Van der Tuuk – Sang Juru Selamat Bali


Oleh Sugi LANUS

van-der-tuuk

Di Rumah Sakit Militer Surabaya, malam hari tanggal 16 Augutus 1894, ‘’sang juru selamat” mengembuskan napasnya yang terakhir. Sekitar seratus surat dan ribuan catatannya tergeletak di sebuah rumah bambu di Singaraja.

Sebelum meninggal, Agustus 1888, ia sempat menulis surat kepada seorang temannya. Ia mengaku ‘’setengah gila” karena terdorong ambisinya untuk membuat kamus Kawi-Bali, “…berserakan bentukan kata-kata, cukup untuk membuatmu gila; aku setengah gila karena sengsara.”

Dalam buku ”Mirror of the Indies”, Rob Nieuwehuys mengutip komentar seorang pendeta Bali (pedanda) yang sangat berpengaruh ketika itu, “Hanya ada satu orang di seluruh penjuru Bali yang tahu dan paham bahasa Bali, orang itu adalah Tuan Dertik (Mr. Van der Tuuk).”

H.N. Van der Tuuk, lelaki setengah Melayu-Belanda yang lahir di Malaka tahun 1824, dan sejak 1870 (ada juga yang mengatakan tahun 1850-an) ia menetap di Bali, di sebuah rumah bambu sangat sederhana. Sebagai seorang linguist (ahli bahasa Bali, Jawa Kuna, Melayu dan bahasa lainnya), sebelum datang ke Bali, ia telah sempat bekerja di Batak sebagai peneliti dan ahli bahasa Batak. Kamus Batak dan terjemahan Injil telah ia kerjakan. Kedatangannya ke Bali sebagai ahli bahasa awalnya juga dibiayai untuk menjadi penerjemah Injil.

Namun, kata hatinya tak terbendung lagi, sebagai seorang yang tidak percaya Injil dan antimoralitas kristiani, akhirnya ia keluar dari lingkaran para misionaris Kristen yang mengirimnya ke Bali. Ia yang semula diharapkan oleh para misionaris Kristen bisa membantu dan membuka jalan untuk ”meng-Kristen-kan” Bali, justru berbalik menentang para pengirimnya.

Suatu hari ia menulis surat kepada Sekretaris Persekutuan Injil (Injil Society) bahwa sudah terlalu banyak kebencian yang memenuhi penanya. Ia adalah ”orang pertama” yang secara terbuka menentang misionaris dan agenda pemerintah Belanda untuk ”meng-Kristen-kan” Bali.

Di kalangan masyarakat Buleleng, ia dikenal sebagai Tuan Dertik, orang yang ”aneh”, namun sekaligus ”dicintai”. Van der Tuuk ”menyebarkan” semangat perlawanan terhadap Belanda. Ia menentang cara berpakaian Belanda, penentang segala tabu dalam berbahasa, moralitas, masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Sekitar 40 tahun waktunya ia habiskan untuk mempelajari bahasa Bali dan Jawa Kuna. Ia bersabahat baik dengan para seniman tradisional dan para sastrawan kidung, tembang dan kakawin di Bali. Ikut membaur dengan masyarakat Singaraja, selalu mengenakan sarung dan jarang memakai baju. Ia adalah gambaran lain dari orang Belanda masa kolonial.

Rumah Bambu Van der Tuuk di Singaradja
Rumah Bambu Van der Tuuk di Singaradja

Di masa tuanya, konon, ia sering berjalan-jalan di pantai Singaraja, dengan tungked (tongkat untuk membantu berjalan) yang di ujungnya berpentol besar. Kalau ada yang mengganggunya atau menertawakan caranya berjalan, ia memukul kepala orang-orang dengan pentol tongkatnya.

Yayasan Van der Tuuk

Memasuki 34 tahun kematian Van der Tuuk, diselenggarakan sebuah pertemuan sangat bersejarah. Tempatnya di Kintamani, kawasan pegunungan Batur, tanggal 2 Juni 1928. L.J.J Caron (residen/perwakilan pemerintah Belanda di Bali dan Lombok) dan para raja serta tokoh agama bertemu untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra dan lontar-lontar yang tersebar di seluruh Bali.

