BABAD PASEK – KISAH PERJALANAN PARA RESI KE BALI*


*Catatan Harian Sugi Lanus, 18 Juli 2015.

Kisah ini berdasarkan lontar Babad Pasek (lontar salinan oleh penyalin I Kt. Sengod dikerjakan tahun 1987, bersumber dari sebuah lontar tua di Desa Pidpid, Karangasem), salinan ini menjadi koleksi Pusat Dokumentasi Bali. 

Alkisah dimulai dengan puji dan puja kehadapan Hyang Siwa dan semua para Dewa mohon ijin untuk menulis sejarah leluhur yang telah suci semoga tidak terkena kutukan dan mala petaka.

Ada seorang raja yang bernama Maya Denawa, sakti yang tiada taranya, sangat angkuh, bengis, perilakunya seperti raksasa, menjadi raja di Bali. Bali morat-marit.

Babad ini kemudian meloncat ke riwayat gunung yang ada di Bali. Ada 4 gunung yang mula-mula ditempatkan di Bali oleh Hyang Pasupati; di empat penjuru: Di Timur – Gunung Lempuyang; Di Selatan – Gunung Andhakasa; Di Barat – Gunung Watukaru, Di Utara – Gunung Bratan.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.14 PM

Keadaan pulau Bali masih dikisahkan masih goyang, tidak stabil, maka Hyang Pasupati memotong puncak gunung Semeru lalu diletak di tengah diberi nama gunung Tolangkir (sekarang dikenal sebagai Gunung Agung). Gunung Tolangkir meletus untuk pertama kalinya pada tahun 148, kedua kalinya pada tahun 191, kemudian pada tahun 196.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.25 PM

Sang Hyang Pasupati memerintahkan tiga putranya yaitu Bhatara Ghenijaya, Bhatara Mahadewa, Bhatari Danu supaya pergi ke Bali.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.33 PM

Bhatara Ghenijaya berkahyangan di Lempuyang, Bhatara Mahadewa di Besakih, Bhatari Danu di Ulundanu.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.48 PM

Ada lagi putera Sang Hyang Pasupati yang datang ke Bali; Bhatara Tamuwuh berkahyangan di Batu Karu, Hyang Manik Kumayang di Gunung Bratan, Hyang Manik Gelang di Pejeng, Hyang Tugu di Andhakasa.

Screen Shot 2015-07-18 at 8.09.56 PM

DARI MAYADANAWA KE BHEDAMUKA – PANCA PANDITA KE BALI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Kembali diceritakan angkara murka yang bernama Mayadanawa sifatnya sangat angkuh, kejam dan tidak mengakui kebesaran Tuhan. Karena itulah ia diserang oleh para desa dibawah pimpinan Bhatara Indra, Mayadanawa dibinasakan. Setelah arwahnya meneriman buah dari karmanya, maka menjelma kemablai bersama permaisurinya berupa anak kembar bernama Masula Masuli. Masula kawin dengan adiknya yang bernama Masuli. Inilah yang menjadi raha di Bali dan mempunyai putera bernama Sri Tapa Ulung alias Bhedamuka.

Sang Hyang Pasupati memerintahkan kelima cucunya Sang Panca Pandita yaitu: Mpu Ghenijaya, Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, dan Mpu Baradah, supaya pergi ke Bali, memberikan tuntunan batin.

BERJUMPA SRI ERLANGGHYA – MPU BHARADAH & MPU GHENIJAYA TINGGAL DI PEJARAKAN

Dalam perjalanannya melalui kerajaan Daha. Raja Daha yang bernama Sri Erlangghya mohon supaya Sang Panca Resi bersedia tinggal di sana. Setelah diadakan perundingan, maka Mpu Ghenijaya dan Mpu Bhradah tinggal di sana sedangkan, sementara Mpu Mahameru langsung ke Bali, disusul Mpu Gana dan Mpu Kuturan.

Mpu Bharadah mendampingi kakaknya Mpu Ghenijaya, sementara berkahyangan di Pajarakan, Jawadwipa, tidak ke Bali.

MPU MAHAMERU, MPU GANA & MPU KUTURAN KE BALI

Mpu Mahameru pada hari Jumat Kliwon Wuku Pujut, hari kelima belas paruh bulan gelap sekitar bulan Nopember 990 berkahyangan di Besakih.

