MATEMATIKA RASA


BALI  POST | Minggu Wage, 8 Juni 1997

Oleh Sugi Lanus

Timur terang memerah, matahari perlahan menyembur dari timur. Embun-embun masih bertengger di ujung-ujung rumput dan dedaunan. Buah-buah jeruk merunduk mencium tanah, menguning melambai-lambai, seakan memanggil ingin dipetik.

Ketika jeruk Buleleng begitu terkenalnya di awal tahun delapan puluhan, usia saya belum menginjak sepuluh tahun, namun kenangannya tersimpan rapi dalam ingatan. Musim-musim jeruk menguning tidak hanya membuat para pemilik jeruk saja yang tersenyum tapi anak-anak yang orangtuanya tidak punya punya pohon jeruk sekalipun ikut gembira. Mereka bisa minta dua atau tiga biji jeruk pada tetangga sekitar atau mereka bisa munuh (mencari buah sisa sehabis panen).

Sangat senang rasanya bisa bergabung bersama teman-teman yang munuh jeruk, saya merasakan kebersamaan dan merasa ada dalam satu team yang harus selalu menjaga kerjasama. Bagai kekompakan kami mencetak gol di lapangan bola pinggir sungai, dalam bertanding melawan tim bola anak-anak desa seberang sungai.

Jeruk-jeruk hasil munuh kita gabung dan dikumpulkan untuk kemudian kita bagi rata bersama. Kami membaginya di tengah-tengah perbukitan kecil tempat kami bermain, atau di pinggir sungai. Tak jarang kami membagi jeruk-jeruk itu di tengah sungai sambil berenang membuat semangat bertahan berenang kami dipacu dan yang tak bisa renang dipacu untuk belajar berenang. Pada saat seperti inilah kami mengajari teman yang belum bisa berenang. Sementara ada juga teman yang mempertaruhkan jeruk-jeruk bagian mereka untuk lomba ketahanan menyelam atau lomba berenang menyeberangi arus sungai.

Tibuan, atau bagian dari batang sungai terdalam dan dengan air mengalir pelan, walau airnya sering agak memutar, itulah tempat kami berenang berlama-lama. Di bagian sungai yang membentang memisahkan desa-desa sekitarnya, di bagian sungai itu anak-anak desa barat sungai dipertemukan untuk berenang bersama. Di tibuan tidak lagi ada lagi perbedaan anak dari desa timur sungai atau dari desa barat sungai, kami tahu bahwa kami sama-sama berenang dan bermain dalam sungai yang bebas, alam yang tanpa pemilik. Sungai, alam yang kita renangi bersama tanpa identitas batas pedusunan, memberikan kami perasaan kebebasan dan persamaan di antara kami, walau kami sering bertanding untuk membela tim kami; tim bola desa timur sungai dan tim bola anak barat sungai.

Di penghujung musim panen jeruk, atau ketika panen jeruk di sekitar tempat kami tinggal berakhir, menjadi sulit mencari jeruk. Kami biasanya pergi ke Pelinggih Pengayatan, tempat sembahyang di pinggir jalan, jalan yang menuju pelabuhan Gilimanuk. Truk-truk dan angkutan lainnya yang lewat, biasanya berhenti untuk sembahyang di sana. Utamanya truk-truk yang mengangkut muatan untuk menyeberang ke Pulau Jawa. Kalau truk mengangkut jeruk, mereka biasa maturan (menghaturkan) satu atau dua biji jeruk tanpa mengambilnya kembali. Lungsuran, sisa sajen jeruk itu, kami yang ngelungsur (mengambilnya kembali sasa sajen) itu. Kami langsung buka jeruk sisa sajen itu begitu truk itu lewat, sambil menunggu truk-truk yang lainnya berhenti dan maturan di sana. Terkadang kami canggung juga untuk makan jeruk sisa-sisa sajen itu kalau tidak dipersilakan mengambilnya oleh supir atau kernet yang maturan di sana sebelum mereka pergi. Tapi akhirnya kami menjadi terbiasa, mungkin karena kami tumbuh dalam bukit-bukit buah yang tidak jelas pemiliknya, yang dapat kami petik bebas buah-buahnya yang ada, terbiasa bermain di sungai yang bebas, dan akrab dengan laut yang membentang kebebasan tanpa seorang pun berhak memilikinya. Jadi apa pun kami rasa tak ada salahnya kami bagi rata, secara bersama.

Satu biji jeruk lungsuran, kami bagi berlima, atau bertujuh, atau berapa pun jumlah teman yang hadir disana. Yang jelas kami hendak bagi rata. Kami sebelumnya membagi dengan matematis, satu biji jeruk yang isi dua belas tuas bagi enam anak hasilnya jelas masing-masing dapat dua tuas. Namun jeruk isinya tidak selalu genap atau jumlah kami yang tidak selalu pasti. Bayangkan saja, untuk anak dusun umur kurang dari sepuluh tahunan, membagi jeruk yang isinya sebelas tuas bagi tujuh anak, luar biasa tidak terbayang jawabnya. Matematika tidak bisa dipakai membagi jeruk – kami seakan sepakat dengan kesimpulan ini. Kami pun berhenti berpikir secara matematis dalam membagi hasil alam kami. Selanjutnya kami seperti membuat formula bersama, kami membagi tuas-tuas jeruk dengan rasa – kami berbagi rasa. Kami keluar empat pondasi dasar matematika yang mendasari seluruh perhitungan matematis yang pernah ada, dari yang paling sederhana hingga rumus paling rumit, yaitu : tambah (+), kurang (-), bagi (:), dan kali (x). Formula kami bersama itu, kami sebut “metamatika rasa” dan kami tertawa. Yang dapat bagian sebelumnya, membagikan bagiannya untuk yang belum kebagian. Yang dapat lebih banyak, memberikan bagiannya pada yang tidak dapat. Yang merasa cukup, memberi miliknya pada yang lain.

Tak lain karena kami ingin tetap berteman dan punya tim bermain yang tangguh, mungkin karena kami tanpa sadar tahu bahwa alam tak jarang terkadang garang – desa kami pernah disinggahi banjir besar, desa sebelah pernah poranda karena angin, dan kami bersama merasakan takut-sedihnya diguncang-guncang gempa – jadi kami tak hanya mesti berdamai dengan teman bermain. Tak hanya mesti berdamai dengan diri sendiri, juga harus berdamai dengan teman bermain. Tak hanya dalam membagi jeruk, juga dalam hal yang lain. Demi pertemuan dan tim bermain kami; kami memilih duduk bersama di bawah ketika menonton wayang, dari pada kami berantem berebut satu kursi. Atau, bila ada lomba mengambil uang logam dengan mulut di buah jeruk yang digantung – dengan saling berpandangan dan saling mengernyitkan alis – kami sepakat tak ikut karena sebelumnya pernah tim kami pecah gara-gara permainan itu.

Hari ini tak ada lagi pohon jeruk yang buah-buahnya menguning, mencium tanah dan melambai-lambai minta dipetik, namun rasa manis, asam, kecut, dan belangsah buah jeruk persahabatan kami masih terhidang dalam perasan rasa. Dan kerinduan berbagi rasa, kebebasan alam di perbatasan pedusunan diri, angin sepoi hijau perbukitan, berenang di aliran sungai antara – menggoyang-goyang daunan hati. Waktu jalan menggulung kenangan.

Ditulis di rumah Made Sudiana, Gumuk Sari, Sesetan, 2 Februari 1997

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s