GEGURITAN BALI


Oleh Sugi Lanus

GEGURITAN, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat perpasakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil). Sementara kakawin (karya sastra Jawa Kuna) disebut sekar agung (bunga besar). Pengkategorian ini, kalau dicermati, di dalamnya mengandung unsur ”menganggap enteng” geguritan. Saya banyak diberitahu oleh beberapa ”guru-guru”, juga lewat bacaan-bacaan yang tersedia, bahwa geguritan adalah batu pijakan untuk memasuki sastra besar (sekar agung), yaitu kakawin. Dengan kata lain, kakawin ”lebih tinggi” dari geguritan.

Cara berpikir yang ”meng-hirarki-kan” antara sekar agung dan sekar alit ini, saya amati, mirip dengan cara berpikir barat ”abad pertengahan” yang membagi budaya dalam dua mengkategorikan: ”budaya tinggi” dan ”budaya rendah”. Di Bali, dengan cara yang sama, banyak orang kalangan (bahkan akademisi) cenderung memandang bahwa kakawin atau sekar agung adalah budaya tinggi, geguritan atau sekar alit adalah budaya rendah. Cara berpikir ini adalah sebuah cara pikir yang ”feodalis”; yang cenderung membagi sesuatu dengan ukuran tinggi dan rendah. Sebuah penyederhanaan yang tak mau bersusah-susah. Sebagai pembanding, bahaya dari cara berpikir seperti itu: Drama-drama William Shakespeare, oleh kaum yang berpikir hirarki budaya tinggi versus budaya rendah tersebut, juga pernah dianggap sebagai karya-karya ”rendah” dan karya pop budaya rendah! Dalam anggapan mereka ketika itu, hanya karya sastra berbahasa Latin yang merupakan budaya tinggi adalah (Ini mirip dengan anggapan bahwa kakawin yang berbahasa Jawa Kuna/ Tengahan lebih tinggi dari yang berbahasa Bali). Namun, kenyataannya sekarang, Inggris tidak bisa lepas dari karya-karya Shakespeare.

Oleh cara pikir seperti itu, yang telah menguasai cara pikir dan mind frame kita, masyarakat cenderung diajak berpikir atau menganggap remeh geguritan. Karena ”terpola” untuk memandang enteng terhadap geguritan, masyarakat Bali (kebanyakan dari kita) akhirnya tak pernah sampai mempelajari dengan sungguh-sungguh karya-karya sastra geguritan. Sikap meremehkan (menganggap geguritan sebagai ”budaya rendah”) yang tertanam di kepala kita, telah menjadi tembok penghalang kita, telah membuat kita berpaling dari geguritan dan melupakannya.

Milan Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: novel. Bagi Kundera, penerima Nobel Sastra ini, pemikiran sastrawan Flaubert lebih berguna dibandingkan gagasan-gagasan Marx atau Fued yang mengejutkan sekalipun. Semenjak pertengahan tahun 1990-an, saya pun mengamati dengan teliti bahwa kita (masyarakat Bali bahkan kalangan akademis) telah melalaikan salah anak terbesar dari peradaban Bali: geguritan. Padahal, karya ilmiah yang paling lugas menyajikan ke hadapan kita dunia imajinasi manusia Bali, sebelum penulis-penulis Bali mengenal bentuk puisi modern dan novel.

Untuk memahami alam pikir dan dunia imajinasi manusia Bali, jalan terbaik adalah dengan membaca karya-karya geguritan, bukan karya-karya kakawin. Di samping karena bahasanya adalah bahasa pribumi yaitu Bahasa Bali (bukan bahasa import: Jawa Kuna), yang memungkinkan pengarang Bali berekspresi secara maksimal, geguritan tampil dengan menyuguhkan berbagai pengalaman bathin manusia Bali dengan spektrum yang tak terbatas: Rasa lapar, suka-duka, merana cinta, puji-puji, dongeng-dongeng, kehancuran perang, candu, zinah, kelaliman raja, kebodohan raja, perselingkuhan, mitologi, hantu dan berbagai makhluk dari alam lain, tata ruang dan arsitekstur, masyarakat multikultur, dewa-dewi, ilmu hitam-putih, etika, tata krama, kecerdasan dan kedunguan, dalil filsafat dan kenaifan manusia, mantra dan kutukan, petuah-petuah dan umpatan; semuanya bisa menjadi bahan baku untuk ”adonan” geguritan. Tak ada satu ”ideologi” yang ”menghegemoni” geguritan.