Mpu Gana sampai di Bali pada hari Senin Kliwon Wuku Kuningan pada hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan April 997, berkahyangan di Pura Dasar Gelgel.

Mpu Kuturan sampai di Bali pada hari Rabu Keliwon wuku Pahang hari keenam paruh bulan terang sekitar bulan Sepetember 1000, berkahyangan di Silayukti.

Tahun-tahun tersebut sangat penting dilihat dari beberapa data efigrafi yang ditemukan di Bali dimana periode ini adalah masa Pemerintahan Raja Udayana dan Mahendradatta atau dikenal sebagai Gunapriya Dharmapatni.

 MPU GHENIJAYA KE BALI

Setelah Mpu Ghenijaya memberikan ilmu kepada para putranya beliau pergi ke Bali dan sampai di Silayukti pada hari Kamis Paing Wuku Medhangsya hari pertama paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1058. Di sana beliau disambut oleh adik beliau Mpu Kuturan. Dari Silayukti beliau melanjutkan perjalanan ke Besakih diantar oleh Mpu Kuturan. Dari sana melanjutkan perjalanan ke Besukih diantar adik beliau.

Di Besukih diadakan pertemuan membahas kepanditaan. Selesai pertemuan para reshi itu pulang ke Kahyangannya masing-masing.

Mpu Ghenijaya menuju Lempuyang di Kahyangan ayahnya.

MPU BHRADAH KE BALI

Mpu Bhradah pergi ke Bali untuk menengok kakak-kakak beliau dan sampai di Silayukti diterima oleh Mpu Kuturan. Di sini Mpu Kuturan ingin menjajaki kesaktian Mpu Bharadah. Setelah itu Mpu Bhradah melanjutkan perjalanan ke Dasar Gelgel menghadap Mpu Gana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Besukih menghadap Mpu Mahameru. Terakhir menuju Lempuyang menghadap Mpu Ghenijaya. Dari sini kembali ke Daha.

Dalam sumber sejarah yang lain disebutkan Mpu Bharadah ke Bali diutus oleh Raja Erlangga untuk meminta saran mengambil Bali sebagai bagian kekuasaannya salah satu anaknya.

 SILSILAH PANCA PANDITA KE SAPTA RESI

Bhatara Ghenijaya berputra lima orang: Sang Brahmana Pandhita (Mpu Ghenijaya), Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.

Mpu Bharadah berputera Mpu Siwagandhu dan Mpu Bawula (Bahula).

Mpu Ghenijaya berputera tujuh orang: Mpu Ktek, Mpu Kanandha, Mpu Wiranjaya, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka dan Mpu Dangka.

Mpu Ktek kawin dengan Dyah Subhadri mempunyai putera bernama Sang Hyang Pamaca. Mpu Kananda kawin dengan putra Mpu Swetawijaya berputra 1 orang bernama Mpu Swetawijaya. Mpu Wiranjana berputra Mpu Wiranata. Mpu Witadharmma berputra Mpu Wira Dharmma. Mpu Ragarunting berputra Mpu Wirarunting. Mpu Preteka berputra Mpu Pretekayajnya. Mpu Dangka berputra Mpu Wira Dangkya.

Sang Hyang Pamaca berputera: Mpu Wiradharma, Mpu Pamacekan, Ni Ayu Bratta. Mpu Sweta Wijaya berputera Mpu Sangkul Putih. Mpu Wiranata berputra Mpu Purwwanata, Ni Ayu Wetan, Ni Ayu Tirtha. Mpu Wiradharmma berputera Mpu Lampita, Mpu Panandha, Mpu Pastika. Mpu Wirarunting berputera Mpu Pramadaksa. Mpu Pratekayajnya berputera Sang Preteka. Mpu Dangkya berputera Sang Wira Kadangkan, Ni Dangki, Ni Dangka.

Demikianlah yang menurunkan Sanak Pitu.

silsilah sapta resi berdasar babad pasek copy.JPG copy 

SAPTA RESI KE BALI & PIODALAN PARAHYANGAN

Setelah Sang Brahmana Panca Pandita pulang menuju alam niskala, maka sang Sapta Resi mengadakan perundingan membicarakan upacara di Pura Besukih yang jatuh pada bulan Oktober.

Dimufakati bersama untuk bersama-sama pergi ke Bali. Pada hari Selasa Legi Wariga hari ketujuh paruh bulan terang sekitar bulan Juli 1116 sampailah SangSapta Resi beserta para puteranya di Bali, langsung menuju Basukih.