Rapat itu sepakat untuk membetuk lembaga kebudayaan Bali, dan sepakat untuk mengabadikan nama Van der Tuuk menjadi nama sebuah yayasan/lembaga yang mengurusi seni sastra di Bali; Stichting van der Tuuk.

Sebagai tindak lanjutnya, tidak lama kemudian, tanggal 14 September 1928, kelompok ini secara resmi membuka sebuah perpustakaan pertama di Bali. Perpustakaan itu bernama Kirtya Lefrink-Van der Tuuk; mengurusi lontar-lontar Bali dan Lombok. Nama Liefrink diambil dari seorang asistan resident pemerintah Belanda di Bali yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Bali dan Lombok.

Generaal B.C. de Jonge tijdens een bezoek aan de lontar bibliotheek van de stichting Kirtya Liefrinck Van der Tuuk in Singaradja.
Generaal B.C. de Jonge tijdens een bezoek aan de lontar bibliotheek van de stichting Kirtya Liefrinck Van der Tuuk in Singaradja.

Kata ”kirtya” diusulkan oleh I Gusti Putu Djelantik, Raja Buleleng ketika itu; kirtya berakar kata ”kr”, menjadi ”krtya”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang mengandung “usaha” atau “jerih payah”.

Hari ini, telah lahir ratusan thesis magister dan desertasi doctoral dari hasil riset terhadap koleksi perpustakaan Kirtya ini. Ribuan karya ilmiah mengalir. Dan yang paling monumental, telah lahir sebuah megaproyek Kamus Jawa Kuna, dikerjakan puluhan tahun oleh Profesor P.J. Zoetmulder (salah satu peneliti terbesar sastra Jawa Kuna yang akrab dipanggil Romo Zoet).Setelah Romo Zoet berpulang, misi ini dilanjutkan oleh Prof. S.O. Robson. Awalnya hanya seri Jawa Kuna-English, kini sudah tersedia terjemahan Jawa Kuna-Indonesia atas jerih payah Romo Dick Hartoko.

Dalam pengantar kamus itu terungkap jasa dari koleksi Van der Tuuk dan Perpustakaan Kirtya dalam penyususan kamus megaproyek yang dikerjakan Romo Zoet dengan kecintaan –jangan pernah membayangkan proyek ini mendapat sponsor pemerintah.

Dalam Kalangwan, ”A Survey of Old Javanese Literature” (Kalangwan, Selayang Pandang Sastra Jawa Kuna), Prof. P.J. Zoetmulder memberi kesaksian terhadap peranan besar Perpustakaan Kirtya: “Terdapat tiga koleksi utama, yaitu Perpustakaan Nasional di Jakarta, dulu dikenal sebagai Batavians Genootschap van Kunsten en Wetenchappen; di perpustakaan Universitas Negeri di Leiden, Negeri Belanda, dan di Perpustakaan Kirtya di Singaraja (dulu perpustakaan Kirtya Liefrinck der Tuuk).

Kalau diperhatikan jumlah naskah yang dimiliki sebuah perpustakaan, maka Leiden-lah menduduki tempat pertama, khususnya karena koleksi lontar dari Lombok dan koleksi dari warisan H.N. Van der Tuuk. Tetapi di lain pihak Kirtya memiliki keanekaragaman yang lebih besar mengenai karya-karya Jawa Kuna, walaupun umumnya hanya satu salinan dari setiap karya.

Pada tahun 1928 didirikan sebuah yayasan (Kirtya) di bawah pemerintah setempat di Bali; dengan terang dijelaskan apa yang menjadi tujuan yayasan itu, yakni : melacak semua naskah yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan Pertengahan, berbahasa Bali dan Sasak, sejauh itu masih terdapat di Bali dan Lombok (kebanyakan dimiliki oleh perorangan) dan untuk membuat kesempatan agar naskah-naskah tersebut dengan lebih mudah dikonsultasi (diakses) oleh para peminat.

Agar tujuan itu dapat dilaksanakan maka raja-raja setempat, para pendeta dan orang-perorangan di daerah itu diminta untuk menyerahkan milik mereka untuk sementara waktu kepada Perpustakaan Kirtya. Di sana sebuah panitia terdiri atas 12 orang memutuskan, naskah-naskah mana dianggap cukup berharga untuk disimpan dalam koleksi itu.

