WEDA SATRIA


*Catatan Harian Sugi Lanus

Banyak lontar koleksi Raja Raja Bali dulu isinya KAVACA-MANTRA: Mantra Perang. Peneguhan hati. Mantra perlindungan batin dan sang diri. Di samping kavaca-mantra, para raja dan satria punya Weda Satria, puja pagi para sastria, yang dipanjatkan wajib sebagai berdoa dan puja pagi seorang satria.

Raja dalam prosesi pengangkatannya di-ABHISEKA. Lewat proses diksha. Sehingga wajib hukumnya bagi raja untuk melalukan “suryasewana” dengan pedoman Weda Satria, sama dengan sulinggih harus nyurya sewana, hanya beda manual book saja.
Puja pagi Raja ini yang membedakan Raja dengan satria biasa, atau orang kebanyakan, adalah seorang Raja melakukan puja pagi, pedomannya Weda Satria.

Wesya dan pedagang punya Puja Pagi tersendiri. Buka warung atau toko, di pasar dengan sembahyang di Pura Melanting dll.  Para tani dan pekerja pertanian punya Puja sesuai Dharma Pamaculan. Puja dari menjemput air, membenih, biyu kukung dstnya sampai panen dan meletakkan hasil di lumbung.

SEMUA WARNA PUNYA KEMULIAAN YANG SEPADAN DI HADAPAN SEMESTA ALAM. Semua punya puja pagi dan puja swadharmanya. Jika dijalankan dengan baik, seorang petani bisa mencapai kemuliaan tertinggi sebagaimana juga jika seorang sulinggih tekun melakukan puja.

Melihat Puja dari masing masing warna itu dengan pedomannya yang ada di berbagai lontar, sangat jelas, sangat rinci, semua warna menuju keheningan Puja dalam warna puja masing masing.

Keindahan puja petani luar biasa. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa BULIR-BULIR PADI yang dipetik dari lahan pertanian orang Bali, di tangan orang Hindu yang melakukan kerja keras dan puja mendalam, BULIR PADI adalah BULIR-BULIR DOA & KERINGAT.

Puja Satria atau Weda Satria telah banyak dilupakan. Jika trah para satria tiada paham puja (gegelaran) yang harus diujarkan sebagai doa kepada alam semesta dan jiwa umat manusia, masih adakah kaum satria?

Puja dan peneguhan batin yang kita ucapkan sebagai janji diri itulah yang membedakan kita dengan warna kekaryaan kita. Kekaryaan (jenis pekerjaan dalam mencari makan dan penghidupan) kita dan doa/puja yang menyertai tersebut yang disebut dalam terminologi kuno India sebagai Varna.

Tanpa doa puja dan kekaryaan kita tidak punya SWADHARMA, kita tidak punya VARNA, kita hanya penumpang gelap dalam kehidupan. Inilah visi Hindu klasik, agar kita punya atau memilih SVADHARMA dan VARNA, kekaryaan pengabdian dilengkapi puja doa bagi semua makhluk.

Puja Satria, Puja Wesya, Puja Sudra, Puja Brahmana, semuanya sama mulia: Sama-sama mendoakan kesucian dan keharmonisan semesta dan isinya. Secara instrinsik semua puja mantra mereka sepadan, setara, yang nantinya membedakan adalah dorongan niat apa yang memboncengi puja doa mereka. Tidak penting lagi kita trah Brahmin, Satria, Wesya, Sudra, atau lahir dari Candala: Ketulusan atau kepongahan kah yang memboncengi doa-doa kita itu? Di situlah letak pembedanya.

Doa-doa tertulus yang utama, bukan doa-doa yang diucapkan siapa.

Pesan dari sistem Varna adalah kekaryaan yang kita pilih (atau kita jadikan pekerjaan atau pengupa jiwa) adalah warna kita, apapun latar belakang historis leluhur kita. Mobilitas (perpindahan) warna dan swadharma terjadi dalam sejarah. Brahmana menjadi punggawa, petani menjadi pertapa atau biksu, satria menjadi candala karena berbuat di luar etika, dstnya.  Ini memang sulit menerima terutama yang masih berpikir ada warna yang lebih mulia dari yang satunya. Kalau berani berpikir merdeka, dan secara mendalam mengakui masing masing warna punya kemulian masing-masing, maka memilih doa sesuai swadharma kita masing masing sekarang bukan hal yang kontraversial.

Pitutur dan petuah leluhur Bali: “Ngiring margiang swadharmane sowang-sowang”. Marilah jalankan swadharma kita masing-masing (tidak usah dipertentangkan tapi tekuni sedalam-dalamnya swadharma atau kekaryaan kita masing-masing).

HANACARAKA & DIALEKTIKA KEJAWEN


– Catatan Harian Sugi Lanus, Redite 17 Mei 2015.

Masuknya Islam ke Jawa menjadikan wilayah Jawa sebagai tempat dimana ajaran ketuhanan Islam harus disemai di atas sisa-sisa peninggalan peradaban Siwa dan Buddha.

Akasara Jawa pun tidak lepas dari strategi “dialektika politik Kejawen” yang menggarap urutan alphabet Jawa dari ‘ka-kha-ga-nga’ menjadi ‘ha-na-ca-ra-ka’.

Ada indikasi kuat setelah Islam hampir menguasai seluluh wilayah Jawa abad 17, urutan alphabet dan aksara Jawa dirubah dan “dimodernisasi”, disusupkan kisah baru tentang dua-caraka-yang-sama-sakti ‘Hanacaraka’. Munculah kisah caraka (abdi)-nya Aji Saka dan caraka-nya Muhammad yang bertarung ‘pada-jaya-nya’, pertarungan pilih tanding, sama saktinya.

Di bawah ini adalah alphabet Jawa Kuna (lihat foto/gambar).

Alphabet ‘ha-na-ca-ra-ka’ pun mempengaruhi pengajaran aksara Bali, baca tulis, dulunya perpedoman pada alphabet Jawa Kuno dan Bali Kuno, dengan pengajaran aksara diawali dengan menghafal dan menilis aksara “ka-ki-ku-ke-ko” lalu dilanjutkan dengan “ga-gi-gu-ge-go” dan seterusnya.

Pengajaran Hanacaraka di Bali dan kisah hilangnya 2 aksara, yang katanya hanyut di Selat Bali, diperkirakan baru muncul sekitar tahun 1875 seiring pendidikan sekolah rakyat kelas 2 di Bali (Buleleng) memakai/mengadopsi pengajaran aksara Jawa. Buku pedoman pengajaran sekolah rakyat selanjutnya disusun oleh I Ranta mengadopsi pengajaran baca tulis aksara Jawa. Sebelum itu pengajaran di kalangan Bali dengan cara “ka-ki-ku-ke-ko”. Tidak ada dulu kisah 2 aksara jatuh/hayut/kecag di Selat Bali. Aksara yang disebut hanyut itu masih tetap dipakai dalam lontar-lontar Bali sampai kini.

Alphabet Hanacaraka pertama kali muncul dalam karya “Serat Sastra Gending” karya salah satu Raja Jawa yang masyur yaitu Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma (1593-1645), dikenal sebagai Sultan Agung, memerintah Jawa pada tahun 1613 sampai 1645. Penyusunan Ha-na-ca-ra-ka itu termuat penjelasannya dalam karya tersebut sebagai berikut:

1. Bahasa Jawa.

“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.

Bahasa Indonesia.

“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (aksara) dan bunyi gending (macepat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”

2. Bahasa Jawa

“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.

Bahasa Indonesia

“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.

3. Bahasa Jawa.

“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”

Bahasa Indonesia

“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.

4. Bahasa Jawa.

“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.

Bahasa Indonesia.

“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.

5. Bahasa Jawa.

“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.

Bahasa Indonesia.

“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.

6. Bahasa Jawa.

“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.

Bahasa Indonesia

“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”.

SULTAN AGUNG menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending, beliau memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. istem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Sekalipun kalender dicampur, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke tahun 1547 Jawa.

Hanacaraka dan Kalender Jawa yang “direkomposisi” oleh Sultan Agung adalah sebuah “dialektika Kejawen”. Kalender Jawa ini mengakomodasi kalender kebudayaan Jawa sekaligus kalender Islam. Hancaraka memuat kisah bahwa aksara di Jawa dibawa oleh Aji Saka, sekaligus menyerap kisah kedatangan utusan Nabi Muhammad.

Apa yang kita bisa pelajari dari Sultan Agung: Beliau memilih “mendamaikan’ ajaran leluhur dengan “ajaran yang datang belakangan”, dibanding mempertentangkan keduanya.

LONTAR DUNIA MAYA


Kata ‘lontar’ dan ‘dunia maya’, jika sangat digabung, kesannya akan sangat ‘serem’. Tapi begitulah kenyataanya: Ribuan foto lontar, ratusan salinan lontar, juga transaksi penjualan lontar, bisa kita temukan lewat ‘dunia maya’.
 
Ini artinya, ada indikasi, bahwa dunia maya adalah masa depan penyimpanan lontar. Namun demikian, pesatnya perkembangan dunia maya sebagai ‘cloud memory’ penyimpan berbagai lontar, tidak menjanjikan bahwa masa depan atau nasib isi ajaran dan pengetahuan di dalamnya akan bisa dengan mudah dicerna generasi mendatang.
 
Kendala memasuki dunia pemikiran yang terkandung dalam lontar, umumnya:
  1. Lontar memakai aksara yang tidak lagi dipakai dalam penulisan sehari-hari.
  2. Sekalipun sudah ditranslitrasi (alih aksara ke aksara latin), bahasa yang dipakai dalam lontar-lontar itu umumnya bahasa daerah yang semakin menipis pemakaiannya. Bahkan lontar-lontar mengggunakan bahasa yang telah mati, seperti Sansekerta, Jawa-Sunda-Sasak-Batak-Bugis-Bali yang kuno, sehingga tidak mudah menembus artinya.
  3. Kalau paham atau mahir bahasanya, kemungkinan kita terhambat makna dan konteks dari konten (isi) dari lontar tersebut. Seperti lontar pengobatan yang peristilahan sangat esoterik, juga lontar mantra dan pengetahuan ‘kesastraan’ yang sangat tinggi konteks dan konten filsafatnya.
Di bawah ini adalah teks salinan lontar TUTUR SARINING PHALA yang saya temukan di dunia maya. Sebuah contoh bagaimana dengan mudah saya memulung salinan lontar di dunia maya. Isinya sangat luar biasa. Silahkan membacanya.
 
Silahkan lihat 3 kendala dalam memahami lontar yang saya uraikan di atas baca kembali: Kendala no. 1 bisa terlampau, karena sudah merupakan salinan lontar beraksara latin. Apakah kendala 2 dan 3 bisa Anda lampaui?
 
Saya banyak menjumpai bahkan penyalin atau ‘tukang transkrip’ lontar sendiri tidak sepenuhnya paham isi yang disalinnya. Mereka kebanyakan bisa membacanya tapi belum ada jaminan paham isi dan bisa memasuki “dunia makna” dalam lontar tersebut. Saya yakin, pertemuan “lontar dunia maya” dengan seseorang yang paham “dunia makna lontar” bersangkutan adalah “kerja kosmik”, seperti juga sebuah perjodohan pasangan hidup.
 
Selamat (mencoba) membaca dan memasuki “dunia makna lontar” di bawah ini…
 
SALINAN LONTAR ‘TUTUR SARINING ADHI PHALA’.
 
