BENARKAH TELUK BENOA SEBUAH KAWASAN SUCI?


 

Sugi Lanus

Hanacaraka Society

 

 

I

PENDAHULUAN

Nápsu mūtram purīsam va, sthīvanam va samutsr̥jet, amedhya liptam anya, dva lohitam vavisani vá.

“Hendaknya ia jangan melempar air kencing atau kotoran ke dalam aliran air (sungai), tidak pula air ludah, juga tidak boleh melemparkan perkataan yang tidak suci, tidak pula kotoran-kotoran, tidak pula yang lain, tidak pula darah atau suatu yang beracun”.

Manawa Dharmasastra IV. 56.

Pratyagniṃ pratisūryam ca pratisomodakad vijān, prātigān prativātam, ca prajna naśyati mehataḥ.

“Kecerdasan orang akan sirna bila kencing menghadapi api, mata hari, bulan, kencing dalam air yang mengalir, menghadapi Brahmana, sapi, atau arah angin”.

Manawa Dharmasastra IV. 52.

 Sám anyā́ yánty úpa yanty anyā́ḥ samānám ūrváṃ nadyàḥ pr̥ṇanti,  tám ū śúciṃ śúcayo dīdivā́ṃsam  apā́ṃ nápātam pári tastʰur ā́paḥ

“Sejumlah besar air, bersama dengan yang lainya berkumpul menjadi sungai yang mengalir bersama-sama menuju ke penampungan (muara dan teluk). Air yang murni (suci), baik dari mata air maupun dari laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan”.

Rg Veda II. 35.3.

 Oṁ Dyauḥ śāntir antarikṣaṁ śāntiḥ, pṛthivī śāntir āpaḥ śāntir, oṣadhayaḥ śāntiḥ vanaspatayaḥ śāntir, viśve devaḥ śāntir brahma śāntiḥ, sarvaṁ śāntiḥ śāntir, eva śāntiḥ sā mā śāntir edhi.

“Semogalah selaras (damai) dengan atmosfir, dengan langit dan bumi. Semogalah selaras dengan air, tumbuh-tumbuhan dan tanaman obat  sebagai sumber kebahagiaan. Semogalah para dewata dan Tuhan Yang Mahaesa menganugrahkan kedamaian dan  keharmonisan kepada kita semua. Semogalah terdapat keserasian di seluruh pelosok. Semogalah keharmonisan itu datang kepada kami.”

Yajurveda XXXVI 17

 

Penghormatan kepada petoyan, petirthan, beji, segala mata air, danau, sungai, campuhan, loloan, teluk dan pesisir, serta laut, menduduki posisi sangat penting dalam Agama Hindu Bali. Penghormatan dan penyucian Hindu Bali terhadap air menyebabkan Agama Hindu di Bali disebut juga Agama Tirtha. Tiada satu upakara agama Hindu di Bali bisa selesai tanpa kehadiran tirtha.

Nilai-nilai dan ajaran Agama Tirtha itu tercermin dan menjadi pedoman ruhani masyakatan Bali. Dalam kehidupan sehari-hari manusia Bali dituntut hati-hati dan menjaga kesucian air dan salurannya. Berbagai ajaran lisan dan tertulis mengamanatkan manusia Bali eling dan jagra, penuh sadar hormat pada alam dalam menjalani kehidupan.

Sebagai contoh ajaran Lontar Karang Panes mengajarkan kita bagaimana memilih tempat bermukim dan sarana umum lainnya. Disebutkan diantaranya: Tan wenang (tidak dibenarkan atau dilarang) ngurug/membangun di titik bekas pengalapan sawah (saluran masuk air sebuah petak sawah), jurang dan pangkung. Disamping larangan untuk bermukim di karang (pekarangan) yang kena tumbak rurung (‘tertusuk’ jalan’), larangan lebih besar adalah tinggal atau bermukim di karang tumbak tukad (tanah yang ‘tertusuk’ sungai).

Demikian pula nilai-nilai Tri Hita Karana – yang menjadi pedoman Desa Adat Pakraman dan anutan krama (warga) Bali, yang terdiri dari Parahyangan (aspek Ketuhanan), Palemahan (aspek lingkungan dan alam), dan Pawongan (aspek manusia dan pratana social) – salah satu pilarnya yaitu palemahan memberikan kita pedoman nilai-nilai yang melingkupi aturan dan larangan membangun. Dilarang membangun di ‘karang karubuhan’ (pekarangan yang tumbak rurung/ jalan), ‘karang sandang lawe’ (pekarangan yang pintu keluarnya berpapasan dengan persimpangan jalan), ‘karang sulanyapi’ (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan), ‘karang buta kabanda’ (pekarangan yang diapit lorong/ jalan), ‘karang teledu nginyah’ (pekarangan ujung tukad, loloan, campuhan), ‘karang gerah’ (pekarangan di hulu Kahyangan), ‘karang tenget’ (areal yang dikramatkan seperti laut, pesisir tempat mlasti, muntig, bengang, alas madurgama, prapat agung, pohon-pohon yang disakralkan), ‘karang buta salah wetu’ (tanah atau lokasi yang tidak pantas kemunculannya seperti: urugan/timbunan sungai, rugan/timbunan jurang, aliran subak, pengalapan carik), dstnya.

Jamak dan diyakini sebagai kearifan lokal (ajaran leluhur) bahwa mengurug atau menutup mata air dan saluran air adalah tindakan yang mendatangkan pemali (terganggu secara energi gaib) dan sengkala (celaka). Hal ini diketahui oleh semua leluhur kita sehingga sangat hati-hati bahkan menghindari tindakan mengurug sumur, pengalapan, selakunda (saluran subak), telabah (kali), pangkung (jurang aliran air), tukad (sungai), serta saluran air lainnya.

Titik pertemuan air seperti loloan dan campuhan disucikan, dikeramatkan dan menjadi tempat atau titik suci menjalankan upakara. Berbagai upakara dilangsungkan di tempat-tempat ini karena keyakinan orang Bali pada energi semesta dipertemukan di titik ini dan memberi kerahayuan (kesucian rohani) jika dijaga atau disucikan. Sebaliknya akan membawa sengkala salampah (celaka seumur hidup) jika diutak-utik.

Laut dan pesisir adalah tempat suci untuk mlukat dan mesepuh, meruwat semua leteh dan mala. Laut dan pesisir adalah tempat suci untuk melasti, pekelem, ruwat, melukat dan ngayud. Berbagai lontar, baik pedoman Pemangku dan Sulinggih (Rsi, Empu, Dukuh, Padanda), menyimpan berbagai mantra atau puja berupa Samudra Stawa atau Apah Stawa yang menggagungkan kebesaran dan karunia Dewa Baruna dan juga Bhatara Badawang Nala yang menjaga laut dan pesisir. Para Dewa-Dewi menjaga laut, memberi berkah, dan juga memberi kita ganjaran pelajaran bencana alam jika kita tidak urati (perhatian menjaga dan bakti).

Istilah kena pamali (kena hambatan energi buruk), pastu (kutuk), kepongor (celaka dalam kehidupan karena tidak punya rasa batin yang suci dan bertindak tanpa pekerti serta tanpa rasa hormat pada kesucian) dan sengkala (celaka) adalah kearifan lokal kita yang mengajari agar kita menghormati alam sebab alam adalah sumber kehidupan sekaligus bisa menjadi sumber bencana terbesar. Jika alam kita rawat dengan hormat, berbagai berkah dan hasil alam memberi kita kesejahteraan dan sumber kehidupan. Sebaliknya, bencana dan berbagai petaka bisa muncul karena kita tidak hormat pada alam.

Selaras dengan alam, hormat dan bakti pada sesama, tidak semena-mena alam adalah pedoman terdalam Hindu.

 

II

PENGERTIAN KAWASAN SUCI

 

Pengertian tentang Kawasan Suci – baik dari pedoman peraturan perundang-undangan (Perda dan Perpres) dan pertimbangan kesucian yang merujuk pada kitab suci yang mengusung aspek sekala & niskala (Bhisama) – sangat penting dipahami bersama, baik oleh pemerintah dan masyarakat Bali, sebagai pedoman dalam melihat dan menyikapi perubahan sosial dan kultural yang terjadi hari ini dan di masa depan, khususnya persoalan keberadaan Teluk Benoa yang kini menjadi polemik.

Berikut kesimpulan dan pengertian kawasan suci sangat jelas disebutkan dalam Bhisama PHDI, Perda Provinsi Bali, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI.

  1. Kawasan Suci Menurut Bhisama

Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura, dalam Ketentuan Umum nomor 1, menyebutkan sebagai berikut:

“Agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda-weda telah menguraikan tentang apa yang disebut dengan tempat-tempat suci dan Kawasan Suci, Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian. Oleh karena itu Pura dan tempat- tempat suci umumnya didirikan ditempat tersebut, karena ditempat orang-orang suci dan umat Hindu mendapatkan pikiran-pikiran suci (wahyu).”

  1. Kawasan Suci Menurut Perda Provinsi Bali & Kabupaten Badung

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 – 2029 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI menyebutkan dalam ketentuan umum, pasal dan penjelasan-nya.

