HIKAYAT BUNGA-BUNGA


oleh Sugi Lanus

sebuah dongeng untuk Bhuja

Alkisah pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting dan daun-daun. Bunga-bunga berdatangan penuh senyum dan wewangian. Mereka berbaris pelan dan tertib memasuki balairung kerajaan atas angin.

Bunga Kenangan, Cempaka, Teratai, Jepun, Gemitir dan semua bunga lainnya saling menyapa, dengan sangat santun dan suara mereka seperti angin berdesir. Mereka bercengkrama dengan mesra tentang curah hujan, tiupan awan, turunnya kabut dan datangnya musim kumbang mengisap sari.

Di tengah perjamuan dan percakapan bunga-bunga itu, tiba-tiba datang si bunga putih berkelopak banyak. Sekalipun datang terlambat, dengan pongah ia mendongak dari daun-daunnya, ia pamer keindahan. Ia berjalan tanpa sedikitpun merunduk di tengah jamuan bunga-bunga, tanpa basa-basi memperkenalkan diri sambil tetap berjalan.

Hyang Tunggal, yang sedari tadi memperhatikan jalannya perjamuan bunga-bunga dari alam dewa, meniupkan angin ke arah bunga putih itu. Bunga itu terdorong (tulud) dan tersandung ke bawah pohon kelapa (nyuh). Bunga itu selanjutnya disebut bunga Tulud Nyuh.

Di akhir perjamuan itu Hyang Dewata Maha Tunggal menampakkan diri sebagai wangi maha suci dan bersabda:

“Kelak ketika telah kuciptakan manusia, mereka akan mengagumi kalian. Dalam jiwa manusia akan kutiupkan harum bunga-bunga, kelopak indah dan kesuburan putik sari. Kalau mereka rindu padaku, mereka akan mempersembahkan bunga-bunga untuk mewakili rindu mereka.

“Pada waktunya nanti akan terlahir seorang guru batin yang mampu melihat perangai bunga-bunga dan menurunkan ilmu sesaji dan bunga-bunga pada murid-muridnya. Guru batin itu akan melarang murid-muridnya memakai bunga Tulud Nyuh sebagai sesaji karena ia tak ingin murid-muridnya meniru perangai pongah dan tak santun si Tulud Nyuh.”

Sebelum kembali ke alam dewa, Hyang Tunggal memberkati bunga-bunga. Semua bunga diberkati khasiat dan wewangian. Beberapa bunga seperti Padma, Sandat, dan Cempaka serta Jepun bahkan dikaruniai keistimewaan.

Bunga Sandat (Kenanga), sekalipun terkenal dengan bunga yang dengan keharuman tak tercela, dia rendah hati tidak membentangkan kelopaknya. Karena kesahajaannya ia diberkati menjadi satu-satunya bunga yang selayu-layunya masih tetap berbau harum. Ketika direndam dalam air harumnya menyusupi partikel-partikel air dan kelopaknya tak membusuk merusak air.

Bunga Cempaka terberkati keharuman yang mengheningkan pikiran yang menciumnya. Ia mendapat tempat terhormat di antara bunga-bunga karenatak sedikitpun ia menonjolkan diri sekalipun ia putih, harum dan indah. Sampai kini Cempaka memilih menarik diri dan semadi di balik keheningan daun-daunnya yang lebar, tebal dan hijau. Cempaka memiliki keindahan tak tercela, bersih dan harum, tapi tak pamer.

Bunga Jepun Bali yang rela menggugurkan daun-daunnya untuk menumbuhkan kuncup-kuncupnya diberkati keharuman niskala. Berkat karunia Dewata, harum bunga Jepun tak pecah saat ditiup angin. Harumnya bulat seperti kristal saat diterbangkan angin dan mampu menembus pintu surga dan alam leluhur.

Bunga Teratai yang tumbuh dalam sahaja di kerendahan air berlumpur, menjadi bunga yang diberkati dan dikasihi para Dewa. Sekalipun akarnya menapak lumpur, daun dan kelopak-kelopaknya tak tercela bertangkup menyembah langit. Kesuciannya yang tak tersentuh lumpur membuat para orang suci menyembutnya sebagai padma dan pangkaja; pusat semesta yang tak sentuh keruh. Orang Suci mengisahkan Hyang Dewata bisa dijumpai di jantung kesucian padma.

Kemulian hati mendatangkan berkat. Kepongahan dan kecongkakan membuat bunga Tulud Nyuh sampai kini tak dipakai dalam sesaji dan persembahyangan orang Bali. Demikianlah hikayat bunga-bunga.

Mataram, 6 Maret 2010

SIWA-DWARA: PINTU RUHANI MANUSIA BALI


Oleh: Sugi Lanus

Kemanapun orang Bali pergi, ia mengusung ‘jalan’ di ubun-ubunnnya.

Kelebutan (atau pabahan) atau ubun-ubun yang berdenyut ketika bayi masih merah dipercaya sebagai Siwadwara atau ‘jalan Siwa’. Bagian itu dipercaya sebagai jalan hilir mudik ‘ruh’ kita. Jalan menelusuri jagat batiniah, sampai masuk ke ‘alam Siwa’ atau alam kesejatian asal muasal kehidupan.

Ketika beranjak besar sang bayi kehilangan detak di ubun-ubunnya, konon, saat itulah semesta dirinya terputus dengan semesta kesejagatan batiniah. Terlebih setelah dewasa, sang manusia lengah melupakan ‘jalan’ itu, demi menempuh atau bertahan di dunia keseharian yang tidak mudah direngkuh.

Di Siwadwara tidak ada sosok dwarapala (patung penjaga pintu) layaknya sebuah jembatan atau kori puri atau pura. Kepala ditumbuhi rambut, dan rambut itulah yang menjadi semacam dwarapala bagi Siwadwara kita. Sang Biksu mencukur gundul rambutnya, menjadi pertanda ia telah ‘memilih jalan’ untuk kembali membuka Siwadwara yang telah dilebati dan ditutupi hutan rambut. Sang Rsi mengikat rambut dan mapusungan, seakan menandai semua kelebatan dan hutan rambut ‘merujuk’ ke arah Siwadwara.

Dalam praktek Sama-Adi cara Bali, proses ngili-atma atau nuntun-atma, kembali sang calon Pandita diajak ‘membuka kembali’ jalan itu. Merenungi ‘pipa gaib’ yang menjadi poros dan sekaligus pusaran diri. Tegak. Tunggal. Terhubung. Menelusuri hening diri dan titik terdalam di titik 0 kilometer ubun-ubun diri: Siwadwara.

Dalam praktek sederhana orang kebanyakan, jika mebayuh atau melukat, atau proses penyucian dengan air suci, yang dilukat adalah titik ubun-ubun itu juga. Titik itu kembali ‘dibasahi’ dan ‘diurap’ agar kembali lembek dan tidak ‘membatu’ alias tertutup rapat.

