GAJAH MADA, KACANG PANJANG DAN ETIKA PERJAMUAN RAJA BEDAHULU ©SL


Orang tua saya mengajari saya “etika makan Raja Bedahulu”. Bunyinya kurang lebih seperti ini: Jangan mendongakkan wajah saat menyuap makanan, dan jangan mengeluarkan suara capluk-capluk saat mengunyah. [Capluk-capluk adalah suara mulut babi saat makan].

Etika makan tersebut disertai sebuah kisah, yang sangat berhasil menorehkan kesan visual di benak saya di masa kecil. Sampai saat ini, sesekali, kisah ini masih menjadi bahan renungan, terutama saat saya makan sendiri. Kisah tersebut seperti ini.

Suatu ketika Gajah Mada datang ke Bali saat menegosiasikan hubungan Bali-Majapahit. Ia dijamu makan oleh Raja Bedahulu. Konon, Gajah Mada mendonggakkan wajahnya ke atas saat menyuap kacang panjang ke mulutnya. Kacang panjang yang mengelayut panjang itu salah satu ujungnya ia pegang dengan jari, ujung lainnya ia masukkan ke mulutnya. Sudah umum diketahui rakyat Bali, ada semacam etika (larangan) yang diwajibkan kepada tamu untuk tidak mendongakkan wajah saat menyuap makanan jika mereka sedang dalam perjamuan dengan Raja Bedahulu. Kontan orang-orang yang hadir di perjamuan itu riuh, berbisik-bisik menyaksikan polah tak etis Gajah Mada.

Sebuah versi mengatakan bahwa Gajah Mada sengaja melakukan hal itu untuk bisa melihat wajah Raja Bedahulu. Lanjut versi itu, sang raja membuat aturan itu karena Raja Bedahulu “buruk rupa” sehingga ia tak mau diperhatikan wajahnya saat makan. Versi tersebut tentu menguntungkan Gajah Mada, pihak Majapahit yang hendak menguasai Bali. Mungkin saja versi itu adalah karangan, semacam propaganda, untuk menjatuhkan citra Raja Bedahulu?

Namun, larangan mendongak waktu perjamuan dengan Raja Bedahulu tersebut menarik jika dilihat dari etika makan. Bukankah ini sebuah aturan kesantunan dan “pemberadaban” yang diterapkan sang raja agar tamunya yang datang dalam perjamuan punya sebuah “standar peradaban”?

Jika kita lihat bagaimana raja-raja Perancis memberi beberapa aturan dan larangan bagi tamu yang diundang dalam perjamuan di istana atau kastil-kastil Perancis, maka aturan makan yang diterapkan Raja Bedahulu bukan sebuah hal yang perlu dihubung-hubungkan dengan “buruk rupa” sang raja. Di setiap tiket (dalam bahasa Perancis: etiquet, étquette) yang disebar beberapa raja Perancis lama, di lembar tiket itu tertulis berbagai aturan berpakaian serta tata tertib yang harus dipatuhi para undangan saat perjamuan. Ini pula, yang konon, muasal munculnya kata etik atau etika, dan berkembang maknanya sebagai “aturan kepantasan” atau “aturan kesopanan”, sebab pada setiap arti tiket itu tertulis segala hal yang menyangkut aturan kepantasan yang diterapkan sang raja ini bagi para undangan. Etika, pada awalnya berarti: sebuah “standar kepantasan” seperti yang tertera dalam tiket (undangan raja Perancis). Jika sekarang orang berkata: “Orang tak tahu etika”, maka itu bukan berarti orang tersebut tidak tahu aturan yang tertera pada tiket, tapi mengacu pada seseorang yang tidak tahu “standar kepantasan” atau “aturan kesopanan”. Kata etika secara sederhana di tengah masyarakat bermakna: “kepantasan” atau “kesopanan”.