Dalam Ketentuan Umum nomor 40 disebutkan sebagai berikut:

“Kawasan Suci adalah kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti kawasan gunung, perbukitan, danau, mata air, campuhan, laut, dan pantai.”

Pasal 50, menyebutkan:

(1)     Kawasan suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf a, ditetapkan dengan kriteria:

  1. kawasan suci gunung merupakan kawasan gunung dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) derajat sampai ke puncak;
  2. kawasan suci danau disetarakan dengan kawasan resapan air;
  3. kawasan suci campuhan disetarakan dengan sempadan sungai selebar 50 meter yang memiliki potensi banjir sedang;
  4. kawasan suci pantai disetarakan dengan kawasan sempadan pantai;
  5. Kawasan suci laut disetarakan dengan kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu; dan
  6. kawasan suci sekitar mata air disetarakan dengan kawasan sempadan sekitar mata air.

Lebih lanjut dalam Paragraf 3 bagian Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Pasal 13 menyebutkan:

Strategi pelestarian dan peningkatan nilai sosial budaya daerah Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, mencakup:

  1. a. strategi pelestarian dan peningkatan nilai-nilai sosial dan budaya daerah Bali, mencakup:
  2. meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai
  3. sosial budaya yang mencerminkan jati diri daerah Bali;
  4. mengembangkan penerapan nilai sosial budaya daerah dalam kehidupan masyarakat;
  5. meningkatkan upaya pelestarian nilai sosial budaya daerah dan situs warisan budaya daerah;
  6. melindungi aset dan nilai sosial budaya daerah dari kemerosotan dan kepunahan; dan
  7. mengendalikan kegiatan di sekitar kawasan suci dan tempat suci yang dapat mengurangi nilai kesucian

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NO. 26 TAHUN 2013
 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BADUNG TAHUN 2013– 2033 menyebutkan dalam ketentuan umum, pasal dan penjelasannya.

Dalam Ketentuan Umum nomor 29 disebutkan sebagai berikut:

“Kawasan Suci adalah Kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti Kawasan gunung, danau, mata air, campuhan, loloan, sungai, pantai dan laut.”

Dalam bagian pasal, terkait Kawasan Perlindungan Setempat, pasal 25, menyebutkan:

“Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b, dengan luas kurang lebih 1.113,31 Ha (seribu seratus tiga belas koma tiga satu hektar) atau 2,66% (dua koma enam enam persen) dari luas Wilayah Kabupaten, terdiri atas: 

Kawasan Suci;

  1. Kawasan Tempat Suci;
  2. Sempadan Pantai;
  3. Sempadan Sungai;
  4. Kawasan sempadan waduk/estuary dam; dan
  5. Sempadan Jurang.

Lebih lanjut pasal 26 menyebutkan:

(1)  Kawasan Suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a, terdiri atas:

  1. Kawasan Suci gunung;
  2. Kawasan Suci campuhan;
  3. Kawasan Suci loloan;
  4. Kawasan Suci pantai;
  5. Kawasan Suci laut;
  6. Kawasan Suci mata air; dan
  7. Kawasan Suci Catus Patha.

(2)  Kawasan Suci gunung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi seluruh Kawasan dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45° (empat puluh lima derajat) pada badan gunung, lereng dan puncak gunung yang terdapat di Kawasan Pucak Mangu, Desa Pelaga Kecamatan Petang.

(3)  Kawasan Suci campuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi seluruh pertemuan aliran dua atau lebih sungai di Wilayah Kabupaten.

(4)  Kawasan Suci loloan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi seluruh tempat pertemuan muara sungai dengan air laut yang terpengaruh pasang surut air laut di Wilayah Kabupaten.

(5)  Kawasan Suci pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, merupakan pantai yang dimanfaatkan untuk upacara melasti, meliputi :

Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Seminyak, Pantai Berawa, Pantai Batu Mejan, Pantai Pererenan, Pantai Seseh untuk kegiatan melasti lintas Desa Adat; dan

Pantai Mengening, Pantai Srogsogan, Pantai Munggu, Pantai Sepang, Pantai Kelan, Pantai Kedonganan, Pantai Jimbaran, Pantai Labuan Sait, Pantai Batu Pageh, Pantai Geger, Pantai Mengiat, Pantai Samuh dan Pantai Tanjung Benoa untuk kegiatan melasti lokal Desa Adat.

(6)  Kawasan Suci laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi Kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu di Wilayah Kabupaten.

(7)  Kawasan Suci mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, meliputi seluruh mata air yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu.

(8)  Kawasan Suci Catus Pata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, meliputi : Cathus Patha Agung Wilayah Kabupaten terletak di Desa Mengwi; dan Cathus Patha Alit tersebar di tiap-tiap Wilayah Desa Adat yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu.

Dalam bagian penjelasan pasal 26 Ayat (1) disebutkan:

“Yang dimaksud Kawasan Suci menurut Bhisa-ma Kesucian Pura Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDIP) Tahun 1994, adalah gunung, danau, campuhan (pertemuan dua sungai), pantai, laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai-nilai kesucian. Selain Kawasan Suci sebagaimana dimuat dalam Bhisa-ma Kesucian Pura Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDIP) Tahun 1994, di Wilayah Kabupaten terdapat Kawasan Suci lainnya yakni Kawasan Suci loloan dan Cathus Patha. Perlindungan terhadap Kawasan Suci terkait dengan perwujudan Tri Hita Karana, yang dilandasi oleh penerapan ajaran Sad Kertih”.

  1.  Kawasan Suci Menurut Peraturan Presiden RI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO-MOR 45 TAHUN 2011
 TENTANG
 RENCANA TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN DENPASAR, BADUNG, GIANYAR, DAN TABANAN, dalam Bab I, Ketentuan Umum, Pasal 1. 18, menyebutkan dengan jelas:

“Kawasan suci adalah kawasan yang dipandang memiliki nilai kesucian oleh umat Hindu di Bali seperti kawasan gunung, danau, pertemuan dua sungai (campuhan), pantai, laut, dan mata air”.

Sekalipun belakangan keluar Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2014
 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, Dan Tabanan, tapi dalam Perpres 51 ini tidak mengubah ketentuan umum dari Prepres 45. Perpres 51 merubah beberapa pasal, namun tidak sesuai dengan dictum dan berseberangan dengan ketentuan umum Perpres 45 tahun 2011.

Karena Perpres No. 51 Tahun 2014, tidak menyentuh atau merubah Pasal 1 yaitu Ketentuan Umum dari Perpres No. 45 Tahun 2011, perihal kesimpulan dari apa yang dimaksud dengan ‘Kawasan Suci’ masih merujuk pada Perpres No. 45 Tahun 2011, sebagaimana kutipan di atas.

 

 

 

III

TELUK BENOA DALAM LINTASAN SEJARAH

 

  1. Data Historis Keberadaan Pulau Serangan, Pura Sakenan dan Teluk Benoa.

Empat (4) lontar (Babad Bhumi, Babad Tusan, Tattwa Kalawasan Petak, Pangrincik Babad) menyebutkan keberadaan Pura Sakenan dan Kawasan Teluk Benoa yang masuk sebagai kawasan Serangan, sebagai berikut:

  1. Data paling tua tentang Pura Sakenan disebut: “Paryyangan ring Sakenan nyjeneng, resi angapit ghana (627)” Pendirian Sakenan tahun 705 masehi.
  2. Babad Bhumi menyebutkan Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala: “Sasih angapit lawing”(921) atau 999 masehi.
  3. Lontar di Korn Collection, Leiden, menyebutkan bahwa Pura Sakenan dipugar tahun 929 saka (1007 masehi). Lontar ini adalah salinan dari lontar koleksi Pedanda Ngurah di Blayu.
  4. Pura Sakenan direnovasi kembali dengan Candrasangkala: “Rsi Mangapit Lawang Tunggal”(1727 saka=1805 masehi), disebut dalam Lontar Tattwa Batur Kalawasan, dan juga Lontar Pangrincik Babad.

Keempat (4) lontar menyebutkan eksistensi Sakenan sebagai kawasan terintegrasi dengan laut dan teluknya.

 

  1. Pusat Maritim Kerajaan Bali Kuno

Menurut cerita rakyat turun-temurun, Pura Sakenan dan kawasannya (Pulau Serangan dan Teluk Benoa) ditata oleh Sri Kesari Warmadewa, nama pendiri dinasti Warmadewa yang memegang tampuk kekuasaan pada awal masa sejarah di Bali.

Seperti disebutkan di atas data paling tua tentang Pura Sakenan disebut: “Paryyangan ring Sakenan nyjeneng, resi angapit ghana (627)” atau “Pendirian pura di Sakenan tahun 705 masehi”. Jika data ini valid maka keberadaannya lebih awal dari pillar peringatan Sri Kesari Warmadewa di Blanjong, Sanur, dengan angka tahun 836 Saka (914 masehi).  Letak pillar Blanjong ini tidak jauh dari Sakenan, serta sampai kini odalan atau perayaan pura di pillar ini bersamaan dengan piodalan Sakenan. Blanjong secara arkeologis dan efigrafis menyebutkan bahwa kawasan Blanjong adalah kawasan penting masa Bali Kuno dan Pura Sakenan beserta kawasannya dilindungi.