Jika kepala (ubun-ubun) membatu, merapat, atau tertutup, maka dipercaya tertutup pulalah hati dan jiwa serta ruhani kita. Tidak lagi terhubung dengan Jiwa Maha Tinggi itu, muasal kehidupan, Sangkan Paraning Dumadi. Ungkapan ‘berkepala batu’ yang mengandung arti keras tak mau mendengar, jika dihubungkan dengan Siwadwara, ia ‘tak mendengar yang batiniah’.

Perkara ubun-ubun sebagai titik tertinggi tubuh secara spiritual inilah yang menjadi salahsatu alasan kenapa orang Bali harus menjaga kepalanya: Tidak boleh sembarangan mesulub atau tidak boleh kena langkahan orang, atau lewat jemuran atau segala yang dianggap leteh (impure) alias kotor secara niskala. Semacam ‘amanat’ bagi orang Bali menjaga kesucian kepala, bahwa ada ‘jalan Siwa’ atau Siwadwara di pabahan (ubun-ubun) kita.

Ungkapan sederhana bahwa ‘Siwadwara ring pabahan’ (Jalan Siwa di bagian atas kepala) makin ditelisik makin tidak sederhana. Ini bisa dianggap metafor, namun di kalangan penekun kebatinan Bali menerima hal ini bukan sebatas metaphor, mereka bisa merasakan getaran ‘jalan Siwa’ kita usung kemana-mana, di atas kepala kita.

Merenungi Siwadwara ini, kembali terngiang tembang pembuka Geguritan Sucita Subudi:

“Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padma Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”.

[Termaktub di kuil-meru dalam diri, memohon pada Hyang Maha Suci, dengan sarana bunga Padma Hredaya, sarana harum kesejukan Budi, didasari tindakan mulia, berbija Menget Prakasa, berasapkan dupa Sad Ripu, berapikan pikiran terang].

Itulah ‘jalan dalam diri’. Geguritan tersebut lebih lanjut membabarkan bahwa di dalam diri Meru (tiang suci) itu tegak lurus bagai buluh berlubang membungbung ke akasa jiwa.

Warisan istilah dan ajaran tentang Siwadwara ini memberi kesadaran pada orang Bali bahwa disamping tubuh sebagai beban, tubuh sekaligus juga ‘jalan’. ‘Siwadwara’ (Jalan batin) tetap kita usung kemana-mana sekalipun kita ‘tertidur’ atau ‘lupa’, dan sampai akhirnya kita harus kembali ‘pulang’ lewat jalan itu pula.

BABAD PALELINTIHAN IDA HYANG YESUS KRISTUS


Tahun 1910 Injil Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Bali oleh Goesti Djilantik. Kitab terjemahan Goesti Djilantik ini dipublikasikan oleh ‘The British and Foreign Bible Society’.

Bagian Matius 1:1-25, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali**, disana disebutkan seperti ini:

1 Puniki babad palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus katurunan Daud, katurunan Abraham.

2 Abraham maputra Ishak, Ishak maputra Yakub, Yakub maputra Yehuda lan semeton-semeton danene.

3 Yehuda maputra Peres miwah Serah (saking rabine Diah Tamar). Peres maputra Hesron, Hesron maputra Ram.

4 Ram maputra Aminadab, Aminadab maputra Nahason, Nahason maputra Salmon.

5 Salmon maputra Boas (saking rabine Diah Rahab). Boas maputra Obed (saking rabine Diah Rut), Obed maputra Isai,

6 Isai maputra Sang Prabu Daud. Daud maputra Salomo (saking rabine sane pecak rabin Dane Uria).

7 Salomo maputra Rehabeam, Rehabeam maputra Abia, Abia maputra Asa.

8 Asa maputra Yosapat, Yosapat maputra Yoram, Yoram maputra Usia.

9 Usia maputra Yotam, Yotam maputra Ahas, Ahas maputra Hiskia.

10 Hiskia maputra Manase, Manase maputra Amon, Amon maputra Yosia.

11 Yosia maputra Yoyakin lan semetonsemeton danene. Daweg punika bangsa Israel kaselong ka Babel

12 Sasampune bangsa Israel maselong ring Babel, Yoyakin maputra Sealtiel, Sealtiel maputra Serubabel.

13 Serubabel maputra Abihud, Abihud maputra Elyakim, Elyakim maputra Asor.

14 Asor maputra Sadok, Sadok maputra Akim, Akim maputra Eliud.

15 Eliud maputra Eleasar, Eleasar maputra Matan, Matan maputra Yakub.

16 Yakub maputra Yusup rabin Diah Maria, sane ngembasang Ida Hyang Yesus sane mabiseka Sang Prabu Sane Kajanjiang antuk Ida Sang Hyang Widi Wasa.

17 Dadosipun ngawit saking Abraham rauh ring Daud, wenten patbelas turunan. Ngawit saking Daud, rauh ring masane kaselong ka Babel taler patbelas turunan. Tur saking masane maselong ka Babel rauh ring masan embas Ida Sang Prabu Sane Kajanjiang punika, taler patbelas turunan.

18 Indik embas Ida Hyang Yesus Kristus katuturanipun sapuniki: Daweg ibun Idane, Diah Maria sampun magegelan sareng Dane Yusup, sadurung dane marabian, Diah Maria jeg sampun mobot. Bobotan danene punika kawitnyane saking Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

19 Gegelan danene, inggih punika Dane Yusup anak sane tansah malaksana patut, nanging dane nenten mapakayunan jaga ngawinang Dane Diah Maria kimud, punika awinanipun Dane Yusup mapakayun megat gegelan danene saking silib.

20 Nanging ritatkala dane ngayun-ngayunin indike punika, raris dane karauhin antuk malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa sajeroning panyumpenan. Sang malaekat ngandika ring dane sapuniki: “Yusup sentanan Sang Prabu Daud, edaja takut nyuang Maria nganggon kurenan, sawireh rarene ane kaduta ento, uli Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

21 Maria lakar ngembasang putra lanang, tur kita patut marabin anake alit ento Yesus, sawireh Ida lakar ngrahayuang parakaulan Idane uli sakancan dosannyane.”

22 Paindikane punika mula wantah jaga mamargi sakadi asapunika, mangda tegep sabdan Ida Sang Hyang Widi Wasa sane kawarahang antuk nabine, sapuniki

23 “Daane ento lakar beling tur nglekadang pianak muani. Pianakne ento lakar kadanin Immanuel” (sane mateges: “Ida Sang Hyang Widi Wasa nyarengin iraga”)

24 Sasampun Dane Yusup matangi, raris dane ngambil Diah Maria, kanggen rabi satinut ring pangandikan malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa ring dane.

25 Nanging Dane Yusup tan matemu semara ring Diah Maria kantos putrane lanang punika embas. Dane Yusup marabin anake alit punika “Yesus”.

Jika saja kutipan Perjanjian Baru di atas, ditulis di atas daun lontar, dengan aksara Bali, lalu disimpan (disumbangkan) ke Gedung Kitya, mungkinkah naskah atau lontar Babad Palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus ini akan sama “tenget” dengan naskah Babad Dalem atau Purana Bali lainnya?

