H A K I K A T S E N I – Membaca Kembali Prasasti Sukawana, Bali Tahun 891


oleh Sugi Lanus|Sastra Bali|Universitas Udayana

Sukawana adalah sebuah desa dalam jajaran desa-desa tua di pegunungan Bali. Pura Penulisan dan Pura Balingkang mengapitnya. Sebuah kawasan yang bertutur banyak ketika seseorang hendak merunut perjalanan kebudayaan Bali. Kawasan arkeologis abad-abad awal masa keberaksaraan Bali.

Seperti desa-desa sekitar lainnya; Penulisan, Dausa, Serai, Manik Liu, Batur, Kintamani dan Bwahan, di Sukawana juga ditemukan prasasti. Sebuah prasasti yang oleh Dr Roelof Goris disebut sebagai Prasasti Sukawana AI dalam buku Prasasti Bali,  Incripties Voor Anak Wungsu (1954), ditemukan di sana.

Prasasti itu disurat dalam Bahasa Bali Kuna, berangka tahun Isaka 804 (891 Masehi), menjelaskan perihal pemberian izin kepada beberapa bhiksu untuk membangun pertapaan dan pesang-grahan (satra) di daerah perburuan (atau perguruan?) di Bukit Cintamani mmal. Batasnya ditetapkan. Bhiksu-bhiksu tersebut dibebaskan dari bermacam-macam pajak. Jika ada salah seorang bhiksu yang meninggal, tentang warisannya diurus dan ditetapkan. Sebagian dari warisannya dipakai untuk membeli perkakas pesanggrahan.

Muasal kata “SENI”

Ada satu kata dari dalam prasasti tersebut yang akrab dengan telinga kita, yaitu: “seni”, yang dalam prasasti ini ditulis senhi:hangga tukad ye kalod, anada tua bhiksu, grama musirang ya marumah ditu, tani kabakaten laku langkah, kayu   tringtihing tanggung yathakrtya bsar senhi

Dibandingkan dengan yang tertulis dalam Prasasti Srodokan (tahun Isaka 837), kata ini ditulis tanpa huruf h: sni .

Kata itu mempunyai makna yang berbeda dengan maknanya sekarang. Kata senhi atau sni dalam dua prasasti ini berarti kecil.

Saya meyakini inilah akar arti kata seni, yang pakai sekarang dalam berbagai bentukan kata: “sen-iman/wati”, “kesenian”, “nyeni”, “berkesenian”, dstnya. Walaupun  semua deretan kata tersebut, kehilangan konteks bila kata seni-nya diganti dengan arti kata “senhi”, yaitu kecil. Namun, jejak arti ini dapat kita temui dalam sebuah istilah yang tetap berarti sama walaupun pasangan kata-nya diganti dengan kata “kecil”. Istilah air seni tetap punya artinya sama dengan air kecil. Atau, ular seni sama maksudnya dengan ular kecil. Dan atau, dalam bahasa Bali, kata “cenik” (kecil) berasal dari dari kata “seni”?

Lalu, adakah hubungannya dengan ungkapan Inggris: “Small is beautiful”?  Yang jelas: senhi berarti small , pada masa Bali Kuna!

Hal yang mengganggu dalam benak kita adalah sebuah pertanyaan: Kenapa kata seni sekarang begitu “jauh” perkembangannya dengan arti sebelumnya?

Bahasa adalah sebuah media yang bersifat mirip organisme yang hidup, selalu berubah sesuai gerak perubahan pola pikir dan situasi kultural pemakainya yang terus berubah sesuai perubahan zaman. Banyak kata yang hilang atau tidak banyak dipakai, banyak kata yang bergeser maknanya. Dalam rentang waktu panjang dan situasi kultural yang berubah inilah, banyak kata-kata, dalam hal ini kata seni terus mendapat pemaknaan baru hingga “bergeser” sampai maknanya seperti yang sekarang kita kenal.

