AGAMA BALI


Oleh Sugi Lanus

Cara pandang hidup orang Bali seperti kakek saya dan teman-teman sebaya beliau sangat menarik. Pandangan dan cara hidup atau ‘way of life’ yang diwariskan dari generasi ke generasi di Bali mereka sebut sebagai ‘Agama Bali’.

Dalam praktek kehidupan beragama Bali, Bhatara-Bhatari menjadi sahabat dan tumpuan hidup. Bhatara-Bhatari adalah kekuatan alam semesta yg bisa ‘diajak’ bekerjasama membentuk masa depan: Menuju kedamaian dan kedalaman batiniah. Keheningan dalam keselarasan dengan alam, keheningan sedalam-dalamnya.

Pitara-Pitari, atau roh para leluhur, yang telah ‘meraga hyang’ atau ‘divine body’, yang mencapai keheningan batiniah, menjadi ‘bhatara-bhatari’. ‘Divine body’ ini yang menjadi ‘penghubung’ manusia Bali dengan dengan kekuatan yang mengerakan alam semesta dan menjadi sumber muasal roh setiap manusia.

Agama Bali adalah agama yang berurusan dengan energi dalam diri kita, roh yang telah ‘meraga hyang’ atau ‘divine body’, dan sumber energi terdalam alam semesta. Agama Bali bukan konsepsi teologi kosong tapi jalan menuju dan jalan memelihara keterhubungan kita dengan energi kosmik.

Agama Bali mengajak kita mencintai hidup dan menghayati sedalam-dalamnya keseharian alam. Bukan berdebat kusir. Agama Bali tidak menjadi relevan jika semata-mata dijadikan bahan kuliah dan obrolan, apalagi dijadikan bahan berdebat dan berseteru.

Agama Bali bukan agama yang bisa disentuh dengan reka pikiran tapi dirasa dengan laku dan penghayatan tubuh. Penghayatan tubuh dalam konteks alam semesta, dalam konteks asalmuasal penciptaan.

Agama Bali tumbuh dan berkembang di pulau yang alamnya subur, hijau dan asri. Pas dan cocok buat petani dan orang desa yang masih menyentuh tanah, bercocok tanam, menjalani dan menyusuri sungai dan mendegar desau angin pagi. Di sana kehadiran Bhatara-Bhatari sangat nyata: Dalam gerak-gerik daun, pohon, ranting, embun dan bebatuan sungai.

Agama Bali menyebut mereka yang telah ‘berpulang’ atau meninggal dengan sebutan: ‘Sane sampun meraga angin’ (Dia yang telah bertubuh angin). Agama Bali menyebut ruh-ruh suci yang dipuja dengan berbagai sebutan: ‘Bhatari Ring Pucaking Gunung…’ (Dewi Pelindung di Puncak Gunung…), atau ‘Bhatara Ring Luhuring Akasa’ (Dewa Pelindung yang beristana di atas angkasa), atau ‘Bhatara-Bhatari Ring Tirta Empul’ (Dewa-Dewi pelindung yang berstana di sumber air Tirta Empul), dan seterusnya.

Penyebutan para pujaan tersebut, dan praktek pemujaannya, menunjukkan bagaimana alam dan keterhubungan kita dengan tumbuhan, sungai, laut, pegunungan, lembah, sumber air, dan desir udara, adalah esensi beragama Bali. Pepohonan, sungai, laut, pegunungan, lembah, sumber air, dan desir udara, adalah instrumen utama Agama Bali.

Memikirkan Agama Bali di perkotaan yang saling sikut, di tengah ribuan manusia menyemut tiap hari tanpa kehadiran pohon dan angin segar, bukan jalan menghayati Agama Bali.

 Agama Bali mengajarkan bahwa ‘ketus pungsed’ (putus tali pusar dengan ibu) adalah proses keterpisahan manusia dengan ‘ibu alam’. Lepas dari pusar yang terhubung dengan ‘ibu bumi’, manusia beragama Bali disambungkan kembali dengan ‘ibu alam’ lewat upakara ‘nyambutin’ dan ‘ngotonin’. Dua ritus ini mengajak bayi merah mencelupkan tangan dan kaki ke paso-pane (jambangan tanah) yang diisi air dan ikan, replika laut dan sungai, serta kehidupannya. Bayi diajak menyentuh tanah pertama kali di usia 3 bulan Bali (35 hari x 3), berkenalan dengan ‘bumi’. Diucapkan doa-doa ‘perjumpaan kembali’ si jabang bayi dengan Ibu Pertiwi.  

Kelak, ketika telah berpulang, pemeluk Agama Bali kembali ke alam, menjadi ‘Meraga angin’ (Bertubuh/serupa angin), dan ‘ngayah’ (mengabdi) di alam Bhatara-Bhatari yang berstana di titik-titik terindah alam Bali. Di puncak-puncak gunung dan kuil-kuil terindah yang dekat dengan sumber air, alam yang asri dan panorama terbaik. Kegaiban, dalam Agama Bali, adalah titik-titik terindah dan terhening alam. Pengalaman dan perjumpaan dengan alam adalah titik berangkat dan tujuan terdalam Agama Bali.

Agama Bali mengajak pemeluknya merayakan bulan purnama, menghitung hari gelap terang bulan ketika bercocok tanam dan mengambil ternak; melakukan upacara ‘magpag toya’ (menjeput air) layaknya penjemputan kebesaran raja, sebelum mulai masa tanam di persawahan; menziarahi sumber-sumber air atau ‘patirtan’, sungai saat ‘ngayud’ dan danau-pantai saat ‘mlasti’.

Agama Bali minus alam, bukan Agama Bali. Agama Bali punya akar dan pokok-pokok tujuan untuk menjamin ketersambungan manusia Bali dengan alam. Untuk memasuki keheningan terdalam alam semesta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s