Lebih jauh berdasarkan lontar di Korn Collection, Leiden, disebutkan bahwa Pura Sakenan dipugar 929 saka (1007 masehi), dan menurut Babad Bhumi disebutkan kembali Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala: “Sasih angapit lawang” (921) atau 999 masehi. Kemungkinan pemugaran atau renovasi ini dikerjakan oleh pewaris dinasti Warmadewa setelah Sri Kesari Warmadewa.

Peran Sakenan sebagai pulau dan titik parahyangan (pura) sangatlah penting mengingat disebutkan bahwa Pulau dan Teluk Sakenan (sekarang disebut Teluk Benoa) diceritakan sebagai Pusat Maritim Kerajaan Bali Kuno dan pelabuhan kuno yang ramai, dengan bentang alam pelabuhan yang sangat strategis untuk perbaikan kapal dan penangkapan ikan terbentang dari Blanjong-Sanur, Sakenan (Serangan), Benoa dan Tanjung.

Keberadaan Blanjong dan sekitarnya sebagai Pusat Maritim Bali Kuno bukan hanya dibuktikan dengan adanya pillar Blanjong namun juga oleh hasil ekskavasi team penelitian Balai Arkeologi Bali dan Universitas Udayana yang menemukan berbagai temuan arkeologis dari Blanjong. Sayangnya situs di Pulau Serangan terlanjur banyak terkubur dan rusak akibat reklamasi Pulau Serangan dan beberapa pemugaran Pura Serangan. 

  1. Situs Perjalanan Suci Danghyang Nirartha Dan Danghyang Astapaka

Danghyang Nirartha adalah purohito atau penasehat Raja Waturenggong – raja di masa keemasan Bali di masa lalu (1472 – 1550 Masehi). Danghyang Nirartha atau dikenal juga dengan nama Danghyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh terkenal sebagai tokoh suci yang menyelamatkan dan menghidupkan kembali tradisi suci Hindu dan Buddha di Bali dengan berkeliling Pulau Bali menata kembali kehidupan beragama di wilayah pesisir Bali. Masyarakat Bali di seluruh pulau menghormati Beliau dengan membangun tempat-tempat suci dan Beliau di sthanakan di pura-pura itu.

Beliau tiba di Bali tahun 1489 M. Dan melakukan perjalanan keliling Pulau Bali, dari barat ke timur bahkan kemudian ke Lombok dan Sumbawa. Beliaulah yang menurunkan para pendeta Pedanda Siwa yang selanjutnya menjadi guru nabe sebagian besar pendeta yang ada di Bali sekarang ini. Suatu saat, di pesisir Tanjung, Pudut dan Sakenan Beliau mengabadikan lango titik renungan spiritual dan amanat gaib beliau.

Kakawin Añang Nirartha, salah satu karya Danghyang Nirartha, menceritakan perjalanan beliau dan kekaguman pada Teluk Benoa, Pudut dan Sakenan, sebagai berikut:

“Sebuah pulau besar agak dekat ke pantai, di hadapannya ada muara sungai. Semua itu terlihat bagaikan burung Garuda yang lapar, yang tengah mencari amerta di gunung Somaka. Pulau itu dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang suci, di sana-sini melingkar, bagaikan pasukan para dewa yang siap menunggu kedatangan Garuda. Burung-burung terbang melayang-layang bagaikan panah para dewa yang dilepaskan. Dan aliran sungai bagaikan naga yang akan memagut. Penyu yang berenang kesana-kemari mencari makanan bagaikan cakra yang diputar, senjata yang menjaga tirtha amerta. Tirtha tersebut dijaga oleh Hyang Indra di depan gua sehingga tidak ada orang yang merusak. Bunga kepuh berwarna merah menyala bagaikan api berkobar-kobar meliputinya”.

Syair ini adalah kidung keindahan dan sekaligus amanat suci untuk menjaga keasrian dan saujana (keindahan pemandangan) serta wilayah suci Sakenan dan Teluk Benoa.

Berikut adalah peta perjalanan suci Danghyang Nirartha di Kawasan Sakenan dan Teluk Benoa serta Kaki Pulau Dewata, dimana beliau menghabiskan waktu beliau sebagai tempat menulis Kakawin dan renungan suci, serta melakukan tapa dan praktek yoga suci, sampai akhirnya Beliau melepas moksa di Uluwatu.

Situs Perjalanan Suci Dang Hyang Nirartha (sumber: pribadi)

Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Slide1

Kawasan Serangan dan Teluk Benoa bukan hanya situs suci Danghyang Nirartha tapi juga untuk Danghyang Astapaka. Pada masa Dalem Waturenggong, Danghyang Astapaka juga tiba di Bali menyusul   pamannya Danghyang Nirartha. Beliau disebut sebagai salah satu tokoh Buddha Tantra yang singgah ke Sakenan dan bermeditasi serta membangun parayangan di Sakenan. Ini terbukti dengan sthana Beliau yang ada di Pura Sakenan. Tradisi suci Kabuddhan beliau dipercaya lestari sampai kini di Desa Budakeling di mana keturunannya berada sampai saat ini yang sebagian menekuni dunia kependetaan dengan sebutan Pedanda Budha. Dan Sakenan adalah situs suci perjalanan beliau sebelum masuk Pulau Dewata.

 

 

IV

TELUK BENOA DALAM KOSMOLOGI HINDU

  1. Teluk Benoa Sebagai Titik Temu Campuhan Agung Yang Dikelilingi Tempat Suci Kasat Dan Tidak Kasat Mata

Teluk Benoa merupakan Campuhan Agung (pertemuan sungai-sungai dengan laut yang disucikan), tempat pertemuan-pertemuan energi niskala dan diyakini sebagai tempat berkumpulnya ruh suci dan para Hyang/Bhatara/Dewata:

  1. Di sekitar areal Teluk Benoa terdapat sekian banyak muntig (puncak). Tempat ini diyakini sebagai tempat perputaran air di bawah laut. Di tempat ini sering dipakai tempat untuk pelaksanaan upacara / ritual di tengah laut oleh masyarakat Kelan setiap 1 (satu) tahun sekali tepatnya setiap sasih Kanem.
  2. Di sebelah timur dari muntigada pura di bawah laut disebut Pura Karang Tengah atau Pura Karang Suwung sebagai tempat untuk mamulang pekelem / menghanyutkan upakara korban suci pakelem. Tempat ini sekarang ditandai dengan pelampung warna merah. Bagi yang tahu tempat itu baik masyarakat, para nelayan, nahkoda kapal pasti menghindar dari tempat tersebut karena diyakini sangat angker. Itulah Pura Dalem Segara. Piodalan jatuh pada setiap Tumpek Landep.
  3. Teluk Benoa yang dikenal juga dengan Laut Kelan adalah muara dari :
    1. Tukad/sungai Kuta,
    2. Tukad/sungai Candi Narmada,
    3. Tukad/sungai Pura Griya Anyar,
    4. Tukad/sungai Tanah Kilap (Lokasi Angker),
    5. Aliran Laut dari depan Pura Sakenan,
    6. Loloan Tuban, Loloan Dukuh,
    7. Loloan Kedonganan,
    8. Sawang Angker,
    9. Sawang Benoa
    10. Loloan Jimbaran.

Pantai Kelan sendiri merupakan lokasi / tempat pamelastian Ida Bhatara dan panghanyutan setelah pengabenan.

 

  1. Teluk Benoa dikelilingi berbagai parahyangan (tempat suci) baik kasat dan tidak kasat mata.

Kawasan Teluk Benoa sangat disakralkan sebagai titik temu parahyangan (tempat suci) baik yang kasat maupun tidak kasat mata serta memiliki kekayaan hayati dan sumber daya alam yang tidak ternilai harganya.

Titik-titik di pesisir dan daratan yang sangat angker dan disucikan, adalah sebagai berikut:

  1. Pulau Pudut merupakan kawasan suci. Di pulau suci ini terdapat:

Pura Segara, Pura Suwung Deluang, dan Pura Beji.

Pulau suci ini memiliki fungsi :

  • Sebagai tempat pamelastiandan panganyutan.
  • Sebagai tempat mencari tirtha dan tempat ber-tirtha yatra.
  1. Daratan Serangan. Di pesisirnya terdapat:
  • Pura Sakenan, Pura Segara, Pura Pasamuan Agung.

Pulau (tadinya – sebelum direklamasi) Serangan memiliki fungsi:

  • Sebagai pusat perayaan sehari setelah Hari Raya Kuningan (Manis Kuningan) bagi krama dari wilayah Badung dan Denpasar.
  • Tempat pamelastiandan panganyutan

Aliran air dari Sakenan menuju Teluk Benoa sangat disakralkan.

  1. Daratan Benoa. Di daratan/pesisirnya terdapat:
  • Pura Segara,
  • Tempat panghanyutandan pamelastian.

Daratan Benoa dikelilingi / diapit oleh sungai angker dari aliran Sungai Tanah Kilap, Sungai Candi Narmada dengan Laut Sakenan dimana keduanya menuju ke Teluk Benoa.