Iki panugrahan Bhatara ring Dalem, nga. sarining adhi phala nia, temah, wisya, dusta ring awak ngawe gering salah beda, buduh, kalanan, ampah yusa, kohos ring brana mulya. Yan sira pingit nganggo panugrahan iki, moga sidhi ngucap, akadang Dewa, katwaning jagat kabeh,wenang sira nunas ica ring Dewa, wus mangkana wenang sira nuduh Sang Hyang Panca Maha Bhuta, wenang ngasorang sehananig tenung, sakeluiring mantra, tutur satus cakep alah denia, banten asoroh alah denig ajuman adulang, mangkana uttama nia ya sira ngangge panugrahan iki, nanging sira tan weruh ring kawisesanta, yan genahang ring umah, Sang Ratuning sarira, dadi pangijeng umah, sedaging pekarangan kaempu denia, nanging elingakna baktinin dening banten ngangken dina rahayu, wenang sira ngangge pangijeng umah, tan kewasa sira kelangkahin, tan keneng wisya, pepasagan, papendeman, acep-acepan, umik-umikan, sakwehig pagawe ala alah denia.
 
Malih yan sira astiti bakti ring Ida, wenang gawenang Khayangan, nista nia, Turus lumbung, Madya nia Gedong, Padma Uttama nia, aywa lupa ring bebanten nia, ngangken dina rahayu, dadi sakti kiwa tengen, tan kasoran dening sarwaning sakti, katekanig Desti, Leak, Bebai, pada nembah ring sira, dadi kauttamanig balian. kauttamanig mantra, kauttamaning kamoksan sekala niskala, sira mungguh suwaha, mangkana uttamnig tutur iki.
 
Iki kaweruhakna, pewarah Bhatara ring Dalem, duk sira wawu mijil ring madya pada dadi manusa, Sang Hyang Tiga Sakti sareng mijil, kairing dening Sang Hyang Panca Maha Bhuta, Ida Sang Hyang Tiga Sakti anerus ring buwana agung, dadi panembahan jagat, malingga ring Pura Dalem, nga. Sang Hyang Sunia Mretta. Ne malingga rig Pura Puseh, nga, Sang Hyang Legi Swara. Ne malingga rig Pura Desa, nga, Sang Hyang Manu Ida, Sang Hyang Tiga Sakti tunasin kasidian, reh Ida Sakti sidhi ngucap, Ida punika susupang ring raga, Bhtara Dalem adegang ring Siwadwara, nga, Ayu Mas Rangda. Bhatara Puseh adegang ring uswan, nga, Sang Hyang Nila Sraya, Bhatara ring Desa adegang ring selanig lelata, nga, Sang Hyang Smara Bhawa. Ida sakti ring sarira, tan hana wani ring sira.
 
Muang Sang Hyag Panca Maha Bhuta, weruh akna kawisesan nia sowang-sowang, muah pasurupan nia kabeh ring sarira, iki luir nia: Ikang panuwa meraga Yeh Nyom, Dadi Bhuta Putih, dadi Bhuta Anggapati, nga, Sang Sidarasa, madeg patih rig Pura Ulun Swi, nga, I Ratu gurah Tangkeb Langit. dadi Dewan Tugu, Dewan Badugul, dadi dewan Sedahan Sawah, muah dadi Dewa pangempu Gumi, dadi Dewa Sarwa sato, yan ring raga magenah ring Kulit. pewayangan nia, segara tanpa tepi, aksara nia SANG meraga mretta sanji wani, trebasan nia dadi peluh, wenang nglukat saletehing sarira, sarat mangan, yadyan kena saupedrawaning Pitara, kalukat denia, Pewayangan nia katon kadi langit galang, kadi kukus, kadi damuh kumaretes, Lelaban nia, ketipat dampulan, taluh bekasem, canang pasucian, segehan nasi kepelan, iwak bawang jahe tasik ireng.
 
Sane paling wayahan, mawak getih, dadi Bhuta Bang, dadi Bhuta Mrajapati, nga, Sang Sidha Sakti, madeg pepatih ring Pura Sada, nga, I Ratu Wayan Teba, dadi Dewan gunung-gunung, Dewan alas, Dewan Marga, Dewan Geluh, yan ring rag Ida magenah ring getih, nga, Tampaking Kuntul ngelayang, aksara nia, BANG, meraga mretta kamandalu, trebasan nia dadi bayu, Wisesa nia nyaga satru rahina wengi, anulak sakeluirig dusta durjana, sekaryaning ala wedi denia, pewayangan nia katon kadi geni, kadi gunung, kadi alas, kadi taru mageng, kadi marga lor. Laba nia, ketipat galeng, ulam taluh, canang pasucian, segehan nasi kepelan barak, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Sane madenan, mawak ari-ari, dadi Bhuta Kuning, dadi Bhuta Banaspati, nga, Ratu Maskuwanda, madeg pepatih ring Pura Puseh, meparab Ratu Made Jelawung, dadi Dewan karang, Dewan tegal peabianan, dadi Dewan Mala Hening, ring ragane magenah ring daging, nga, Galihing Kangkung, Aksara nia, TANG, meraga mretta kundalini, trebasan nia ring bulu, rambut, wisesa nia nulak sakeluirin upas, wisesa nia, mandi teka tawar denia, pewayangan nia katon kadi tegal, kadi angin, kadi umah, kadi tembok tegeh, lelaban nia, ketipat gangsa, iwak sate gede, canang pasucian, segehan nasi kepelan warna kuning, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Sane nyomanan, mawak lamas, dadi Bhuta Ireng, dadi Bhuta Banaspati Raja, nga, Sang Aji Putih, madeg pepatih ring Pura Dalem, meparab, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, Ida sakti tan kena winilang, sakti sekama-kama, Ida dadi Dewan Sema, Dewan Tukad, Dewan pangulun pangkung, dadi dewan Detya Tonya, dadi Dewan Samar, dadi Dewan Taksu, unen-unen, taksu dalang, taksun balian, tenung, saluiring balian sakti, ida ngelancubin, sakti nerus, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yan ring raga magenah ring otot, nga, galihig kangkung, aksara nia, ANG, meraga tirta amretta, trebasan nia dadi banyu, Ida wenang ngasorang saluiring mantra uttama. Ida wenang ngawe piolas, ngawe pangedeg, ngawe ujan, manerang, Ida wenang impasin grubug, saluiring panca baya ring sarira, teka tingglar denia, wenang ngawe pangidep ati, wenang ngawe peglantih medagang, maha sakti maya-maya, wenang ngawe koos, ngawe inih, pewayangan nia katon kadi paksi, kadi manusa patuh ring ragane, kadi anak lingsir masaput poleng, kadi sarwa sekar, laba nia ketipat gong, iwak nia taluh maguling, canang pasucian, segehan nasi kepelan ireng, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Malih sane pinih ketutan, meraga yeh heningan sarira, dadi Bhuta Manca Warna, nga, Bhuta Tiga Sakti, dadi Bhuta Dengen, madeg patih ring Pura Desa, meparab I Ketut Petung, dadi Pagempu anak beling, dadi pangempu rare, dadi pangempu raga, tan sangsaya ring paran-paran, muang dadi sarwa karya, dadi sangging, dadi tukang, dadi pande, yan ring raga magenah ring jajah, nga, Lontar tanpa tulis, Aksara nia, ING. meraga mretta pawitra, trebasan nia dadi rasa, Ida dadi pengasih jagat, wenang ngalahang satru sakti, pewayangan nia katon kadi peken, katon kadi rare, kadi anak luh jegeg, dadi Dewan gumatap gumitip, laba nia ketipat lepet, ketipat nasi pada-pada akelan, ulam taluh bebek, canang pasucian, segehan nasi kepelan brumbun, iwak bawang jahe tasik ireng,
 
Pangredanan nia, panugrahan Bhtara ring Dalem. I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Ratu Made Jelawung, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, I Ratu Ketut Petung, aja sira lali asanak ring ulun, apan ingulun tan lali bakti astiti ring sira, lah pada metuta sira maring sunianing adnyana, wehan ulun wara lugraha sakti sidhi ngucap, Wong winursita rahasya muka, angamet sarining mretta kesuma namah swaha.
 
Malih hana pangredanan nia liyan. wenang dulurin antuk atur polos. saha pinunase, yan sampun patut upekarane, dadi sidhi sakti sakeluiring tunas, yan sira kurang kasidhian, arad Ida, mangda gelis manyeneng ring raganta, karyaninn ketipat kadi munggah ring arep, dulurin rayunan apajeg kadi katur ring anak agung, ulam bawi, bebek, pada wenang, olah dena sregep, mangda sami becik, maduluran peras ajuman, suci asoroh, daksina, sarwa rantasan, kampuh poleng, tetabuhan genep, arak, tuak, brem, yeh, mangkana krama nia, yan makayun ngadegang kasidhian ring ragane, ayat Ida, Sang Hyang Panca Maha Bhuta muang Ida Bhatara ring Dalem, Puseh, Desa, sami susupang ring raga, mangda sami Ida sweca, ngawijilang iyuse. Mekadi pangenter kesaktiane, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, sareng sameton sami, sane sampun madeg patih, nampihi I Ratu Nyoman.
 
Iki tatenger nia ring raga.
 
Yan kerasa gede raganta, muah metu peluh tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Ngurah Tangkeb Langit malancub ring raganta, sakwehing leteh ring raga ilang de nia.
 
Yan kerasa kebus bahang murub, ika cihna nia I Ratu Wayan Teba melancub ring raganta, sakwehing satru muang gering kalukat den nia,
 
Yan kerasa makesyab awakta, muah mabuah-buah kulit bulunta jering-jering, ika cihna I Ratu Made Jelawung melancub ring raganta, sakwehing wisya, upas, lebur den nia.
 
Yan kerasa makleteg tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan melancub ring raganta, sakwehing wisya pada ilang den nia.
 
Yan kerasa teteh mangrawos, ika cihna nia I Ratu Ketut Petung melancub ring raganta, sakeluiring satru pada asih den nia, muang sanak raman nia, mangkana kramania sowang-sowang aywa lupa, ingeta akna.
 
Puput kesalin manut ring babon nia,
olih Mangku Tude Gembrong.
Saking Banjar Nyuh. Desa Pakraman Nyuh Kukuh.
Desa Ped. Kec. Nusa Penida. Kab. Klungkung. Bali.
ring dina Sukra, Wuku Dukut, Sasih Kalima, Isaka 1929.
Tanggal Masehi 2 Nopember 2007.
 

“NANDURIN KARANG AWAK”: MENYEMAI DI LADANG DIRI.


Oleh Sugi Lanus
 
Nandurin Karang Awak” diambil dari sebaris kalimat yang ditulis Ida Pedanda Made Sidemen dalam puisi (geguritan) berjudul “Selampah Laku“.
 
Karang‘ berarti tanah, ‘awak‘ berarti diri (di dalamnya mencakup diri saya, kamu atau pribadi lainnya), sedangkan ‘nandurin’ berarti mengolah atau menanam. Frase “nandurin karang awak” merupakan ucapan atau nasihat sang penyair kepada sang istri ketika memulai pengisahan perjalanan hidupnya, sebagaimana yang disurat dalam Geguritan Selampah Laku.
 
Kutipan sebait bait lengkap dari Geguritan Selampah lagu yang berisi ‘karang awak’ sebagai berikut:
 
“Beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo ring desa-desa.”
 
Syair itu dapat diartikan:
 
“Kanda sekarang, bersiap menjalani hidup dalam kesederhanaan, tidak punya tanah sawah, pekarangan badan-lah yang (kita) tanami, menjalani hidup dengan pedoman pengetahuan dan kesahajaan pedesaan, sebagaimana berlaku di desa-desa.”
 
Entitas ‘karang‘, ‘awak‘ dan ‘tandurin‘ sebenarnya independen. Namun, dalam kehidupan, ketiganya justru saling tergantung satu sama lain, dalam relasi oleh manusia dengan alam dan budaya agraris. ‘Nandurin‘ menjadi representasi dari kegiatan pertanian, ‘karang‘ menjadi representasi alam, dan ‘awak‘ adalah representasi diri manusia.
 
Melalui gagasan ini, Ida Pedanda Made Sidemen mengajak setiap pembacanya untuk melihat ke dalam diri sendiri dan tidak lagi menoleh ke mana-mana untuk memulai hidup yang bersahaja.
 