Catatan singkat ini hanya ingin memberi gambaran bahwa lontar adalah sama dengan buku biasa, karena jaman itu tak ada kertas untuk mencatat, maka semua “yang biasa” itu ditulis di atas daun lontar dan huruf Bali, aksara yang dipakai ketika itu.

Banyak lontar baru ditulis, tahun 1950-an yang mengkultuskan satu kelompok brahmana ditulis di Ubud telah jadi acuan keluarga tersebut, diserbarkan dan dicetak menjadi kultus bersama sepulau Bali, dan dianggap seolah-olah ratusan tahun silam.

Demikian juga sebuah lontar yang ditulis teman sebangku saya di SMP yang sekarang kebetulan kami sama-sama menekuni sastra Bali, lontar itu telah dijadikan proyek oleh Pusat Dokumentasi untuk diterjemahkan, seolah-olah lontar tersebut telah ratusan tahun usianya.

Almarhum Guru Ktut Ginarsa menulis babad tentang Bhujangga Waisnawa, semasa hidup beliau, dengan bahasa Jawa Kuna yang sangat tinggi pencapaian bahasanya, sehingga hampir sama dengan bahasa di Jaman Majapahit, jika saja itu ditulis dalam lontar dan dikatakan bahwa itu adalah karya Jawa Kuna, maka bisa jadi akan mempengaruhi studi kesejarahan Bali, dan telah banyak yang mengutip tanpa tahu sumbernya hanyalah tulisan tahun 1970-an. Bersyukur beliau dengan jujur mengatakan bahwa itu adalah karya beliau.

Lontar lelintihan atau babad adalah sebuah “buku silsilah biasa”, penulisannya banyak menggunakan imajinasi penulis yang tidak ketat secara kesejarahan, kadang tak ada dasarnya, kadang diadakan atau dibuat, dikira-kira, dikait-kaitkan. Babad adalah sejarah lisan yang dicatat di atas daun lontar, perlu kritis membacanya, bisa membuat tersesat jika ditelan mentah-mentah.

*Pada tahun 1950-1959, J.L. Swellengrebel di Jakarta turut mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Swellengrebel pernah tinggal di Bali 20 tahun, mulai sekitar dari tahun 1930-an. Untuk lebih jelas tentang penterjemahan alkitab silahkan baca “Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

NABI BERCUKUR: LONTAR ISLAMI LOMBOK UTARA


Lontar Sasak-Nabi Haparas-Hikayat Nabi Yusuf

Suatu hari saya mendapat kesempatan tak terduga membaca lontar koleksi keluarga warga Sasak Daya (Utara).

Awalnya saya hanya datang mengantar teman saya seorang pendeta Kristen yang mendapat undangan ke acara “penurunan pusaka” di Lombok Utara. Saya memposisikan diri sebagai sahabat pendeta yang mendapat undangan dan saya ikut mendokumentasikan.

Sebelum pusakan diturunkan diadakan upacara adat dengan korban kambing 3 ekor, doa bersama, dan dihadiri para sesepuh dan warga, termasuk para santri setempat.

Pusaka mereka ternyata lontar ditambah beberapa permata. Ketika lontar itu hendak dibersihkan (hendak dicelup ke air), sontak saya bergerak dan melarang mereka “membersihkan” dengan cara “tidak standar”. Kamera saya taruh. Saya ikut membersihkan dengan kapas dan minyak kemiri yang kami buat dengan mendadak. Saat itulah saya katakan pada keluarga pemilik kalau saya kebetulan bisa membaca aksara yang dipakai dalam lontar tersebut.

Lontar yang saya baca 2 buah. Hikayat Nabi Yusuf dan Nabi Haparas. Naskah Nabi Haparas masih bagus, sementara Lontar Hikayat Nabi Yusuf sudah banyak yang berlubang.

Menariknya, kedua naskah dimulai dengan Kalimat Syahadat atau Syahadatain. Saya membaca kedua naskah tersebut, dengan sendirinya telah membaca kalimat Syahadat (dua kali) di hadapan para memuka adat dan warga Sasak. Teman saya berkelakar: “Bli sudah sah masuk Islam.” Lanjutnya, “Apalagi disertai potong kambing dan saksi adat”. Semua yang mendengar tersenyum. Saya juga tersenyum. Sebelumnya saya telah membaca beberapa lontar dengan pembukan Kalimat Syahadat, yaitu lontar koleksi Gedong Kirtya Buleleng dan koleksi Museum NTB, Mataram.

Naskah Nabi Haparas (Nabi Bercukur) ini bukan satu-satu naskah yang pernah saya lihat. Saya temukan lontar sejenis menjadi koleksi Museum NTB. Baik lontar di keluarga ini dan koleksi Museum NTB beraksara Jajawen (Sasak) tidak jauh beda dengan aksara Bali dan Jawa. Ada pula beberapa naskah Nabi Haparas yang beraksara Jawi atau Arab Gundul yang salah satunya disimpan di salah satu museum di Malaysia.

Naskah tersebut saya salinan dan saya kerjakan sangat tergesa, dan sampai saat belum sempat saya lengkapi dengan tanda diakritik [daɪ.əˈkrɪtɨk]. Ketika itu salah satu anggota keluarga pemilik lontar sangat ingin segera tahu isinya. Risalah di bawah ini saya serahkan pada keluarga pemilik lontar tersebut, setidaknya memberi gambaran isi naskah Nabi Haparas:

PEMBUKAAN DIMULAI DENGAN KALIMAT SYAHADAT

Lontar Nabi Haparas-Lombok

Dini kaule hanurun, ceritane Nabi Haparas. Dining wanghangapus ringgite, cerite handike nabi, pakse langkunging sang kakot, moge dohing tulak sari, pinatut basa Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring brangti, singamaca moga doh bale hing dunia

(Saya menurunkan, cerita Nabi Bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari balak, menggunakan bahasa Jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari balak dunia).

POKOK-POKOK ISI

a. Perintah langsung dari Allah untuk bercukur.

Hiye Nabi Muhamamad Mursal, punike sabde hiyang widi, wonten hing dalem surat, pinasti hing tuan singgih, tuan kinen hakuris.

(Karena Muhammad adalah Rasul, itu firmannya Allah, yang ada di dalam surat (Al-Qur’an), yang dipastikan oleh tuan sendiri, baginda disuruh bercukur).

b. Destar (sorban/ikat) kepala yang dipakai Nabi setelah dicukur di ambil langsung dari surga.

Pengandikanire Yang Sukseme, mangke maring Jibril, sireng mangkate den henggal, manjinge hing suargiki, hangambile sireki, selembar godonging kayu, godonging kastube, lahambilen din hagelis, mungulembar hiku karya- nane destar.

(Tuhan berfirman, kepada malaikat Jibril, kamu segera berangkat, masuk ke dalam surga, kemudian kamu ambil, selembar daun kayu, namanya daun kastube, cepat kamu ambilkan, hanya selembar untuk destar).

c. Peralatan untuk mencukur dari surga yang langsung dianugerah- kan oleh Allah.