  1. Daratan Tuban.Di pesisir Tuban ini terdapat titik areal yang sangat disucikan, yakni:
  • Pura Kahyangan Jagat Pura Karangasem
  • Aliran tukad/sungai dari Kuta menuju Loloan Tuban dan bermuara ke Teluk Benoa. Loloan ini menjadi tempat mencari berkah dan keselamatan.
  1. Daratan Kelan.

Di daratan dan pesisir Kelan terdapat:

  • Pura Segara Ulun Tanjung Desa Adat Kelan.

Daratan ini berfungsi sebagai:

  • Tempat pamelastiandan panganyutan
  • Ada balai kelompok nelayan Tanjung Sari Desa Adat Kelan.
  1. Daratan Jimbaran. Di pesisirnya terdapat:

Loloan menuju Teluk Benoa seperti Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan dan Loloan Sawang Angker. Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan panglukatan.

  1. Daratan Tanjung.

Pada kenyataannya daratan Tanjung (Benoa) dan parahyangannya terkait erat dengan Teluk Benoa yakni :

  • Daratan ini sangat dekat dengan daratan ( Pulau ) Serangan yang pingit atau sakral.
  • Ada Pura Segara, ada tempat panghanyutan dan pamelastian.
  • Aliran air bermuara ke Teluk Benoa dan putaran air laut di Teluk akan berpengaruh secara sekala-niskala pada krama/warga Desa Tanjung.

Secara keseluruhan pesisir dan dataran di sekitar Teluk Benoa berhubungan secara niskala dan terikat dengan kehidupan keagamaan dan keyakinan masyarakat sekitarnya. Sebagai Campuhan Agung masyarakat menyucikan kawasan Teluk Benoa, dengan fungsinya yang sangat luar biasa: Disamping untuk pelaksanaan upacara agama, sebagai tempat memohon berkah, keselamatan, juga sebagai tempat mata pencaharian/penghidupan turun-temurun ribuan tahun dari penduduk dan nelayan sekitar, seperti kelompok nelayan Tanjung Sari Kelan.

 

  1. Teluk Benoa sebagai Pemersatu / Titik Temu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung – Jimbaran – Kelan – Tuban –  Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur

 Dari survey lapangan dan interview beberapa pemangku, tokoh spiritual dan masyarakat mengemukan bahwa Teluk Benoa merupakan areal Titik Temu / Pemersatu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung – Jimbaran – Kelan – Tuban –  Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur.

  1. Ada daerah-daerah angker berupa pertemuan-pertemuan di bawah laut; pertigaan, perempatan dan bundaran yang diyakini sebagai tempat perjalanan Beliau/para Dewata seperti adanya pertemuan Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan, Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
  2. Merupakan muara dari sungai/Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.
  3. Ada puncak gunung di Teluk Benoa disebut Segara Giri.
  4. Ada pura di bawah laut disebut Pura Dalem Segara.
  5. Tempat panghanyutan dan pamelastian dari daratan Serangan, daratan Benoa, daratan Tanjung, daratan Tuban dan daratan Kelan (dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat penyucian alam dan terowongan menuju swarga loka saat meninggal).

 

  1. Pijakan Kosmologi Kawasan Sakenan dan Teluk Benoa
  1. Dalam praktek ritual dan kepercayaan Hindu Bali terselip dua paham yaitu Siwa dan Budha, yang justru menyatu seperti tertera dalam Kakawin Sutasoma, ciptaan Mpu Tantular yang melahirkan sesanthi Negara: Bhineka Tunggal Ika – berbeda konon namun (keduanya) satu adanya.
  2. Dalam keyakinan Hindu Bali ini juga dikatakan bahwa Pura Besakih dengan luasan berlatar Gunung Agung sebagai titik ketinggian adalah pusat ritual Siva-Rudra (Gunung = Giri = Pucak = Kasiwan).
  3. Sementara itu Pura Sakenan yang dipercaya terkait dengan Teluk Benoa dan Pura Karang Tengah di tengah teluk adalah titik kedalaman yang memiliki unsur Ke-buddha-an terbukti dengan nama Sakenan yang berasal dari kata sakya dan adanya sthana Danghyang Astapaka.
  4. Besakih/Gunung Agung adalah sebagai puncak ketinggian gunung dan Sakenan/Teluk Benoa sebagai titik kedalaman di laut. Kisah ini melingkupi rahasia Segara-Gunung: pertemuan Puja Budha dan Puja Siwa, Sakenan – Besakih dan Teluk Banua (sekarang Benoa) – Gunung Agung.
  5. Dalam tradisi Bali disebutkan bahwa pusat Puja Siwa adalah Pura Besakih, terbukti dengan adanya Eka Dasa Rudra. Titik pusat Puja Buddha dalam jejak sejarah, adalah Kawasan Sakenan dengan Teluk Benoa, yang oleh Dinasti Warmadewa dengan pendeta Sogata (Buddha) nya dijadikan titik Puja Buddha. Ajaran Sogata ini kini terselamatkan di Desa Budakeling.

 

V

TELUK BENOA SEBAGAI KAWASAN SUCI

Baik Bhisama PHDI, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI, menyebutkan bahwa kata kunci dari Kawasan Suci adalah bahwa:

  1. Kawasan Suci gunung;
  2. Kawasan Suci campuhan;
  3. Kawasan Suci loloan;
  4. Kawasan Suci pantai;
  5. Kawasan Suci laut;
  6. Kawasan Suci mata air; dan
  7. Kawasan Suci Catus Patha.

Merujuk dari Bhisama, Perda dan Perpres tersebut di atas sangat jelas bahwa Teluk Benoa adalah Kawasan Suci, yang terdiri dari berbagai pertemuan sungai dan laut (loloan), pantai dan laut, juga terdapat beberapa mata air, sebagai berikut:

  1. Kawasan Suci Lolaan di sekeliling Teluk Benoa, terdiri dari:
    • Loloan Dukuh
    • Loloan Kedonganan
    • Loloan Sawang Angker.
    • Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
    • Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.

(Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan panglukatan serta berbagai ritual lainnya seperi ngayut dan ngaben).

  1. Kawasan Suci Pantai di sekeliling Teluk Benoa, terdiri dari:
  • Pulau dan Pantai Pudut merupakan kawasan suci. Di pulau suci ini terdapat : Pura Segara, Pura Suwung Deluang, dan Pura Beji. Pulau suci ini memiliki fungsi: Sebagai tempat pamelastiandan panganyutan. Sebagai tempat mencari tirtha dan tempat ber-tirtha yatra.
  • Pantai Serangan. Di pesisirnya terdapat: Pura Sakenan, Pura Segara, Pura Pasamuan Agung. Pulau (tadinya – sebelum direklamasi) Serangan memiliki fungsi: Sebagai pusat perayaan sehari setelah Hari Raya Kuningan ( Manis Kuningan ) bagi krama dari wilayah Badung dan Denpasar. Tempat pamelastiandan panganyutan
  • Aliran air dari Sakenan menuju Teluk Benoa sangat disakralkan.
  • Daratan Benoa. Di daratan/pesisirnya terdapat: Pura Segara; Tempat panghanyutandan pamelastian.
  • Daratan Benoa dikelilingi / diapit oleh sungai angker dari aliran Sungai Tanah Kilap, Sungai Candi Narmada dengan Laut Sakenan dimana keduanya menuju ke Teluk Benoa.
  • Pantai Tuban. Di pesisir Tuban ini terdapat titik areal yang sangat disucikan, yakni : Pura Kahyangan Jagat: Pura Karangasem
  • Tempat mlasti dan loloan aliran tukad/sungai dari Kuta menuju Loloan Tuban dan bermuara ke Teluk Benoa. Loloan ini menjadi tempat mencari berkah dan keselamatan.
  • Pantai Prapat Kelan: Di daratan dan pesisir Kelan terdapat Pura Segara Ulun Tanjung Desa Adat Kelan. Pantai ini berfungsi sebagai: Tempat pamelastiandan panganyutan saat Ngaben dan ritual lainnya.
  • Pantai Timur Jimbaran. Di pesisirnya terdapat: Loloan menuju Teluk Benoa seperti Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan dan Loloan Sawang Angker. Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan
  • Pantai dan wilayah Tanjung: Pura Segara, ada tempat panghanyutan danpamelastian, serta adal titik aliran air bermuara ke Teluk Benoa dan putaran air laut di Teluk akan berpengaruh secara sekala-niskala pada krama/warga Desa Tanjung.

Sebagai tambahan, menurut kepercayaan warga setempat bahwa Kawasan Teluk Benoa adalah Catus Patha Niskala:

  • Teluk Benoa merupakan areal ‘Titik Temu / Pemersatu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung’, catus patha agung – Jimbaran – Kelan – Tuban – Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur.
  • Ada daerah-daerah angker berupa pertemuan-pertemuan di bawah laut; pertigaan, perempatan dan bundaran yang diyakini sebagai tempat perjalanan Beliau/para Dewata seperti adanya pertemuan Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan, Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
  • Merupakan titik temu muara berbagai sungai: Sungai/Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.
  • Dipercaya warga bahwa di tengah Teluk Benoa ada puncak gunung di Teluk Benoa disebut Segara-Giri dan ada pura di bawah laut disebut Pura Dalem Karang Tengah.
  • Tempat panghanyutandan pamelastian dari daratan Serangan, daratan Benoa, daratan Tanjung, daratan Tuban dan daratan Kelan (dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat penyucian alam dan oleh warga disebut sebagai terowongan menuju swarga loka saat meninggal).