Dengan menyadari pergeseran makna kata semacam ini, sebut saja pendekatan etimologis, kita akan mereka-reka kembali pemaknaan arti kata seni. Jika seni berarti kecil, berkesenian berarti usaha untuk memperkecil sesuatu?

Nyeni berarti melakoni “laku pengecilan” dalam hidup?

Keyakinan yang paling mendasar untuk meraih kedamaian hidup dalam masyarakat Bali adalah memperkecil momo dalam diri. Kata “momo” adalah akumulasi dari kerakusan, kekusutan, kegilaan, keangkuhan, keakuan, kemarahan, kecongkakan, kebingungan, dan seluruh potensi destruktif dalam diri manusia yang akan meledak memberangus kemanusiaan kita, bila kita tiada kendali untuk memperkecilnya.

Orang Bali, secara tradisional, melakukan kesenian dalam rangka untuk murnayang ati (menyempurnakan jiwa), dengan jalan nguwangin momo (memperkecil momo). Memperkecil momo inilah letak mendasar arti seni. Seni merupakan kendaraan kecil — hinayana” — wahana memperhalus pekerti, dengan jalan masuk ke dalam diri untuk mengenali hakikat, kehalusan diri. Lewat seni, manusia sebagai makhluk spiritual bergerak untuk pengidentifikasian diri memasuki kehalusan semesta dan manunggal (menyatu) dengan Sanghyang Licin (Keillahian Yang Terhalus).

Dalam pandangan para seniman atau sastrawan tradisional di Bali, seni dapat dikatakan seni, hanya apabila seni mampu memperkecil momo. Jadi, seni-man/ wati adalah sosok yang hidup dalam kesederhanaan, nyeni adalah melakoni hidup dengan selalu memperkecil momo dalam diri. Karya seni dapat dikatakan karya seni apabila mampu lebih memperhalus pekerti manusia. Karya seni merupakan hasil pewujudan insipirasi dari Ketiadabatasan yang tiada terbatas dengan keterbatasan bentuk, namun pengecilan yang mampu menggugah kembali Ketiadabatasan yang terkandung dalam diri manusia yang bersentuhan dengannya. Di luar itu semua, seni bukanlah seni, hanyalah hasil kekusutan pikiran manusia, geliat-geliat kegelisahan yang tiada berujung pangkal. Peracunan seni. Pembenaran laku hidup atas nama kata seni yang salah kaprah.

Di Sukawana, di titik ditemukannya prasasti itu, alam membahasakan diri lewat kabut. Kabut datang dalam tiupan angin, berangkat dalam tiupan angin. Pada lahan pertaniannya, perbukitan dan lembahnya, dalam tiupan anginnya; manusia yang bertani di lahan-Nya dan berumah di sana lebih paham arti kata seni. Seorang petani, yang ketika ditanya, tersenyum sebelum menjawab. Lakunya lebih keras dari bicaranya. Yang selalu setia berdamai dengan alam, pada diri sendiri. Yang ritme hidupnya menyatu dalam ritme alam. Padanya, Alam bertutur lebih pasti tentang hakikat senhi. [SL]

Toya Bungkah, Batur, 6 Mei 1997

One thought on “H A K I K A T S E N I – Membaca Kembali Prasasti Sukawana, Bali Tahun 891

  1. Bapak Sugi, tulisan anda sangat baik dan inspiratif, dalam arti, membuka wawasan ttg konsep seni dalam budaya Bali Aga. Dengan ini, hendaknya karya-karya seni dalam budaya Bali Aga, diukur atau dipahami dengan memakai konsep budayanya sendiri, tidak memakai teori seni yang berasal dari Budaya Barat. Penjelasan Bapak memberikan pencerahan, mengapa seni memiliki relasi dengan spiritualitas; berperan sebagai media transendental. Seni tidak pernah terpisahkan dari aktivitas spiritual dan atau menjadi bagian dari ibadah. Saya jadi memahami estetika seni sebagai integrasi dari keindahan dan kebaikan (dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas spiritual). Matur sukseme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s