Sapta Resi kemudian melangsungkan piodalan secara berantai:

1). Pada hari Kamis Wage dan Jumat Keliwon Sungsang diadakan upacara Sugi-manek di Besukih, sudah itu di Pura Dasar, di Silayukti dan terakhir di Lampuyang.

2). Hari Kamis Legi Dungulan upacara piodalan di giri Lampuyang.

3). Senin Keliwon Kuningan upacara Piodalan di Pura Dasar Gelgel.

4). Rabu Keliwon Paang upacara Piodalan di Silayukti.

5). Selasa Keliwon Tambir upacara Piodalan Bhntara di Basukih.

Sesudah itu para Resi kembali ke Jawa.

KISAH BEDAMUKA & KETURUNAN SAPTA RESI (PASEK GELGEL)

Dikisahkan setelah kalahnya raja Bali yang bergelar Sri Bedamuka oleh Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada, keadaan pulau Bali menjadi lenggang. Maka dari itu Patih Mada mohon kepada keturunan Sang Mpu Sanak Pitu (tujuh bersaudara) supaya datang ke Bali, untuk memelihara dan ngemong Kahyangan-kahyangan di Bali.

Perintaan Patih Mada dapat dipenuhi, maka berangkatlah para resi itu itu ke Bali dipimpin oleh Mpu Dwijaksara. Kedatangannya di Bali disambut dengan gembira oleh masyarakat Bali.

Ada seorang pendeta sakti bernama Sang Hyang Kapakisan yang menjadi penasehat Patih Mada. Beliau berputera Wangbang Kapakisan. Wangbang Kapakisan berputra Sri Juru diangkat menjadi raja di Blambangan, Maharaja Bhima diangkat menjadi raja di Pasuruhan, Sri Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, yang wanita menjadi raja di Sumbawa, Sri Kresna Kapakisan beristana di Samprangan.

Keturunan Sang Resi Sanak Pitu menghadap raja dipimpin oleh Patih Ulung.

Bandesa Karajaan berputera Ni Luh Kaywan dipersenbahkan kepada Mpu Kanaka berputera Pangeran Kayumas dan Wira Manokling. Wira Manokling mengikuti Mpu Kanaka ke Jawa, sedang Pangeran Kayumas tetap di Bali, inilah yang menurunkan Warga Bendesa Mas di Bali.

Dari naskah-naskah lain kita menemukan informasi bahwa ketika Danghyang Nirartha ke Bali di jaman Waturenggong, beliau sempat tinggal di Desa Mas dan menikah dengan salah satu putri Pangeran Bendesa Mas. Keturunan Danghyang Nirartha dari sinilah yang sekarang disebut Brahmana Mas.

Sri Kresna Kapakisan berputera, Dalem Samprangan, Dalem Tarukan, Dalem Ketut Smara Kapakisan. Dalem Ketut adalah raja yang memulai beristana di Gelgel.

Untuk selanjutnya Bali diperintah oleh raja dinasti Kresna Kapakisan dibantu oleh para keturunan Arya yang mengiring ke Bali. Lebih lanjut dijelaskan keturunan Resi Sanak Pitu tersebar di pulau Bali dengan tugas tertentu dari Raja/dalem. Warga keturunan Sapta Resi ini disebut Warga Pasek Sanak Pitu (Sapta Maha Gotra).

Di Bali juga ada warga Pasek Bali yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Calagi Manis, Pasek Kayuselem, Pasek Pempatan, Pasek Kori Tiying.

I dan Ni dalam Nama Orang Bali


Oleh Sugi Lanus

I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific.I semacam Mr dan Ni semacam Ms.

I dan Ni bukan hanya dicantumkan di depan Gede atau Putu, juga di depan Dewa dan Gusti, menjadi I Dewa dan I Gusti. I di depan Da menjadi I-Da (Ida). Ni dicantumkan di depan gelar lama seperti Ni Dyah Tantri. Ni-hyang menjadi Niyang.