Ketika beliau mengatakan bahwa “karang awake tandurin” ketika itu beliau menganjurkan kita utk tak menoleh kemana-mana, bahkan tidak lagi perlu kita melanjutkan kalimat2 dalam karya sastra beliau yang sedang kita baca: “Masuki diri sendiri, pahami diri, renungi sampai ke akar-akarnya diri”.
 
Beliau menulis sastra untuk berhenti “bersastra” lalu menuju “laku diri”.
 
Kesastraan kita, jika bercermin dari karya Selampah Laku, sejauh ini cenderung bersastra utk ‘mendebat’. Menjadi rumit dengan diri. Peranda Made dalam karya-karya beliau–Selampah Laku dll– mengembalikan esensi kata ‘sastra’, yang berakar pada SAS-TRA, yaitu aliran yang membebaskan..
 
Beliau mengajak kita menuju ke aliran sastra yang mengalir di bumi bermuara di dalam hulu diri. Yang paling radikal, beliau mengajak kita terbebas dari sastra itu sendiri, setelah cukup mengantar kita di tepian diri, kita dimintanya meletakkan ‘perahu sastra’ itu di luar, utk menjadi berani berhadap-hadapan dg diri sendiri, merenungi diri. Jika bandingkan dg filsafat Barat, “Selampah Laku” adalah karya perenungan essensialis sekaligus ekstensialis. Essensi dan eksistensi diri direnungi, dimasuki, lebih jauh untuk ditanami (tandurin).
 
Bagi anak petani seperti saya, kata ‘karang‘ dan ‘awak‘ itu adalah ‘variable identitas’ dan ‘variable spiritualitas’; petani ‘mengada’ dengan adanya ‘awak‘ dan ‘karang‘. Jika petani ‘tanpa karang’ ia bukan petani. Jika petani tanpa ‘awak’, ia bukan manusia berkesadaran. Ketika 2 kata ini (karang+awak) digabung menjadi phrase “Karang awak“, phrase ini telah berdiri dan mengkristal menjadi formula filsafati yang berakar pada masyarakat pertanian yang menjungjung harga diri petani, petani yang menempuh jalan ‘ketuhanan’ dengan cara memasuki diri. Menjadi petani, dengan berbekal petunjuk sastra filsafati ini artinya petani mencangkul dan menyemai benih-benih di ladang tegalan dan sawah di luar, sekaligus berladang-tegalan-sawah di dalam diri ‘karang awak‘.
 
Ida Pedanda Made Sidemen mewariskan karya-karya filsafati yang sangat mendalam. Kadang kita baru membacanya sepenggal-sepenggal, tapi sudah latah mendiskusikan dan pongah menjadikannya slogan atau pamflet; akibatnya kitapun terhantar menuju pemahaman “sepenggal-sepenggal”, dan melahirkan pola tingkah “setengah-setengah” (nyalah-nyalah).
 
Ida Pedanda Made Sidemen lahir pada tahun 1878 di Intaran, Sanur, Bali, dan berpulang pada tahun 1984. Selain menghasilkan geguritan, beliau juga mencipta kidung, teks religius, dan puisi tradisional yang biasa disebut kakawin. Selain dikenal luas sebagai penulis karya tulis di atas daun lontar, Ida Pedanda juga dikenal sebagai pengukir topeng, pembuat kulkul (kentongan dari kayu), arsitek tradisional atau undagi yang banyak merestorasi dan renovasi Pura-Pura di Sanur sampai Gianyar.
 
“Nandurin Karang Awak” adalah metafor dunia agraris, metafor yang memancing kerinduan kita untuk menengok hijau sawah dan kemuning tegalan. Ida Pedanda Made Sidemen mengajak kita kembali membumi. Setelah kita menginjakkan kaki pikiran kita di atas di bumi, beliau menyapa kita untuk ingat diri, kembali ke ‘awak’, yang ternyata di dalamnya menunggu bentangan ‘karang’ persawahan yang harus kita garap sendiri, dalam sunyi, dan harus kita garap sendiri.
 
*Versi Inggeris catatan ini dibaca dalam acara ‘tribute night’ untuk Ida Pedanda Made Sidemen, digelar pada malam pertama penyelenggaraan ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’, Selasa (5/10/2011), di Pura Dalem Ubud sekitar pukul 19.30 WITA. Tema dari ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’ adalah “Nandurin Karang Awak: Cultivate The Land Within”.

INI BUKAN SOAL “KARANG AWAK”, TAPI SOAL “NGADEP KARANG”


Oleh Sugi Lanus

*Catatan Harian Januari 2003.

Karena saya mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Bali (dan Jawa Kuno), semasa kuliah saya diajak mengkaji kemuliaan pemikiran dan konsepsi filosofis “KARANG AWAK” (dikutip dari ‘Geguritan Salampah Laku’ karya Ida Pedanda Made Sidemen).”KARANG AWAK” terjemahannya adalah ‘ladang diri’ atau ‘pekarangan diri’, di dalamnya menyentuh persoalan akar keimanan, pekerti, hati nurani, pintu menuju kemuliaan di dalam diri.

Belakangan saya perhatikan “KARANG AWAK” (ladang diri: keimanan, pekerti, hati nurani, pintu menuju kemuliaan di dalam diri) begitu kerap disitir-sitir banyak menjadi jargon dan pemanis pidato.

Tapi catatan saya ini bukan soal “KARANG AWAK” tapi bahaya laten “NGADEP KARANG” (menjual tanah leluhur) yang justru telah memporak-poranda “KARANG AWAK” manusia Bali dewasa ini.

NGADEP KARANG (menjual tanah) Bali menjadi persoalan laten Bali, dan kita sering terpancing, bukan menjadi penahan derasnya arus ngadep tanah, tapi mencari untung sendiri, dengan menjadi maklar dan agen-agen yang memancing di air keruh.

“Orang Bali akan terpinggirkan di pulaunya sendiri”.

“Kita akan tergusur oleh pendatang. Pulau Bali akan dipenuhi bangunan-bangunan wisata dan ruko-ruko, sementara tempat tempat suci akan terhimpit di antara pusat-pusat bisnis itu”.

“Kita akan seperti orang Betawi, yang terpinggirkan dan tak punya tanah di pulau kelahirannya sendiri”.

Kalimat-kalimat tersebut, semakin sering kita dengar sebagai ungkapan “putus asa” orang Bali. Ungkapan-ungkapan itu mengabstraksikan keresahan masyarakat Bali terhadap kerusakan pulau yang dihuninya. Keresahan terhadap nasib bangunan-bangunan suci atau pura yang memang kian terhimpit bangunan-bangunan yang didirikan untuk kepentingan bisnis atau pariwisata. Keresahan masyarakat Denpasar terhadap kian berjubelnya para pendatang dari pulau lain.

Salahkah masyarakat yang resah? Kita tak bisa menyalahkan mereka. Keresahan ini akan terasa wajar seandainya kita lebih jauh menelisik “sejarah keresahan” mereka.

TERBUKANYA BENTENG BALI

Dalam sejarah Bali, umumnya warga desa adat di seantero Bali sebelum era Belanda, sangat mensakralkan dan menjaga kawasan pura-pura mereka. Ini bisa kita lihat bagaimana kisah peneliti-peneliti Bali asal Belanda, seperti Stutterhim dan juga Dr Goris yang begitu susah untuk meneliti pura-pura yang menyimpan prasasti-prasasti. Pada awal-awalnya, masyarakat Bali tidak mengijinkan warga desa lain masuk wilayah pura mereka tanpa alasan yang jelas. Apalagi buat orang asing yang ingin membaca prasasti-prasasti mereka. Namun berkat “pendekatan” para peneliti-peneliti Belanda waktu itu begitu kukuh, dengan keahlian mereka terhadap budaya dan pembacaan prasasti, ditambah lagi kekuasaan Belanda yang mencengkram Bali ketika itu, maka terbukalah pura-pura itu buat mereka. (Sisi baiknya, terbukalah juga isi-isi puluhan prasasti-prasasti yang sangat dikeramatkan itu).

Semenjak itu, era Belanda, pura-pura di Bali mulai “dibuka” untuk orang asing. Dan, tentu saat itu tidak semua orang bisa asing bisa masuk pura. Seorang pelukis Eropa, Niewankamp, yang pertama masuk Bali tahun 1904, setelah beberapa kali kembali datang ke Bali, dan beberapa kali mendatangi Pura Pucak Penulisan, di kawasan Kintamani, tidak diijinkan masuk pura itu. Ia sempat diusir oleh kelompok warga adat.Ia akhirnya diam-diam dengan masuk pura itu dan melukis beberapa bagian bangunannya, tanpa pengetahuan warga adat.

Terbukanya beberapa pura-pura Bali untuk dijadikan sight seeing atau objek kunjungan wisatawan pada awal era pariwisata tak lepas dari polemik dan perdebatan warga atau penyungsungnya. Kalau kini banyak pura-pura sudah masuk brosur-brosur agen perjalanan wisata, “penjualan” seperti ini telah memakan banyak perseteruan warganya. Apakah warga setuju membuka pura mereka untuk orang asing atau tidak? Di beberapa tempat, ini menjadi sumber konflik yang laten memecah warga desa adat. Pura Besakih yang kini menjadi objek favorit kunjungan para wisatawan, apakah memang dari semula bisa dimasuki pengunjung-pengunjung yang tidak sembahyang? Silahkan pembaca jawab sendiri.

PURA-PURA TERGUSUR (TERHIMPIT) HOTEL

Setelah beberapa pura-pura mulai terbuka buat orang asing, yang hanya alasan sebagai wisatawan dan tidak sembahyang bisa leluasa masuk pura-pura yang dulu disakralkan, Bali semenjak era tahu 1970-an memasuki tahap persoalan lebih gawat: terhimpitnya pura-pura. Beberapa Pura Segara di kawasan-kawasan wisata, seperti di Sanur, Legian dan Kuta, kian terhimpit. Sekarang beberapa pura-pura tersebut sulit dibedakan halamannya dengan halaman hotel atau resort yang menghimpitnya. Beberapa pura-pura di pantai-pantai yang dipenuhi hotel-hotel dan restoran, pura seolah-olah adalah pelengkap atau “taman bunga” dari hotel-hotel yang berdiri tinggi menggangkang.

Ketika BNR (Bali Nirwana Resort) beserta lapangan golfnya dibangun, baru saat itu keresahan masyarakat Bali meletus jadi demo besar-besaran. Tapi, demo tinggal demo, kafilah tetap berlalu. Pembangunan BNR jalan terus, pendemo menggerutu sendiri, kehabisan tenaga, kemarahan masa atas terganggunya Kawasan Suci Pura Tanah Lot, seperti bisul saja, meletus lalu “sembuh” sendirinya. Turun Bhisama PHDI. Tak lama saja, kemarahan massa terdiam sendiri. Proyek jalan terus.

[Reklamasi Serangan menuai penolakan dan mangkrak semenjak 1996. Kini, tambahan catatan untuk meng-update catatan ini: Semenjak 2013 sampai 2016 rencana reklamasi mendapat penolakan massif dari NGOs, pemuda, pemerintah lokal (Pemkab Badung dan Pemerintah Kodya Denpasar), serta  desa-desa pakraman yang secara formal lewat rapat atau paruman desa, serta surat ke Presiden RI ditayangkan secara formal oleh 30 desa pakraman].

PURA SUBAK KEHILANGAN SAWAH

Di wilayah perkotaan, semenjak pengembangan Kota Denpasar dan Bandung, dari awalnya sudah mengorbankan Subak. Pusat pemerintahan (kantor gubernuran) di Kawasan Renon, sebelumnya adalah lahan persawahan yang produktif. Kini, Pura Subak di kawasan Renon itu tak punya “penyungsung”. Kalau sawah-sawah telah jadi bangunan-bangunan dan perumahan, lalu Pura Subak apa fungsinya? Sudah belasan Subak yang punah di Denpasar dan Badung. Banyak yang menunggu giliran untuk “dieksekusi mati”. Artinya, telah banyak Pura Subak telah kehilangan fungsi. Silahkan tanya orang-orang tua warga Denpasar dan Badung, berapa subak telah lenyap? Lalu, mari kita bersama-sama berhitung berapa Pura Subak yang “nganggur” (Akan digusurkah? Dijadikan ruko-ruko, KFC atau Dunkin Donuts?)

