PILPRES & KARMA SEBUAH BANGSA*


Angkut Lontar FB2

Saya lahir dalam keluarga non-Muslim yang percaya karma. Lahir di negara Indonesia, negara mayoritas Muslim.

Situasi ini membuat saya penuh syukur. Alasannya:

1. Saya punya pengalaman mendengar bagaimana sudut pandang agama mayoritas dalam melihat kehidupan berbangsa. Terlebih ketika bulan puasa, hampir semua siaran TV menyiarkan dari subuh sampai subuh kegiatan dan berbau keagamaan. Ini menyenangkan di tengah banjir sinetron yang sangat buruk mutunya. Saya bisa bernafas lega bisa melihat siaran keagamaan, sekalipun bukan agama yang saya peluk. Pengalaman dari kecil seperti ini, akhirnya saya terdorong membeli dan membaca Quran, jadi gemar buka-buka Quran, buku indek Quran, berbagai buku kajian Islam, serta politik Islam. Barangkali saya termasuk orang Bali non-Islam yang paling banyak punya koleksi buku studi Islam.

2. Ketika Pilpres tiba, dari lima belas tahun belakangan, saya menyimak bagaimana politik Islam dalam memposisikan diri dalam perhelatan 5 tahunan ini. Katolik dan Kristen kelihatan terlibat, semantara Buddha dan Hindu, dua agama yang percaya karma ini biasanya, sepanjang pengamatan saya, tidak begitu melibatkan pandangan agama mereka dalam melihat Pilpres.

Sebagai orang yang percaya hukum karma, saya merenungi: Sesungguhnya apa yang menjadi karma bangsa ini, yang mayoritas Islam, turut juga menimpa atau mempengaruhi karma saya.

Bagi yang awam dengan istilah karma-komunal, atau karma sebuah bangsa, penjelasannya seperti ini:

1. All karma occurs in a social context and therefore has inherently social dimensions.

Jika hari ini Jokowi terpilih jadi presiden, itu karena konteks nalar dan situasi bangsa yang mendorong rakyat memilih Jokowi. Jika Jokowi bijak, saya keciprat kebijakannya. Jika Prabowo terpilih jadi presiden, itu karena mencerminkan situasi harapan psikologis bangsa kita, jika ia bijak saya ketumpahan kebijakannya. Demikian juga apa yang dipidatokan pemimpin FPI, akibat situasi politik bangsa ini sekarang dan akibat rentetan peristiwa sejarah bangsa ini, tindakan dan pidatonya juga akan mengendap dalam catatan sejarah, mempengaruhi ‘percaturan internal Islam’, dan externalnya, yang juga berdampak pada pikiran, perasaan, dan juga (jika tidak jernih) memicu ucapan dan tindakan saya. Artinya tindakan siapapun turut serta membuat rangkaian karma, dan menguntai menjadi karma bersama (communal karma) bangsa ini. Semua tindakan kita, sekecil apapun, punya konteks sosialnya, punya dimensi sosialnya.

2. Karma would bear its results in a shared social time-space.

Jika hari ini pilpres penuh fitnah, maka wajah sejarah Indonesia dicoreng fitnah. Akan kita bagi energy negatifnya sekarang, dan kita wariskan pada anak cucu. Tercatat dalam sejarah sebagai Pilpres penuh fitnah. Fitnah bukan alcohol 100% yang mudah menguap, namun masuk menyusup dan membakar serta meracuni darah dan pikiran kita. Dalam diri kita berbagi karma bersama itu. Karma kita bersama kita petik dan menunggu matang dalam kontek social dan waktu tertentu.

3. The karma itself produces what could awkwardly be called “resociety,” the interval between rebirth and its necessary complement, redeath.

Demokrasi dan bangsa yang dikonsep dan diperjuangkan oleh Soekarno tidak dengan sendirinya bisa dipetik oleh generasi Soekarno. Ia bertumbuh. Dicerna oleh generasi setelah Soekarno, lalu generasi saya, selanjutnya bertumbuh menjadi sesuai jamannya. Proses pemikiran kebangsaan dan demokrasi yang itu membutuhkan ‘resociety’, membutuhkan ruang untuk melakukan pemenuhannya, menjadi tumbuh dan matang, dan proses ini melibatkan ‘energi kita’ sampai menemukan ujungnya, pada ‘pengulangan kematian’ dan ‘penjelmaannya kembali’. Pemikiran partai Masyumi, NU, Muhamadiah, dan organisasi kemasyarakatan lainnya yang terlibat dalam dinamika kebangsaan Indonesia ini, termasuk juga ideology komunis yang ditakuti bak hantu itu, terlibat dalam pembentukan situasi dan suasana kebangsaan. Dengan demikian, sebagai orang yang hidup dan bertumbuh dalam negara ini, saya tertimpa karma bersama yang diciptakan bersama ini.