Berdasarkan paparan di atas, dan seluruh penjabaran kriteria sebuah Kawasan Suci, Teluk Benoa tidak dapat dipungkiri adalah Kawasan Suci sesuai dengan Bhisama PHDI, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI.

Slide1Slide2Slide3Slide4

*Titik-titik suci di Kawasan Teluk Benoa ini hasil riset bersama Team ForBali yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Planologi UNHI dengan informan para pemangku, tokoh serta warga setempat.

 

VI


PENUTUP

Kawasan Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian secara tegas disebutkan sebagai Kawasan Suci dalam Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura. Merujuk pada Bhisama PHDI tersebut, ditambah pasal-pasal Perda Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013, Perda Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 dan Peraturan Presiden RI No. 45 Tahun 2011 sebagai mana yang dibahas di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa Teluk Benoa adalah sebuah Kawasan Suci berupa pantai, laut dan loloan-campuhan yang di berbagai titiknya dipakai untuk upakara Hindu (melasti, pekelem, ruwat, melukat dan ngayud dstnya).

Seluruh krama Bali, terutama para Manggala Desa Pakraman, legislatif dan eksekutif, seharusnya membaca kembali dan paham apa itu konsepsi Kawasan Suci sebagaimana disebutkan dalam Bhisama PHDI, Perda Provinsi Bali, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI yang menjadi acuan pranata dan legal dalam kehidupan beragama dan bernegara. Jika tidak, masa depan Bali akan sangat carut-marut. Polemik yang tidak berkesudahan akan membelah kehidupan berbangsa jika mengabaikan aturan tertulis yang ada dan masih berlaku.

Kebijakan pemerintah dan posisi dari krama Bali penting berpijak dari pemahaman yang sama tentang sebuah Kawasan Suci. Kebijakan dan sikap pemerintah dan warganya terhadap Kawasan Suci sudah seharusnya bersumber dari peraturan perundang-undangan dan pertimbangan kearifan lokal serta menjungjung setinggi-tingginya kitab suci acuan yang menjadikan Bali kukuh secara religi, ekologi dan kultural. Kejelasan pemahaman dan pemetaan Bali berdasarkan prinsip kesucian, prinsip kultural dan prinsip sosial yang jelas akan membuat kebijakan Bali kedepan tidak mengundang perpecahan krama Bali.

Untuk tidak memancing kesimpang-siuran yang meresahkan masyarakat, pemerintah daerah beserta instansi terkait seharusnya membuat penjabaran dan pemetaan kawasan suci di seluruh Bali, disertai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang melibatkan peran warga-krama-penyungsung serta disosialisasikan ke publik luas secara intensif.

Sebelum Bali memiliki peta seluruh kawasan suci di Bali beserta petunjuk teknis serta belum disosialisasikan, pemerintah dan masyarakat Bali sepatutnya bersepakat untuk melakukan moratorium. Moratorium adalah masa membuat konsensus kembali, mendata, memetakan, dan menata kembali arah dan visi pembangunan Bali ke depan, secara integral dan harmonis baik bidang pertanian dan kepariwisataan secara sektor lainnya, sehingga Bali memiliki kejelasan peta kawasan yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan dan pembangunan ke depan. Aksi nyata pemetaan bukan hanya berhenti di atas kertas tapi menjadi konsensus dan panduan bersama seluruh rakyat Bali untuk menjaga kedaulatan pangan, air dan energi Bali masa depan.

 

 

SUMBER PENULISAN

 

  • Lontar Indik Karang Panes
  • Lontar Dwijendra Tattwa
  • Lontar Kakawin Añang Nirartha
  • Lontar Babad Bhumi
  • Lontar Babad Tusan
  • Lontar Tattwa Kalawasan Petak
  • Pangrincik Babad
  • Manawa Dharmasastra
  • Yajur Weda
  • Rig Weda
  • Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura
  • Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 – 2029 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali
  • Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013 
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung Tahun 2013 – 2033
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia 
Nomor 45 Tahun 2011
 Tentang
 Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan
  • Studi Lapangan dan informasi dari berbagai narasumber.
  • Titik-titik suci di Kawasan Teluk Benoa hasil riset bersama Team ForBali yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Planologi UNHI dengan informan para pemangku, nelayan, pemuda dan sekaa truna, tokoh dan warga setempat.

 

 

 

 

TANTRA SUBHUTI DI JAWA TAHUN 1292 A.D.


Oleh Sugi Lanus

Catatan singkat ini hanya ingin menggaris bawahi bahwa di sekitar masa 1292 A.D di Jawa berkembang paham Tantra Subhuti.

Disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama bahwa Raja Jawa teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama. Sang Raja menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat jelatah. Raja Jawa ini berpulang ke alam Buddha di tahun 1292 A.D.

Tantra Subuti dari Subhuti?

‘Subhuti’ adalah salah satu dari Sepuluh Besar Sravaka Sakyamuni Buddha, dan terutama dalam memahami kekosongan. Dalam Prakrit dan Pali, namanya secara harfiah berarti “Keberadaan Mulia” (su: “baik”, bhūti: “eksistensi”). Dia juga kadang-kadang disebut sebagai atau “Subhuti Tertua” (Sthavira Subhuti). Dia adalah seorang arhat yang dipersamakan dengan para arahat terkenal seperti Sariputra, Mahakasyapa, Mahāmaudgalyāyana, Mahākātyāyana dan Ānanda.

Di antara tradisi Mahayana, Subhuti mungkin paling dikenal sebagai murid langsung yang menerima ajaran Sang Buddha ketika Beliau berbicara ketika menyampaikan Sutra Intan (Skt Vajracchedikā Prajnaparamita Sutra.), sebuah ajaran penting dalam genre Prajnaparamita. Ini, bersama dengan Sutra Hati (Skt. Prajnaparamita Hṛdaya), adalah salah satu Sutra paling terkenal di antara kedua praktisi dan non-praktisi Buddhisme. Subhuti juga bertanggung jawab untuk banyak eksposisi di Sutra Prajnaparamita sebelumnya. Dalam Sutra Teratai (Skt. Saddharma Pundarika Sutra), Bab 6 (penganugerahan Nubuat), Buddha melimpahkan nubuat pencerahan pada Subhuti, bersama dengan Sravaka lain seperti Mahakasyapa, Mahākātyāyana, dan Mahāmaudgalyāyana.

Ajaran Subhuti dalam Buddhisme Theravada kurang menonjol.

Apakah Tantra Subhuti yang ada di Jawa ini merujuk pada Ajaran Subhuti? Hal ini masih perlu didalami secara seksama. Tentang hal ini ahli Tantra termaksyur Shingo Einoo dalam bukunya“Genesis and Development of Tantra”, halaman 118-123, selintas saja menyinggung Tantra Subhuti. Masih tidak terjawab apa yang dimaksud dengan Tantra Subhuti.

Kemunculan ajaran Tantra Subhuti yang dipelajari oleh Sang Raja Jawa yang berpulang pada tahun 1292 sedikit banyak memberi gambaran Buddhisme apa yang berkembang di masa itu, bahwa Buddha paham Tantra yang berkembang, lebih pada berdasar dari tradisi Mahayana dibandingkan Theravada.

Berikut kutipan lengkap Pupuh 43 Kitab Negarakertagama yang menyebutkan Ajaran Subhuti tersebut:

1). liɳ niɳ çastra narendra pandawa rika dwapara nuni prabhu, gogendu tri lawan/ çakabdi diwaçanyantuknireɳ swahpada, ndah santuknira tembayiɳ kali tkaɳ rat/ murkka harohara, nhiɳ saɳ hyaɳ padabhijna daraka rumaksaɳ loka dewaprabhu.

Menurut kisah kesastraaan menyebutkan bahwa raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. “Gogendu tri lawan” (lembu gunung bulan tiga = 3179) digabung dengan tahun Saka disanalah tahun beliau berpulang ke alam kematian. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru‐hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam Sadabhijna (kebijaksanaan), dapat menjaga jagat sebagaimana Dewaprabu sang raja yang penuh kemuliaan.

2). nahan hetu narendra bhakti ri pada çri çakyasinhasthiti, yatnagegwan i pancaçila krtasaskarabhisekakrama, lumra nama jinabhisekanira saɳ çri jñanabajreçwara, tarkka wyakaranadiçastran inaji çri natha wijñanulus.

Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama.

3). ndan/ ri wrddanireki matra rumgep/ sarwwakriyadyatmika, mukyaɳ tantra subhuti rakwa tinnöt kempen/ rasanye hati, puja yoga samadi pinrihiran amrih sthityanin rat kabeh, astam/ taɳ ganacakra nitya madulu ddann eniwöhiɳ praja.

Di usia beliau yang mapan beliau menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.

