‘Atraksi Lain’ dalam Bali Biennale 2005


Oleh: Sugi Lanus

Setiap tahun, surat-surat pembaca di koran lokal Bali, tak pernah absen mengeluhkan ‘ketidakbecusan’ manajemen PKB (Pesta Kesenian Bali). Panitia PKB dan pihak Taman Budaya Bali disoroti keteledorannya dalam mengatur pawai pembukaan, pedagang kaki lima dalam arel Taman Budaya, parkir, pasar senggol, bazaar, kesiapan pengisi acara, kurasi peserta, pembagian panggung, susunan acara, dstnya.

Kalaupun ada ‘jawaban lisan’, yang terdengar dari langsung dari anggota panitia, kurangnya dana untuk membayar panitia dan peserta secara profesional, selalu menjadi alasan pokok mereka. Mereka berkilah, “Panitia sebagian besar merangkap pegawai negeri dan tenaga honorer yang dibayar secara tidak memadai. Panitia lainnya, juga tak dibayar jauh di bawah standar. Peserta datang dan pentas dengan dana terbatas.”

Keterbatasan dana memang selalu jalan termudah untuk berkelit dari kritik terhadap ketidakberesan sebuah acara kesenian.

Bagaimana dengan BB (Bali Biennale) 2005? BB pertama langsung menuai ‘surat pembaca’ (baca: kritik) dan polemik. Bertitik pusat pada ketidakpercayaan pada netralitas pengkurasian, kapabilitas kurator, hingga ‘relevansi’ tema-tema yang diusung. Beberapa anggota panitia BB yang biasa mengkrtitik pelaksanaan PKB, kini mereka harus ‘berbesar-hati’ ditempatkan pada posisi dikritik. Panitia BB 2005 (sedari awal) telah terkuak menghadapi permasalahan pelik ketidaklancaran/kekurangan dana. Sudah tercium gelagat kalau keterbatasan dana (akan) dipakai alat berkilah ketika Bali Biennale dinilai berjalan dalam ‘keterbatasan’.

Takut dikira komersial

Acara-acara biennale seni terlahir di tengah kegandrungan masyarakat akan ‘budaya franchise’. Nama biennale dipakai (tentunya) bukan hanya karena di dalamnya terkandung makna yang sepadan dengan kata dwiwarsa, tapi diungkapkan secara terbuka oleh pihak panitia, ada ‘agenda lain’ untuk menjadikan BB bagian dari biennale-biennale seni yang sudah terselenggara di belahan dunia lain. Terlalu ‘polos’ seandainya kita menampik realitas bahwa biennale-biennale seni telah menjadi sebuah agenda untuk ‘berjumpa pasar’. Biennale seni, lewat berbagai kriteria yang dirumuskan panitianya, punya agenda untuk melahirkan semacam ‘parameter’ karya-karya seni. Semacam ‘pemetaan’ yang secara langsung akan mempengaruhi gelagat dan kecenderungan pasar, yang berimplikasi terhadap ‘pembentukan harga’ karya-karya seni. Sehingga, dalam penyelenggaraan BB terkandung tanggungjawab yang mesti ditanggung secara bertanggungjawab; dari sosialisasi awal BB, persiapan pembentukan panitia, pemilihan curator, sosialisasi lanjutan, pemilihan kurator, seleksi tempat penyelenggaraan; sehingga BB melahirkan ‘pemetaan’ seni yang mencerdaskan.

Karya-karya fine-art yang diurusi panitia BB adalah bagian dari ranah kesenian modern yang tidak bisa disejajarkan dengan kesenian rakyat (komunal), semacam joged atau genjek, yang bisa diselenggarakan secara mendadak di alun-alun desa atau warung tuak. Ini bukan pula pengorganisasian kesenian nirlaba yang diperuntukkan sebagai yadnya (persembahan) di pura-pura. Fine art meminta ‘perlakuan khusus’ untuk ditangani dengan manajemen yang rapi, yang mau tak mau, berhadapan dengan sifat komersial yang secara ‘intrinsik’ terkandung dalam kata manajemen. Sangat naïf bila panitia BB berdalih untuk menjadikan BB tak komersil, sementara, jelas-jelas melibatkan sponsor, penjualan, dan menjadikan galeri-galeri (dan museum komersial) sebagai venue dari BB. Sehingga tulisan pengamat dan pewarta seni Bre Redana (dalam Kompas, Minggu, 18 Desember 2005) bahwa panitia “punya idealisme tinggi tapi lumayan naïf dalam manajemen” tidak bisa dielakkan oleh panitia BB. Dalam tulisan itu juga terungkap ‘kekhawatiran’ ketua panitia BB dicap ‘komersial’. Tidakkah ‘kekhawatiran’ itu membuat panitia BB semakin tampak naïf?

