnya  tidak pula berubah ketika dalam proses pembakaran yang menyakitkan.

Teringat kata-kata Rishi Vasishtha: “Masaklah Bidara dengan baik”‘. Itu yang dengan segar bergema di dalam pikirannya. Ia terus memasak lima buah Bidara itu dan belum juga menunjukkan tanda-tanda pelunakan sampai kaki habis dibakar oleh Agni. Melihat tindakan pengorbanan Sruravati, Penguasa Tiga Dunia muncul di hadapannya dalam bentuk aslinya dan berkata: “Saya puas dengan penebusan dosamu dan sumpahmu. Dari pengorbananmu membakar tubuhmu dalam doa, tubuhmu diberkati; engkau akan hidup di surga bersamaku”. Pertapaan ini kemudian dikenang sebagai pertapaan terkemuka di dunia, Tirtha yang mampu membersihkan satu dari setiap dosa dan akan dikenal dengan nama Vadarapachana dan dihormati di tiga dunia.

Cerita lain yang menyebutkan kesucian buah Bekul atau Bidara adalah kisah kunjungan ke Siva ke Arundhati, istri salah satu Resi. Di Tirtha Vadarapachana, tinggal tujuh Resi dengan Arundhati. Sekali waktu, tujuh Resi meninggalkan Arundhati dan pergi ke Himavat. Sementara tujuh Resi tinggal di hutan Himavat, sebagai pertapa menjalani tapa dan semadi terus menerus, mengabdikan diri dan batin mereka dalam suasana hidup sebagai pertapa, kemarau terjadi sepanjang dua belas tahun. Arundhati mengumpulkan buah-buahan dan menjalani kehidupannya seorang diri dalam keheningan pengabdian. Senang akan ketulusan hidup Arundhati, Mahadeva, dengan perwujudan Brahmana, mengunjunginya dan meminta sedekah pada Arundhati. Arundhati mengatakan bahwa simpanan makanan telah habis dan bertanya apakah mau makan buah Bidara. Mahadeva memintanya untuk memasak Bidara untuknya. Arundhati mulai memasak Bidara dan senang mendapat kunjungan seorang Brahmana suci. Dia memasak buah Bidara dan mulai mendengarkan ajaran suci dari Mahadeva, dan keajaiban terjadi, dua belas tahun kekeringan berlalu seolah-olah itu satu hari dan Arundhati bahkan tidak pernah menyadari bahwa ia belum makan untuk selama masa kekeringan itu. Pada akhir dua belas tahun kemarau, tujuh Resi kembali dari pegunungan setelah mencapai tujuan tapanya. Mahadeva kemudian muncul di depan Resi dalam bentuk aslinya dan memuji Arundhati telah melakukan penebusan dosanya dengan jalan memasak selama dua belas tahun dengan tiada henti. Arundhati diberi anugrah oleh Mahadeva hidup dalam abadi dan tempatnya bermukim Tirtha Vadsrapachana akan menjadi pemukiman tersohor bagi para Siddha dan Resi surgawi.

Jika kita melihat berbagai peribadatan di India, buah Bidara dipersembahkan dalam peribadatan, terutama persembahan untuk Siva, juga para dewa lainnya secara tidak terpisah.Bekul atau Bidara juga suci bagi Wisnu dan Wisnu juga disebut Badarinath atau Dewa Bidara. Kota yang disebut Badrinath, tempat ziarah di ketinggian 10.294 meter di atas laut namanya berasal dari pohon Bidara atau Vadari atau Badari. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa air dan aliran sungai suci Gangga muncul dari akar pohon Bidari raksasa di Gunung Kailasha. Sebuah interpretasi mengatakan bahwa kudi, apa yang disebutkan dalam Kausika Sutra, Atharvaveda, diidentifikasi sebagai ranting Bidara, yang diikatkan ke tubuh orang mati sebagai pelenyap jejak, agar roh yang mati tidak menoleh kembali ke badan yang fana, tapi menuju ke alam roh dengan tanpa hambatan.

Di luar penganut Siva dan Wisnu, meskipun penganut Sikh umumnya tidak percaya pada kesucian pohon, ada satu pohon tumbuh di Kuil Emas di Amritsar, yang dikenal sebagai ‘pohon yang menghilangkan kesedihan ‘. Pohon itu adalah salah satu varietas pohon Bidara yang dianggap suci oleh warga Sikh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s