Mungkin kita semua bertanya: “kemana” Ida Betara-Betari kalau pura-pura Beliau kehilangan sawahnya, kekeramatannya dan kehilangan fungsinya?

MENJUAL NATAH KARANG

Bukan hanya wilayah perkotaan, di desa-desa seantero Bali, pendatang memang datang. Pendatang punya hak untuk datang dan membeli tanah, bangunan, pakarangan (yang tentunya ada sanggah dan tugu keluarga di dalamnya), sebab Pulau Bali adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mereka (pendatang-pendatang itu) adalah warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka punya hak, seperti juga orang Bali punya hak merantau mencari penghidupan ke Sulawesi, Sumatera, Jakarta, Surabaya, Flores, Papua, serta pulau dan kota-kota di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak ada salahnya mereka, tak bisa juga disalahkan masyarakat Bali (Denpasar) yang kian resah karena pendatang. Setiap tahun pertumbuhan penduduk Denpasar cukup tinggi, sebesar 3,1 % pertahun. Ini terdiri dari 0,7 % secara alami (kelahiran), dan 2,4 % karena migran (pendatang). Sekarang penduduk Denpasar 65% kelahiran Denpasar dan 35% pendatang. Tidak dapat disalahkan juga penduduk pulau lain datang sebab Bali (sekali lagi) adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka ingin juga “berebut gula” di Bali yang perkapitanya cukup baik dibanding rata-rata wilayah Indonesia.

Artinya: Masalah kependudukan di Denpasar adalah sangat serius. Ini sebuah potensi konflik yang besar kalau tidak ditangani secara arif. Kalau penangannya tak arif, justru penanganan yang berlebihan dan petugas-petugas yang sebelumnya digaji dan dibentuk untuk mengatasi persoalan ini mempercepat dan memicu meledaknya konflik. Kita dituntun untuk kembali meninjau peraturan yang telah membuat “sewot” pendatang, sekaligus kita perlu kembali menertibkan petugas-petugas penertib yang tak sopan. Perlu pelibatan banyak pemikiran.

Dan masalah kependudukan ini, akan menjadi sebuah persoalan besar kalau ditarik-tarik menjadi persoalan agama dan etnis. Peristiwa pengeksekusian Sanggah keluarga di natah Nyoman Netri (yang sempat dipolemikkan di koran pada awal tahun 2003), yang kemungkinan sudah dibeli secara sah oleh warga yang kebetulan bukan warga Bali itu. Jangan sampai persoalan ini ditarik-tarik menjadi persoalan antar warga pendatang (non-Hindu) dengan persoalan warga adat (Hindu). Ini persoalan penjualan natah pekarangan/ halaman rumah keluarga dengan pembelinya. Masalah pembongkaran sanggah tersebut dapat bisa dipecahkan dengan mendengar petuah para Sadhaka dan Sulinggih serta pengelingsir desa Adat. Bukan dengan pengerahan massa. Bukan dengan meletikkan atau menyulut sentiment umat.

Penjualan tanah natah ini bukan hal yang baru di Denpasar. Berkali terjadi. Bedanya, sempat menjadi kasus dan diberitakan media. Puluhan, mungkin ratusan natah karang dan rumah umat Hindu telah beralih tangan (dijual) ke umat lain. Kalau umat lain telah membeli tanah pekarangan kita yang ada penumun karang atau tugunya, apakah umat lain yang membeli itu kita wajibkan untuk merawatnya atau mertenin? Kita wajibkan mereka mebanten pada tugu itu? Buat umat lain, sanggah dan tugu tentu “tidak punya fungsi”. Seperti juga warga Bali yang membeli rumah warga Muslim di Jakarta yang ada musholla (ruang sholat) keluarganya. Apakah kita (warga Hindu) yang membeli rumah itu akan memfungsikan musholanya tetap sebagai musholla?

Setelah peristiwa ini, sebaiknya pemuka adat dan agama, serta kita semua, harus duduk bersama membicarakan hal ini. Mencarikan jalan tengahnya. Walaupun kita tidak berharap warga Bali menjual karang natahnya, setidaknya kalau mereka terjepit atau terpaksa menjual rumahnya, mereka tahu mau kemana mereka minta petunjuk penyelesaian sekala niskala yang mereka hadapi.

PERSOALAN TANAH ADALAH PERSOALAN AGAMA

Sebagai warga Bali, dengan melihat sejarah “terbukanya” pura-pura buat orang asing dan selanjutnya dijadikannya pura-pura sebagai objek wisata, terhimpitnya banyak pura-pura di tengah ruko-ruko, mal-mal, hotel-hotel dan resort wisata, punahnya subak-subak beserta Pura Subak-nya di perkotaan-perkotaan Pulau Bali, dan terjadinya fenomena masyarakat urban berupa beralih tangan (dijualnya) karang natah umat Hindu ke umat lain, kita dituntut lebih bijak mengurusi persoalan palemahan gumi Bali kita.

Buat kita orang Bali, persoalan natah dan tanah adalah “persoalan agama”, menyangkut keimanan dan ketuhanan manusia Bali. Di tanah dan natah masyarakat Bali, tegak berdiri ribuan tugu dan Sanggah. Lebih besar lagi, berdiri Pura-pura Puseh, sungsungan warga desa adat. Semua pura-pura Sad Kayangan dan pura-pura (parahyangan-parahyangan) lainnya bergantung dari “keutuhan” tanah Bali. Persoalan pelemahan (tanah) adalah persoalan parahyangan (tatanan religiusitas).

Kalau kita menyadari bahwa semua umat Hindu Bali keutuhan lahir-batinnya tergantung parahyangannya, kita dituntut bersikap arif terhadap persoalan tanah dan palemahan di mana parayangan kita berpijak. Kalau kita tidak secara serius memahami dan menyikapi dengan arif persoalan-persoalan yang terkait dengan tanah dan natah kita, dimasa depan benturan terbesar yang terjadi di tengah masyarakat Bali akan muncul dari tanah dan natah. Ini adalah cikal-bakal pecahnya umat Hindu sendiri, telah terlihat dari pecahnya keluarga-keluarga karena sengketa tanah dan natah. Kemalangan kita akan makin bertambah, kalau kita mencari kambing hitam, menjadikan warga perantauan (warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pulau-pulau lain yang merantau ke Bali) menjadi sasaran kemarahan kita.

Dari waktu ke waktu, semakin menumpuk persoalan di pulau yang kita cintai bersama ini. Karenanya, kita mesti lebih banyak merenung: Tidakkah kita sendiri yang teledor?

Leluhur Bali berjuang keras mempertahankan tanah Bali lewat hukum adat dan awig-awig pakraman, bahkan perang perlawanan melawan penjajah: Kenapa kita begitu mudah menjual karang tanah leluhur kita? Begitu mudah menyerahkan tanah air Bali ke pihak-pihak yang datang dengan berbagai upaya menguasai ruang hidup dan tempat-tempat yang disucikan serta wilayah dwe (tanah warisan dan milik desa serta wilayah ulayat Pura), bengang serta karang suwung (tanah atau wilayah konservasi) kita? Kenapa?

Jangan-jangan “ngadep karang” (menjual tanah leluhur) ini terjadi karena semakin banyak wong Bali telah menjual “karang awak-” (ladang diri: keimanan dan pekerti serta hati nurani) -nya sendiri? “Ngadep karang” yang dianggap “hal biasa” pun telah memporak-porandakan “karang awak” dan masa depan manusia Bali.

BENARKAH TELUK BENOA SEBUAH KAWASAN SUCI?


 

Sugi Lanus

Hanacaraka Society

 

 

I

PENDAHULUAN

Nápsu mūtram purīsam va, sthīvanam va samutsr̥jet, amedhya liptam anya, dva lohitam vavisani vá.

“Hendaknya ia jangan melempar air kencing atau kotoran ke dalam aliran air (sungai), tidak pula air ludah, juga tidak boleh melemparkan perkataan yang tidak suci, tidak pula kotoran-kotoran, tidak pula yang lain, tidak pula darah atau suatu yang beracun”.

Manawa Dharmasastra IV. 56.

Pratyagniṃ pratisūryam ca pratisomodakad vijān, prātigān prativātam, ca prajna naśyati mehataḥ.

“Kecerdasan orang akan sirna bila kencing menghadapi api, mata hari, bulan, kencing dalam air yang mengalir, menghadapi Brahmana, sapi, atau arah angin”.

Manawa Dharmasastra IV. 52.

 Sám anyā́ yánty úpa yanty anyā́ḥ samānám ūrváṃ nadyàḥ pr̥ṇanti,  tám ū śúciṃ śúcayo dīdivā́ṃsam  apā́ṃ nápātam pári tastʰur ā́paḥ

“Sejumlah besar air, bersama dengan yang lainya berkumpul menjadi sungai yang mengalir bersama-sama menuju ke penampungan (muara dan teluk). Air yang murni (suci), baik dari mata air maupun dari laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan”.

Rg Veda II. 35.3.

 Oṁ Dyauḥ śāntir antarikṣaṁ śāntiḥ, pṛthivī śāntir āpaḥ śāntir, oṣadhayaḥ śāntiḥ vanaspatayaḥ śāntir, viśve devaḥ śāntir brahma śāntiḥ, sarvaṁ śāntiḥ śāntir, eva śāntiḥ sā mā śāntir edhi.

“Semogalah selaras (damai) dengan atmosfir, dengan langit dan bumi. Semogalah selaras dengan air, tumbuh-tumbuhan dan tanaman obat  sebagai sumber kebahagiaan. Semogalah para dewata dan Tuhan Yang Mahaesa menganugrahkan kedamaian dan  keharmonisan kepada kita semua. Semogalah terdapat keserasian di seluruh pelosok. Semogalah keharmonisan itu datang kepada kami.”

Yajurveda XXXVI 17

 

Penghormatan kepada petoyan, petirthan, beji, segala mata air, danau, sungai, campuhan, loloan, teluk dan pesisir, serta laut, menduduki posisi sangat penting dalam Agama Hindu Bali. Penghormatan dan penyucian Hindu Bali terhadap air menyebabkan Agama Hindu di Bali disebut juga Agama Tirtha. Tiada satu upakara agama Hindu di Bali bisa selesai tanpa kehadiran tirtha.

Nilai-nilai dan ajaran Agama Tirtha itu tercermin dan menjadi pedoman ruhani masyakatan Bali. Dalam kehidupan sehari-hari manusia Bali dituntut hati-hati dan menjaga kesucian air dan salurannya. Berbagai ajaran lisan dan tertulis mengamanatkan manusia Bali eling dan jagra, penuh sadar hormat pada alam dalam menjalani kehidupan.

Sebagai contoh ajaran Lontar Karang Panes mengajarkan kita bagaimana memilih tempat bermukim dan sarana umum lainnya. Disebutkan diantaranya: Tan wenang (tidak dibenarkan atau dilarang) ngurug/membangun di titik bekas pengalapan sawah (saluran masuk air sebuah petak sawah), jurang dan pangkung. Disamping larangan untuk bermukim di karang (pekarangan) yang kena tumbak rurung (‘tertusuk’ jalan’), larangan lebih besar adalah tinggal atau bermukim di karang tumbak tukad (tanah yang ‘tertusuk’ sungai).