Kinendere yang sukseme, pengangge saking suargi, saking nugrahaning mare hing tuan.

(Perintah dari Yang Kuasa, semua peralatannya dari surga, dianugerahkan oleh Tuhan kepadamu).

d. Malaikat Jibril yang mencukur Nabi.

Lingire Nabi Muhammad, maring sire Jibrail, sape kang amaras hambe, jibril humatur aris, saking pakoning Yang Widi, kangambe kinen hacukur,

(Sabda Nabi Muhammad, kepada Jibril, siapa yang mencukur hamba, jibril menjawab, karena perintah dari Yang Kuasa, hamba yang mencukur tuanku)

e. Rambut Nabi tidak ada yang jatuh ke tanah

Mulane tan tibeng lemah, mankin remantuan singgih, dening samiye tinam- panan, dening sakeh widadari,

(Sebabnya tidak ada yang jatuh ke tanah, semua rambut tuanku, semuanya itu, diambil semua oleh bidadari)

f. Rambut Nabi dijadikan azimat dan gelang tangan oleh bidadari.

Firmaning Yang Maha Muliye, mangke aring widedari, pade mangkate de- nenggal, maring kekasih sun singgih, sire lungake sami, hamupue remanipun, pade kinarye jimat, remane kekasih mami, pade talikne aring egennire, o,

(Firman Yang Kuasa, kepada semua bidadari, kamu semua berangkat, ke- pada kekasihku, kamu sama-sama berangkat, mengambil rambut kekasihku, kamu jadikan azimat, rambutnya kekasihku, kamu jadikan gelang tangan- mu).

KEKUATAN GAIB DAN PERLINDUNGAN 

Lontar ini di dalamnya menjanjikan manfaat besar bagi siapa saja yang menulis/menyalin, menyimpan, membaca, mendengar, membawa, dan percaya akan cerita Nabi Haparas, yaitu:

1. Terhindar dari siksa api neraka dan bebas dari penyakit.

Supaye sire sedaye, sunluput aken hing berajung, saking hing api nera- ke,pome sing sapi nimpeni, hing cerite hiki, kekasih ing sun hacukur, sa- king enggeni satungagal, sun luput aken penyakit,

(Supaya kamu semua, kelak aku ampuni, dari siksa api neraka, jadi siapa saja yang menyimpan, ceritanya ini, kekasih (nabi) bercukur, dari tem- pat yang satu, aku bebaskan dari penyakit)

2. Terhindar dari rasa sakit ketika dicabut nyawanya.

Sun luputaken penyakit, tatkalanire sekarat, lagi pinecat rohe, benjang ingsun wihi sapeat,

(Saya bebaskan dari penyakit, nanti di waktu sakaratul maut, waktu dicabut nyawanya, kelak akan mendapat safaat)

3. Akan mendapat keselamatan.

Make sakowehing kang muliye,o. sun selamet aken sami, hing dunie te-keng aherat, sun luput aken sakowehin sikse,

(Semua akan mendapatkan keselamatan. Akan saya selamatkan semua- nya, dari dunia sampai akhirat, aku bebaskan dari segala galanya, dari bermacam siksa).

4. Terhindar dari pertanyaan kubur dan semua siksa sampai hari kiamat.

Mung Karun Nakirun hike, lan sakowehing sikse kubur, miwahing dine kiyamat,

(soal/pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, semua siksa akan lebur, sampai hari kiyamat).

5. Mendapat Rahmat dan selamat dari bencana.

Lan tan pegat sun tingali, tan pegat sakowehing rahmat, lan sun rakes bencanane, jelme lawan belis lamat,

(Dan tetap saya awasi, dan tidak putus rahmatku, juga saya pelihara dari bencana, dari manusia iblis dan setan laknat)

6. Dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan

Lamun wong ingetene, siren sun weki rahayu, aduh saking duke cipte,

(kalau selalu ingat [cerita Nabi Haparas ini], saya berikan keselamatan, dan dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan).

7. Dipelihara isi rumahmu dan terhindar dari kebakaran

Miwah cerita puniki, simpening wismanire, sun raksanen se isine, wi- smanire sun raksehe, aduk aken hing bale, asal api tan tumuwuh, geni padam dening tirte,

(Dan juga yang menyimpan cerita ini, saya pelihara isi rumahmu, dan rumahnya akan saya jaga, rumahnya dijauhkan dari penyakit, bila di- simpan di dalam rumah, rumahmu tidak akan kebakaran, seperti api di- siram oleh air).

8. Dilipatgandakan harta bendanya

Lamun cerite punike, ginawe aken lelampah, dening pekir miskin teko, hiku sami asung ene, pire hing pawihire, maring pekir miskin iku, hing- sun hangiline sire, o. Upame arte sedemi sun iline itung dase, saking pundi kang pawehe, saking kudrate Yang Sukseme.

(Kalau cerita ini dibawa musafir, oleh para fakir atau miskin, semua akan diberikan, keistimewaan kepadanya, kepada fakir miskin itu, saya yang menggantikannya. Umpamanya harta benda seribu, saya gantikan dengan tujuh ribu, karena besar pemberiannya, sebab semua dari Allah).

9. Akan mendapat syafaat Nabi.

Lan antuk sapaat nabi, lanang sulan sesimungan,samiye antuk berkat karone,lan asung lan kang sinungan,

(Dan juga akan mendapat syafaat nabi,langsung diberikan, semua men- dapatkan berkah,dan bagi yang menyimpan akan diberikan,)

10. Akan mendapatkan rezeki.

Datunging cerite nabi, tatkalanire pinaras, katuranane gelis meng- ko,rahmat ingkang nunggaldine, serte rezekinire, selakse sedine rauh, tanane tuwanging rahmat.

(Tentang ceritanya nabi, diwaktu bercukur, segera akan diberikan, rah- mat yang tiada putusnya, serta rezekinya, tiap hari akan datang, tidak ada putus rahmat-Nya turun)

11. Akan dijaga dari hantu dan binatang buas.

Yen binakte jimat iki, hing karang pringgepunike, hingkang akih durbik- sane, miwah sakoweh sato galak, pade wedi sedayu,

(Dan kalau dipakai menjadi jimat, atau pergi ke tempat yang angkar, tempat itu banyak hantunya, dan banyak binatang buas, semua tidak berani)

12. Akan mendapat keselamatan saat berperang.

Lamun binakte hajurit, sakowehe satru te sirne, bedil wahos pedang totok, tanane hamuyatane, tur kuat paudaniore, saking nugrahaning yang agung, kang hambakte cerite.

(Dan kalau kita bawa berperang, musuh tidak ada yang berani, bedil pedang panah tidak mempan, semua tidak berguna, yang berperang diberikan kekuatan, karena pertolongan dari Tuhan, bila membawa cerita ini).

13. Akan mendapat kebahagian dan disukai banyak orang.

Lamun ane karyaniki, atawe yen gegaweyan, hiku dadiye glis mangko, lan hamanggiye reki rahayu, akih wongike welas, tanane bendoning ra- tu, mpergaule kinasihan.