Di balik pelaksanaan BB 2005, ada sebuah situasi yang mengundang tanya: Apa sebenarnya ‘motif’ panitia BB untuk membuka seluruh ‘isi dapur’ BB kepada media? Kalaupun terbatas dana, apakah elok ‘kasus’ seorang panitia yang mengadaikan mobil untuk menomboki biaya BB sampai muncul di media? BB bukanlah sebuah telenovela yang ditayangkan untuk memancing hati pemirsa untuk ikut bersedih atau ‘berempati’. Biennale Bali semesti bisa menunjukkan bahwa Bali (panitia yang mengurusnya/penyelenggara) punya keunggulan manajemen, matang dalam pertimbangan, bukan seperti nama ogoh-ogoh (semacam patung busa, kertas dan bambu) yang dibuat anak-anak saat pengrupukan (perayaan menyambut tahun baru Isaka atau Nyepi) yang kadang diberinama: Kala-ada (asal ada) atau Kala-ngae (asal buat).

Tentunya, BB bukan sengaja dilahir untuk merajuk-rayu publik agar dimengerti ketidakberdayaannya? Persoalan ‘dapur’ semacam itu tidak mendidik bila dikonsumsi oleh pembaca di tengah banyaknya keunggulan yang harus kita saingi. Kalaupun ini dimaksud untuk menepis kecurigaan terhadap ‘penyelenggaraan keuangan’ BB, cara ‘transparansi’ semacam ini tidak efektif. Tidakkah terpublikasinya keterbatasan dan defist keuangan BB justru akan terbaca dan mengemuka sebagai gambaran atau pencitraan bahwa panitia BB punya permasalahan internal yang menghambat kinerja panitia untuk melahirkan sebuah peristiwa kesenian yang berkualitas? Lebih jauh, ini akan membuat masyarakat sangsi terhadap kualitas penyelenggaraan BB. Ketidakmatangan penyusunan budget semacam ini, akan melemahkan trust terhadap team BB secara keseluruhan. Kalaupun panitia berkilah bahwa BB 2005 menghadapi masalah defisit dana karena BB ini yang pertama, tetap saja akan berimplikasi terhadap ‘image’ dan perspesi masyarakat terhadap BB selanjutnya, yang semestinya diantisipasi sedari awal. Retorika semacam ini ‘kontra-produktif’.

‘Tugas lain’ panitia Biennale

Panitia BB (semestinya) bukan hanya mengkurasi pelukis atau karya seni, tapi punya tugas yang tak kalah penting: ‘menyeleksi’ galeri atau museum yang mana yang ‘berdedikasi’ dan mau berkontribusi terhadap keberlangsungan acara kesenian.

Galeri yang tak tidak kooperatif terhadap keberlangsungan acara kesenian, yang bertinggi-tinggi dalam memasang harga terhadap penyelenggaraan kerja kesenian yang ‘non-komersial’, semestinya ‘di-media-kan’, diungkap secara terbuka. Dibutuhkan ‘nyali’ panitia BB untuk menyebut nama-nama galeri/museum semacam itu. Panitia BB tidak perlu berkeluh-kesah perihal ketidakmampuannya menjangkau harga yang diberikan oleh galeri/museum itu. Sehingga galeri atau museum semacam itu bisa ‘di-marking’ atau ‘di-colek pamor’ oleh para pelukis dan juga media. Siapa tahu (walaupun tidak usah diharapkan), suatu hari nanti, pemilik galeri/museum semacam itu menjadi ‘tersadar’ bahwa kehadiran sebuah museum dan galeri bukan hanya tempat berjualan, tapi juga tempat membangun ‘kesadaran’ dan apresiasi seni.

Sandainya tanggungjawab tersebut di atas mau dipikul panitia BB, output BB bukan hanya untuk menemukan wajah-wajah seniman muda, tapi sekaligus menghasilkan ‘pemetaan’ venue berkesenian yang kondusif.