Dalam Melayu Kuno dan Bali Kuno ada gelar Da, seperti dalam gelar Raja Sriwijaya Da-punta, gelar sungsungan di Trunyan Da-Tonta. Pejabat desa adat Bungaya dan desa-desa yang termasuk Bali Aga juga bergelar Da (Da Salah, Da Kebayan, Da Manten). Kemungkinan I-Da (Ida) sekarang gabungan dari honorific I + Da. Lama-lama menjadi Ida. Zaman Gelgel dan Majapahit raja bergelar I-Da Dalem. Da Hyang menjadi I-Da Hyang (Ida Hyang). Varian lain dari Da adalah Dang, ini berlaku ketika diikut oleh horific Hyang, menjadi Dang Hyang.

Pejabat Kuturan yang menjabat tahun 1001 di Er Bang (Batur) namanya I Dyah Kayup. Dyah bukan hanya gelar untuk perempuan tapi laki dan perempuan zaman dahulu. Hayam Wuruk juga gelarnya Dyah. Di depan gelar Dyah jika dipakai oleh perempuan maka ditambah Ni, jika laki ditambah I.

Jaman sekarang ingatan dan kemauan memahami sejarah tergolong rendah, honorific I dan Ni yang fungsi awalnya untuk memuliakan semua golongan dan bahkan para dewa serta leluhur di Bali terlupakan.

PARA PERINTIS PERS BALI & KAUM INTELEK BALI UTARA


Oleh Sugi Lanus*

Tahun 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954). Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha). Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah. Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra. Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.” Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955). Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan. Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng.

*Catatan harian ini pernah dimuat di Bali Post, Minggu beberapa tahun lalu.

PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*


1. PEMANGKU

Pemangku adalah orang terpilih yang tugasnya memuja Tuhan, bukan yang lain.

Pemangku diharap menjadi pembimbing umat untuk senantiasa bakti pada Tuhan dan menjunjung nilai-nilai kebenaran dharma.

Lontar Kusumadewa mengatakan:

“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tatwa DewaDewa Tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana Tattwa, I Pamangku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi krama pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharmam, mangda patut pangambile mwang pamargine. “

Terjemahannya:

“Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma kahyangan Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti, paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya”.

Kitab Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma adalah pedoman pemangku dalam bertindak dan mengabdi kepada Beliau. Pemahaman mereka akan hakikat kesusilaan yang bisa mengantar pemangku tidak salah jalan, tidak terjebak urusan duniawi, dan menjadi lupa tugas utamanya sebagai orang terpilih untuk memuja Tuhan, dan bukan memuja yang lain-lain.

2. KAUM PENDUSTA

Pemangku wajib menjauhi kaum pendusta.

Hal ini jelas disebutkan dalam kutipan Lontar Tattwa Siwa Purana sebagai berikut:

“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarayudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta“.

Terjemahannya:

“Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan JANGAN MENGHADAP/DEKAT ATAU BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT (naya dusta).”

Pemangku diharapkan fokus dirinya keurusan ketuhanan, bukan lagi terjebak urusan duniawai dan dilarang bergaul dengan kaum pendusta.

Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.

Menjadi pemangku adalah perjanjian yang bersangkutan untuk menarik diri menjadi 100% abdi Tuhan, tidak jadi jongos siapapun, memuja setiap hari di hadapan “sesuhunan niskala” (keilahian tertinggi) dan mengabdi dalam pelayanan keagamaan.

Hal ini jelas disebutkan dalam lontar Tattwa Siwa Purana:

“SamaIih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer”.

Terjemahannya:

“Dan apa bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer”.

Dengan melepas pekerjaan duniawai itu diharapkan pemangku bisa ajeg memegang prinsip swadharma dan memegang prinsip bergaul benar: aja parek ri salwiring naya dusta” (TIDAK MENGABDI & BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT).

3 DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN 

Pemangku wajib mendemontrasikan sikap terpuji di depan umat. Tidak mudah terhasut terjebak urusan duniawi, dan tetap berhati jernih.

Pemangku yang terpuji dan dicintai umat Hindu tentulah pemangku yang bisa mendemontrasikan pemahamannya tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma; mampu memberi pencerahan umat tentang pedoman hidup lurus, filsafat ketuhanan dan kesusilaan di depan umat.

Demonstrasi pemangku sebagai pelopor pelaksanaan agama yang teguh memuja Tuhan sangat ditunggu kehadirannya di tengah zaman yang memuja kuasa dunia dan uang.