Demikian pula nilai-nilai Tri Hita Karana – yang menjadi pedoman Desa Adat Pakraman dan anutan krama (warga) Bali, yang terdiri dari Parahyangan (aspek Ketuhanan), Palemahan (aspek lingkungan dan alam), dan Pawongan (aspek manusia dan pratana social) – salah satu pilarnya yaitu palemahan memberikan kita pedoman nilai-nilai yang melingkupi aturan dan larangan membangun. Dilarang membangun di ‘karang karubuhan’ (pekarangan yang tumbak rurung/ jalan), ‘karang sandang lawe’ (pekarangan yang pintu keluarnya berpapasan dengan persimpangan jalan), ‘karang sulanyapi’ (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan), ‘karang buta kabanda’ (pekarangan yang diapit lorong/ jalan), ‘karang teledu nginyah’ (pekarangan ujung tukad, loloan, campuhan), ‘karang gerah’ (pekarangan di hulu Kahyangan), ‘karang tenget’ (areal yang dikramatkan seperti laut, pesisir tempat mlasti, muntig, bengang, alas madurgama, prapat agung, pohon-pohon yang disakralkan), ‘karang buta salah wetu’ (tanah atau lokasi yang tidak pantas kemunculannya seperti: urugan/timbunan sungai, rugan/timbunan jurang, aliran subak, pengalapan carik), dstnya.

Jamak dan diyakini sebagai kearifan lokal (ajaran leluhur) bahwa mengurug atau menutup mata air dan saluran air adalah tindakan yang mendatangkan pemali (terganggu secara energi gaib) dan sengkala (celaka). Hal ini diketahui oleh semua leluhur kita sehingga sangat hati-hati bahkan menghindari tindakan mengurug sumur, pengalapan, selakunda (saluran subak), telabah (kali), pangkung (jurang aliran air), tukad (sungai), serta saluran air lainnya.

Titik pertemuan air seperti loloan dan campuhan disucikan, dikeramatkan dan menjadi tempat atau titik suci menjalankan upakara. Berbagai upakara dilangsungkan di tempat-tempat ini karena keyakinan orang Bali pada energi semesta dipertemukan di titik ini dan memberi kerahayuan (kesucian rohani) jika dijaga atau disucikan. Sebaliknya akan membawa sengkala salampah (celaka seumur hidup) jika diutak-utik.

Laut dan pesisir adalah tempat suci untuk mlukat dan mesepuh, meruwat semua leteh dan mala. Laut dan pesisir adalah tempat suci untuk melasti, pekelem, ruwat, melukat dan ngayud. Berbagai lontar, baik pedoman Pemangku dan Sulinggih (Rsi, Empu, Dukuh, Padanda), menyimpan berbagai mantra atau puja berupa Samudra Stawa atau Apah Stawa yang menggagungkan kebesaran dan karunia Dewa Baruna dan juga Bhatara Badawang Nala yang menjaga laut dan pesisir. Para Dewa-Dewi menjaga laut, memberi berkah, dan juga memberi kita ganjaran pelajaran bencana alam jika kita tidak urati (perhatian menjaga dan bakti).

Istilah kena pamali (kena hambatan energi buruk), pastu (kutuk), kepongor (celaka dalam kehidupan karena tidak punya rasa batin yang suci dan bertindak tanpa pekerti serta tanpa rasa hormat pada kesucian) dan sengkala (celaka) adalah kearifan lokal kita yang mengajari agar kita menghormati alam sebab alam adalah sumber kehidupan sekaligus bisa menjadi sumber bencana terbesar. Jika alam kita rawat dengan hormat, berbagai berkah dan hasil alam memberi kita kesejahteraan dan sumber kehidupan. Sebaliknya, bencana dan berbagai petaka bisa muncul karena kita tidak hormat pada alam.

Selaras dengan alam, hormat dan bakti pada sesama, tidak semena-mena alam adalah pedoman terdalam Hindu.

 

II

PENGERTIAN KAWASAN SUCI

 

Pengertian tentang Kawasan Suci – baik dari pedoman peraturan perundang-undangan (Perda dan Perpres) dan pertimbangan kesucian yang merujuk pada kitab suci yang mengusung aspek sekala & niskala (Bhisama) – sangat penting dipahami bersama, baik oleh pemerintah dan masyarakat Bali, sebagai pedoman dalam melihat dan menyikapi perubahan sosial dan kultural yang terjadi hari ini dan di masa depan, khususnya persoalan keberadaan Teluk Benoa yang kini menjadi polemik.

Berikut kesimpulan dan pengertian kawasan suci sangat jelas disebutkan dalam Bhisama PHDI, Perda Provinsi Bali, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI.

  1. Kawasan Suci Menurut Bhisama

Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura, dalam Ketentuan Umum nomor 1, menyebutkan sebagai berikut:

“Agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda-weda telah menguraikan tentang apa yang disebut dengan tempat-tempat suci dan Kawasan Suci, Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian. Oleh karena itu Pura dan tempat- tempat suci umumnya didirikan ditempat tersebut, karena ditempat orang-orang suci dan umat Hindu mendapatkan pikiran-pikiran suci (wahyu).”

  1. Kawasan Suci Menurut Perda Provinsi Bali & Kabupaten Badung

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 – 2029 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI menyebutkan dalam ketentuan umum, pasal dan penjelasan-nya.

Dalam Ketentuan Umum nomor 40 disebutkan sebagai berikut:

“Kawasan Suci adalah kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti kawasan gunung, perbukitan, danau, mata air, campuhan, laut, dan pantai.”

Pasal 50, menyebutkan:

(1)     Kawasan suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf a, ditetapkan dengan kriteria:

  1. kawasan suci gunung merupakan kawasan gunung dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) derajat sampai ke puncak;
  2. kawasan suci danau disetarakan dengan kawasan resapan air;
  3. kawasan suci campuhan disetarakan dengan sempadan sungai selebar 50 meter yang memiliki potensi banjir sedang;
  4. kawasan suci pantai disetarakan dengan kawasan sempadan pantai;
  5. Kawasan suci laut disetarakan dengan kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu; dan
  6. kawasan suci sekitar mata air disetarakan dengan kawasan sempadan sekitar mata air.

Lebih lanjut dalam Paragraf 3 bagian Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Pasal 13 menyebutkan:

Strategi pelestarian dan peningkatan nilai sosial budaya daerah Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, mencakup:

  1. a. strategi pelestarian dan peningkatan nilai-nilai sosial dan budaya daerah Bali, mencakup:
  2. meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai
  3. sosial budaya yang mencerminkan jati diri daerah Bali;
  4. mengembangkan penerapan nilai sosial budaya daerah dalam kehidupan masyarakat;
  5. meningkatkan upaya pelestarian nilai sosial budaya daerah dan situs warisan budaya daerah;
  6. melindungi aset dan nilai sosial budaya daerah dari kemerosotan dan kepunahan; dan
  7. mengendalikan kegiatan di sekitar kawasan suci dan tempat suci yang dapat mengurangi nilai kesucian

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NO. 26 TAHUN 2013
 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BADUNG TAHUN 2013– 2033 menyebutkan dalam ketentuan umum, pasal dan penjelasannya.

Dalam Ketentuan Umum nomor 29 disebutkan sebagai berikut:

“Kawasan Suci adalah Kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti Kawasan gunung, danau, mata air, campuhan, loloan, sungai, pantai dan laut.”

Dalam bagian pasal, terkait Kawasan Perlindungan Setempat, pasal 25, menyebutkan:

“Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b, dengan luas kurang lebih 1.113,31 Ha (seribu seratus tiga belas koma tiga satu hektar) atau 2,66% (dua koma enam enam persen) dari luas Wilayah Kabupaten, terdiri atas: 

Kawasan Suci;

  1. Kawasan Tempat Suci;
  2. Sempadan Pantai;
  3. Sempadan Sungai;
  4. Kawasan sempadan waduk/estuary dam; dan
  5. Sempadan Jurang.

Lebih lanjut pasal 26 menyebutkan:

(1)  Kawasan Suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a, terdiri atas:

  1. Kawasan Suci gunung;
  2. Kawasan Suci campuhan;
  3. Kawasan Suci loloan;
  4. Kawasan Suci pantai;
  5. Kawasan Suci laut;
  6. Kawasan Suci mata air; dan
  7. Kawasan Suci Catus Patha.

(2)  Kawasan Suci gunung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi seluruh Kawasan dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45° (empat puluh lima derajat) pada badan gunung, lereng dan puncak gunung yang terdapat di Kawasan Pucak Mangu, Desa Pelaga Kecamatan Petang.

(3)  Kawasan Suci campuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi seluruh pertemuan aliran dua atau lebih sungai di Wilayah Kabupaten.

(4)  Kawasan Suci loloan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi seluruh tempat pertemuan muara sungai dengan air laut yang terpengaruh pasang surut air laut di Wilayah Kabupaten.

(5)  Kawasan Suci pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, merupakan pantai yang dimanfaatkan untuk upacara melasti, meliputi :

Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Seminyak, Pantai Berawa, Pantai Batu Mejan, Pantai Pererenan, Pantai Seseh untuk kegiatan melasti lintas Desa Adat; dan

Pantai Mengening, Pantai Srogsogan, Pantai Munggu, Pantai Sepang, Pantai Kelan, Pantai Kedonganan, Pantai Jimbaran, Pantai Labuan Sait, Pantai Batu Pageh, Pantai Geger, Pantai Mengiat, Pantai Samuh dan Pantai Tanjung Benoa untuk kegiatan melasti lokal Desa Adat.

(6)  Kawasan Suci laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi Kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu di Wilayah Kabupaten.

(7)  Kawasan Suci mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, meliputi seluruh mata air yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu.

(8)  Kawasan Suci Catus Pata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, meliputi : Cathus Patha Agung Wilayah Kabupaten terletak di Desa Mengwi; dan Cathus Patha Alit tersebar di tiap-tiap Wilayah Desa Adat yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu.

Dalam bagian penjelasan pasal 26 Ayat (1) disebutkan:

“Yang dimaksud Kawasan Suci menurut Bhisa-ma Kesucian Pura Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDIP) Tahun 1994, adalah gunung, danau, campuhan (pertemuan dua sungai), pantai, laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai-nilai kesucian. Selain Kawasan Suci sebagaimana dimuat dalam Bhisa-ma Kesucian Pura Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDIP) Tahun 1994, di Wilayah Kabupaten terdapat Kawasan Suci lainnya yakni Kawasan Suci loloan dan Cathus Patha. Perlindungan terhadap Kawasan Suci terkait dengan perwujudan Tri Hita Karana, yang dilandasi oleh penerapan ajaran Sad Kertih”.

  1.  Kawasan Suci Menurut Peraturan Presiden RI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO-MOR 45 TAHUN 2011
 TENTANG
 RENCANA TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN DENPASAR, BADUNG, GIANYAR, DAN TABANAN, dalam Bab I, Ketentuan Umum, Pasal 1. 18, menyebutkan dengan jelas:

“Kawasan suci adalah kawasan yang dipandang memiliki nilai kesucian oleh umat Hindu di Bali seperti kawasan gunung, danau, pertemuan dua sungai (campuhan), pantai, laut, dan mata air”.

Sekalipun belakangan keluar Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2014
 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, Dan Tabanan, tapi dalam Perpres 51 ini tidak mengubah ketentuan umum dari Prepres 45. Perpres 51 merubah beberapa pasal, namun tidak sesuai dengan dictum dan berseberangan dengan ketentuan umum Perpres 45 tahun 2011.

Karena Perpres No. 51 Tahun 2014, tidak menyentuh atau merubah Pasal 1 yaitu Ketentuan Umum dari Perpres No. 45 Tahun 2011, perihal kesimpulan dari apa yang dimaksud dengan ‘Kawasan Suci’ masih merujuk pada Perpres No. 45 Tahun 2011, sebagaimana kutipan di atas.