Karya-karya Ki Dalang Tangsub, seperti Geguritan Basur, Ketut Bungkling, Ketut Bagus, Cawak; adalah karya-karya yang membuktikan begitu orisinil jagat geguritan Bali. Karya-karya ini menunjukkan bahwa geguritan tidak terbebani oleh ideologi tertentu, ia bahkan mendobrak kebekuan ”ideologi” yang mengungkung. Mendekontruksi hegemoni. Sebagai seorang pelarian, yang hendak dihukum oleh Raja Gianyar I Dewa Manggis sekitar tahun 1825, Dalang Tangsub melakukan ”pemberontakan” lewat geguritan. Geguritan di tangannya menjadi senjata ampuh gerilia ide-ide, melawan kekuatan palsu yang mengungkungi alam pikir, membongkar motis dan ”narasi besar” penguasa. Ia membombandir dengan peluru kata-kata. Membongkar narasi besar dengan jenaka. Mencampur aduk realita dan imaji. Membaca karya Kidung Perembon, yang merupakan ”kompilasi” geguritan Ki Dalang Tangsub, saya menemukan semacam campuran semangat Frienderich Neitzsche (1844-1900) dan Jorge Luis Borges (1899-1986) bercampur menjadi api dan spirit karyanya tersebut. (Tentu saja Dalang Tangsub tak pernah mengenal kedua dua sastrawan tersebut. Sebelum dua sastrawan tersebut dilahirkan, sekitar tahun 1825, Tangsub sudah menjadi pelarian. Berlari dari desanya Sukawati – Gianyar ke Desa Nuaba, lalu ke Desa Kuum Sembung-Mengwi, lalu bermukim di Bongkasa – Abiansemal). Semangat pemberontakan Dalang Tangsub dan kekuatan perceritaannya yang ”berlapis-lapis”, berpadu dengan kekuatannya menyusun argumen. Bahasanya tak pernah lelah untuk menggugat. Lewat karya itu, ia merumuskan ”bungkling-ology”: sebuah seni debat yang konsisten membongkar mitos dan wacana, yang tak mengutamakan sopan-santun atau ewuh pakewuh, tapi berdasar pada kekuatan gugatan yang bersandar pada ”logika dekontruksi” dan ”rasa humor”. Dalam kakawin, tak pernah saya membaca pemikiran ”nyeleneh” seperti yang Dalang Tangsub tawarkan. Dalang Tangsub, lewat tokoh-tokoh, menjadikan dirinya seorang Dalang Tamak di masyarakat Bali yang ”penurut” dan patuh.

Karya Ida Ketut Jlantik, yaitu Geguritan Sucita-Subudi, saya kagumi melebihi isi karya-karya kakawin yang pernah saya baca. Dalil-dalil filsafat dan penjabarannya tentang sesuatu hal sangat ”dingin”. Tentang kesedihan, umpamanya, dalam karyanya ini Ida Ketut Jlantik memuat ”dalil” seperti ini: ”….jatin sangsara punika, wetu saking tingkah pelih, pelih saking katambetan, tambet dadi dasar sedih. Tambete ngawinang lacur….” Selanjutnya, masih dalam pupuh Ginanti VII, ”Tan pawates tan patanggu, kitane sahi nagihin, yaning tan wenten kasidan, sinah dadi sakit hati, ibuk sedih mangangsara, masih tambet manasarin.”

Membaca Geguritan Sucita, yang cukup panjang itu, yang telah terbit sampai 3 jilid buku sederhana itu (tanpa terjemahan Indonesia), saya mengalami perasaan yang sama ketika saya memasuki Republik-nya Plato, serasa mendengarkan percakapan kaum Stoa yang stoic. Dingin, tanpa kehilangan naluri bercerita untuk merumuskan pemikiran. Geguritan Kawiswara, yang tidak diketahui nama pengarangnya, tentang ”jiwa kepenyairan” dan ”keilmuwan”, adalah karya sastra yang tidak bisa kita sebut sebagai batu locatan untuk menulis kakawin. Pengarang Geguritan Kawiswara (?), Ida Ketut Jlantik, dan Ki Dalang Tangsub, telah membuktikan pada kita bahwa geguritan bisa menjadi wahana untuk mengekspresikan setinggi-tingginya pemikiran manusia. Mereka adalah putra-putra terbaik peradaban Bali yang mempunyai pencapaian bahasa Bali tiada tara, yang mampu ”mengatasi” dan ”melampaui” aturan pupuh.

Dalam hal kemampuan ”menangkap” realitas sosial, Geguritan Nyonyah, yang bercerita tentang perdagangan candu pada akhir abad ke-18 di Bali, tak kalah dengan penggambaran karya-karya novel modern. Penggambaran persentuhan antar etnis Bugis, Cina, Bali dan Belanda, menjadikan geguritan ini betul-betul ”sosiologis”. Percakapan dua pencuri yang mengatakan bahwa tak ada neraka setelah kematian, membuat geguritan ini terasa agnostic, cenderung atheistic. Namun, pada bagian lainnya, I Kesian, si tokoh cerita, justru bisa pergi menenggok istrinya di alam kematian. Dan puncak ”absurditas” disuguhkan pengarang, ketika roh istri menganjurkan Kesian (suaminya) untuk kembali ke bumi dan memadat (memakai candu) kalau ia merindukan dirinya. ”Candu adalah jelmaan bidadari surga,” katanya.