Pemangku yang mampu secara bijaksana mendemontrasikan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai suci itulah yang akan mengharumkan nama Agama Hindu Bali dan mengantar umat menuju jagat sukerta

Jagat sukerta atau jagat-hita-ya—the benefit of the whole universe—terjadi jika pemangku dan sulinggih memberi contoh (mendemontrasikan) pada umat bahwa dirinya adalah panutan yang bisa menjadi pelopor dalam penegakan jati diri, tidak terbayar dan tergiur uang, dan teguh untuk tidak mempolusi udara (dyauh santir), penyelamatan ozon (antariksam santih), ibu pertiwi (prthivi santir), menjaga air-sungai-danau-teluk-laut (apah santir), menjaga tumbuh-tumbuhan (osadhayah santih), dan hutan (vanaspatayah santir).

|| dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir osadhayah santih I vanaspatayah santir visvedevah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi ll

Semoga ada kedamaian di langit

Semoga ada kedamaian di luar angkasa

Semoga ada kedamaian di bumi

Semoga air menjadi sumber kedamaian

Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian

Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian

Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian

Semoga ada kedamaian dimana-mana

Semoga ada kedamaian dalam bathin saya.

[Yajur Veda 36.17]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 21 April 2015

HIKAYAT BUNGA-BUNGA


oleh Sugi Lanus

sebuah dongeng untuk Bhuja

Alkisah pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting dan daun-daun. Bunga-bunga berdatangan penuh senyum dan wewangian. Mereka berbaris pelan dan tertib memasuki balairung kerajaan atas angin.

Bunga Kenangan, Cempaka, Teratai, Jepun, Gemitir dan semua bunga lainnya saling menyapa, dengan sangat santun dan suara mereka seperti angin berdesir. Mereka bercengkrama dengan mesra tentang curah hujan, tiupan awan, turunnya kabut dan datangnya musim kumbang mengisap sari.

Di tengah perjamuan dan percakapan bunga-bunga itu, tiba-tiba datang si bunga putih berkelopak banyak. Sekalipun datang terlambat, dengan pongah ia mendongak dari daun-daunnya, ia pamer keindahan. Ia berjalan tanpa sedikitpun merunduk di tengah jamuan bunga-bunga, tanpa basa-basi memperkenalkan diri sambil tetap berjalan.

Hyang Tunggal, yang sedari tadi memperhatikan jalannya perjamuan bunga-bunga dari alam dewa, meniupkan angin ke arah bunga putih itu. Bunga itu terdorong (tulud) dan tersandung ke bawah pohon kelapa (nyuh). Bunga itu selanjutnya disebut bunga Tulud Nyuh.

Di akhir perjamuan itu Hyang Dewata Maha Tunggal menampakkan diri sebagai wangi maha suci dan bersabda:

“Kelak ketika telah kuciptakan manusia, mereka akan mengagumi kalian. Dalam jiwa manusia akan kutiupkan harum bunga-bunga, kelopak indah dan kesuburan putik sari. Kalau mereka rindu padaku, mereka akan mempersembahkan bunga-bunga untuk mewakili rindu mereka.

“Pada waktunya nanti akan terlahir seorang guru batin yang mampu melihat perangai bunga-bunga dan menurunkan ilmu sesaji dan bunga-bunga pada murid-muridnya. Guru batin itu akan melarang murid-muridnya memakai bunga Tulud Nyuh sebagai sesaji karena ia tak ingin murid-muridnya meniru perangai pongah dan tak santun si Tulud Nyuh.”

Sebelum kembali ke alam dewa, Hyang Tunggal memberkati bunga-bunga. Semua bunga diberkati khasiat dan wewangian. Beberapa bunga seperti Padma, Sandat, dan Cempaka serta Jepun bahkan dikaruniai keistimewaan.

Bunga Sandat (Kenanga), sekalipun terkenal dengan bunga yang dengan keharuman tak tercela, dia rendah hati tidak membentangkan kelopaknya. Karena kesahajaannya ia diberkati menjadi satu-satunya bunga yang selayu-layunya masih tetap berbau harum. Ketika direndam dalam air harumnya menyusupi partikel-partikel air dan kelopaknya tak membusuk merusak air.

Bunga Cempaka terberkati keharuman yang mengheningkan pikiran yang menciumnya. Ia mendapat tempat terhormat di antara bunga-bunga karenatak sedikitpun ia menonjolkan diri sekalipun ia putih, harum dan indah. Sampai kini Cempaka memilih menarik diri dan semadi di balik keheningan daun-daunnya yang lebar, tebal dan hijau. Cempaka memiliki keindahan tak tercela, bersih dan harum, tapi tak pamer.