(Kalau ada pekerjaan, ataupun ada masalah, semuanya cepat selesai, kita dapat kebahagiaan, banyak yang senang pada kita, tidak ada yang ragu, kita semua dikasihani).

14. Akan mati syahid.

Lan manggih benjang yen mati, tan manggih merge kesasar, wong iku sahid patine, hingkang hagaduh cerite,

(Dan kalau meninggal, tidak akan kesasar, disebut juga mati syahid, bagi yang meyakini cerita ini)

h. Bagi yang tidak percaya terhadap cerita ini akan di benci Tuhan dan akan menemui jalan sesat serta dikategorikan sebagai mu- nafik.

Lanore percaya malih, miwah tan harse miyarse, hiku pasti wong munapik, hasengit ingsun kalintang,

(Bila tidak percaya, dan tidak mau mendengarkan, itulah orang munafik namanya, Saya sangat benci, )

Sing sape mahido rike, yadiyan sriking manak, lamun hamakidoe, seyektine wong puniku, pasti manggih marge pape

(Barang siapa yang tidak percaya, atau ragu-ragu dalam hati, dan yang mere- mehkan cerita ini, orang itu nantinya, pasti menemui jalan sesat)

POKOK-POKOK AJARAN KEAGAMAAN

Dalam teks Nabi Haparas ini tegas terdapat pesan-pesan keagamaan Islam:

a. Ajakan untuk mengesakan Allah serta meyakini Allah dan Rasul- nya.

Asyhaduanla puniki, ilaha illallah hike, arti kuketahui reko, dengan hati putih suciye, hiye putus sinak iman, bahwe punike sungguh, tiada tuhan hingkang muliye.

(Aku bersaksi bahwa, ilaha illaallah itu, artinya aku bersaksi, dan diyakinkan dengan hati suci, keyakinan yang sesungguhnya, tiada Tuhan selain Allah, yang paling mulia).

Kang sinembak kang pinuji, setuhu ne ye allah, wajibul ujud te teko, jadikan sakowehing alam, kekak adanye sadiye, wa asyhadu ane puniku, muhammad rasulullah.

(Yang disembah dan dipuji, hanya Allah yang sebenarnya, hukumnya wajib diyakini (percaya), dia pencipta alam semesta, menguasai semua isinya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah).

Artinya kuketahui, dengan hati putih suciye, punike te setuhune, Nabi Muhammad utusan, hing yang kang murbing jagat, kang dadi julme tu wuwuh, hambawe iman Islam.

(Aku mengetahui (meyakini), dengan hati yang suci, dan sebenar-benarnya, Nabi Muhammad utusan-Nya, Allah yang mencipta alam ini, baik manusia jin dan alam semesta serta isinya, memberikan iman dan Islam)

b. Larangan menyekutukan Allah dengan makhluk hidup serta saran untuk selalu mengingat dosa.

Hangesakan sang widi, ngestokan raje kaula, hilingene yen ginawe. setuhune temak rasan, apan hakoweh dumadiye, kurip mati temah hipun, hiling rage nandang dose.

(Bila mau mengesakan Allah, jangan samakan antara raja dengan rakyatnya, sebagai hamba Allah kita selalu ingat pada-Nya, bisa berbicara dan dilihat, adalah pencipta semesta, sejak masih hidup sampai mati, kita selalu ingat dengan dosa).

c. Saran untuk membersihkan diri dan mendengarkan kata hati.

Hiku titah hing dumadi, marmane langsahing awak, inget rage tanpe gawe, dadi hane linur brangte,

(Semua itu adalah perintah-Nya, marilah bersihkan diri, ingatlah bahwa jiwa ini tidak ada gunanya, kita harus mendengarkan kata hati, diceritakan tentang nabi Allah, akan saya kisahkan, di saat bercukur).

Kosmologi dan Arsitektur Sasak


BAGIAN PERTAMA

Bentuk, Fungsi dan Makna Rumah Sasak

Bagi masyarakat Sasak tradisional, rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.

Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan lantai. Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati. Juga sebagai keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu rumah), dan sebaginya.

Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.

Lombok Traditional House with Ann Dunhan (Hawaii University)

Kosmologi: Ruang dan Waktu

Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.

Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug. Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).

Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.(*)

arsitektur sasak-simpan air

Tempat air di sebelah lumbung dan rumah ini penciri rumah Sasak. Sadar sholat dan sembahyang, juga cuci kaki ketika datang dari tempat jauh. Semacam pemisahan dunia luar dan dunia dalam ketika membasuh muka dan kaki memasuki pekarangan.

BAGIAN KEDUA

Pranata dan Ragam Rumah Suku Sasak

Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale Tajuk.

Nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing tempat.

a. Bale Tani

Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi. Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.

Pondasi bale tani terbuat dari tanah, desain atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok) sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak-undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.

b. Bale Jajar

Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap. Penggunaan alang-alang saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq dengan tiang berjumlah enam.

c. Berugaq / Sekepat

Berugaq/sekepat mempunyai bentuk bujur sangkar tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40-50 cm di atas permukaan tanah.

Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq/sekepat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

d. Sekenam

Sekenam bentuknya sama dengan berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

e. Bale Bonter

Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/pejabat desa, dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan desa/kampung. Bale bonter dipergunakan sebagai temopat pesangkepan/persidangan adat, seperti tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat dan sebagainya.

Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak atapnya menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.

f. Bale Beleq Bencingah

Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Bencingah.” Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:

  • Pelantikan pejabat kerajaan
  • Penobatan Putra Mahkota Kerajaan
  • Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan
  • Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan

g. Bale Tajuk

Bale tajuk merupakan salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale

tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

h. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, jenis bangunan lain dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun dengan tujuan untuk menghindari bencana banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk rumah panggung.

Bangunan Pendukung

Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat Sasak membuat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti sambi, alang, dan lombung.

a. Sambi

Sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian masyarakat. Ada beberapa macam bentuk sambi, antara lain sambi sejenis lumbung berbentuk rumah panggung. Bagian atas sambi ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.

Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.

b. Alang

Alang sama dengan lumbung, berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian. Hanya saja alang mempunyai bentuk yang khas, yaitu beratapkan alang-alang dengan lengkungan kira-kira ¾ lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam ke atas. Konstruksi bawahnya menggunakan empat tiang yang ujung tiang bagian atasnya dipadu dengan jelepeng (diikat menjadi satu). Bagian bawah bangunan alang biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat baik siang atau malam hari. Alang biasanya diletakkan di halaman belakang rumah atau dekat dengan kandang hewan.

c. Lumbung

Lumbung adalah tempat untuk menyimpan segala kebutuhan. Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang, karena lumbung biasanya diletakkan di dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. Lumbung berbentuk bulat, dibuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter 1,5 meter untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan berdiameter 3 meter jika diletakkan di luar rumah.

Bahan untuk membuat lumbung adalah bambu, bedek, dan papan kayu sebagai lantai. Di bawah papan lantainya dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudutnya. Atapnya disangga dengan tiang kayu atau bambu berbentuk seperti atap rumah tinggal.