Kemudian lontar-lontar itu disalin dengan seteliti mungkin oleh sebuah kelompok penyalin yang bekerja untuk perpustakaan Kirtya dengan bentuk huruf yang sama dan di atas bahan yang sama (daun lontar), dan kemudian lontar-lontar (pinjaman) itu dikembalikan kepada pemiliknya. Hanya kecillah kemungkinan bahwa naskah penting lolos dari perhatian kita dan tetap tersembunyi dalam salah satu tempat terpencil. Maka dari itu kita tak mengharapkan penemuan-penemuan yang menggemparkan di masa yang akan datang. Karena disenteri Perpustakaan (Gedong) Kirtya dibangun tepat di atas tanah tempat rumah bambu Van der Tuuk semasa hidupnya. Perpustakaan ini juga dirintis dengan menjadikan buku-buku dan lontar peninggalan Van der Tuuk sebagai koleksi pertama.

Kalau kita cermati dua kalimat terakhir Prof. Zoetmulder di atas, kita bisa menyimpulkan, perpustakaan Gedong Kirtya (sempat) menyimpan hamper seluruh salinan lontar yang ada di Bali. Di sejengkal tanah itulah Van der Tuuk telah memulai ”misi suci” penyelamatan lontar-lontar Bali: aset kekayaan intelektual manusia Bali. Sempat tersimpan di sana, bukan berarti sampai kini semuanya ada di sana. Semua itu hanya cerita masa lalu.

“Maluan saja,” kata orang Buleleng. Keberadaan banyak lontar sudah sulit terjejaki entah di mana.

Sejak pendirian Pusat Dokumentasi Bali yang ada di Denpasar, penyelenggaraan pemeliharaan dan pendataan koleksi Perpustakaan Kirtya semakin semrawut. Perpustakaan itu, yang semestinya dimaknai sebagai monumen keberadaan ‘’sang juru selamat” yang menyelamatkan ”Bali” dan kekayaan intelektualnya, keadaannya dari hari ke hari kian tak pasti.

Di balik kemasyuran nama Kirtya di universitas-universitas di luar negeri, keberadaannya semakin terlupakan oleh masyarakat Bali sendiri. Sekitar 7.000 manuskrip dan lontar yang pernah tersimpan di bangunan tua-kecil, yang di Jalan Veteran No.20 Singaraja itu, senasib veteran tua yang telantar. Hidup dalam sepi dan bayang-bayang masa lalu.

Perpustakaan Kirtya adalah gambaran kehidupan Van der Tuuk. Van der Tuuk meninggal karena derita disentri yang berkepanjangan; dan barangkali, Kirtya akan senasib dengannya. Perpustakaan itu sepertinya akan segera wafat karena ”disentri kebudayaan” sedang membiak di ”perut kebudayaan” kita.

Barangkali sebagian kita akan bicara begini, “Kita tak ingin kolot, kita ingin trendy seperti Hollywood: Siapa mau seperti Van der Tuuk, yang hanya memakai sarung, rela ‘’setengah gila” mengurusi lontar-lontar Bali?”

Sepertinya lontar-lontar Bali dan Gedung Kirtya akan berlalu, terlupa, seperti juga kehidupan Tuan Dertik yang telah berlalu dan dilupakan.

Abad dan adab telah berganti. Di abad ke-18, wajah kota Surabaya masih sepi. Di sana Van der Tuuk kecil sempat melewatkan masa kecilnya, sepuluh tahun pertama kehidupannya. Saat ia berusia 13-14 tahun, ia dikirim ayahnya ke Belanda, untuk melanjutkan studi di Veendam dan Universitas Groningen. Tuan H.N. Van der Tuuk kembali ke kota itu, usianya 70 tahun; di sana ia berjumpa dengan masa kecil dan ajalnya.

Sumber foto: http://vimeo.com/69107324
Sumber foto: http://vimeo.com/69107324

BALI POST | Sabtu Wage, 7 Januari 2006)

One thought on “Van der Tuuk – Sang Juru Selamat Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s