 

 

 

III

TELUK BENOA DALAM LINTASAN SEJARAH

 

  1. Data Historis Keberadaan Pulau Serangan, Pura Sakenan dan Teluk Benoa.

Empat (4) lontar (Babad Bhumi, Babad Tusan, Tattwa Kalawasan Petak, Pangrincik Babad) menyebutkan keberadaan Pura Sakenan dan Kawasan Teluk Benoa yang masuk sebagai kawasan Serangan, sebagai berikut:

  1. Data paling tua tentang Pura Sakenan disebut: “Paryyangan ring Sakenan nyjeneng, resi angapit ghana (627)” Pendirian Sakenan tahun 705 masehi.
  2. Babad Bhumi menyebutkan Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala: “Sasih angapit lawing”(921) atau 999 masehi.
  3. Lontar di Korn Collection, Leiden, menyebutkan bahwa Pura Sakenan dipugar tahun 929 saka (1007 masehi). Lontar ini adalah salinan dari lontar koleksi Pedanda Ngurah di Blayu.
  4. Pura Sakenan direnovasi kembali dengan Candrasangkala: “Rsi Mangapit Lawang Tunggal”(1727 saka=1805 masehi), disebut dalam Lontar Tattwa Batur Kalawasan, dan juga Lontar Pangrincik Babad.

Keempat (4) lontar menyebutkan eksistensi Sakenan sebagai kawasan terintegrasi dengan laut dan teluknya.

 

  1. Pusat Maritim Kerajaan Bali Kuno

Menurut cerita rakyat turun-temurun, Pura Sakenan dan kawasannya (Pulau Serangan dan Teluk Benoa) ditata oleh Sri Kesari Warmadewa, nama pendiri dinasti Warmadewa yang memegang tampuk kekuasaan pada awal masa sejarah di Bali.

Seperti disebutkan di atas data paling tua tentang Pura Sakenan disebut: “Paryyangan ring Sakenan nyjeneng, resi angapit ghana (627)” atau “Pendirian pura di Sakenan tahun 705 masehi”. Jika data ini valid maka keberadaannya lebih awal dari pillar peringatan Sri Kesari Warmadewa di Blanjong, Sanur, dengan angka tahun 836 Saka (914 masehi).  Letak pillar Blanjong ini tidak jauh dari Sakenan, serta sampai kini odalan atau perayaan pura di pillar ini bersamaan dengan piodalan Sakenan. Blanjong secara arkeologis dan efigrafis menyebutkan bahwa kawasan Blanjong adalah kawasan penting masa Bali Kuno dan Pura Sakenan beserta kawasannya dilindungi.

Lebih jauh berdasarkan lontar di Korn Collection, Leiden, disebutkan bahwa Pura Sakenan dipugar 929 saka (1007 masehi), dan menurut Babad Bhumi disebutkan kembali Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala: “Sasih angapit lawang” (921) atau 999 masehi. Kemungkinan pemugaran atau renovasi ini dikerjakan oleh pewaris dinasti Warmadewa setelah Sri Kesari Warmadewa.

Peran Sakenan sebagai pulau dan titik parahyangan (pura) sangatlah penting mengingat disebutkan bahwa Pulau dan Teluk Sakenan (sekarang disebut Teluk Benoa) diceritakan sebagai Pusat Maritim Kerajaan Bali Kuno dan pelabuhan kuno yang ramai, dengan bentang alam pelabuhan yang sangat strategis untuk perbaikan kapal dan penangkapan ikan terbentang dari Blanjong-Sanur, Sakenan (Serangan), Benoa dan Tanjung.

Keberadaan Blanjong dan sekitarnya sebagai Pusat Maritim Bali Kuno bukan hanya dibuktikan dengan adanya pillar Blanjong namun juga oleh hasil ekskavasi team penelitian Balai Arkeologi Bali dan Universitas Udayana yang menemukan berbagai temuan arkeologis dari Blanjong. Sayangnya situs di Pulau Serangan terlanjur banyak terkubur dan rusak akibat reklamasi Pulau Serangan dan beberapa pemugaran Pura Serangan. 

  1. Situs Perjalanan Suci Danghyang Nirartha Dan Danghyang Astapaka

Danghyang Nirartha adalah purohito atau penasehat Raja Waturenggong – raja di masa keemasan Bali di masa lalu (1472 – 1550 Masehi). Danghyang Nirartha atau dikenal juga dengan nama Danghyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh terkenal sebagai tokoh suci yang menyelamatkan dan menghidupkan kembali tradisi suci Hindu dan Buddha di Bali dengan berkeliling Pulau Bali menata kembali kehidupan beragama di wilayah pesisir Bali. Masyarakat Bali di seluruh pulau menghormati Beliau dengan membangun tempat-tempat suci dan Beliau di sthanakan di pura-pura itu.

Beliau tiba di Bali tahun 1489 M. Dan melakukan perjalanan keliling Pulau Bali, dari barat ke timur bahkan kemudian ke Lombok dan Sumbawa. Beliaulah yang menurunkan para pendeta Pedanda Siwa yang selanjutnya menjadi guru nabe sebagian besar pendeta yang ada di Bali sekarang ini. Suatu saat, di pesisir Tanjung, Pudut dan Sakenan Beliau mengabadikan lango titik renungan spiritual dan amanat gaib beliau.

Kakawin Añang Nirartha, salah satu karya Danghyang Nirartha, menceritakan perjalanan beliau dan kekaguman pada Teluk Benoa, Pudut dan Sakenan, sebagai berikut:

“Sebuah pulau besar agak dekat ke pantai, di hadapannya ada muara sungai. Semua itu terlihat bagaikan burung Garuda yang lapar, yang tengah mencari amerta di gunung Somaka. Pulau itu dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang suci, di sana-sini melingkar, bagaikan pasukan para dewa yang siap menunggu kedatangan Garuda. Burung-burung terbang melayang-layang bagaikan panah para dewa yang dilepaskan. Dan aliran sungai bagaikan naga yang akan memagut. Penyu yang berenang kesana-kemari mencari makanan bagaikan cakra yang diputar, senjata yang menjaga tirtha amerta. Tirtha tersebut dijaga oleh Hyang Indra di depan gua sehingga tidak ada orang yang merusak. Bunga kepuh berwarna merah menyala bagaikan api berkobar-kobar meliputinya”.

Syair ini adalah kidung keindahan dan sekaligus amanat suci untuk menjaga keasrian dan saujana (keindahan pemandangan) serta wilayah suci Sakenan dan Teluk Benoa.

Berikut adalah peta perjalanan suci Danghyang Nirartha di Kawasan Sakenan dan Teluk Benoa serta Kaki Pulau Dewata, dimana beliau menghabiskan waktu beliau sebagai tempat menulis Kakawin dan renungan suci, serta melakukan tapa dan praktek yoga suci, sampai akhirnya Beliau melepas moksa di Uluwatu.

Situs Perjalanan Suci Dang Hyang Nirartha (sumber: pribadi)

Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Slide1

Kawasan Serangan dan Teluk Benoa bukan hanya situs suci Danghyang Nirartha tapi juga untuk Danghyang Astapaka. Pada masa Dalem Waturenggong, Danghyang Astapaka juga tiba di Bali menyusul   pamannya Danghyang Nirartha. Beliau disebut sebagai salah satu tokoh Buddha Tantra yang singgah ke Sakenan dan bermeditasi serta membangun parayangan di Sakenan. Ini terbukti dengan sthana Beliau yang ada di Pura Sakenan. Tradisi suci Kabuddhan beliau dipercaya lestari sampai kini di Desa Budakeling di mana keturunannya berada sampai saat ini yang sebagian menekuni dunia kependetaan dengan sebutan Pedanda Budha. Dan Sakenan adalah situs suci perjalanan beliau sebelum masuk Pulau Dewata.

 

 

IV

TELUK BENOA DALAM KOSMOLOGI HINDU

  1. Teluk Benoa Sebagai Titik Temu Campuhan Agung Yang Dikelilingi Tempat Suci Kasat Dan Tidak Kasat Mata

Teluk Benoa merupakan Campuhan Agung (pertemuan sungai-sungai dengan laut yang disucikan), tempat pertemuan-pertemuan energi niskala dan diyakini sebagai tempat berkumpulnya ruh suci dan para Hyang/Bhatara/Dewata:

  1. Di sekitar areal Teluk Benoa terdapat sekian banyak muntig (puncak). Tempat ini diyakini sebagai tempat perputaran air di bawah laut. Di tempat ini sering dipakai tempat untuk pelaksanaan upacara / ritual di tengah laut oleh masyarakat Kelan setiap 1 (satu) tahun sekali tepatnya setiap sasih Kanem.
  2. Di sebelah timur dari muntigada pura di bawah laut disebut Pura Karang Tengah atau Pura Karang Suwung sebagai tempat untuk mamulang pekelem / menghanyutkan upakara korban suci pakelem. Tempat ini sekarang ditandai dengan pelampung warna merah. Bagi yang tahu tempat itu baik masyarakat, para nelayan, nahkoda kapal pasti menghindar dari tempat tersebut karena diyakini sangat angker. Itulah Pura Dalem Segara. Piodalan jatuh pada setiap Tumpek Landep.
  3. Teluk Benoa yang dikenal juga dengan Laut Kelan adalah muara dari :
    1. Tukad/sungai Kuta,
    2. Tukad/sungai Candi Narmada,
    3. Tukad/sungai Pura Griya Anyar,
    4. Tukad/sungai Tanah Kilap (Lokasi Angker),
    5. Aliran Laut dari depan Pura Sakenan,
    6. Loloan Tuban, Loloan Dukuh,
    7. Loloan Kedonganan,
    8. Sawang Angker,
    9. Sawang Benoa
    10. Loloan Jimbaran.

Pantai Kelan sendiri merupakan lokasi / tempat pamelastian Ida Bhatara dan panghanyutan setelah pengabenan.

 

  1. Teluk Benoa dikelilingi berbagai parahyangan (tempat suci) baik kasat dan tidak kasat mata.

Kawasan Teluk Benoa sangat disakralkan sebagai titik temu parahyangan (tempat suci) baik yang kasat maupun tidak kasat mata serta memiliki kekayaan hayati dan sumber daya alam yang tidak ternilai harganya.

Titik-titik di pesisir dan daratan yang sangat angker dan disucikan, adalah sebagai berikut:

  1. Pulau Pudut merupakan kawasan suci. Di pulau suci ini terdapat:

Pura Segara, Pura Suwung Deluang, dan Pura Beji.

Pulau suci ini memiliki fungsi :

  • Sebagai tempat pamelastiandan panganyutan.
  • Sebagai tempat mencari tirtha dan tempat ber-tirtha yatra.
  1. Daratan Serangan. Di pesisirnya terdapat:
  • Pura Sakenan, Pura Segara, Pura Pasamuan Agung.

Pulau (tadinya – sebelum direklamasi) Serangan memiliki fungsi:

  • Sebagai pusat perayaan sehari setelah Hari Raya Kuningan (Manis Kuningan) bagi krama dari wilayah Badung dan Denpasar.
  • Tempat pamelastiandan panganyutan

Aliran air dari Sakenan menuju Teluk Benoa sangat disakralkan.

  1. Daratan Benoa. Di daratan/pesisirnya terdapat:
  • Pura Segara,
  • Tempat panghanyutandan pamelastian.

Daratan Benoa dikelilingi / diapit oleh sungai angker dari aliran Sungai Tanah Kilap, Sungai Candi Narmada dengan Laut Sakenan dimana keduanya menuju ke Teluk Benoa.

  1. Daratan Tuban.Di pesisir Tuban ini terdapat titik areal yang sangat disucikan, yakni:
  • Pura Kahyangan Jagat Pura Karangasem
  • Aliran tukad/sungai dari Kuta menuju Loloan Tuban dan bermuara ke Teluk Benoa. Loloan ini menjadi tempat mencari berkah dan keselamatan.
  1. Daratan Kelan.

Di daratan dan pesisir Kelan terdapat:

  • Pura Segara Ulun Tanjung Desa Adat Kelan.