Bunga Jepun Bali yang rela menggugurkan daun-daunnya untuk menumbuhkan kuncup-kuncupnya diberkati keharuman niskala. Berkat karunia Dewata, harum bunga Jepun tak pecah saat ditiup angin. Harumnya bulat seperti kristal saat diterbangkan angin dan mampu menembus pintu surga dan alam leluhur.

Bunga Teratai yang tumbuh dalam sahaja di kerendahan air berlumpur, menjadi bunga yang diberkati dan dikasihi para Dewa. Sekalipun akarnya menapak lumpur, daun dan kelopak-kelopaknya tak tercela bertangkup menyembah langit. Kesuciannya yang tak tersentuh lumpur membuat para orang suci menyembutnya sebagai padma dan pangkaja; pusat semesta yang tak sentuh keruh. Orang Suci mengisahkan Hyang Dewata bisa dijumpai di jantung kesucian padma.

Kemulian hati mendatangkan berkat. Kepongahan dan kecongkakan membuat bunga Tulud Nyuh sampai kini tak dipakai dalam sesaji dan persembahyangan orang Bali. Demikianlah hikayat bunga-bunga.

Mataram, 6 Maret 2010

SIWA-DWARA: PINTU RUHANI MANUSIA BALI


Oleh: Sugi Lanus

Kemanapun orang Bali pergi, ia mengusung ‘jalan’ di ubun-ubunnnya.

Kelebutan (atau pabahan) atau ubun-ubun yang berdenyut ketika bayi masih merah dipercaya sebagai Siwadwara atau ‘jalan Siwa’. Bagian itu dipercaya sebagai jalan hilir mudik ‘ruh’ kita. Jalan menelusuri jagat batiniah, sampai masuk ke ‘alam Siwa’ atau alam kesejatian asal muasal kehidupan.

Ketika beranjak besar sang bayi kehilangan detak di ubun-ubunnya, konon, saat itulah semesta dirinya terputus dengan semesta kesejagatan batiniah. Terlebih setelah dewasa, sang manusia lengah melupakan ‘jalan’ itu, demi menempuh atau bertahan di dunia keseharian yang tidak mudah direngkuh.

Di Siwadwara tidak ada sosok dwarapala (patung penjaga pintu) layaknya sebuah jembatan atau kori puri atau pura. Kepala ditumbuhi rambut, dan rambut itulah yang menjadi semacam dwarapala bagi Siwadwara kita. Sang Biksu mencukur gundul rambutnya, menjadi pertanda ia telah ‘memilih jalan’ untuk kembali membuka Siwadwara yang telah dilebati dan ditutupi hutan rambut. Sang Rsi mengikat rambut dan mapusungan, seakan menandai semua kelebatan dan hutan rambut ‘merujuk’ ke arah Siwadwara.

Dalam praktek Sama-Adi cara Bali, proses ngili-atma atau nuntun-atma, kembali sang calon Pandita diajak ‘membuka kembali’ jalan itu. Merenungi ‘pipa gaib’ yang menjadi poros dan sekaligus pusaran diri. Tegak. Tunggal. Terhubung. Menelusuri hening diri dan titik terdalam di titik 0 kilometer ubun-ubun diri: Siwadwara.

Dalam praktek sederhana orang kebanyakan, jika mebayuh atau melukat, atau proses penyucian dengan air suci, yang dilukat adalah titik ubun-ubun itu juga. Titik itu kembali ‘dibasahi’ dan ‘diurap’ agar kembali lembek dan tidak ‘membatu’ alias tertutup rapat.

Jika kepala (ubun-ubun) membatu, merapat, atau tertutup, maka dipercaya tertutup pulalah hati dan jiwa serta ruhani kita. Tidak lagi terhubung dengan Jiwa Maha Tinggi itu, muasal kehidupan, Sangkan Paraning Dumadi. Ungkapan ‘berkepala batu’ yang mengandung arti keras tak mau mendengar, jika dihubungkan dengan Siwadwara, ia ‘tak mendengar yang batiniah’.

Perkara ubun-ubun sebagai titik tertinggi tubuh secara spiritual inilah yang menjadi salahsatu alasan kenapa orang Bali harus menjaga kepalanya: Tidak boleh sembarangan mesulub atau tidak boleh kena langkahan orang, atau lewat jemuran atau segala yang dianggap leteh (impure) alias kotor secara niskala. Semacam ‘amanat’ bagi orang Bali menjaga kesucian kepala, bahwa ada ‘jalan Siwa’ atau Siwadwara di pabahan (ubun-ubun) kita.

