Pembajakan Brahmana


Oleh Sugi LANUS

DARI dahulu kita, orang suci atau brahmana telah jadi sasaran bajak. Dua kitab terpenting tanah pur­bani India bertutur tentang hal itu. Zaman Ramayana, sosok Rahwana menyamar jadi brahmana. Ia berpakaian layaknya Brahmin yang sedang menjalani kehidupan tapa menyepi di hutan. Dengan trik ini, ia memperdaya Sita, menariknya dari “lingkaran sakti”, yang digoreskan di tanah untuk melindunginya dari kuasa kegelapan oleh Laksamana, ke­tika Rama-Laksamana terpaksa mening­galkan Sita seorang diri.

Sebagian tubuh Sita terpancing keluar dari lingkaran sakti itu, ketika ia mengulur­kan tangan memberi makanan kepada sang brahmin palsu. Sita tak mampu mengenali penyamaran/pembajakan itu. Uluran tan­gannya yang keluar lingkaran sakti dimanfaatkan secepat kilat oleh Rahwana. Ia menyeret Sita dari lingkaran sakti, terpental dari lingkar kebenaran. Lepas dari perlindungan lingkar aman Laksa­mana, sang penjaga kebenaran.

Sita, perempuan yang menjadi perlambang tanah kemanusiaan kita, telah jarah, dibegal Rahwana. Dilarikan dari tanah ras manu­sia, diterbangkan ke seberang, diboyong ke pulau raksasa. Disepak dalam istana (ke)raksasa(an). Begitulah modus operandi Rahwana. Menjadi brahmin untuk menipu.

Di zaman Mahabarata, modus operandi ini diulang Carwaka. “Carwaka” adalah seorang raksasa, sahabat Duryodana. Kitab Mahabarata, baik versi tertulis maupun lisan, menyebut nama Carwaka. Sebuah versinya berkisah sebagai berikut:

Usai perang Mahabarata, Carwaka menyamar jadi Brahmin. Yudistira sedang dalam kesedihan karena peperangan telah me­newaskan kerabat, guru-guru, dan rakyatnya. Rasa sedih Yudisti­ra dimanfaatkan Carwaka.

Carwaka berdiri dengan pongahnya di tengah-tengah para Brah­min yang sedang memberkahi Yudistira yang baru saja dilantik menjadi raja usai perang maha dahsyat itu. Segumpal rambut Car­waka terikat di atas kepala, tangan kanan memegang tasbih, tangan kiri memegang tongkat trisula. Sosoknya dan gerak-geriknya tak terbedakan dari para brahmin.

“Saya bicara atas nama banyak Brahmin”, Carwaka mengu­mumkan, dan berkata, “Sungguh memalukan Yudistira! Sungguh memalukan pembunuhan yang Tuan lakukan terhadap kerabat sendiri. Keuntungan apakah yang ingin Tuan peroleh dengan mem­binasakan ras Tuan? Lebih baik Tuan bunuh diri, sesudah mem­bantai orangtua dan guru-guru Tuanku, daripada hidup dan me­merintah”.

Gumam nyaring naik di antara para Brahmin; tiba-tiba gu­mam itu reda, dan mereka terdiam, dipenuhi rasa malu dan takut. Kami terima kesalahan itu, wahai Brahmin yang berbudi Iuhur”, Yudistira menegaskan, dan kami mohon sudilah bersabar terhadap kami. Janganlah kelewat banyak membikin kami malu. Kami berjanji kepada Tuan, kami segera meninggalkan dunia ini”.

“Tidak!” teriak Brahmin-brahmin yang lain. Kami tidak ada sangkut paut dengan dia. Jayalah Tuanku, wahai Raja! Makmurlah Sri Baginda!”

Brahmin yang lain melihat penyamaran itu, dan berkata, “Orang ini adalah Carwaka, raksasa yang menghendaki kemenangan Duryodana. Kami tidak mengatakan hal yang dikatakannya. Jay­alah, wahai Sri Baginda! Makmurlah Sri Baginda!”

Dengan marahnya brahmin-brahmin itu memandang Carwa­ka, dan mengucapkan, “Hun !”

Gema sepatah kata itu membunuh Carwaka di tempatnya berdiri. Kita bandingkan dua kisah tersebut. Dalam Mahabarata para brahmin bisa mengenali brahmin yang palsu. Sedangkan Sita, terpe­daya oleh muslihat kepalsuan karena keinginannya memperoleh ke­milau “kijang emas”. Sita meminta paksa, bahkan bisa dikata men­gusir, Rama dan Laksamana untuk mengejar siluman kijang emas si Marica. Sita silau. Terpancing. Lengah. Kehilangan kejernihan.

Bagaimana dengan zaman kita?

Abad ini ditandai dengan riuh black market dan pembajakan semua macam merek dagang. Lautan kepalsuan tampaknya telah membiasakan kita (membuat kita terbiasa dengan kepalsuan), kita jadi bebal. Jarang di antara kita mengeluh lantang, malah bersyukur jika mendapat barang murah yang ilegal, atau ilegal yang murah. Kita kehilangan rasa bersalah ketika mengkonsumsi kepalsuan. Terbius, mati rasa di tengah lautan bajak. Padam kepekaan dan mati sensi­bilitas di tengah penggelapan kebenaran. Tak punya kepekaan dalam membedakan; tak tahu mana Carwaka, mana brahmin. Atau­kah kita tak peduli Iagi? Ketika kita telah melangkah keluar dari “lingkar kebenaran”, kita tak was-was lagi. Ada apa? Barisan pertanyaan lain muncul dihada­pan kita: Siapa di antara kita yang mampu mengenali kepalsuan di tengah lautan kepalsuan? Perlukah? Adakah di antara seorang berhati brahmin yang mengenali brahmin palsu, dan punya nyali untuk menghentikannya? Siapa punya sepatah kata sakti “Hun” yang mampu bunuh kepalsuan di tempatnya berdiri?

Atau, jangan-jangan dizaman ini tidak dibutuhkan lagi ruang untuk bercakap perihal kebenaran? Urusan kebenaran, hanya menjadi tidak relevan dengan hidup modern (?) berkompetisi tak sehat dan konsumtif. Carwaka menguasai dan adab kita. Kita telah dikonsumsi dilahap kebohongan sendiri: Kita telah menjelma jadi Carwaka. Bersosok brahmana tapi berhati raksasa.

lni hanya sebuah kecurigaan: Jangan-jangan dalam darah kita mengalir Carwaka atau Rahwana – bukan darah brahmana atau Laksamana. Jangan-jangan, aliran darah merekalah yang membuat kita lebih terobsesi mendirikan istana (ke)raksasa(an) dibanding istana (ke)dewa(an).

BALI POST|Minggu, 22 Juli 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s