PARAMPARA


Ibu saya memperkenalkan sebuah istilah penting dalam hidup saya: ‘Parampara’. Istilah itu saya dengar sewaktu saya masih kecil sekali, mungkin waktu di sekolah dasar. Kata beliau, ‘Jika ingin belajar ilmu harus mengikuti tradisi parampara.’

Saya mengingat terus istilah itu, sekalipun kurang begitu mengerti maksudnya. Belakangan ketika mulai mencoba memahami naskah-naskah, saya kembali teringat istilah itu.  Ternyata, saya pun baru sadar, istilah ‘Parampara’ yang berasal dari bahasa Sansekerta: परम्परा itu sama artinya dengan istilah ‘guru-sisya’ yang dikenal luas dalam masyarakat Bali tradisional.

Parampara’ (arti harfiahnya: suksesi, kelanjutan, mediasi dan tradisi) menunjukkan tradisi pengajaran dan transfer pengetahuan suci dari guru ke murid/siswa (sisya). Tradisi ini menjadi elemen penting dalam pewarisan Weda dan agama-agama India lainnya seperti Sikh, Jainisme dan Buddhisme.

Dalam beberapa referensi saya menemukan bahwa tradisional pendidikan klasik di masa silam, seorang sisya (murid) tinggal bersama sang guru. Sisya menjadi anggota keluarga sang guru dan mendapat pembelajaran sejati lewat praktek dan ‘asuhan dan gosokan’ terus menerus. Penyelarasan hati sang guru dengan sang murid ini yang menjadi transmitter ajaran suci yang diwariskan dari berabad-abad silam. Dalam sebuah ‘guruparampara’, biasanya, hanya satu master yang ditunjuk, dan beliaulah menjadi menurut ilmu atau ajaran yang punya otoritas.

Dalam ‘Parampara’ di Bali, saya menemukan ada berbagai cabang ilmu pengetahuan suci yang diajarkan, seperti: kadyatmikan, kaweruhing awak, pasuk-wetu, usada dan sastra batin lainnya. Ibu saya sedari dini mewanti-wanti, memberi arahan, jika kita belajar cabang pengetahuan tersebut tanpa melalui tradisi Parampara yang jelas, kita bisa tersesat.

Saya mengingat kembali dan menulis note tentang Parampara ini mengingat demikian banyaknya orang yang mengaku ‘ini itu’, saya berjumpa dengan banyak orang Bali yang terlalu mudahnya kesurupan, ada banyak orang merasa ketakson, bahkan mengaku mampu berkomunikasi dengan ‘ini itu’. Gejala apakah ini?

Jangan-jangan benar apa yang diwanti-wanti ibu saya: Tanpa melalui tradisi Parampara yang jelas, bukan hanya kita menemukan kesulitan dalam memasuki tradisi ilmu kesucian itu, bisa jadi kita tidak hanya mendapat pemahaman yang ‘seolah-olah’, melenceng, arogan, merasa tahu padahal belum paham, bisa jadi kita menjadi ngawur dan nglantur mendewakan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s