Ungkapan sederhana bahwa ‘Siwadwara ring pabahan’ (Jalan Siwa di bagian atas kepala) makin ditelisik makin tidak sederhana. Ini bisa dianggap metafor, namun di kalangan penekun kebatinan Bali menerima hal ini bukan sebatas metaphor, mereka bisa merasakan getaran ‘jalan Siwa’ kita usung kemana-mana, di atas kepala kita.

Merenungi Siwadwara ini, kembali terngiang tembang pembuka Geguritan Sucita Subudi:

“Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padma Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”.

[Termaktub di kuil-meru dalam diri, memohon pada Hyang Maha Suci, dengan sarana bunga Padma Hredaya, sarana harum kesejukan Budi, didasari tindakan mulia, berbija Menget Prakasa, berasapkan dupa Sad Ripu, berapikan pikiran terang].

Itulah ‘jalan dalam diri’. Geguritan tersebut lebih lanjut membabarkan bahwa di dalam diri Meru (tiang suci) itu tegak lurus bagai buluh berlubang membungbung ke akasa jiwa.

Warisan istilah dan ajaran tentang Siwadwara ini memberi kesadaran pada orang Bali bahwa disamping tubuh sebagai beban, tubuh sekaligus juga ‘jalan’. ‘Siwadwara’ (Jalan batin) tetap kita usung kemana-mana sekalipun kita ‘tertidur’ atau ‘lupa’, dan sampai akhirnya kita harus kembali ‘pulang’ lewat jalan itu pula.

BABAD PALELINTIHAN IDA HYANG YESUS KRISTUS


Tahun 1910 Injil Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Bali oleh Goesti Djilantik. Kitab terjemahan Goesti Djilantik ini dipublikasikan oleh ‘The British and Foreign Bible Society’.

Bagian Matius 1:1-25, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali**, disana disebutkan seperti ini:

1 Puniki babad palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus katurunan Daud, katurunan Abraham.

2 Abraham maputra Ishak, Ishak maputra Yakub, Yakub maputra Yehuda lan semeton-semeton danene.

3 Yehuda maputra Peres miwah Serah (saking rabine Diah Tamar). Peres maputra Hesron, Hesron maputra Ram.

4 Ram maputra Aminadab, Aminadab maputra Nahason, Nahason maputra Salmon.

5 Salmon maputra Boas (saking rabine Diah Rahab). Boas maputra Obed (saking rabine Diah Rut), Obed maputra Isai,

6 Isai maputra Sang Prabu Daud. Daud maputra Salomo (saking rabine sane pecak rabin Dane Uria).

7 Salomo maputra Rehabeam, Rehabeam maputra Abia, Abia maputra Asa.

8 Asa maputra Yosapat, Yosapat maputra Yoram, Yoram maputra Usia.

9 Usia maputra Yotam, Yotam maputra Ahas, Ahas maputra Hiskia.

10 Hiskia maputra Manase, Manase maputra Amon, Amon maputra Yosia.

11 Yosia maputra Yoyakin lan semetonsemeton danene. Daweg punika bangsa Israel kaselong ka Babel

12 Sasampune bangsa Israel maselong ring Babel, Yoyakin maputra Sealtiel, Sealtiel maputra Serubabel.

13 Serubabel maputra Abihud, Abihud maputra Elyakim, Elyakim maputra Asor.

14 Asor maputra Sadok, Sadok maputra Akim, Akim maputra Eliud.

15 Eliud maputra Eleasar, Eleasar maputra Matan, Matan maputra Yakub.

16 Yakub maputra Yusup rabin Diah Maria, sane ngembasang Ida Hyang Yesus sane mabiseka Sang Prabu Sane Kajanjiang antuk Ida Sang Hyang Widi Wasa.

17 Dadosipun ngawit saking Abraham rauh ring Daud, wenten patbelas turunan. Ngawit saking Daud, rauh ring masane kaselong ka Babel taler patbelas turunan. Tur saking masane maselong ka Babel rauh ring masan embas Ida Sang Prabu Sane Kajanjiang punika, taler patbelas turunan.

