SURAT MURWAKALA & BATARA KALA


Oleh Sugi Lanus

Bali Post | Minggu Pon, 3 Mei 1998 | Murwakala & Batara Kala

Hari ini ia menerima e-mail. Seorang temannya minta pendapatnya tentang upaya penyelesaikan kemelut. Ia memutar kepala, mencari kata-kata untuk merumuskan jalan pikirannya. Tentang usaha mencapai kedamaian ia telah memegang dua formula. Di layar kaca, akhirnya ia menuliskan jalan pikirannya…

“Di masa kecilku, seseorang telah bercerita padaku. Dua kisah yang awalnya sama, tapi penyelesaiannya berbeda. Aku ingin ceritakan dua cerita ini padamu, agar engkau mengerti jalan pikiranku tentang penyelesaian kemelut.

“Dalam perjalanan Bhatara Guru bersama Dewi Uma melintasi angkasa, terbesit keinginan kelelakian Bhatara Guru. Bhatara Guru merayu Sang Dewi, Sang Dewi tak tahan dirayu Bhatara Guru. Maka, terjadilah percintaan di atas gemulung awan putih, Belantara jadi ribut. Binatang-binatang terperangah menyaksikan percintaan Dewi Uma dan Bhatara Guru. Seketika itu, jatuhla kama mereka ke bumi, menggelinding bagai bola di antara pohon dan semak-semak belantara, lalu bersatu, menjadi telur yang bening. Bertahun-tahun diam seperti itu.

“Suatu masa, sepasang suami-istri mandul menemukan bola kama itu. Beberapa saat mereka pandangi saja benda aneh itu, tapi akhirnya mereka menyentuhnya dengan tangan kiri mereka. Bola kama itu pecah, jabang bayi terlahir dari dalamnya. Jabang bayi ini dipungut oleh pasangan suami-istri yang sangat mendambakan anak itu, walaupun jabang bayi itu berkepala ular.

“Sejak pecahnya bola kama itu menjadi jabang bayi, penduduk bumi morat-marit. Semakin besar manusia berkepala ular itu, semakin besar penderitaan dan kekacauan bumi. Pada suatu ketika, penduduk bumi baru sadar bahwa kelahiran manusia berkepala ular itulah sebagai penyebabnya. Akhirnya, mereka ramai-ramai mengejar manusia ular itu. Ramai-ramai mereka memotong tubuh ular itu. Potongan-potongan tubuhnya mereka tanam di seluruh penjuru mata angin, (konon) sebagai tumbal untuk penyucian atau ruwat bumi.

“Begitulah kisah pertama, kisah ini judulnya Sudamala. Kisah satu lagi, yang awalnya sama itu berjudul Murwakala. Kisahnya bermula juga dari percintaan Bhatara Guru dengan istrinya Dewi Uma, tapi – kama mereka jatuhnya di samudera, dan langsung menjelma menjadi Sang Kala. Sang Kala nadah atau memakan manusia-manusia yang kelahirannya saat dan waktu yang kurang baik. Contohnya adalah mereka yang lahir pada wuku wayang.

“Sang Kala telah memangsa banyak korban. Pada suatu ketika, sepasang mangsa Sang Kala melarikan diri. Mereka lari dan minta perlindungan pada seorang dalang yang sedang mendalang, Sang Kala mengejarnya. Kedua anak manusia itu di sembunyikan dalam perangkat gender oleh Sang Dalang. Ketika Sang Kala mendekati tempat pertunjukan wayang. Melihat pertunjukanwayang dan suara gender itu, Sang Kala terpesona, hatinya teruwat. Tutur tentang hakikat yang digelar Sang Dalang, membuka hati dan pikirannya, ia akhirnya sadar akan hakikat keberadaan dirinya. Cerah akan hakikat diri, Sang Kala kembali ke alam sunyi.

“Seperti cerita Sudamala, di dalam diri dan di duni ini, mengelinding bola kama. Kalau tersentuh tangan kiri, ia menjelma jadi manusia berkepala ular – menjelma ketidak wajaran. Bola muasal bencana yang mendekam dalam setiap diri di dunia ini, yang kelahirannya merampas ketenangan kita. Serupa bola kama yang selalu menunggu untuk disentuh, lalu pecah, ketidakwarajan pun menunggu waktu untuk dikenali. Memang, dari pertama aku mendengat kisah ini, aku metasa ngeri kalau kisah ini berakhir dengan “pembantaian”, sekalipun konon untuk meruwat bumi. Sesak dadaku membayangkannya.