Kehancuran sosial pasca-perang juga banyak dituliskan dalam geguritan-geguritan yang masuk dalam ”genre” uug (hancur) dan usak (rusak). Contoh-contoh di atas hanyalah beberapa ”permata-permata mulia” dari taman sastra geguritan. ”Kawasan pertambangan” ini, belum banyak dieksplorasi secara ”modern” (baca: dengan teori-teori sosial kontemporer). Pembahasan terhadap sastra geguritan, sejauh ini, hanya berkutat sekitar struktur dan nilai!). Membaca karya-karya geguritan itu, yang saya sebutkan di atas, membuat saya menjadi sadar bahwa kita (masyarakat Bali) ”terlupa” untuk memasuki dunia yang berlimpah itu -geguritan. Dan tentu, lalai pula untuk membaginya pada dunia. (Eropa membagi soneta pada belahan dunia lain. Kita jadi mewarisi karya-karya soneta M. Yamin dan yang lainnya yang berbahasa Indonesia. Orang Jepang membagi haiku pada dunia. Haiku sampai kini menjadi perbincangan dunia dan sekarang banyak haiku ditulis di luar bahasa Jepang. Kita?). Dari cara ”membacanya dengan menyanyikannya”, jika diperkenalkan dengan serius pada manusia di belahan dunia yang lain, geguritan sangat berpotensi untuk menjadi bagian dari pertunjukan opera, atau kabuki, atau pertunjukan-pertunjukan teaterikal yang lain.

Sebelum jauh mengambil ancang-ancang untuk membagi-bagi warisan dunia ini untuk kebudayaan dunia, maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah membongkar ”kesalahan berpikir” yang cenderung menganggap remeh geguritan. Cara berpikir ”sekar agung” dan ”sekar alit” ini sangat berbahaya. Seperti juga bahaya cara berpikir ”budaya tinggi” dan ”budaya rendah” yang ”meng-kebiri” kreativitas. Dalam melihat seni, yang berurusan dengan imajinasi, manusia harus melepas segala tetek-bengek hirarki. Melepas dominasi cara berpikir ”feudalism”. Imajinasi adalah dunia yang tak bisa diukur oleh ukuran tinggi rendah seperti membandingkan dua bangunan bertingkat. Dan, geguritan yang merupakan salah satu cabang seni yang hadir dalam peradaban Bali, yang telah mampu memberi ruang manusia Bali untuk melakukan penjelajahan dunia imajinatif yang mempesona ini, untuk bisa memahaminya secara lebih mendalam, kita harus berhenti memakai ”kaca mata sekar agung-sekar alit”.

Walaupun banyak geguritan merupakan carangan, karya yang lahir dari resepsi pengarang terhadap ‘narasi besar’ Mahabarata dan Ramayana, geguritan secara keseluruhan bergerak ”menjauh” dari kungkungan narasi besar tersebut. Geguritan adalah sebuah ruang pengungkapan kreatif yang ”liberal” yang mampu memberi alternatif dalam ”kebekuan” bahasa Jawa Kuna dan metrum-metrum kakawin yang ketat dengan berbagai aturannya. Geguritan lebih kuat menangkap ”narasi kecil” seperti cerita rakyat, dongeng, dan serba-serbi hidup yang melingkupi kehidupan keseharian masyarakat Bali, dan juga ”kegilaan” imajinasi pengarangnya. Maka, menghargai geguritan bukan dengan meletakkannya sebagai kategori sekar alit, tetapi lebih baik kita melihatnya, pertama-tama, sebagai sebuah jalan bagi manusia Bali, semenjak awal abad ke-18 hingga kini, untuk melakukan eksplorasi diri dan jalan kreatif untuk pengungkapkan spektrum lebih luas kehidupan di sekitar mereka. Geguritan, dalam sejarah perkembangan bahasa Bali, memiliki peranan strategis sebagai salah satu ruang yang memungkinkan bahasa Bali untuk berkembang setinggi-tingginya.

Saya mensyukuri geguritan sebagai warisan dunia, bukan hanya karena isi dan kandungan intrinsiknya, tetapi juga karena sumbangan terbesarnya bagi sejarah bahasa-bahasa di dunia berupa kemampuannya merekam secara tertulis kekayaan kosa kata bahasa Bali. Geguritan bukan hanya ”file-file dunia imajinasi manusia Bali”, tetapi juga ”file-file kosa kata”. Kata-kata Bahasa Bali, yang terus tergerus waktu dan ”digusur” oleh bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lainnya, terekam dalam geguritan-geguritan.

Dengan cara pandang seperti itu, mudah-mudahan kita punya semangat untuk mencintai kembali, mempelajarinya secara sungguh-sungguh, menerbitkan, dan (kalau bisa) membaginya pada manusia di belahan dunia yang lain (baca: untuk memperkaya kebudayaan dunia) dengan jalan menterjemahkannya, sebab geguritan adalah salah satu warisan budaya dunia yang tak ternilai, yang singgah dan pernah tumbuh subur di Pulau Bali.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s