4. tan/ wwanten karnö khadi nrpati sakweh sanatita prabhu, purnnen sadguna çastrawit/ nipuna riɳ tatwopadeçagama, darmmestapageh iɳ jinabrata mahotsaheɳ prayogakriya, nahan hetuni tusni tusnira padaikaccatra dewaprabhu.

Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, sempurna pemahaman beliau akan enam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan taat pada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung, Dewaprabu.

4). riɳ çakabdi jakaryyama nrpati mantuk/ riɳ jinaindralaya, sankai wruhnira riɳ kriyantara lawan/ sarwwopadeçadika, saɳ mokteɳ çiwabuddaloka talahan/ çri natha liɳ siɳ sarat, rinke sthananiran dinarmma çiwabuddarcca halp/ nottama.

Tahun saka ‘laut bangsawan arya yama’ (1214 = 1292 A.D.) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang up cara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa‐Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa‐Budha terlampau indah permai.

5). lawan/ riɳ sakgala pratista jinawimbhatyanta riɳ çobhita, tkwan narddanareçwari mwan ika saɳ çri bajradewy apupul, saɳ rowaɳ nira wrddi riɳ bhuwana tungal/ riɳ kriya mwaɳ brata, hyaɳ werocana locana lwiriran ekarcca prakaçeɳ praja.

Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman sejati dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana‐Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, termasyur.

Joko Dolok & Candi Jawi

Yang dimaksud dengan Sang Raja Jawa, berdasarkan Kitab Negarakrtagama, yang bergelar Sri Jnanabajreshwara, penganut Tantra Subhuti adalah Raja Krtanegara (1268–1292)

Di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara. Bait terakhir Pupuh disebut di atas sesuai dengan peninggalan di Candi Jawi.

Disamping Kakawin Negarakrtagama, prasasti tahun 1289 pada arca Joko Dolok, yang kini disimpan di Kota Surabaya, menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya. Patung Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya.

Salinan prasasti pada Patung Joko Dolok, terbaca sebagai berikut:

  1. adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
  2. anw atas sarwwasiddhim wā, wande’hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
  6. nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
  10. yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe’pi naksatre, mitre ahendramandale
  16. saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto’ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno’pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatpara
  19. dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj’a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah 

Terjemahan bebas:

1). Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata(Pencipta), Sang Maha Tahu yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan keniscayaan.

2). Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang menggambarkan kemuliaan raja.

3). Adalah Arya Bharada yang terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu, berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan supranatural).

4). Terkemuka di antara para yogi besar, yang hidupnya penuh ketenangan, penuh kasih dan makhluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.

5-6). Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).

7-9). Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang mempunyai permaisuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.

10-12. Tersebutlah, seorang raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra (red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan agama Buddha) – layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah di bumi.

13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (arca) setelah pengabdiannya sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi – demi kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.

18-19. Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk mempersiapkan kisah ini.

joko dolog-prasasti

Arca Joko Dolok yang mulanya ditemukan di daerah Kandang Gajak. Kandang Gajak termasuk dalam wilayah desa Beijong, Kecamatan Trowulan, Kab Mojokerto. Pada tahun 1817, arca dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis, dan saat ini terdapat di Taman Apsari, dekat pusat Kota Surabaya, Jawa Timur.

Keberadaan prasasti di patung Joko Dolok atau dikenal sebagai Prasasti Wurare, yang menyebutkan tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare), bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, dimaksudkan sebagai penghormatan bagi Raja Krtanegara dari kerajaan Singhasari Jawa Timur yang kekuasaanya sampai ke Bali dll, yang dipercaya mencapai pencerahaan sampai Jina (Buddha Agung), sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kakawin Negarakrtagama, bahwa Krtanegara menganut paham Buddha dengan upakara dan ritualnya, Tantra Subhuti.

Sebagai Jina, beliau bergelar Jnanaciwabajra. Baik kitab Pararaton dan Nagarakrtagama menyebutkan beliau bergelar Çiwabuddha, ketika beliau berpulang (mokteng atau lina) disebutkan beliau kembali ke Çiwabuddhaloka atau Çiwabuddhalaya.

Beliau sebagai raja di masa hidupnya telah memberi warna dan peninggalan-peningalan keagamaan yang sesuai dengan paham yang dianut beliau. Berbagai patung dan peninggalan bercorak Buddhisme yang dibangun atau dibuat periode ini kemungkinan adalah penjabaran paham/ajaran Tantra Subhuti.

Masih perlu dijejaki apakah Tantra Subhuti ini terkait dengan ajaran percampuran Çiwabuddha yang berkembang kemudian? Apakah Tantra Subhuti ini menjadi muasal kependetaan Hindu bercorak Buddha yang sampai kini masih berkembang di Bali dan berpusat di Desa Budakeling, Kabupaten Karangasem, sekarang? Dua pertanyaan ini mendasar untuk ditelusuri oleh para peminat dan peneliti pertemuan Siwa dan Buddha di Bali dan Jawa. Kesejarahan Tantra Subhuti masih terbuka untuk kita pahami secara seksama dan lebih mendalam.

BABAD PASEK – KISAH PERJALANAN PARA RESI KE BALI*


*Catatan Harian Sugi Lanus, 18 Juli 2015.

Kisah ini berdasarkan lontar Babad Pasek (lontar salinan oleh penyalin I Kt. Sengod dikerjakan tahun 1987, bersumber dari sebuah lontar tua di Desa Pidpid, Karangasem), salinan ini menjadi koleksi Pusat Dokumentasi Bali. 

Alkisah dimulai dengan puji dan puja kehadapan Hyang Siwa dan semua para Dewa mohon ijin untuk menulis sejarah leluhur yang telah suci semoga tidak terkena kutukan dan mala petaka.

Ada seorang raja yang bernama Maya Denawa, sakti yang tiada taranya, sangat angkuh, bengis, perilakunya seperti raksasa, menjadi raja di Bali. Bali morat-marit.

Babad ini kemudian meloncat ke riwayat gunung yang ada di Bali. Ada 4 gunung yang mula-mula ditempatkan di Bali oleh Hyang Pasupati; di empat penjuru: Di Timur – Gunung Lempuyang; Di Selatan – Gunung Andhakasa; Di Barat – Gunung Watukaru, Di Utara – Gunung Bratan.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.14 PM

Keadaan pulau Bali masih dikisahkan masih goyang, tidak stabil, maka Hyang Pasupati memotong puncak gunung Semeru lalu diletak di tengah diberi nama gunung Tolangkir (sekarang dikenal sebagai Gunung Agung). Gunung Tolangkir meletus untuk pertama kalinya pada tahun 148, kedua kalinya pada tahun 191, kemudian pada tahun 196.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.25 PM

Sang Hyang Pasupati memerintahkan tiga putranya yaitu Bhatara Ghenijaya, Bhatara Mahadewa, Bhatari Danu supaya pergi ke Bali.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.33 PM

Bhatara Ghenijaya berkahyangan di Lempuyang, Bhatara Mahadewa di Besakih, Bhatari Danu di Ulundanu.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.48 PM

Ada lagi putera Sang Hyang Pasupati yang datang ke Bali; Bhatara Tamuwuh berkahyangan di Batu Karu, Hyang Manik Kumayang di Gunung Bratan, Hyang Manik Gelang di Pejeng, Hyang Tugu di Andhakasa.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.56 PM

DARI MAYADANAWA KE BHEDAMUKA – PANCA PANDITA KE BALI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Kembali diceritakan angkara murka yang bernama Mayadanawa sifatnya sangat angkuh, kejam dan tidak mengakui kebesaran Tuhan. Karena itulah ia diserang oleh para desa dibawah pimpinan Bhatara Indra, Mayadanawa dibinasakan. Setelah arwahnya meneriman buah dari karmanya, maka menjelma kemablai bersama permaisurinya berupa anak kembar bernama Masula Masuli. Masula kawin dengan adiknya yang bernama Masuli. Inilah yang menjadi raha di Bali dan mempunyai putera bernama Sri Tapa Ulung alias Bhedamuka.

Sang Hyang Pasupati memerintahkan kelima cucunya Sang Panca Pandita yaitu: Mpu Ghenijaya, Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, dan Mpu Baradah, supaya pergi ke Bali, memberikan tuntunan batin.

BERJUMPA SRI ERLANGGHYA – MPU BHARADAH & MPU GHENIJAYA TINGGAL DI PEJARAKAN

Dalam perjalanannya melalui kerajaan Daha. Raja Daha yang bernama Sri Erlangghya mohon supaya Sang Panca Resi bersedia tinggal di sana. Setelah diadakan perundingan, maka Mpu Ghenijaya dan Mpu Bhradah tinggal di sana sedangkan, sementara Mpu Mahameru langsung ke Bali, disusul Mpu Gana dan Mpu Kuturan.

Mpu Bharadah mendampingi kakaknya Mpu Ghenijaya, sementara berkahyangan di Pajarakan, Jawadwipa, tidak ke Bali.

MPU MAHAMERU, MPU GANA & MPU KUTURAN KE BALI

Mpu Mahameru pada hari Jumat Kliwon Wuku Pujut, hari kelima belas paruh bulan gelap sekitar bulan Nopember 990 berkahyangan di Besakih.

