Pengalaman Belajar Sastra Bali lewat Internet


Oleh: sugi LANUS |sarjana sastra BALI

BALI POST | Minggu, Pon, 5 Februari 2006

SAYA masih ingat bagaimana tertatih-tatih mengikuti matakuliah Sejarah Kesusastraan Bali, di semester pertama kuliah di Universitas Udayana, beberapa tahun silam.

Bagaimana tidak, klasifikasi atau pemilahan antara sastra Bali dengan sastra Jawa Kuna belum jelas betul tapal batasnya (buat saya). Dosen menjelaskan bahwa ini masih dalam perdebatan: Apakah semua karya sastra di Bali, sekalipun yang berbahasa Jawa Kuna, bisa kita masukkan khasanah Sastra Bali? Atau hanya yang berbahasa Bali saja? Bagaimana dengan karya Sastra berbahasa Jawa Kuna yang lahir di Bali abad ke 20-21? Pada hari berikutnya, dosen tersebut menjelaskan tentang perkembangan Sastra Bali yang lahir belakangan, masuk dalam klasifikasi karya Sastra Bali yang modern. Dikatakan novel ”Melancaran ke Sasak” sebagai penanda merebaknya sastra Bali modern.

Sebagai mahasiswa, saya kalang kabut karena karya-karya yang dibicarakan sulit dicari.

Perpustakaan di Fakultas Sastra ketika itu ‘tidak jelas nasibnya’, konon hendak dipindah ke Kampus Bukit, dan kebanyakan karya sastra yang dibicarakan tidak tersedia di dua tempat tersebut. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra hanya terbatas mengumpulkan karya-karya yang ditulis di daun lontar, tanpa mengikuti perkembangan sastra Bali modern yang sudah ditulis di kertas, disket, CD dan on-line.

Pengalaman kuliah yang panjang, membuat saya berani berkesimpulan: Karya-karya sastra berbahasa Bali dan Jawa Kuna yang tersebar di Bali belum terpetakan secara memuaskan. Pengalaman itu juga mengajari bahwa sebuah kampus tidak menjanjikan akses terbaik pada ilmu pengetahuan.

Di tahun-tahun terakhir masa kuliah saya, kegalauan ini agak terobati. Lewat internet kita bisa dapatkan berbagai artikel yang sangat menarik tentang Sastra Bali. Demikian juga cara pandang dan penerapan teori mereka yang lebih ‘liberal’. Saya terus hunting dan browsing ke berbagai perpustakaan yang menyediakan artikel-artikel on-line yang gratis, dan membaca berbagai artikel yang menuliskan Gedong Kirtya dan persoalan sekitar konservasi lontar oleh negeri Belanda. Dan sedihnya, dari tulisan-tulisan itu, tak satu pun hasil karya tulis dosen-dosen saya.

Fakultas Sastra (Universitas Udayana) tampaknya masih menumpuk karya-karya tulis para staf pengajarnya dengan sangat konvensional, ditumpuk ruangan (gudang) atau perpustakaan yang tak memadai. Beberapa karya tulis bidang sastra-linguistik dari dosen Sastra Udayana bisa diakses lewat internet, itupun karena kebetulan mereka menempuh studi pascasarjana di luar negeri.

Buat Anda yang mengalami hambatan kuliah seperti saya, atau Anda berminat terhadap Sastra Bali tapi tidak banyak waktu untuk ke Gedung Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali, internet adalah jalan keluar Anda.

Sederhana saja kiat mempelajari Sastra Bali di internet. Pertama, Anda paham/tahu cara buka internet dan browsing. Minta bantuan penjaga internet café kalau Anda belum terbiasa. Kedua, Anda buka search engine semacam http://www.google.com atau yang lainnya. Ketiga, ketik kata-kata kunci atau kombinasi kata-kata kunci pada kolom yang tersedia. Kalau Anda ingin mengetahui tentang geguritan, ketik saja pada kata itu, maka muncullah sekian banyak artikel, berita, percakapan yang terkait dengan geguritan. Untuk lebih spesifik, pilih judul geguritan bersangkutan, misalnya: Geguritan Siang Malam, Geguritan Nengah Jimbaran, Kakawin Atlas Bumi, Awi-awian Payudan Rus-Jepang, Kakawin Arjuna Wiwaha, dll. Karya-karya Sastra Bali banyak tersedia secara selintas dibahas atau ditulis oleh berbagai peneliti dari berbagai suku bangsa, warna kulit, berbagai macam latar belakang.

Atau Anda bisa ketik Gedong Kirtya atau Kirtya Liefrinck-Van der Tuuk, maka Anda akan terhantar ke website berbagai universitas, seperti Universitas Leiden atau Universitas Nasional Australia (http://anulib.anu.edu.au/epubs/bali/index.html). Dari sana Anda akan terhubung dengan perpustakaan on-line di seluruh dunia.

Namun, jangan berharap terhubung dengan Universitas Udayana, terlebih perpustakaan Fakultas Sastra-nya.

Pengalaman saya ketika browsing, dengan mengetik kombinasi kata kunci menulis paper on geguritan, memberi saya kesempatan untuk membaca beberapa paper ilmiah tentang geguritan yang sangat bagus. Salah satunya adalah tulisan Helen Creese, University of Queensland, berjudul: ”Three Transitional Texts: Turn of the Century Balinese Views of the World”. Saya belajar bagaimana Helen Creese ‘melihat’ modernitas lewat geguritan Bali. Melihat bagaimana sarjana asing ‘membaca’ Awi-awian Payudan Rus-Jepang yang ditulis oleh I Kontol (nama samaran pengarang geguritan tersebut), sebagai pertanda ‘modernitas’ manusia Bali, dstnya.

Cara lain mencari tulisan terkait sastra Bali di internet ialah dengan melacak/ browsing nama tokoh peneliti Bali. Untuk menyebut beberapa nama: Leifrinck, Van der Tuuk, C.C. Hooykaas, H.I.R. Hinzler, Th. Pigeaud, Henk Schulte Norddholt, Adrian Vickers, Ngurah Bagus dstnya., nama-nama tersebut akan menghubungkan Anda berbagai karya ilmiah dan peneliti sekitar situasi sosial-politik dan sastra Bali. Walaupun belum saya temukan di perpustakaan Fakultas Sastra Udayana, tempat I Nyoman Darma Putra mengajar, thesisnya: A Literary Mirror: Balinese Reflections Of Moderity and Identity in the Twentieh Century (PhD thesis, University of Queensland, 2003), kita temukan ‘ringkasannya’ secara on-line.

Memang menarik ‘belajar’ sastra Bali lewat internet. Teknologi ini menyediakan data yang hampir tak terbatas. Sayang, penelitian ilmiah atau artikel Sastra Bali yang ditulis penulis/dosen Bali sangat terbatas secara on-line. Sisi getir lainnya, belum tersedia layanan internet gratis bagi mahasiswa di Universitas Udayana, atau universitas lainnya di Bali, padahal beberapa perpustakaan dan kampus di Yogya dan Jakarta sudah mulai menyediakan layanan internet gratis buat mahasiswanya. Jangan kaget kalau mahasiswa asing lebih paham Sastra Bali dibanding mahasiswa dan masyarakat Bali sendiri.

BALI POST | Minggu, Pon, 5 Februari 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s