Daratan ini berfungsi sebagai:

  • Tempat pamelastiandan panganyutan
  • Ada balai kelompok nelayan Tanjung Sari Desa Adat Kelan.
  1. Daratan Jimbaran. Di pesisirnya terdapat:

Loloan menuju Teluk Benoa seperti Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan dan Loloan Sawang Angker. Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan panglukatan.

  1. Daratan Tanjung.

Pada kenyataannya daratan Tanjung (Benoa) dan parahyangannya terkait erat dengan Teluk Benoa yakni :

  • Daratan ini sangat dekat dengan daratan ( Pulau ) Serangan yang pingit atau sakral.
  • Ada Pura Segara, ada tempat panghanyutan dan pamelastian.
  • Aliran air bermuara ke Teluk Benoa dan putaran air laut di Teluk akan berpengaruh secara sekala-niskala pada krama/warga Desa Tanjung.

Secara keseluruhan pesisir dan dataran di sekitar Teluk Benoa berhubungan secara niskala dan terikat dengan kehidupan keagamaan dan keyakinan masyarakat sekitarnya. Sebagai Campuhan Agung masyarakat menyucikan kawasan Teluk Benoa, dengan fungsinya yang sangat luar biasa: Disamping untuk pelaksanaan upacara agama, sebagai tempat memohon berkah, keselamatan, juga sebagai tempat mata pencaharian/penghidupan turun-temurun ribuan tahun dari penduduk dan nelayan sekitar, seperti kelompok nelayan Tanjung Sari Kelan.

 

  1. Teluk Benoa sebagai Pemersatu / Titik Temu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung – Jimbaran – Kelan – Tuban –  Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur

 Dari survey lapangan dan interview beberapa pemangku, tokoh spiritual dan masyarakat mengemukan bahwa Teluk Benoa merupakan areal Titik Temu / Pemersatu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung – Jimbaran – Kelan – Tuban –  Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur.

  1. Ada daerah-daerah angker berupa pertemuan-pertemuan di bawah laut; pertigaan, perempatan dan bundaran yang diyakini sebagai tempat perjalanan Beliau/para Dewata seperti adanya pertemuan Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan, Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
  2. Merupakan muara dari sungai/Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.
  3. Ada puncak gunung di Teluk Benoa disebut Segara Giri.
  4. Ada pura di bawah laut disebut Pura Dalem Segara.
  5. Tempat panghanyutan dan pamelastian dari daratan Serangan, daratan Benoa, daratan Tanjung, daratan Tuban dan daratan Kelan (dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat penyucian alam dan terowongan menuju swarga loka saat meninggal).

 

  1. Pijakan Kosmologi Kawasan Sakenan dan Teluk Benoa
  1. Dalam praktek ritual dan kepercayaan Hindu Bali terselip dua paham yaitu Siwa dan Budha, yang justru menyatu seperti tertera dalam Kakawin Sutasoma, ciptaan Mpu Tantular yang melahirkan sesanthi Negara: Bhineka Tunggal Ika – berbeda konon namun (keduanya) satu adanya.
  2. Dalam keyakinan Hindu Bali ini juga dikatakan bahwa Pura Besakih dengan luasan berlatar Gunung Agung sebagai titik ketinggian adalah pusat ritual Siva-Rudra (Gunung = Giri = Pucak = Kasiwan).
  3. Sementara itu Pura Sakenan yang dipercaya terkait dengan Teluk Benoa dan Pura Karang Tengah di tengah teluk adalah titik kedalaman yang memiliki unsur Ke-buddha-an terbukti dengan nama Sakenan yang berasal dari kata sakya dan adanya sthana Danghyang Astapaka.
  4. Besakih/Gunung Agung adalah sebagai puncak ketinggian gunung dan Sakenan/Teluk Benoa sebagai titik kedalaman di laut. Kisah ini melingkupi rahasia Segara-Gunung: pertemuan Puja Budha dan Puja Siwa, Sakenan – Besakih dan Teluk Banua (sekarang Benoa) – Gunung Agung.
  5. Dalam tradisi Bali disebutkan bahwa pusat Puja Siwa adalah Pura Besakih, terbukti dengan adanya Eka Dasa Rudra. Titik pusat Puja Buddha dalam jejak sejarah, adalah Kawasan Sakenan dengan Teluk Benoa, yang oleh Dinasti Warmadewa dengan pendeta Sogata (Buddha) nya dijadikan titik Puja Buddha. Ajaran Sogata ini kini terselamatkan di Desa Budakeling.

 

V

TELUK BENOA SEBAGAI KAWASAN SUCI

Baik Bhisama PHDI, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI, menyebutkan bahwa kata kunci dari Kawasan Suci adalah bahwa:

  1. Kawasan Suci gunung;
  2. Kawasan Suci campuhan;
  3. Kawasan Suci loloan;
  4. Kawasan Suci pantai;
  5. Kawasan Suci laut;
  6. Kawasan Suci mata air; dan
  7. Kawasan Suci Catus Patha.

Merujuk dari Bhisama, Perda dan Perpres tersebut di atas sangat jelas bahwa Teluk Benoa adalah Kawasan Suci, yang terdiri dari berbagai pertemuan sungai dan laut (loloan), pantai dan laut, juga terdapat beberapa mata air, sebagai berikut:

  1. Kawasan Suci Lolaan di sekeliling Teluk Benoa, terdiri dari:
    • Loloan Dukuh
    • Loloan Kedonganan
    • Loloan Sawang Angker.
    • Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
    • Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.

(Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan panglukatan serta berbagai ritual lainnya seperi ngayut dan ngaben).

  1. Kawasan Suci Pantai di sekeliling Teluk Benoa, terdiri dari:
  • Pulau dan Pantai Pudut merupakan kawasan suci. Di pulau suci ini terdapat : Pura Segara, Pura Suwung Deluang, dan Pura Beji. Pulau suci ini memiliki fungsi: Sebagai tempat pamelastiandan panganyutan. Sebagai tempat mencari tirtha dan tempat ber-tirtha yatra.
  • Pantai Serangan. Di pesisirnya terdapat: Pura Sakenan, Pura Segara, Pura Pasamuan Agung. Pulau (tadinya – sebelum direklamasi) Serangan memiliki fungsi: Sebagai pusat perayaan sehari setelah Hari Raya Kuningan ( Manis Kuningan ) bagi krama dari wilayah Badung dan Denpasar. Tempat pamelastiandan panganyutan
  • Aliran air dari Sakenan menuju Teluk Benoa sangat disakralkan.
  • Daratan Benoa. Di daratan/pesisirnya terdapat: Pura Segara; Tempat panghanyutandan pamelastian.
  • Daratan Benoa dikelilingi / diapit oleh sungai angker dari aliran Sungai Tanah Kilap, Sungai Candi Narmada dengan Laut Sakenan dimana keduanya menuju ke Teluk Benoa.
  • Pantai Tuban. Di pesisir Tuban ini terdapat titik areal yang sangat disucikan, yakni : Pura Kahyangan Jagat: Pura Karangasem
  • Tempat mlasti dan loloan aliran tukad/sungai dari Kuta menuju Loloan Tuban dan bermuara ke Teluk Benoa. Loloan ini menjadi tempat mencari berkah dan keselamatan.
  • Pantai Prapat Kelan: Di daratan dan pesisir Kelan terdapat Pura Segara Ulun Tanjung Desa Adat Kelan. Pantai ini berfungsi sebagai: Tempat pamelastiandan panganyutan saat Ngaben dan ritual lainnya.
  • Pantai Timur Jimbaran. Di pesisirnya terdapat: Loloan menuju Teluk Benoa seperti Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan dan Loloan Sawang Angker. Loloan atau campuhan ini disucikan sebagai tempat pemberkatan dan
  • Pantai dan wilayah Tanjung: Pura Segara, ada tempat panghanyutan danpamelastian, serta adal titik aliran air bermuara ke Teluk Benoa dan putaran air laut di Teluk akan berpengaruh secara sekala-niskala pada krama/warga Desa Tanjung.

Sebagai tambahan, menurut kepercayaan warga setempat bahwa Kawasan Teluk Benoa adalah Catus Patha Niskala:

  • Teluk Benoa merupakan areal ‘Titik Temu / Pemersatu Sekala-Niskala Kawasan Tanjung’, catus patha agung – Jimbaran – Kelan – Tuban – Pesanggaran –  Benoa –  Serangan –  Sanur.
  • Ada daerah-daerah angker berupa pertemuan-pertemuan di bawah laut; pertigaan, perempatan dan bundaran yang diyakini sebagai tempat perjalanan Beliau/para Dewata seperti adanya pertemuan Loloan Dukuh, Loloan Kedonganan, Loloan Tuban, Sawang Angker, Sawang Benoa.
  • Merupakan titik temu muara berbagai sungai: Sungai/Tukad Kuta, Tukad Griya Anyar Tanah Kilap, Tukad Candi Narmada, aliran dari Laut Sakenan.
  • Dipercaya warga bahwa di tengah Teluk Benoa ada puncak gunung di Teluk Benoa disebut Segara-Giri dan ada pura di bawah laut disebut Pura Dalem Karang Tengah.
  • Tempat panghanyutandan pamelastian dari daratan Serangan, daratan Benoa, daratan Tanjung, daratan Tuban dan daratan Kelan (dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat penyucian alam dan oleh warga disebut sebagai terowongan menuju swarga loka saat meninggal).

Berdasarkan paparan di atas, dan seluruh penjabaran kriteria sebuah Kawasan Suci, Teluk Benoa tidak dapat dipungkiri adalah Kawasan Suci sesuai dengan Bhisama PHDI, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI.

Slide1Slide2Slide3Slide4

*Titik-titik suci di Kawasan Teluk Benoa ini hasil riset bersama Team ForBali yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Planologi UNHI dengan informan para pemangku, tokoh serta warga setempat.

 

VI


PENUTUP

Kawasan Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian secara tegas disebutkan sebagai Kawasan Suci dalam Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura. Merujuk pada Bhisama PHDI tersebut, ditambah pasal-pasal Perda Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013, Perda Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 dan Peraturan Presiden RI No. 45 Tahun 2011 sebagai mana yang dibahas di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa Teluk Benoa adalah sebuah Kawasan Suci berupa pantai, laut dan loloan-campuhan yang di berbagai titiknya dipakai untuk upakara Hindu (melasti, pekelem, ruwat, melukat dan ngayud dstnya).

Seluruh krama Bali, terutama para Manggala Desa Pakraman, legislatif dan eksekutif, seharusnya membaca kembali dan paham apa itu konsepsi Kawasan Suci sebagaimana disebutkan dalam Bhisama PHDI, Perda Provinsi Bali, Perda Kabupaten Badung, dan Peraturan Presiden RI yang menjadi acuan pranata dan legal dalam kehidupan beragama dan bernegara. Jika tidak, masa depan Bali akan sangat carut-marut. Polemik yang tidak berkesudahan akan membelah kehidupan berbangsa jika mengabaikan aturan tertulis yang ada dan masih berlaku.

Kebijakan pemerintah dan posisi dari krama Bali penting berpijak dari pemahaman yang sama tentang sebuah Kawasan Suci. Kebijakan dan sikap pemerintah dan warganya terhadap Kawasan Suci sudah seharusnya bersumber dari peraturan perundang-undangan dan pertimbangan kearifan lokal serta menjungjung setinggi-tingginya kitab suci acuan yang menjadikan Bali kukuh secara religi, ekologi dan kultural. Kejelasan pemahaman dan pemetaan Bali berdasarkan prinsip kesucian, prinsip kultural dan prinsip sosial yang jelas akan membuat kebijakan Bali kedepan tidak mengundang perpecahan krama Bali.

Untuk tidak memancing kesimpang-siuran yang meresahkan masyarakat, pemerintah daerah beserta instansi terkait seharusnya membuat penjabaran dan pemetaan kawasan suci di seluruh Bali, disertai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang melibatkan peran warga-krama-penyungsung serta disosialisasikan ke publik luas secara intensif.