Mpu Gana sampai di Bali pada hari Senin Kliwon Wuku Kuningan pada hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan April 997, berkahyangan di Pura Dasar Gelgel.

Mpu Kuturan sampai di Bali pada hari Rabu Keliwon wuku Pahang hari keenam paruh bulan terang sekitar bulan Sepetember 1000, berkahyangan di Silayukti.

Tahun-tahun tersebut sangat penting dilihat dari beberapa data efigrafi yang ditemukan di Bali dimana periode ini adalah masa Pemerintahan Raja Udayana dan Mahendradatta atau dikenal sebagai Gunapriya Dharmapatni.

 MPU GHENIJAYA KE BALI

Setelah Mpu Ghenijaya memberikan ilmu kepada para putranya beliau pergi ke Bali dan sampai di Silayukti pada hari Kamis Paing Wuku Medhangsya hari pertama paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1058. Di sana beliau disambut oleh adik beliau Mpu Kuturan. Dari Silayukti beliau melanjutkan perjalanan ke Besakih diantar oleh Mpu Kuturan. Dari sana melanjutkan perjalanan ke Besukih diantar adik beliau.

Di Besukih diadakan pertemuan membahas kepanditaan. Selesai pertemuan para reshi itu pulang ke Kahyangannya masing-masing.

Mpu Ghenijaya menuju Lempuyang di Kahyangan ayahnya.

MPU BHRADAH KE BALI

Mpu Bhradah pergi ke Bali untuk menengok kakak-kakak beliau dan sampai di Silayukti diterima oleh Mpu Kuturan. Di sini Mpu Kuturan ingin menjajaki kesaktian Mpu Bharadah. Setelah itu Mpu Bhradah melanjutkan perjalanan ke Dasar Gelgel menghadap Mpu Gana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Besukih menghadap Mpu Mahameru. Terakhir menuju Lempuyang menghadap Mpu Ghenijaya. Dari sini kembali ke Daha.

Dalam sumber sejarah yang lain disebutkan Mpu Bharadah ke Bali diutus oleh Raja Erlangga untuk meminta saran mengambil Bali sebagai bagian kekuasaannya salah satu anaknya.

 SILSILAH PANCA PANDITA KE SAPTA RESI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Mpu Bharadah berputera Mpu Siwagandhu dan Mpu Bawula (Bahula).

Mpu Ghenijaya berputera tujuh orang: Mpu Ktek, Mpu Kanandha, Mpu Wiranjaya, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka dan Mpu Dangka.

Mpu Ktek kawin dengan Dyah Subhadri mempunyai putera bernama Sang Hyang Pamaca. Mpu Kananda kawin dengan putra Mpu Swetawijaya berputra 1 orang bernama Mpu Swetawijaya. Mpu Wiranjana berputra Mpu Wiranata. Mpu Witadharmma berputra Mpu Wira Dharmma. Mpu Ragarunting berputra Mpu Wirarunting. Mpu Preteka berputra Mpu Pretekayajnya. Mpu Dangka berputra Mpu Wira Dangkya.

Sang Hyang Pamaca berputera: Mpu Wiradharma, Mpu Pamacekan, Ni Ayu Bratta. Mpu Sweta Wijaya berputera Mpu Sangkul Putih. Mpu Wiranata berputra Mpu Purwwanata, Ni Ayu Wetan, Ni Ayu Tirtha. Mpu Wiradharmma berputera Mpu Lampita, Mpu Panandha, Mpu Pastika. Mpu Wirarunting berputera Mpu Pramadaksa. Mpu Pratekayajnya berputera Sang Preteka. Mpu Dangkya berputera Sang Wira Kadangkan, Ni Dangki, Ni Dangka.

Demikianlah yang menurunkan Sanak Pitu.

silsilah sapta resi berdasar babad pasek copy.JPG copy 

SAPTA RESI KE BALI & PIODALAN PARAHYANGAN

Setelah Sang Brahmana Panca Pandita pulang menuju alam niskala, maka sang Sapta Resi mengadakan perundingan membicarakan upacara di Pura Besukih yang jatuh pada bulan Oktober.

Dimufakati bersama untuk bersama-sama pergi ke Bali. Pada hari Selasa Legi Wariga hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1116 sampailah SangSapta Resi beserta para puteranya di Bali, langsung menuju Basukih.

Sapta Resi kemudian melangsungkan piodalan secara berantai:

1). Pada hari Kamis Wage dan Jumat Keliwon Sungsang diadakan upacara Sugi-manek di Besukih, sudah itu di Pura Dasar, di Silayukti dan terakhir di Lampuyang.

2). Hari Kamis Legi Dungulan upacara piodalan di giri Lampuyang.

3). Senin Keliwon Kuningan upacara Piodalan di Pura Dasar Gelgel.

4). Rabu Keliwon Paang upacara Piodalan di Silayukti.

5). Selasa Keliwon Tambir upacara Piodalan Bhntara di Basukih.

Sesudah itu para Resi kembali ke Jawa.

KISAH BEDAMUKA & KETURUNAN SAPTA RESI (PASEK GELGEL)

Dikisahkan setelah kalahnya raja Bali yang bergelar Sri Bedamuka oleh Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada, keadaan pulau Bali menjadi lenggang. Maka dari itu Patih Mada mohon kepada keturunan Sang Mpu Sanak Pitu (tujuh bersaudara) supaya datang ke Bali, untuk memelihara dan ngemong Kahyangan-kahyangan di Bali.

Perintaan Patih Mada dapat dipenuhi, maka berangkatlah para resi itu itu ke Bali dipimpin oleh Mpu Dwijaksara. Kedatangannya di Bali disambut dengan gembira oleh masyarakat Bali.

Ada seorang pendeta sakti bernama Sang Hyang Kapakisan yang menjadi penasehat Patih Mada. Beliau berputera Wangbang Kapakisan. Wangbang Kapakisan berputra Sri Juru diangkat menjadi raja di Blambangan, Maharaja Bhima diangkat menjadi raja di Pasuruhan, Sri Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, yang wanita menjadi raja di Sumbawa, Sri Kresna Kapakisan beristana di Samprangan.

Keturunan Sang Resi Sanak Pitu menghadap raja dipimpin oleh Patih Ulung.

Bandesa Karajaan berputera Ni Luh Kaywan dipersenbahkan kepada Mpu Kanaka berputera Pangeran Kayumas dan Wira Manokling. Wira Manokling mengikuti Mpu Kanaka ke Jawa, sedang Pangeran Kayumas tetap di Bali, inilah yang menurunkan Warga Bendesa Mas di Bali.

Dari naskah-naskah lain kita menemukan informasi bahwa ketika Danghyang Nirartha ke Bali di jaman Waturenggong, beliau sempat tinggal di Desa Mas dan menikah dengan salah satu putri Pangeran Bendesa Mas. Keturunan Danghyang Nirartha dari sinilah yang sekarang disebut Brahmana Mas.

Sri Kresna Kapakisan berputera, Dalem Samprangan, Dalem Tarukan, Dalem Ketut Smara Kapakisan. Dalem Ketut adalah raja yang memulai beristana di Gelgel.

Untuk selanjutnya Bali diperintah oleh raja dinasti Kresna Kapakisan dibantu oleh para keturunan Arya yang mengiring ke Bali. Lebih lanjut dijelaskan keturunan Resi Sanak Pitu tersebar di pulau Bali dengan tugas tertentu dari Raja/dalem. Warga keturunan Sapta Resi ini disebut Warga Pasek Sanak Pitu (Sapta Maha Gotra).

Di Bali juga ada warga Pasek Bali yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Calagi Manis, Pasek Kayuselem, Pasek Pempatan, Pasek Kori Tiying.

I dan Ni dalam Nama Orang Bali


Oleh Sugi Lanus

I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific.I semacam Mr dan Ni semacam Ms.

I dan Ni bukan hanya dicantumkan di depan Gede atau Putu, juga di depan Dewa dan Gusti, menjadi I Dewa dan I Gusti. I di depan Da menjadi I-Da (Ida). Ni dicantumkan di depan gelar lama seperti Ni Dyah Tantri. Ni-hyang menjadi Niyang.

Dalam Melayu Kuno dan Bali Kuno ada gelar Da, seperti dalam gelar Raja Sriwijaya Da-punta, gelar sungsungan di Trunyan Da-Tonta. Pejabat desa adat Bungaya dan desa-desa yang termasuk Bali Aga juga bergelar Da (Da Salah, Da Kebayan, Da Manten). Kemungkinan I-Da (Ida) sekarang gabungan dari honorific I + Da. Lama-lama menjadi Ida. Zaman Gelgel dan Majapahit raja bergelar I-Da Dalem. Da Hyang menjadi I-Da Hyang (Ida Hyang). Varian lain dari Da adalah Dang, ini berlaku ketika diikut oleh horific Hyang, menjadi Dang Hyang.

Pejabat Kuturan yang menjabat tahun 1001 di Er Bang (Batur) namanya I Dyah Kayup. Dyah bukan hanya gelar untuk perempuan tapi laki dan perempuan zaman dahulu. Hayam Wuruk juga gelarnya Dyah. Di depan gelar Dyah jika dipakai oleh perempuan maka ditambah Ni, jika laki ditambah I.