18 Indik embas Ida Hyang Yesus Kristus katuturanipun sapuniki: Daweg ibun Idane, Diah Maria sampun magegelan sareng Dane Yusup, sadurung dane marabian, Diah Maria jeg sampun mobot. Bobotan danene punika kawitnyane saking Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

19 Gegelan danene, inggih punika Dane Yusup anak sane tansah malaksana patut, nanging dane nenten mapakayunan jaga ngawinang Dane Diah Maria kimud, punika awinanipun Dane Yusup mapakayun megat gegelan danene saking silib.

20 Nanging ritatkala dane ngayun-ngayunin indike punika, raris dane karauhin antuk malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa sajeroning panyumpenan. Sang malaekat ngandika ring dane sapuniki: “Yusup sentanan Sang Prabu Daud, edaja takut nyuang Maria nganggon kurenan, sawireh rarene ane kaduta ento, uli Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

21 Maria lakar ngembasang putra lanang, tur kita patut marabin anake alit ento Yesus, sawireh Ida lakar ngrahayuang parakaulan Idane uli sakancan dosannyane.”

22 Paindikane punika mula wantah jaga mamargi sakadi asapunika, mangda tegep sabdan Ida Sang Hyang Widi Wasa sane kawarahang antuk nabine, sapuniki

23 “Daane ento lakar beling tur nglekadang pianak muani. Pianakne ento lakar kadanin Immanuel” (sane mateges: “Ida Sang Hyang Widi Wasa nyarengin iraga”)

24 Sasampun Dane Yusup matangi, raris dane ngambil Diah Maria, kanggen rabi satinut ring pangandikan malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa ring dane.

25 Nanging Dane Yusup tan matemu semara ring Diah Maria kantos putrane lanang punika embas. Dane Yusup marabin anake alit punika “Yesus”.

Jika saja kutipan Perjanjian Baru di atas, ditulis di atas daun lontar, dengan aksara Bali, lalu disimpan (disumbangkan) ke Gedung Kitya, mungkinkah naskah atau lontar Babad Palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus ini akan sama “tenget” dengan naskah Babad Dalem atau Purana Bali lainnya?

Catatan singkat ini hanya ingin memberi gambaran bahwa lontar adalah sama dengan buku biasa, karena jaman itu tak ada kertas untuk mencatat, maka semua “yang biasa” itu ditulis di atas daun lontar dan huruf Bali, aksara yang dipakai ketika itu.

Banyak lontar baru ditulis, tahun 1950-an yang mengkultuskan satu kelompok brahmana ditulis di Ubud telah jadi acuan keluarga tersebut, diserbarkan dan dicetak menjadi kultus bersama sepulau Bali, dan dianggap seolah-olah ratusan tahun silam.

Demikian juga sebuah lontar yang ditulis teman sebangku saya di SMP yang sekarang kebetulan kami sama-sama menekuni sastra Bali, lontar itu telah dijadikan proyek oleh Pusat Dokumentasi untuk diterjemahkan, seolah-olah lontar tersebut telah ratusan tahun usianya.

Almarhum Guru Ktut Ginarsa menulis babad tentang Bhujangga Waisnawa, semasa hidup beliau, dengan bahasa Jawa Kuna yang sangat tinggi pencapaian bahasanya, sehingga hampir sama dengan bahasa di Jaman Majapahit, jika saja itu ditulis dalam lontar dan dikatakan bahwa itu adalah karya Jawa Kuna, maka bisa jadi akan mempengaruhi studi kesejarahan Bali, dan telah banyak yang mengutip tanpa tahu sumbernya hanyalah tulisan tahun 1970-an. Bersyukur beliau dengan jujur mengatakan bahwa itu adalah karya beliau.

Lontar lelintihan atau babad adalah sebuah “buku silsilah biasa”, penulisannya banyak menggunakan imajinasi penulis yang tidak ketat secara kesejarahan, kadang tak ada dasarnya, kadang diadakan atau dibuat, dikira-kira, dikait-kaitkan. Babad adalah sejarah lisan yang dicatat di atas daun lontar, perlu kritis membacanya, bisa membuat tersesat jika ditelan mentah-mentah.

*Pada tahun 1950-1959, J.L. Swellengrebel di Jakarta turut mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Swellengrebel pernah tinggal di Bali 20 tahun, mulai sekitar dari tahun 1930-an. Untuk lebih jelas tentang penterjemahan alkitab silahkan baca “Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).