Di samping adanya bangunan pendukung, orang Sasak sangat memperhatikan tanaman yang ada di sekitarnya, karena mereka meyakini bahwa ada beberapa tanaman yang jika ditanam dapat mengundang malapetaka. Tanaman yang tidak boleh ditanam di sekitar rumah adat, antara lain pohon nangka, pohon sawo, pohon jambu air, pohon kelor, pohon kedondong, pohon ceremai, pohon johar, dan pohon maja.

Tulisan ini dihimpun oleh SUGI LANUS dari berbagai sumber on-line dan off-line

RINGKASAN 20 LEMBAR PRASASTI JULAH-SEMBIRAN


Dahulu kala disebutkan di Pura Balai Agung Desa Julah disimpan 20 lembar prasasti perunggu. Sekarang masih 11 lembar disimpan di Julah, dan 9 lembar lagi disimpan di Pura Balai Agung Desa Sembiran. Kabarnya selembar dari 11 lembar yang tersimpan di Julah hilang. 20 lembar prasasti di Julah dan Sembiran itu adalah satu kesatuan sebagaimana halnya dengan warga desa Julah dan Sembiran adalah kerabat satu kesatuan dalam rentang sejarah panjang desa Bali Kuno.

Keseluruhan lembar-lembar prasasti tersebut sudah pernah diterbitkan oleh Dr. Brandes pada tahun 1889. Sebagian isi prasasti tersebut diterbitkan ulang oleh Dr. Goris dalam buku ‘Prasasti Bali 1 &2′ pada tahun 1954.

Dua puluh lembar prasasti tersebut bisa diklasifikasikan menjadi 6 bagian, berdasarkan para raja yang mengeluarkan prasasti tersebut, yaitu :

1. Keputusan Ratu Ugrasena
2. Keputusan Raja Tabanendra Warmadewa
3. Keputusan Raja Janasadhu Warmadewa
4. Keputusan Ratu Sang Ajnadewi
5. Keputusan Raja Anak Wungsu
6. Keputusan Raja Jaya Pangus

Adapun ringkasan 20 lembar yang dikeluarkan oleh 6 raja tersebut ringkasannya sebagai berikut:

1. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN RATU UGRASENA

Pada tahun caka 844 (tanggal 24 Januari 923 Masehi) Sang Ratu Sri Ugrasena bersama-sama para pegawainya yang tinggi-tinggi mengadakan sidang dengan para Penghulu Desa Julah, bertempat di pendapa Istana Singhamandewa. Dalam perundingan itu diterangkan bahwa penduduk Desa Julah sangat gaduh, gelisah resah, takut-takutan karena adanya gerombolan-gerombolan perampok yang sering-sering menangkap dan menculik penduduk Desa Julah. Dari kekacauan itulah mengakibatkan kebanyakan penduduk Desa Julah lari mengungsi ketempat-tempat yang lebih aman. Peristiwa itulah yang dirumuskan di dalam perundingan yang diadakan oleh Sang Ratu Ugrasena, dengan mengambil beberapa keputusan antara lain: Semua penduduk Desa Julah yang masih ada di tempat-tempat penyingkiran harus segera kembali ke Desa Julah agar tinggal di tempat semula. Juga Sang Ratu Ugrasena membuat peraturan-peraturan upacara tentang orang-orang yang mati dirampok, mati salah pati, disamping peraturan-peraturan upacara orang mati biasa. Dengan adanya itu pajak-pajak penghasilan masyarakat Desa Julah yang biasanya dipungut oleh raja kini semuanya dihapus, tetapi tentang iuran-iuran untuk biaya upacara di dalam pura masih tetap berlaku.

Selanjutnya diputuskan juga penduduk Desa Julah dilarang menangkap atau menculik busak-busak (orang-orang) nilik orang lain. Dan ada jika ada sebuah perahu atau sampan yang terdampar di laut, maka isi perahu itu harus menjadi hak milik pura atau dimanfaatkan. Batas-batas desanya pun telah ditetapkan di dalam undang-undang Raja Ugrasena.

Sekian antara lain isi prasasti keluaran Ratu Ugrasena ini.

Waktu jaman Ratu Ugrasena ini memerintah di Bali, dan di Jawa yang memerintah adalah Raja Tulodong dengan Rakrian Patih Baginda yakni Mpu Sendok. Agaknya usaha Sang Ratu Ugrasena untuk menentramkan penduduk Desa Julah itu sia-sia belaka.

2. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN SRI HAJI TABANENDRA

Selanjutnya pemerintahannya diganti olah Sri Aji Tabanendra Warmadewa. Raja ini memerintah di Bali pada tahun 955 M. dan yang memerintah di Jawa adalah Sri Makutawangsa Wardana. Dari kebijaksanaan baginda memerintah maka sebagian besar penduduk Desa Julah yang dulunya mengungsi ke tempat lain, kini sudah kembali ke desa asalnya. Selanjutnya Raja telah memutuskan bahwa desa-desa yang masuk ke Desa Julah antara lain: Desa Kutur, Desa Tukad Memurpur, Poh Talur, Tring Wor, Ratu Kamodi, Lijong, Baringin, Air Puhun, Air Belatuk, Air Ranusan, Air Tampikan, Air Hepu, Air Poh Tanduk, Balimbing, Renek, Bakar, Candi.

Prasasti tersebut dibuat pada tahun caka 873 (19 Desember 951).

3. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN SRI JANASADHU WARMADEWA

Pemerintah Sri Aji Tabanendra-Warmadewa diganti oleh raja Sri Janasadhu-Warmadewa.

Pada tahun 897 (6 april 975 M) raja ini bersama-sama para parekannya yang tinggi-tinggi dapat mengumpulkan para pemuka atau para penghulu Desa Julah yang baru-baru saja kembali dari tempat-tempat penyingkiran dahulu. Dalam perundingan itu Raja telah memutuskan sebagai berikut :

Apabila ada bangunan-bangunan yang rusak misalnya : Pura, kuburan, pancuran, permandian, candi dan jalan raya harus diperbaiki dan biayanya dibebankan kepada tempat Desa yakni : Desa Julah, Desa Indra Pura (sekarang disebut Desa Depehe), Desa Buhundalem (sekarang Desa Bondalem) dan Desa Hiliran (Desa Tejakula). diputuskan pula bila ada perampokan datang ke pertapaan dharmakuta, maka seluruh penduduk Desa Julah harus keluar membawa senjata selengkapnya untuk menolong atau membantu pertapaan itu. Tentang iuran-iuran untuk biaya didalam upacara di Pura telah ditetapkan juga sesuai dengan keputusan Raja-raja yang dahulu. Undang-undang Raja Janasadhu Warmadewa ini dibuat pada tanggal 6 April 975 M, dan ditatah diatas perunggu oleh juru tulisnya yang bernama Banacri.