Jaman sekarang ingatan dan kemauan memahami sejarah tergolong rendah, honorific I dan Ni yang fungsi awalnya untuk memuliakan semua golongan dan bahkan para dewa serta leluhur di Bali terlupakan.

PARA PERINTIS PERS BALI & KAUM INTELEK BALI UTARA


Oleh Sugi Lanus*

Tahun 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954). Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha). Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah. Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra. Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.” Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955). Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan. Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng.

*Catatan harian ini pernah dimuat di Bali Post, Minggu beberapa tahun lalu.

PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*


1. PEMANGKU

Pemangku adalah orang terpilih yang tugasnya memuja Tuhan, bukan yang lain.

Pemangku diharap menjadi pembimbing umat untuk senantiasa bakti pada Tuhan dan menjunjung nilai-nilai kebenaran dharma.

Lontar Kusumadewa mengatakan:

“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tatwa DewaDewa Tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana Tattwa, I Pamangku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi krama pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharmam, mangda patut pangambile mwang pamargine. “

Terjemahannya:

“Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma kahyangan Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti, paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya”.

Kitab Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma adalah pedoman pemangku dalam bertindak dan mengabdi kepada Beliau. Pemahaman mereka akan hakikat kesusilaan yang bisa mengantar pemangku tidak salah jalan, tidak terjebak urusan duniawi, dan menjadi lupa tugas utamanya sebagai orang terpilih untuk memuja Tuhan, dan bukan memuja yang lain-lain.

2. KAUM PENDUSTA

Pemangku wajib menjauhi kaum pendusta.

Hal ini jelas disebutkan dalam kutipan Lontar Tattwa Siwa Purana sebagai berikut:

“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarayudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta“.

Terjemahannya:

“Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan JANGAN MENGHADAP/DEKAT ATAU BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT (naya dusta).”

Pemangku diharapkan fokus dirinya keurusan ketuhanan, bukan lagi terjebak urusan duniawai dan dilarang bergaul dengan kaum pendusta.

Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.

Menjadi pemangku adalah perjanjian yang bersangkutan untuk menarik diri menjadi 100% abdi Tuhan, tidak jadi jongos siapapun, memuja setiap hari di hadapan “sesuhunan niskala” (keilahian tertinggi) dan mengabdi dalam pelayanan keagamaan.

Hal ini jelas disebutkan dalam lontar Tattwa Siwa Purana:

“SamaIih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer”.

Terjemahannya:

“Dan apa bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer”.

Dengan melepas pekerjaan duniawai itu diharapkan pemangku bisa ajeg memegang prinsip swadharma dan memegang prinsip bergaul benar: aja parek ri salwiring naya dusta” (TIDAK MENGABDI & BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT).

3 DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN 

Pemangku wajib mendemontrasikan sikap terpuji di depan umat. Tidak mudah terhasut terjebak urusan duniawi, dan tetap berhati jernih.

Pemangku yang terpuji dan dicintai umat Hindu tentulah pemangku yang bisa mendemontrasikan pemahamannya tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma; mampu memberi pencerahan umat tentang pedoman hidup lurus, filsafat ketuhanan dan kesusilaan di depan umat.

Demonstrasi pemangku sebagai pelopor pelaksanaan agama yang teguh memuja Tuhan sangat ditunggu kehadirannya di tengah zaman yang memuja kuasa dunia dan uang.

Pemangku yang mampu secara bijaksana mendemontrasikan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai suci itulah yang akan mengharumkan nama Agama Hindu Bali dan mengantar umat menuju jagat sukerta

Jagat sukerta atau jagat-hita-ya—the benefit of the whole universe—terjadi jika pemangku dan sulinggih memberi contoh (mendemontrasikan) pada umat bahwa dirinya adalah panutan yang bisa menjadi pelopor dalam penegakan jati diri, tidak terbayar dan tergiur uang, dan teguh untuk tidak mempolusi udara (dyauh santir), penyelamatan ozon (antariksam santih), ibu pertiwi (prthivi santir), menjaga air-sungai-danau-teluk-laut (apah santir), menjaga tumbuh-tumbuhan (osadhayah santih), dan hutan (vanaspatayah santir).

|| dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir osadhayah santih I vanaspatayah santir visvedevah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi ll

Semoga ada kedamaian di langit

Semoga ada kedamaian di luar angkasa

Semoga ada kedamaian di bumi

Semoga air menjadi sumber kedamaian

Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian

Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian

Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian

Semoga ada kedamaian dimana-mana

Semoga ada kedamaian dalam bathin saya.

[Yajur Veda 36.17]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 21 April 2015

HIKAYAT BUNGA-BUNGA


oleh Sugi Lanus

sebuah dongeng untuk Bhuja

Alkisah pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting dan daun-daun. Bunga-bunga berdatangan penuh senyum dan wewangian. Mereka berbaris pelan dan tertib memasuki balairung kerajaan atas angin.

Bunga Kenangan, Cempaka, Teratai, Jepun, Gemitir dan semua bunga lainnya saling menyapa, dengan sangat santun dan suara mereka seperti angin berdesir. Mereka bercengkrama dengan mesra tentang curah hujan, tiupan awan, turunnya kabut dan datangnya musim kumbang mengisap sari.

Di tengah perjamuan dan percakapan bunga-bunga itu, tiba-tiba datang si bunga putih berkelopak banyak. Sekalipun datang terlambat, dengan pongah ia mendongak dari daun-daunnya, ia pamer keindahan. Ia berjalan tanpa sedikitpun merunduk di tengah jamuan bunga-bunga, tanpa basa-basi memperkenalkan diri sambil tetap berjalan.

Hyang Tunggal, yang sedari tadi memperhatikan jalannya perjamuan bunga-bunga dari alam dewa, meniupkan angin ke arah bunga putih itu. Bunga itu terdorong (tulud) dan tersandung ke bawah pohon kelapa (nyuh). Bunga itu selanjutnya disebut bunga Tulud Nyuh.

Di akhir perjamuan itu Hyang Dewata Maha Tunggal menampakkan diri sebagai wangi maha suci dan bersabda:

“Kelak ketika telah kuciptakan manusia, mereka akan mengagumi kalian. Dalam jiwa manusia akan kutiupkan harum bunga-bunga, kelopak indah dan kesuburan putik sari. Kalau mereka rindu padaku, mereka akan mempersembahkan bunga-bunga untuk mewakili rindu mereka.

“Pada waktunya nanti akan terlahir seorang guru batin yang mampu melihat perangai bunga-bunga dan menurunkan ilmu sesaji dan bunga-bunga pada murid-muridnya. Guru batin itu akan melarang murid-muridnya memakai bunga Tulud Nyuh sebagai sesaji karena ia tak ingin murid-muridnya meniru perangai pongah dan tak santun si Tulud Nyuh.”

Sebelum kembali ke alam dewa, Hyang Tunggal memberkati bunga-bunga. Semua bunga diberkati khasiat dan wewangian. Beberapa bunga seperti Padma, Sandat, dan Cempaka serta Jepun bahkan dikaruniai keistimewaan.

Bunga Sandat (Kenanga), sekalipun terkenal dengan bunga yang dengan keharuman tak tercela, dia rendah hati tidak membentangkan kelopaknya. Karena kesahajaannya ia diberkati menjadi satu-satunya bunga yang selayu-layunya masih tetap berbau harum. Ketika direndam dalam air harumnya menyusupi partikel-partikel air dan kelopaknya tak membusuk merusak air.

Bunga Cempaka terberkati keharuman yang mengheningkan pikiran yang menciumnya. Ia mendapat tempat terhormat di antara bunga-bunga karenatak sedikitpun ia menonjolkan diri sekalipun ia putih, harum dan indah. Sampai kini Cempaka memilih menarik diri dan semadi di balik keheningan daun-daunnya yang lebar, tebal dan hijau. Cempaka memiliki keindahan tak tercela, bersih dan harum, tapi tak pamer.

Bunga Jepun Bali yang rela menggugurkan daun-daunnya untuk menumbuhkan kuncup-kuncupnya diberkati keharuman niskala. Berkat karunia Dewata, harum bunga Jepun tak pecah saat ditiup angin. Harumnya bulat seperti kristal saat diterbangkan angin dan mampu menembus pintu surga dan alam leluhur.

Bunga Teratai yang tumbuh dalam sahaja di kerendahan air berlumpur, menjadi bunga yang diberkati dan dikasihi para Dewa. Sekalipun akarnya menapak lumpur, daun dan kelopak-kelopaknya tak tercela bertangkup menyembah langit. Kesuciannya yang tak tersentuh lumpur membuat para orang suci menyembutnya sebagai padma dan pangkaja; pusat semesta yang tak sentuh keruh. Orang Suci mengisahkan Hyang Dewata bisa dijumpai di jantung kesucian padma.

Kemulian hati mendatangkan berkat. Kepongahan dan kecongkakan membuat bunga Tulud Nyuh sampai kini tak dipakai dalam sesaji dan persembahyangan orang Bali. Demikianlah hikayat bunga-bunga.

Mataram, 6 Maret 2010