Dimuat Bali Post, Minggu, 20 Mei 2012, halaman 5.

Oleh Sugi Lanus

Calonarang UNHI

Suara tepuk tangan dari sekitar 300 penonton menggema panjang di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, beberapa hari lalu (8 Mei 2012).  Standing ovation (bangkit dari kursi dan bertepuk tangan) penanda apreasiasi penonton terhadap tontonan yang memukau itu ditujukan kepada anggota Sanggar Seni UNHI (Universitas Hindu Indonesia) yang baru saja usai mementaskan Calonarang di museum tersebut.

Beberapa hari sebelum pementasan di Museum Volkenkunde, group ini juga mementaskan Calonarang dalam rangka mlaspas (penyucian) Pura Tri Hita Karana, Marzahn, Berlin (5 Mei 2012). Tidak kurang dari seribu penonton tumpah ruah memberikan apresiasi yang sama terhadap pementasan Calonarang yang dipentaskan Sanggar Seni UNHI.

Kenapa publik Eropa demikian terpukau dengan pertunjukan Calonarang?

“Di Bali pertunjukan Calonarang sendiri sangat disakralkan, dan hanya pentas di waktu dan kesempatan yang khusus. Calonarang pentas di Museum Volkenkunde tentu sangat special,” kata Henry Nagelberg, pemimpin Sanggar Gong Kebyar Sekar Alit, Leiden-Belanda, yang malam itu meminjamkan perangkat gambelannya untuk pementasan tersebut.

Henry Nagelberg sebagai tuan rumah sekaligus sebagai pembuka acara juga menganjurkan agar penonton ketika jeda pertunjukan sebelum mulai pentas Calonarang meminta kepada penonton untuk membaca brosur pertunjukan.

“Calonarang adalah topik yang berat. Calonarang sangat sulit untuk saya ringkas ceritanya. Sebaiknya penonton membaca 3 halaman yang disiapkan oleh panitia sebelum pertunjukan dimulai,” demikian tambah Henry Nagelberg.

Dunia Eropa, terutama di kalangan pekerja teater, untuk pertama kalinya mengenal Calonarang lewat ajang Paris Colonial Exhibition tahun 1931. Saat itu para seniman Bali, yang dipimpin Cokorda Gede Raka Sukawati, diundang pentas di arena Paris Colonial Exhibition dan mementaskan teater sakral itu di Paris dengan ‘panggung bergerak’ alias nglawang. Dramawan terkemuka di Prancis Antonin Artaud menonton pertunjukan itu dan mengakui bahwa dirinya sebagai ‘pekerja seni pertunjukan’ merasa digebrak oleh pementasan Calonarang dengan nglawang atau ‘teater bergerak’. Antonin Artaud tersulut dan terinspirasi secara mendalam dan mengakui bahwa karyanya, seperti No More Masterpieces dan The Theatre and Plague, terinspirasi oleh drama-tari Calonarang yang ia saksikan lewat Paris Colonial Exhibition tersebut. Artaud selanjutnya membuat konsep pementasan Calonarang menjadi sangat menarik minat para pekerja teater Eropa pada masanya.

Naskah-naskah klasik Calonarang

Peneliti naskah klasik Jawa Kuna dan naskah Nusantara lainnya, seperti Prof. Hedi Hinzler, Suryadi, para peminat teater dan gambelan Bali, para peneliti dan mahasiswa dari Universitas Leiden, yang hadir sebagai penonton pertunjukan Sanggar Seni UNHI pada malam itu, memahami bahwa pertunjukan Calonarang merupakan interpretasi teks dan naskah lontar yang sangat tua, beraksara Bali dan bahasa Jawa Kuna, bersetting sejarah pemerintahan raja Airlangga di Jawa Timur.

Tidak jauh dari Museum Volkenkunde tempat pergelaran Calonarang yang dipentaskan malam itu, Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde menyimpan 4 naskah tertua Calonarang. Naskah-naskah tersebut bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (Catalogues Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12).

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (Balai Pustaka 1975).

Ketersediaan naskah dan terjemahan dalam Bahasa Belanda tersebut membuat banyak warga pernah membaca atau mendengar keberadaan naskah Calonarang.

Calonarang UNHI di Museum Volkenkunde

Interpretasi Calonarang yang dipentaskan oleh Sanggar Seni UNHi cukup menarik. Pembabakan dimulai dengan Ratna Manggali dikembalikan oleh Prabu Erlangga ke ibunya di Negeri Dirah. Ibunya, Walunateng Dirah, sangat sakit hati dan murka. Ia kemudian mengutus muridnya Rarung untuk menghancurkan Kerajaan Kediri. Konflik dan ketengangan dibangun dengan melalui tokoh Rarung yang dikisahkan membuat Patih Madri menjadi tergila-gila karena kecantikannya. Ketika Patih Madri ingin memperistrinya, Rarung memberikan sebuah syarat yaitu agar Patih Madri membawa penggalan kepala Prabu Erlangga untuk dijadikan pinjakan kaki. Mereka akhirnya bertarung dan Patih Madri tewas.