Di Perancis sendiri, pada jaman pemerintahan raja-raja Lois, jamuan makan memang sebuah acara untuk “pemberadaban” para prajurit. “Proses pembudayaan” para prajurit (dari barbar di medan perang menjadi beradab dan santun di istana) adalah sebuah proyek kerajaan untuk membentuk kebangsawanan, untuk membentuk lingkaran aristokrat, karena kerajaan tidak cukup didukung oleh para prajurit yang ganas di medan perang, tapi mereka (para prajurit) harus bisa mencitrakan kehalusan kebangsawanan di depan rakyat, terutama saat perang atau kekacauan telah reda. Dalam berbagai peradaban, dalam istilah Norbert Elias, ada sebuah “proses penjinakan” para prajurit. Begitulah, sebuah kerajaan dikukuhkan kekuasaannya dengan menjadikan prajurit liar menjadi tertib dan jinak, menyulap mereka menjadi orang istana atau abdi dalem, selanjutnya turunannya menjadi bangsawan yang diharapkan mampu mencitrakan “kerajaan beradab”.

Kembali pada Raja Bedahulu, tidakkah aturan yang diterapkan sang raja bagi mereka yang datang saat perjamuan istana (untuk tidak mendongak waktu memasukkan makan ke mulut) sebuah etika kesantunan yang ingin disebarkan raja bagi para tamunya (yang umumnya bawahannya, kadang prajurit yang “barbar”)? Jika demikian, jangan-jangan kisah Gajah Mada itu adalah sebuah kisah “memalukan”. Sebuah kisah bagaimana Gajah Mada tidak tahu “tiket” (baca: etika), makan mendongak? Namun… kisah tersebut “dibalik” untuk menyelamatkan “wajah” Gajah Mada? Kisah itu pun dengan dibumbui bahwa Gajah Mada mendongak karena sengaja ingin melihat “wajah buruk” sang raja? Sebuah hal yang aneh, tidakkah sebagai Maha Patih ia tidak perlu memperhatikan wajah Raja Bedulu dengan mencuri-curi saat di perjamuan makan? Kecuali: Gajah Mada makan di lantai, sementara Raja Bedahulu makan di atas kursi atau di posisi yang lebih tinggi? Jika benar demikian, tidakkah ini menjelaskan bahwa Gajah Mada datang sebagai hamba yang duduk menghamba pada sebuah perjamuan dengan Raja Bedahulu?

Buat saya, apapun motivasi Gajah Mada mendongak saat makan kacang panjang, ia telah “melanggar etika”. Berdasar kisah perjamuan makan tersebut, ada indikasi bahwa table manner atau aturan makan telah ada di zaman sebelum Majapahit. Ini membuat saya akan merujuk kisah Raja Bedahulu tersebut, jika ada pertanyaan siapa “Bapak Etika” di Pulau Bali. Sekalipun ini hal yang terlalu prematur, Raja Bedahulu-lah “Bapak Etika” Bali. Memang akan menyusul banyak lagi pertanyaan jika kita memikirkan kapan munculnya table manner di Bali. Yang jelas, table manner jaman itu pastilah tidak ada ketentuan memegang garpu, pisau dan sedok. Sebab, kembali menurut cerita tersebut, Gajah Mada memakai jarinya-jarinya memegang ujung kacang panjang saat memasukkan ke mulutnya. Ia tak pakai sendok atau garpu. Tak juga ada penjelasan kalau ia pakai sumpit. Saya tidak yakin saat perjamuan tersebut ada “peradaban” sendok-garpu. {Istilah pewajikan (air pembasuh tangan saat menjelang makan) masih ditemui dalam Bahasa Bali sampai saat ini. Bukankah ini indikasi tambahan bahwa memang “tangan telanjang” adalah cara makan “alamiah” orang Bali?}. Andai saja saat itu ada aturan wajib untuk memakai sedok-garpu atau sumpit saat perjamuan dengan Raja Bedahulu, maka “pelanggaran etika” Gajah Mada bertambah satu. Pertama, ia mendongak saat menyuap makanan. Kedua, ia menyuap dengan jari-jarinya. ®SL

®SL | Sugi Lanus | http://www.sugilanus.com



2 thoughts on “GAJAH MADA, KACANG PANJANG DAN ETIKA PERJAMUAN RAJA BEDAHULU ©SL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s