“Aku tergugah dengan penyelesaian kisah Murwakala. Semestinya seseorang sebagai Sang Dalang dalam menghadapi Sang Kala. Dalam benakku, kelembutan dan kehalusan seni itulah penyucian. Setiap upaya penyucian adalah upaya penyadaran, yang menghatar orang untuk merunungi hakikat. Dengan perenungan hakikat diri, perwujudan kita yang sementara, setidaknya membuat perenungnya untuk bertindak semakin hati-hati, semakin dalam, sampai akhirnya mereka memegang pintalan hakikat untuk bertindak.

“Barangkali muncul pertanyaan dalam dirimu; Lantas siapakah Sang Dalang? Aku telah yakin bahwa dalang yang mampu membukakan mata hati, bukanlah dalang yang di luar sana. Setiap diri memiliki Sang Dalangnya sendiri. Sang Diri-lah yang merupakan dalang setiap diri. Dalang di luar sana adalah tetunjuk-tetunjuk yang selalu merujuk pada dalang dalam diri kita, Sang Diri yang selalu terlupa dan terpuruk terinjak di tengah gejolak dan pergulatan diri, perwujudan Sang Kala. Hanya Sang Diri-lah dalang yang mampu membukakan pintu hakikat bagi setiap diri.

“Dalam Murwakala, Sang Kala terpesona oleh kelembutan dan merdu suara gender, oleh tutur yang dikisahkan Sang Dalang, hati Sang Kala menjadi terbuka untuk mendengar dalang dalam dirinya, yaitu Sang Diri. Maka, bertuturlah Sang Diri tentang hakikat dirinya; “Atutur ikang atma ri jat inya.” Memang tak mungkin diri Sang Kala menemukan hakikat diri, tanpa pertama-tama membuka diri pada dalang yang ada di luar diri. Dalang dalam diri, memang lebih sulit dipahami dibanding dalang di luar sana, sampai pada akhirnya kita sadar bahwa seluruh tutur dalang sebatas menunjuk ke dalam diri.

“Bagiku, kisah Murwakala adalah kisah tentang diri yang mengandung “telur keganjilan asali” yang hanya mampu kita ruwat dengan kesiapan diri untuk mendengar tutur hakikat dari Sang Diri. Kisah Sudamala murni gambaran sosial. Manusia berkepala ular adalah sumber ketidakwajaran atau penderitaan bumi. Semestinya tak perlu ada pembantaian semacam itu, seandinya ada yang bersikap menjadi dalang yang bertutur tentang kebenaran dengan berani, seperti dalang dalam Murwakala yang menyembunyikan mangsa Sang Kala, dan terus bertutur tentang kebenaran. Dalang yang berani agar manusia berkepala ular itu melihat ke dalam dirinya. Tapi, dalam negeri kisah Sudamala, memang tak ada dalang yang berani bicara tentang kebenaran dengan lantang. Tak ada.

“Dalam negeri yang tak ada dalang yang berani bicara tentang kebenaran dengan lantang (atau barangkali tak ada yang mampu bertindak sebagai dalang), memang sulit untuk menghidari peristiwa ruwatan masal dengan kekerasan “pembantaian” tubuh manusia berkepala ular itu, seperti kisah Sudamala. Ruwatan tubuh. Memotong-motong tubuh itu, semestinya tak terjadi, semestinya tak akan terjadi…..”

Pemuda itu berhenti pada kata-kata itu, tangannya tak kuat lagi menuliskan kekhawatirannya. Segara ia keluar meninggalkan ruangan kamarnya. Layar kaca itu masih menyala. Di luar, daun-daun pohon pada merunduk, angin tak bertiup. Ada jeda yang dalam. Teringat pada tutur orang tuanya, dalam suasana tengah malam seperti ini akan terjadi perubahan arah angin. Ia beralih memandangi langit, tetapi dengan perasaan aneh yang berkecamuk di hatinya. Langit malam itu tampak pecah, disayat-sayat percikan kilat. ©SL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s