Karma Bangsa

Dalam ajaran karma dikenal istilah karma komunal, atau gabungan tindakan bersama yang mengakibatkan akibat yang harus kita tanggung secara bersama. ‘A person is responsible not only for his individual actions in his past life but also for past communal deeds’, demikian kata Sheo Narain. Ada kekuatan massif dan karma komunal yang turun mengendalikan kehidupan personal kita. Di dalamnya secara implisit mengajarkan bahwa karma sebuah bangsa tidak dengan serta merta bisa dirubah oleh kekuatan perorangan.

Karma sebuah bangsa yang terpuruk tidak bisa kita lepastangankan untuk direparasi oleh kekuatan seorang diri pimpinannya.

Karma bangsa bisa diurai dan dipecahkan oleh kekuatan bersama untuk melakukan gerakan karma baik bersama.

Jika kita meletakkan persoalan dan karma bangsa ini dipecahkan atau diurai oleh seorang malaikat, ini hanya kemustahilan.

Pilpres sekarang adalah persoalan karma bangsa. Berurusan dengan karma bangsa, banyak bangsat menjelma bertopeng pahlawan di masa kampanye dan akan bisa kelihatan setelah berkuasa. Saya bisa tertipu. Kita semua bisa tertipu.

Jika hari ini kita mendapat presiden dari pilihan kita, artinya kita ikut menyumbang karma. Salah pilih, artinya kita bersama berkara membuat karma buruk sebuah bangsa. Benar pilih, artinya karma baik bersama sebuah bangsa. Gabungan atau menambahan semua karma buruk (salah pilih) dalam sebuah Pilpres, akan melahirkan karma buruk sebuah bangsa. Demikian sebaliknya.

Hasil Pilpres secara hukum karma bukan hanya kita makan karmanya dalam 5 tahun, namun akan melahirkan dan beranak-pinak dalam generasi mendatang, menunggu pematangan dan ‘resociety’ dan menjelma menjadi sesuatu tergantung akar yang kita tanam. Baik benihnya, jika tidak ada yang mencabut dan dipelihara, kemungkinan besar akan menghasilkan buah yang baik.

Mencabut karma bangsa sangat sulit. Sejarah dan karma buruk bangsa RI di tahun 1965 tiada mungkin tercabut dengan serta-merta dari perjalanan karma bangsa ini. Pilpres kali ini sangat penting. Waras pun memilih bisa tergelincir, apalagi tidak waras.

Dalam prinsip ajaran karma komunal, jika hari ini turun malaikat sekalipun, dan siap menjadi pemimpin bangsa ini, jika karma komunal bangsa ini masih ‘berat’, maka malaikat yang turun kemungkinan juga tidak akan gampang merampungkan karma bangsa ini. Namun demikian, ada ajaran ‘progressive karma’ yang berkembang dalam komunitas Buddhist di Sri Lanka. Ajaran ‘progressive karma’ mengajari: Kita bisa meminimalisir dan juga berpeluang menetralisasi karma buruk masa lalu dengan tindakan kebajikan di saat ini, sekaligus menyusun masa depan dengan tindakan baik saat ini.

Pilpres bukan upakara Bhatara Turun Kabeh (peristiwa turunnya para Dewa), ini adalah sebuah kenduri. Yang muncul dalam sebuah kenduri bisa maling, bisa juga orang yang siap membantu kerja. Apakah yang terpilih maling atau pekerja masih kita perlu tunggu minimal satu semester pemerintahannya. Jika nanti yang terpilih adalah orang yang siap kerja, dan siap memasak untuk warga, mari kita niatkan dan rapatkan barisan mendukungnya bersih-bersih dan menyiapkan makanan bagi rakyat. Jika muncul maling, kita siap-siap juga untuk ramai-ramai menangkap dan mengadili.

Karma sebuah bangsa bukan ditentukan oleh para dewa, namun oleh warga bangsa di bumi yang membuat dan menjalani karmanya. Karma masa lalu mempengaruhi karma hari ini. Karma hari ini mengantar kita ke masa depan.

Bangsa kerdil adalah bangsa yang warganya ‘nrimo minus usaha’. Sebaliknya, bangsa yang besar adalah bangsa yang warganya  ‘realistis dan penuh usaha’.

Bukan hanya karma buruk masa yang menuntut kesiapan kita untuk menanggungnya. Karma baik masa lalupun membutuhkan kesiapan kita mengelola dan memaknainya. Sehingga buah karma baik kita menjadi betul-betul bermanfaat bagi diri dan manusia di sekitar kita.

Menghadapi Pilpres (atau dalam menghadapi segala situasi sulit), ajaran karma mengajarkan agar kita tetap menjaga ketenangan hati dan tetap jernih pikiran. Tidak dendam dan benci. Dalai Lama berpesan, “Jangan biarkan kedamaian hati kita terpengaruh oleh sikap-sikap buruk orang lain”.

Salam Pilpres! Sabbe satta bhavantu sukhitta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

*oleh Sugi Lanus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s