Tidak cukup dengan tewasnya Patih Madri, Walunateng Dirah dan bersama para pengikutnya menuju kuburan Setra Gandamayu untuk melakukan pangerehan-pengeliakan (ritual ilmu hitam) untuk menebar wabah penyakit ke Kerajaan Kediri. Banyak rakyat Kediri meninggal seketika. Prabu Erlangga mengutus patih Taskara Maguna untuk menandingi Walunateng Dirah. Walunateng Dirah dengan ilmu hitam Dharma Weci merubah wujudnya menjadi Rangda, Patih Taskara Maguna mengeluarkan ilmu putih Dharma Sadu berubah menjadi Barong. Rangda dan Barong adalah simbol tarian abadi semesta. Kedua kekuatan yang senantiasa ada dan berdampingan mencari titik keseimbangan.

Dalam teater tradisional Bali, raja atau tokoh penting boleh saja tegang dan berselisih, tapi umumnya rakyat tetap masih bebas berkelakar dan tertawa. Sekalipun Calonarang merupakan teater horor, tetap saja disisipi kelakar yang disuguhkan oleh para punakawan dan rakyat jelatah.

Hal itu pula yang diketengahkan pasangan seniman I Ketut Gede Rudita dan I Komang Dedi Diana dalam memerankan rakyat jelatah yang sedang ronda di tengah kecamuk wabah yang menyerang kerajaan. Kedua seniman dan komposer, yang juga dosen di UNHI ini cukup mahir berbahasa Inggeris, sangat banyol, sehingga mimik dan gesture tubuh serta riasan wajah mereka yang tampak seperti badut sangat komunikatif, mengundang gelak tawa penonton. Horor dan gelitik berpadu, tawa dan cekam bertemu.

Rombongan kesenian UNHI yang terdiri dari 50 orang ini memang punya jam terbang yang cukup panjang. Mereka pernah mementaskan Calonarang kolosal di Taman Budaya Denpasar serta tempat-tempat lainnya di Bali. Pernah pentas keliling Jawa, dan juga sempat pentas keliling beberapa tempat di India.

Selama 12 hari di Eropa, Sanggar Seni UNHI yang dikoordinator oleh I Wayan Winaja, Wakil Rektor III UNHI, pentas 5 kali di 3 negara, yaitu Jerman, Belgia dan Belanda. Cokorde Putra yang menjadi art director misi kesenian ini mengatakan persiapan latihan hampir 6 bulan penuh.

Di Jerman mereka pentas di Ledermuseum Offenbach (Frankfurt, 1 Mei), Ethnologisches Museum (Berlin, 3 Mei), Pura Trihita Karana (Berlin, 5 Mei), di Pura Pura Agung Santi Bhuana, Pairi Daiza (Belgia, 6 Mei), Volkenkunden Museum (Leiden-Belanda, 8 Mei). Hanya di Pura Tri Hita Karana dan Volkenkunden Museum  mereka mementaskan Calonarang, sementara di tempat lain mereka mementaskan garapan lainnya seperti: Tari Baris Tunggal, Cendrawasih, Legong Kuntul, Kecak Sunda Upasunda, Barong Telek.

“Awalnya undangan datang dari Nyama Braya Berlin yang akan melaspas pura di Berlin, kemudian undangan dari museum di Frankfurt, Berlin, Brussels dan Leiden menyusul. Tentunya kesempatan ini merupakan sarana diplomasi kebudayaan. Secara umum misi kesenian Hindu ini bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai Hindu melalui pementasan kesenian, yang mana didukung sepenuhnya oleh Kementerian Agama RI.” jelas Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IB Yudha Triguna, M.S., yang senantiasa penuh semangat mendampingi rombongan.

“Kehadiran seniman Bali bukan hanya mendukung ritual mlaspas Pura Tri Hita Karana, tapi memberi makna tersendiri bagi publik Jerman yang memang sangat tertarik dengan kebudayaan Hindu di Bali. Kehadiran mereka membuat kami semakin merasa metaksu, mendapat energi sangat positif,” kata Ketut Warsini, Ketua Panitia Mlaspas Pura Tri Hita Karana Berlin.
Henry Nagelberg dari Group Gong Kebyar Sekar Alit, Volkenkunden Museum, Leiden, menilai kehadiran dan pementasan ini memberi spirit dan energi buat group Gong Kebyar Sekar Alit yang dipimpinnya.

“Gamelan kami untuk pertama kalinya mainkan oleh group profesional. Terkhusus dipakai untuk pementasan Calorang. Ini seperti sebuah inisiasi buat perangkat gamelan kami,” demikian kata Henry Nagelberg dengan berbinar-binar.

Para peneliti seni pertunjukan Bali tampaknya sepakat bahwa pementasan Calonarang ini sulit ditandingi oleh pementasan lainnya karena pementasan ini punya akar sejarah, berpijak pada naskah yang sangat berpengaruh, serta terhubung secara mendalam dengan magisme Bali.  Seperti halnya pementasan tahun 1931, pementasan Calonarang UNHI beberapa hari lalu di Pura Tri Hita Karana, Marzhan-Berlin dan Volkenkunde Museum sekali lagi membuktikan bahwa Calonarang tetap memukau publik Eropa.

*Sugi Lanus adalah peminat naskah klasik Bali dan Jawa Kuna.

2 thoughts on “Calonarang di Eropa: Dari Paris Colonial Exhibition (1931) sampai Calonarang UNHI di Volkenkunde Museum (2012)*

  1. tidak hanya orang Eropa yang terpukau, orang bali yang menonton sangat terharu dan terbahak bahak sekaligus menikmati lelucon di sela sela kisah Calonarang yang tidak pernah berhenti memukau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s