MATAN TITIRAN


Sugi Lanus | 6 April 1997

Sulur Sepi dari Negeri Tani

EMBUN-EMBUN di rumput pematang sawah menghilang kala pagi makin terik disiangi matahari. Layaknya Sang Bhuta Kala yang datang di malam-malam gelap manusia, pergi menghilang entah kemana saat obor-obor dinyalakan. Berjalan bertelanjang kaki di atas rumputan pematang, badan terasa berkaki, kepala yang mengembara ke ruas-ruas langit berbelok ke bumi. Lembut sentuhan rumput pada kaki, sehijau bias warnanya di mata.

Bunga-bunga padi menghamil santan. Burung-burung pipit mulai berburu bulir-bulir Dewi Sri. Petani-petani siaga siapkan ranggon; dangau di pematang, tempat berteduh di terik hari, kala menjaga padi dari keroyokan burung-burung pipit yang kadang bergulung bagai topan menyapu desa.

Rangka dangau telah disiapkan, salon galar; tempat duduk pun telah terpasang. Tinggal atap menunggu dipasang. Dangau biasanya beratap cucukan; atap dari daun kelapa kering yang dilipat. Dipasang dengan diikatkan pada reng bambu rangka atap. Inilah pelajaran kesekian dari seorang petani tua kepada penerusnya, mengikat cucukan di atas rangka atap ranggon.

Mengikat atap daun kelapa dengan tali tutus; tali bambu, tidak seluwes menyimpul tali biasa. Ujung-ujung tali dipertemukan setelah melingkari batang cucukan dan reng rangka atap. Ujung-ujung tali selanjutnya diputar mengikuti liukan batas lentur tali, sebelum ujung-ujung tali dikaitkan di sela-sela lingkar tali pada rangka atap. Inilah satu-satunya cara untuk menyimpulkan tali bambu, tanpa memutar meliuk menyimpulkannya, tali bambu yang cenderung kaku tentunya akan patah saat disimpulkan dengan cara biasa. Putaran ujung-ujung tali yang sampurna dan lengkung kaitannya yang menyerupai liukan perahu kertas pada pusingan air, disebut mamatan titiran.

Kenapa mamatan titiran namanya? –

Lihat saja mata burung ketitir –

Menyerupai mata burung ketitir atau perkutut (ma+mata+an dan titiran)? Begitulah istilah itu menghantar untuk melangkah mengendap-endap mengintip burung ketitir dan mengamat-amati matanya. Walau dalam sangkar burung ketitir masih nampak anggun dan kumandang irama suara kung (dalam Jawa Kuno kung berarti cinta); cinta-nya bergema jernih, pantaslah ia jadi kegemaran banyak orang. Pemiliknya jarang yang pasih menuturkan cerita kesucian burung ini, yang dipercaya sebagai burung kesayangan dan jelmaan dewata di alam ini. Namun, sikap laku mereka memperlakukan burung ini lebih bertutur bagaimana mereka mengagungkannya. Dipercaya penambah wibawa pemiliknya, disayangi leluhur, memberikan pancaran ketenangan kesekitarnya, penulak bala; pembelok kesengsaraan, dan banyak lagi cerita lainnya.

Dengan perasaan yang sama menengok ke dalam matanya, hati digetarkan ketika bayangan diri tampak di bola matanya. Berkaca dalam bening lingkar matanya, menghantar hati bercermin ke heningan diri. Aluran suaranya nelangsa merambat dalam ruas-ruas langit, merambat ke ruang dalam diri.

Sementara, ada ungkapan lain, masih sekitar burung ketitir: tidak tahu matan titiran. Ditujukan pada orang yang grasa-grusu tak jelas, ngepop tulen, mengambang tak berpendirian, dan utamanya pada orang yang buta ring sastra; dalam hal ini sastra lebih jauh dimaksudkan sebagai wahana pencarian hakekat hidup; kesujatian.

Kenapa kembali matan titiran? –

Tengoklah pengangge aksara Bali

Dalam aksara Bali, selain hanacaraka-nya, masih ada lagi yang disebut pengangge aksara atau busana aksara. Pengangge aksara ini digunakan sebagai pelengkap aksara pokok: hanacaraka-nya. Salah satunya adalah ulu, berbentuk lingkaran kecil, yang seperti namanya dikenakan di hulu atau di atas aksara pokok.

Ulu bila dikenakan pada aksara pokok ka, maka menjadi berbunyi ki. Dalam term Bali disebut – ka maulu, dados ki. Ulu inilah yang dimaksud matan titiran dalam aksara bali. Dari ulu ini, manusia Bali masuk ke ruang-ruang kebijakan tradisi sastra yang telah melewati ujian waktu dan adaptasi kurun pemikiran sebelumnya. Dari ulu ini manusia lambat-laun disembuhkan dari kebutannya akan hakekat kelahiran lewat pembabaran sastra tradisi yang bersumber dari kehalusan budi, bukan yang lahir dari gejolak keresahan hidup. Sastra yang lahir dari perenungan ke dalam diri, pemahaman hakekat sepi (sunia), melampaui gejolak ramai buru-hara dunia luar. Inilah ulu yang menghulukan manusia kehulu hulunya diri; kesunyataan.

Baik lengkung kait tali tutus yang bermata titiran, dan lingkar kecil matan titiran dalam aksara Bali (ulu), sama-sama menunjuk ke kesamaan bentuk – lingkaran atau windhu. Lambang keyakinan filosofis masyarakat Bali akan adanya hakekat kekosongan; puyung maisi.

Manusia pada batas pemikiran dan pencariannya, dihadapkan pada kenyataan hidup yang berakhir dengan kematian. Manusia dihadapkan pada bentang kehidupan yang memaksanya untuk memaknainya, menyelusuri hakekat  kefanaan hidup —ngruruh isin puyung. Teka-teki yang membentang dalam ruas batang perjalanan hidup, pemberi harapan dalam absurditas.

Ketika riuh keramaian hanya melenakan dan merampas kepribadian tanpa memberi jawab, maka pada keheningan sepi satu-satunya harapan manusia bersandar. Menyepi, tidak harus berarti menarik diri dari kehidupan. Menyepi punya arti tidak meneggelamkan kepribadian dalam riuh hidup, tidak menjual hening diri pada pasar gelombang keramaian. Sebuah jalan melampaui permukaan pikiran yang diamuk badai luar, masuk melalui pintu cipta, menyelam ke dalam lorong dasar budi – akar kata kebudayaan

Dalam hiruk-pikuk keramaian segala keributan berawal, dari hening budi keluhuran budaya dicipta. Dalam pendek kata seorang petani tua, ‘Sepi melahirkan bakat, ramai melahirkan tabiat’.

Lembut semilir angin di keheningan rumput persawahan, nyanyi irama suara sunari melipur resah anak-anak petani. Datangnya tiupan angin riuh merebahkan batang-batang bulir padi, menerbangkan doa-doa para petani. Anak-anak petani resah kehilangan pelipur, berantakan baling-baling suara sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s