Dari pemerintah Sang Sri Janasadhu, sampai pemerintah Dharma Udayana-Warmadesa (10 11 M) keadaan Desa Julah dan sewilayahnya sangat tentram dan aman. Rupa-rupanya selama ini para perampok tidak lagi mendatangi Desa Julah, karena penduduknya semakin kuat dan bersatu.

4. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN SANG AJNA DEWI

Pada jaman Janasadu ini memerintah di Bali, yang memerintah di Jawa adalah Raja Dharma Wangsa. Berselang 41 tahun dari pemerintahannya Janashadu – Warmadewa kemudian yang memerintah di Bali adalah seorang ratu putri yang bergelar Sang Ajna Dewi.

Ketika Sang Ajna Dewi berkuasa di Bali penduduk Desa Julah kembali mengalami kerusakan dan kegelisahan. Banyak di antara penduduk Desa Julah yang dibunuh dan di awan maupun diculik oleh gerombolan-gerombolan yang datangnya dari Desa Bayan Bisti. 200 kepala kepala keluarga telah lari mengungsi ketempat-tempat yang lebih aman. Akhirnya penduduk Desa yang tinggal hanya 50 keluarga. Adapun tempat pengungsian mereka pada jaman itu disebut Pawelah/Sawelah.

Selanjutnya selama Ratu Ajna Dewi itu memerintah keadaan Desa Julah semakin memburuk. Demikian pula pengganti baginda yaitu Raja Marakata yang memerintah pada tahun 1022 M-1026 M, juga tidak dapat mengembalikan penduduk Desa Julah.

Prasasti yang dikeluarkan atau diputuskan oleh Ratu Ajna Dewi tersebut yang ditulis pada tanggal 11 september 1016 M, pada jaman ini yang memerintah di Jawa adalah Raja Erlangga.

5. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN SRI PADUKA AJI ANAK WUNGSU

Pada tahun Caka 987 (10 agustus 1065 M), para pemimpin dan para penghulu Desa Julah, Desa Widatar, Desa Keduran, Desa Pasuruhan dan Desa Pasungan semuanya menghadap kehadapan Sri Paduka Aji Anak Bungsu hendak berunding untuk membuat undang-undang Desa Julah yang baru.

Adapun keputusan-keputusan dalam perundingan itu antara lain:

Kalau ada saudagar-saudagar yang memakai perahu dari tanah seberang hendak ke Pura Menasa (pura ini berada di sebelah timur Desa Sinabun), tiba-tiba perahunya rusak di laut, maka sekalian penduduk Desa Julah harus membantunya. Apabila dengan tiba-tiba ada musuh yang hendak menyerbu penduduk yang ada di pesisir, maka sekalian penduduk Desa Julah harus segera keluar serta membawa senjata yang selengkapnya. Tentang pajak-pajak tontonan dan perkumpulan nyanyian, gong sebagaiannya telah ditetapkan. Piagam ini dilengkapi dengan kata-kata sumpah dan kutukan. Undang-undang ini dibuat diistana oleh juru tulis Baginda yang bernama Bajarangsa.

Pada jaman anak Bungsu ini memerintah di Bali, di Jawa diperintah oleh raja Kediri yang bergelar Sri Semara Utsaha Ratna Sangka. Rupa-rupanya dari tahun 1065 M – 1181 M keadaan Desa Julah dan sekitarnya sudah agak tentram dan aman, walaupun sebagian penduduknya sudah mengalih ke tempat lain.

6. PRASASTI JULAH-SEMBIRAN MASA PEMERINTAHAN RAJA JAYA PANGUS

Dalam tahun 1181 M Raja Jayapangus telah membebaskan Desa Keduran supaya menjadi Desa Otonom (Swatantra ). Dahulu sebelum tahun ini Desa Keduran menjadi desa kekuasaan Desa Julah. Lain dari pada itu Raja Jayapangus telah menetapkan batas-batas Desa Julah, peraturan-peraturan pajak seperti peraturan cukai (bea). Perahu-perahu dan sampan-sampan yang berlabuh di pantai Desa Julah, peraturan perkawinan, peraturan waris orang-orang yang telah meninggal dunia, peraturan wajib untuk biaya upacara besar dalam Pura dan lainnya yang telah disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh Raja Anak Wungsu. Jaman Raja Jayapangus memerintah di Bali, di Jawa Timur diperintah oleh Sri Kronca Aryadhipa.

KISAH BUAH BEKUL dalam RAMAYANA dan MAHABHARATA


Text oleh Sugi Lanus, diadaptasi dari sumber alam maya.

Pohon Bekul di Bali ditemukan di perbukitan Bukit Jimbaran dan Pecatu, juga di perbukitan kering di Karangasem dan juga Buleleng. Buah pohon Bekul disebutkan beberapa kali dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia buah ini disebut buah Bidara atau Widara, punya nama Sansekerta: Vadari, Badari, Vadara. Dalam bahasa Inggris disebut Jujabe atau Plum India.

Dalam Ramayana, ketika Rama dan Lakshmana sedang mencari Sita yang diculik oleh Rahwana, mereka berjumpa dengan sebuah pohon Bidara dan bertanya apakah dia telah melihat Sita? Alkisah, kala itu pohon-pohon masih bisa melihat, mendengar dan berbicara seperti manusia. Mendengar pertanyaan Rama, pohon Bidara menjawab bahwa ia sebenarnya sudah berusaha untuk menyelamatkannya dengan menarik dengan duri-duri ranting dan batangnya pakaian Sita. Ia kemudian menunjukkan ada benang terjerat dalam cabang pohonnya dan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari kain Sita. Pohon itu kemudian menunjuk ke arah mana Sita dibawa pergi secara paksa oleh Rahwana.

Rama memberkati pohon Bidara karena telah mencoba menyelamatkan Sita dan memberikannya anugerah bahwa tidak peduli seberapa buruk itu hancur dan dipotong, itu tidak akan mati dan bahkan jika akar tunggal itu yang tersisa, akan bermunculan lagi, tumbuh sebagainya pucuk segar dan menjelma menjadi ranting dan cabang. Berkat berkah anugrah Sang Rama inilah kenapa pohon Bidara tahan banting dan memiliki kemampuan untuk tumbuh di daerah terkering sekalipun.

Dalam bagian lain dari Ramayana, disebutkan seorang pemuja Rama, bernama Shabari, menawarkan buah Bidara untuk Rama ketika dalam pengembaraannya di hutan mencari Sita. Shabari memeriksa dan mencicipi setiap buah, untuk mengetahui apakah buah itu matang sebelum ditawarkan kepada Rama.

Rama menerima buah yang telah terlebih dulu dicicipi oleh Shabari, dan mengatakan jika ada sesuatu yang ditawarkan kepadanya dengan kemurnian hati dan dengan perasaan yang tulus; itu adalah suci dan murni inti persembahan. Berangkat dari cerita inilah, sampai sekarang di India, buah Bidara dianggap suci dan dipakai dalam banyak upacara keagamaan dan dipersembahkan kepada para dewa.