Sebelum Bali memiliki peta seluruh kawasan suci di Bali beserta petunjuk teknis serta belum disosialisasikan, pemerintah dan masyarakat Bali sepatutnya bersepakat untuk melakukan moratorium. Moratorium adalah masa membuat konsensus kembali, mendata, memetakan, dan menata kembali arah dan visi pembangunan Bali ke depan, secara integral dan harmonis baik bidang pertanian dan kepariwisataan secara sektor lainnya, sehingga Bali memiliki kejelasan peta kawasan yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan dan pembangunan ke depan. Aksi nyata pemetaan bukan hanya berhenti di atas kertas tapi menjadi konsensus dan panduan bersama seluruh rakyat Bali untuk menjaga kedaulatan pangan, air dan energi Bali masa depan.

 

 

SUMBER PENULISAN

 

  • Lontar Indik Karang Panes
  • Lontar Dwijendra Tattwa
  • Lontar Kakawin Añang Nirartha
  • Lontar Babad Bhumi
  • Lontar Babad Tusan
  • Lontar Tattwa Kalawasan Petak
  • Pangrincik Babad
  • Manawa Dharmasastra
  • Yajur Weda
  • Rig Weda
  • Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Nomor: 11/Kep/I/Phdip/1994, Tentang Bhisama Kesucian Pura
  • Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 – 2029 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali
  • Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013 
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung Tahun 2013 – 2033
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia 
Nomor 45 Tahun 2011
 Tentang
 Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan
  • Studi Lapangan dan informasi dari berbagai narasumber.
  • Titik-titik suci di Kawasan Teluk Benoa hasil riset bersama Team ForBali yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Planologi UNHI dengan informan para pemangku, nelayan, pemuda dan sekaa truna, tokoh dan warga setempat.

 

 

 

 

TANTRA SUBHUTI DI JAWA TAHUN 1292 A.D.


Oleh Sugi Lanus

Catatan singkat ini hanya ingin menggaris bawahi bahwa di sekitar masa 1292 A.D di Jawa berkembang paham Tantra Subhuti.

Disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama bahwa Raja Jawa teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama. Sang Raja menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat jelatah. Raja Jawa ini berpulang ke alam Buddha di tahun 1292 A.D.

Tantra Subuti dari Subhuti?

‘Subhuti’ adalah salah satu dari Sepuluh Besar Sravaka Sakyamuni Buddha, dan terutama dalam memahami kekosongan. Dalam Prakrit dan Pali, namanya secara harfiah berarti “Keberadaan Mulia” (su: “baik”, bhūti: “eksistensi”). Dia juga kadang-kadang disebut sebagai atau “Subhuti Tertua” (Sthavira Subhuti). Dia adalah seorang arhat yang dipersamakan dengan para arahat terkenal seperti Sariputra, Mahakasyapa, Mahāmaudgalyāyana, Mahākātyāyana dan Ānanda.

Di antara tradisi Mahayana, Subhuti mungkin paling dikenal sebagai murid langsung yang menerima ajaran Sang Buddha ketika Beliau berbicara ketika menyampaikan Sutra Intan (Skt Vajracchedikā Prajnaparamita Sutra.), sebuah ajaran penting dalam genre Prajnaparamita. Ini, bersama dengan Sutra Hati (Skt. Prajnaparamita Hṛdaya), adalah salah satu Sutra paling terkenal di antara kedua praktisi dan non-praktisi Buddhisme. Subhuti juga bertanggung jawab untuk banyak eksposisi di Sutra Prajnaparamita sebelumnya. Dalam Sutra Teratai (Skt. Saddharma Pundarika Sutra), Bab 6 (penganugerahan Nubuat), Buddha melimpahkan nubuat pencerahan pada Subhuti, bersama dengan Sravaka lain seperti Mahakasyapa, Mahākātyāyana, dan Mahāmaudgalyāyana.

Ajaran Subhuti dalam Buddhisme Theravada kurang menonjol.

Apakah Tantra Subhuti yang ada di Jawa ini merujuk pada Ajaran Subhuti? Hal ini masih perlu didalami secara seksama. Tentang hal ini ahli Tantra termaksyur Shingo Einoo dalam bukunya“Genesis and Development of Tantra”, halaman 118-123, selintas saja menyinggung Tantra Subhuti. Masih tidak terjawab apa yang dimaksud dengan Tantra Subhuti.

Kemunculan ajaran Tantra Subhuti yang dipelajari oleh Sang Raja Jawa yang berpulang pada tahun 1292 sedikit banyak memberi gambaran Buddhisme apa yang berkembang di masa itu, bahwa Buddha paham Tantra yang berkembang, lebih pada berdasar dari tradisi Mahayana dibandingkan Theravada.

Berikut kutipan lengkap Pupuh 43 Kitab Negarakertagama yang menyebutkan Ajaran Subhuti tersebut:

1). liɳ niɳ çastra narendra pandawa rika dwapara nuni prabhu, gogendu tri lawan/ çakabdi diwaçanyantuknireɳ swahpada, ndah santuknira tembayiɳ kali tkaɳ rat/ murkka harohara, nhiɳ saɳ hyaɳ padabhijna daraka rumaksaɳ loka dewaprabhu.

Menurut kisah kesastraaan menyebutkan bahwa raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. “Gogendu tri lawan” (lembu gunung bulan tiga = 3179) digabung dengan tahun Saka disanalah tahun beliau berpulang ke alam kematian. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru‐hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam Sadabhijna (kebijaksanaan), dapat menjaga jagat sebagaimana Dewaprabu sang raja yang penuh kemuliaan.

2). nahan hetu narendra bhakti ri pada çri çakyasinhasthiti, yatnagegwan i pancaçila krtasaskarabhisekakrama, lumra nama jinabhisekanira saɳ çri jñanabajreçwara, tarkka wyakaranadiçastran inaji çri natha wijñanulus.

Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni (Buddha). Teguh kukuh memegang Pancasila 5 laku utama, menjaga upacara suci sesuai aturan. Gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnanabajreshwara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa (Tarka-wyakarana) dan pengetahuan lain tentang pengetahuan agama, kecerdasannya utama.

3). ndan/ ri wrddanireki matra rumgep/ sarwwakriyadyatmika, mukyaɳ tantra subhuti rakwa tinnöt kempen/ rasanye hati, puja yoga samadi pinrihiran amrih sthityanin rat kabeh, astam/ taɳ ganacakra nitya madulu ddann eniwöhiɳ praja.

Di usia beliau yang mapan beliau menyelenggarakan semua ritual kriya. Pertama Tantra Subuti diselami, demikian disebutkan, yang inti sarinya tersimpan sebagai kekayaan di dalam hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, yang belum disebutkan adalah Ganacakra, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.

4. tan/ wwanten karnö khadi nrpati sakweh sanatita prabhu, purnnen sadguna çastrawit/ nipuna riɳ tatwopadeçagama, darmmestapageh iɳ jinabrata mahotsaheɳ prayogakriya, nahan hetuni tusni tusnira padaikaccatra dewaprabhu.

Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, sempurna pemahaman beliau akan enam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan taat pada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung, Dewaprabu.

4). riɳ çakabdi jakaryyama nrpati mantuk/ riɳ jinaindralaya, sankai wruhnira riɳ kriyantara lawan/ sarwwopadeçadika, saɳ mokteɳ çiwabuddaloka talahan/ çri natha liɳ siɳ sarat, rinke sthananiran dinarmma çiwabuddarcca halp/ nottama.

Tahun saka ‘laut bangsawan arya yama’ (1214 = 1292 A.D.) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang up cara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa‐Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa‐Budha terlampau indah permai.

5). lawan/ riɳ sakgala pratista jinawimbhatyanta riɳ çobhita, tkwan narddanareçwari mwan ika saɳ çri bajradewy apupul, saɳ rowaɳ nira wrddi riɳ bhuwana tungal/ riɳ kriya mwaɳ brata, hyaɳ werocana locana lwiriran ekarcca prakaçeɳ praja.

Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman sejati dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana‐Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, termasyur.

Joko Dolok & Candi Jawi

Yang dimaksud dengan Sang Raja Jawa, berdasarkan Kitab Negarakrtagama, yang bergelar Sri Jnanabajreshwara, penganut Tantra Subhuti adalah Raja Krtanegara (1268–1292)

Di Candi Jawi sebagai Bhatara Çiwabuddha/ SiwaBuddha di Sagala bersama dengan permaisurinya Bajradewi, sebagai Jina (Wairocana) dengan Locana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara. Bait terakhir Pupuh disebut di atas sesuai dengan peninggalan di Candi Jawi.

Disamping Kakawin Negarakrtagama, prasasti tahun 1289 pada arca Joko Dolok, yang kini disimpan di Kota Surabaya, menyatakan bahwa Krtanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya. Patung Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya.

Salinan prasasti pada Patung Joko Dolok, terbaca sebagai berikut:

  1. adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
  2. anw atas sarwwasiddhim wā, wande’hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
  6. nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
  10. yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe’pi naksatre, mitre ahendramandale
  16. saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto’ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno’pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatpara
  19. dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj’a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah 

Terjemahan bebas:

1). Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata(Pencipta), Sang Maha Tahu yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan keniscayaan.

2). Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang menggambarkan kemuliaan raja.

3). Adalah Arya Bharada yang terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu, berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan supranatural).

4). Terkemuka di antara para yogi besar, yang hidupnya penuh ketenangan, penuh kasih dan makhluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.

5-6). Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).

7-9). Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang mempunyai permaisuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.

10-12. Tersebutlah, seorang raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra (red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan agama Buddha) – layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah di bumi.

13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (arca) setelah pengabdiannya sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi – demi kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.

18-19. Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk mempersiapkan kisah ini.

joko dolog-prasasti

Arca Joko Dolok yang mulanya ditemukan di daerah Kandang Gajak. Kandang Gajak termasuk dalam wilayah desa Beijong, Kecamatan Trowulan, Kab Mojokerto. Pada tahun 1817, arca dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis, dan saat ini terdapat di Taman Apsari, dekat pusat Kota Surabaya, Jawa Timur.

Keberadaan prasasti di patung Joko Dolok atau dikenal sebagai Prasasti Wurare, yang menyebutkan tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare), bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, dimaksudkan sebagai penghormatan bagi Raja Krtanegara dari kerajaan Singhasari Jawa Timur yang kekuasaanya sampai ke Bali dll, yang dipercaya mencapai pencerahaan sampai Jina (Buddha Agung), sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kakawin Negarakrtagama, bahwa Krtanegara menganut paham Buddha dengan upakara dan ritualnya, Tantra Subhuti.

Sebagai Jina, beliau bergelar Jnanaciwabajra. Baik kitab Pararaton dan Nagarakrtagama menyebutkan beliau bergelar Çiwabuddha, ketika beliau berpulang (mokteng atau lina) disebutkan beliau kembali ke Çiwabuddhaloka atau Çiwabuddhalaya.

Beliau sebagai raja di masa hidupnya telah memberi warna dan peninggalan-peningalan keagamaan yang sesuai dengan paham yang dianut beliau. Berbagai patung dan peninggalan bercorak Buddhisme yang dibangun atau dibuat periode ini kemungkinan adalah penjabaran paham/ajaran Tantra Subhuti.

Masih perlu dijejaki apakah Tantra Subhuti ini terkait dengan ajaran percampuran Çiwabuddha yang berkembang kemudian? Apakah Tantra Subhuti ini menjadi muasal kependetaan Hindu bercorak Buddha yang sampai kini masih berkembang di Bali dan berpusat di Desa Budakeling, Kabupaten Karangasem, sekarang? Dua pertanyaan ini mendasar untuk ditelusuri oleh para peminat dan peneliti pertemuan Siwa dan Buddha di Bali dan Jawa. Kesejarahan Tantra Subhuti masih terbuka untuk kita pahami secara seksama dan lebih mendalam.