Bali Biennale ‘komersial’

Setiap pasar di Bali punya pelinggih atau pura Bhatari Melanting yang dihormati sebagai ‘Dewi Perekonomian’. Ada pula otonan pispis, hari khusus untuk ‘menyembahyangi uang’, semacam hari peringatan untuk berucap syukur atas rejeki yang kita peroleh. Penghormatan itu ditujukan pada Bhatara Rambut Sedana. Orang Bali tidak dilarang ‘komersial’, tidak haram menjadi kaya. Bagi orang Bali (kita semua), bukan menjadi kaya yang persoalan, tapi cara memperoleh atau meraih kekayaan itu yang membuatnya menjadi dosa atau tidak. Dalam ungkapan Bali, mendatangkan rejeki halal disebut masari, dan kekayaan yang halal, diyakini akan membuat seseorang menjadi bertambah dermawanan.

Dibanding berkeluh kesah defisit budget, apa salahnya BB menjadi ‘komersial’? Kenapa harus merasa risih menghasilkan keuntungan (yang masari)? Sepanjang dipertanggungjawaban ke publik, setidaknya disiarkan ke media secara transparan tentang jalannya BB, menjadi ‘komersial’ tidak hina. Kalaupun panitia BB memang ingin tidak mau  terkesan komersial – meminjam sinyalemen (sindiran?) Bre Redana – panitia berlaku “asketik”, layaknya kesenian tradisional yang dijadikan sarana yadnya oleh senimannya; bukankah keuntungan BB (seandainya untung) bisa disumbangkan menjadi ‘dana-punia’? Kalaupun dirasakan perlu, dan akan sangat strategis, hasil keuntungan BB disumbangkan ke lembaga kesenian, atau dijadikan ‘modal awal’ kegiatan lanjutan, atau kegiatan kemasyarakatan, sehingga masyarakat akan melihat “wibawa” fine art secara nyata.

Panitia BB ke depan seharusnya mampu membangun kepercayaan publik terhadap ‘eksistensi’ BB dengan perancangan budget yang akurat. Kecerobohan menghitung budget, yang menghalangi kinerja panitia, dan sampai tersiarnya di media bahwa seorang panitia menggadaikan mobil untuk menomboki biaya BB 2005 – dalam ungkapan Iwan Simatupang – adalah tragik rangkap tiga. Tidakkah ini mencitrakan lemahnya manajemen seni BB? Bukankah manajemen seni yang mestinya mampu membawa kesenian pada posisi terhormat, tapi kenyataannya, karena manajemen tidak rapi, kesenian kembali dijatuh ke persoalan ‘klasik’ – seperti hal juga keluhan kesenian tradisional –  ketidakberdayaan keuangan? Kenapa sebuah peristiwa kesenian yang diharapkan punya ‘kelas tersendiri’ terjatuh menjadi desas-desus uang?

Tidakkah gejala ‘takut menjadi komersial’ justru telah (dan akan) menjadi sandungan penyelenggaraan event kesenian? Panitia BB (yang lewat dan yang akan datang) semesti tidak ‘me-replikasi’ manajemen PKB yang tidak ‘komersial’ tapi banyak menuai cercaan. Jika masyarakat Bali ‘tidak layak’ belajar dari manajemen PKB, apakah peluang ‘belajar’ itu muncul dalam penyelenggaraan BB mendatang?

Dengan menjadikan BB sebuah kegiatan yang ‘komersial’ (sebaiknya dibaca: profesional), kesenian akan ‘diperhitungkan’ di dunia yang kian menuntut keberhasilan dengan skala ‘nominal’.  Tentunya bukan ‘dosa’ jika dunia kesenian mampu menyumbang ‘pencapaian finansial’-nya, sepanjang dengan catatan, tidak menumpas dan mengorbankan pencapaian estetiknya.

Masyarakat luas, khususnya yang terus mengikuti perkembangan BB, bukan hanya datang untuk atraksi karya-karya fine art semata. Tapi, mereka juga selalu ‘ingin tahu’ (memantau): Apakah manajemen BB bisa tampil menjadi ‘atraksi lain’; sebuah pertunjukan manajemen seni yang beres, bersih, rapi, yang bisa menjadi panutan manajemen kesenian Bali yang lainnya? Atau sebaliknya? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s