Alkisah lain tentang buah Bidara terkait pertemuan Rishi Bharadwaja dengan Apsara Ghritachi, bidadari cantik bermata besar menawan. Apsara Ghritachi suatu hari melewati pertapaan Rishi Bharadwaja. Itu terjadi dimasa muda Rishi Bharadwaja. Melihat bidadari Ghritachi, benihnya jatuh. Sang Rishi mengambil benih di tangannya dan meletakkannya dalam tangkup daun. Dari benih ditempatkan dalam tangkup daun yang menyerupai cangkir itu lahirkan seorang gadis dengan keindahan yang tak tertandingi.

Rishi Bharadwaja memberinya nama Sruravati. Dia meninggalkannya di pertapaan untuk bertapa di hutan Himavat. Sruravati, saat ia tumbuh dewasa, menjalani kehidupan sebagai seorang putri Brahmana, mulai berlatih pertapaan untuk bisa mendapatkan Indra, penguasa dari kesucian, sebagai suaminya. Untuk mendapatkan keinginannya, ia mengamati beragam jenis mantra dan puasa. Indra dalam wujud Rishi Vasishtha datang ke pertapaan Sruravati. Rishi Vasishtha adalah sosok terkemuka diantara para pertapa. Sruravati menyembah kepadanya: “O engkau harimau di antara pertapa, katakan padaku perintah-Mu. Saya bersumpah akan melakukan pelayanan, apapun perintah-Mu. Saya akan melayani Engkau menurut ukuran dari kekuatan saya, saya tidak akan, bagaimanapun, memberikan kepadamu tangan dan tubuhku untuk Sakra. Saya memuaskan Sakra, penguasa tiga dunia, dengan sumpah untuk “mati raga dalam pertapaan”. Mendengar ini, Dewa Indra yang berwujud Vasistha menjawab: Penebusan dosa adalah akar dari kebahagiaan terbesar. Orang-orang yang membuang tubuh mereka setelah melakukan ‘mati raga’ memperoleh status dewa. Ingatlah kata-kata saya. Apakah engkau sekarang, ya gadis diberkati, siap merebus lima biji Bidara ini. Untuk menguji kesetiaan Sruravati, Indra menghambat didih Bidara. Setelah dibersihkan sendiri, Sruravati mulai tugasnya merebus lima Bidara pemberian Sakra alias Indra yang datang berkedok Rishi Vasishtha. Sruravati merebus Bidara dan setelah beberapa hari belum juga masak lima biji Bidara itu. Kayu bakarnya semua telah dipakai, tiada tertinggal. Melihat api akan mati, Sruravati mulai mempersembahkan tubuhnya sendiri sebagai bahan bakar untuk merebus buah Bidara. Pertama-tama ia menyodorkan kakinya ke dalam tunggu api. Ia sama sekali tidak keberatan kaki terbakar. Wajahnya  tidak pula berubah ketika dalam proses pembakaran yang menyakitkan.

Teringat kata-kata Rishi Vasishtha: “Masaklah Bidara dengan baik”‘. Itu yang dengan segar bergema di dalam pikirannya. Ia terus memasak lima buah Bidara itu dan belum juga menunjukkan tanda-tanda pelunakan sampai kaki habis dibakar oleh Agni. Melihat tindakan pengorbanan Sruravati, Penguasa Tiga Dunia muncul di hadapannya dalam bentuk aslinya dan berkata: “Saya puas dengan penebusan dosamu dan sumpahmu. Dari pengorbananmu membakar tubuhmu dalam doa, tubuhmu diberkati; engkau akan hidup di surga bersamaku”. Pertapaan ini kemudian dikenang sebagai pertapaan terkemuka di dunia, Tirtha yang mampu membersihkan satu dari setiap dosa dan akan dikenal dengan nama Vadarapachana dan dihormati di tiga dunia.

Cerita lain yang menyebutkan kesucian buah Bekul atau Bidara adalah kisah kunjungan ke Siva ke Arundhati, istri salah satu Resi. Di Tirtha Vadarapachana, tinggal tujuh Resi dengan Arundhati. Sekali waktu, tujuh Resi meninggalkan Arundhati dan pergi ke Himavat. Sementara tujuh Resi tinggal di hutan Himavat, sebagai pertapa menjalani tapa dan semadi terus menerus, mengabdikan diri dan batin mereka dalam suasana hidup sebagai pertapa, kemarau terjadi sepanjang dua belas tahun. Arundhati mengumpulkan buah-buahan dan menjalani kehidupannya seorang diri dalam keheningan pengabdian. Senang akan ketulusan hidup Arundhati, Mahadeva, dengan perwujudan Brahmana, mengunjunginya dan meminta sedekah pada Arundhati. Arundhati mengatakan bahwa simpanan makanan telah habis dan bertanya apakah mau makan buah Bidara. Mahadeva memintanya untuk memasak Bidara untuknya. Arundhati mulai memasak Bidara dan senang mendapat kunjungan seorang Brahmana suci. Dia memasak buah Bidara dan mulai mendengarkan ajaran suci dari Mahadeva, dan keajaiban terjadi, dua belas tahun kekeringan berlalu seolah-olah itu satu hari dan Arundhati bahkan tidak pernah menyadari bahwa ia belum makan untuk selama masa kekeringan itu. Pada akhir dua belas tahun kemarau, tujuh Resi kembali dari pegunungan setelah mencapai tujuan tapanya. Mahadeva kemudian muncul di depan Resi dalam bentuk aslinya dan memuji Arundhati telah melakukan penebusan dosanya dengan jalan memasak selama dua belas tahun dengan tiada henti. Arundhati diberi anugrah oleh Mahadeva hidup dalam abadi dan tempatnya bermukim Tirtha Vadsrapachana akan menjadi pemukiman tersohor bagi para Siddha dan Resi surgawi.

Jika kita melihat berbagai peribadatan di India, buah Bidara dipersembahkan dalam peribadatan, terutama persembahan untuk Siva, juga para dewa lainnya secara tidak terpisah.Bekul atau Bidara juga suci bagi Wisnu dan Wisnu juga disebut Badarinath atau Dewa Bidara. Kota yang disebut Badrinath, tempat ziarah di ketinggian 10.294 meter di atas laut namanya berasal dari pohon Bidara atau Vadari atau Badari. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa air dan aliran sungai suci Gangga muncul dari akar pohon Bidari raksasa di Gunung Kailasha. Sebuah interpretasi mengatakan bahwa kudi, apa yang disebutkan dalam Kausika Sutra, Atharvaveda, diidentifikasi sebagai ranting Bidara, yang diikatkan ke tubuh orang mati sebagai pelenyap jejak, agar roh yang mati tidak menoleh kembali ke badan yang fana, tapi menuju ke alam roh dengan tanpa hambatan.

Di luar penganut Siva dan Wisnu, meskipun penganut Sikh umumnya tidak percaya pada kesucian pohon, ada satu pohon tumbuh di Kuil Emas di Amritsar, yang dikenal sebagai ‘pohon yang menghilangkan kesedihan ‘. Pohon itu adalah salah satu varietas pohon Bidara yang dianggap suci oleh warga Sikh.