PARA PERINTIS PERS BALI & KAUM INTELEK BALI UTARA


Oleh Sugi Lanus*

Tahun 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954). Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha). Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah. Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra. Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.” Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955). Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan. Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng.

*Catatan harian ini pernah dimuat di Bali Post, Minggu beberapa tahun lalu.

PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*


1. PEMANGKU

Pemangku adalah orang terpilih yang tugasnya memuja Tuhan, bukan yang lain.

Pemangku diharap menjadi pembimbing umat untuk senantiasa bakti pada Tuhan dan menjunjung nilai-nilai kebenaran dharma.

Lontar Kusumadewa mengatakan:

“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tatwa DewaDewa Tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana Tattwa, I Pamangku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi krama pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharmam, mangda patut pangambile mwang pamargine. “

Terjemahannya:

“Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma kahyangan Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti, paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya”.

Kitab Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma adalah pedoman pemangku dalam bertindak dan mengabdi kepada Beliau. Pemahaman mereka akan hakikat kesusilaan yang bisa mengantar pemangku tidak salah jalan, tidak terjebak urusan duniawi, dan menjadi lupa tugas utamanya sebagai orang terpilih untuk memuja Tuhan, dan bukan memuja yang lain-lain.

2. KAUM PENDUSTA

Pemangku wajib menjauhi kaum pendusta.

Hal ini jelas disebutkan dalam kutipan Lontar Tattwa Siwa Purana sebagai berikut:

“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarayudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta“.

Terjemahannya:

“Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan JANGAN MENGHADAP/DEKAT ATAU BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT (naya dusta).”

Pemangku diharapkan fokus dirinya keurusan ketuhanan, bukan lagi terjebak urusan duniawai dan dilarang bergaul dengan kaum pendusta.

Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.

Menjadi pemangku adalah perjanjian yang bersangkutan untuk menarik diri menjadi 100% abdi Tuhan, tidak jadi jongos siapapun, memuja setiap hari di hadapan “sesuhunan niskala” (keilahian tertinggi) dan mengabdi dalam pelayanan keagamaan.

Hal ini jelas disebutkan dalam lontar Tattwa Siwa Purana:

“SamaIih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer”.

Terjemahannya:

“Dan apa bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer”.

Dengan melepas pekerjaan duniawai itu diharapkan pemangku bisa ajeg memegang prinsip swadharma dan memegang prinsip bergaul benar: aja parek ri salwiring naya dusta” (TIDAK MENGABDI & BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT).

3 DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN 

Pemangku wajib mendemontrasikan sikap terpuji di depan umat. Tidak mudah terhasut terjebak urusan duniawi, dan tetap berhati jernih.

Pemangku yang terpuji dan dicintai umat Hindu tentulah pemangku yang bisa mendemontrasikan pemahamannya tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma; mampu memberi pencerahan umat tentang pedoman hidup lurus, filsafat ketuhanan dan kesusilaan di depan umat.

Demonstrasi pemangku sebagai pelopor pelaksanaan agama yang teguh memuja Tuhan sangat ditunggu kehadirannya di tengah zaman yang memuja kuasa dunia dan uang.

Pemangku yang mampu secara bijaksana mendemontrasikan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai suci itulah yang akan mengharumkan nama Agama Hindu Bali dan mengantar umat menuju jagat sukerta

Jagat sukerta atau jagat-hita-ya—the benefit of the whole universe—terjadi jika pemangku dan sulinggih memberi contoh (mendemontrasikan) pada umat bahwa dirinya adalah panutan yang bisa menjadi pelopor dalam penegakan jati diri, tidak terbayar dan tergiur uang, dan teguh untuk tidak mempolusi udara (dyauh santir), penyelamatan ozon (antariksam santih), ibu pertiwi (prthivi santir), menjaga air-sungai-danau-teluk-laut (apah santir), menjaga tumbuh-tumbuhan (osadhayah santih), dan hutan (vanaspatayah santir).

|| dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir osadhayah santih I vanaspatayah santir visvedevah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi ll

Semoga ada kedamaian di langit

Semoga ada kedamaian di luar angkasa

Semoga ada kedamaian di bumi

Semoga air menjadi sumber kedamaian

Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian

Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian

Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian

Semoga ada kedamaian dimana-mana

Semoga ada kedamaian dalam bathin saya.

[Yajur Veda 36.17]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 21 April 2015

HIKAYAT BUNGA-BUNGA


oleh Sugi Lanus

sebuah dongeng untuk Bhuja

Alkisah pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting dan daun-daun. Bunga-bunga berdatangan penuh senyum dan wewangian. Mereka berbaris pelan dan tertib memasuki balairung kerajaan atas angin.

Bunga Kenangan, Cempaka, Teratai, Jepun, Gemitir dan semua bunga lainnya saling menyapa, dengan sangat santun dan suara mereka seperti angin berdesir. Mereka bercengkrama dengan mesra tentang curah hujan, tiupan awan, turunnya kabut dan datangnya musim kumbang mengisap sari.

Di tengah perjamuan dan percakapan bunga-bunga itu, tiba-tiba datang si bunga putih berkelopak banyak. Sekalipun datang terlambat, dengan pongah ia mendongak dari daun-daunnya, ia pamer keindahan. Ia berjalan tanpa sedikitpun merunduk di tengah jamuan bunga-bunga, tanpa basa-basi memperkenalkan diri sambil tetap berjalan.

Hyang Tunggal, yang sedari tadi memperhatikan jalannya perjamuan bunga-bunga dari alam dewa, meniupkan angin ke arah bunga putih itu. Bunga itu terdorong (tulud) dan tersandung ke bawah pohon kelapa (nyuh). Bunga itu selanjutnya disebut bunga Tulud Nyuh.

Di akhir perjamuan itu Hyang Dewata Maha Tunggal menampakkan diri sebagai wangi maha suci dan bersabda:

“Kelak ketika telah kuciptakan manusia, mereka akan mengagumi kalian. Dalam jiwa manusia akan kutiupkan harum bunga-bunga, kelopak indah dan kesuburan putik sari. Kalau mereka rindu padaku, mereka akan mempersembahkan bunga-bunga untuk mewakili rindu mereka.

“Pada waktunya nanti akan terlahir seorang guru batin yang mampu melihat perangai bunga-bunga dan menurunkan ilmu sesaji dan bunga-bunga pada murid-muridnya. Guru batin itu akan melarang murid-muridnya memakai bunga Tulud Nyuh sebagai sesaji karena ia tak ingin murid-muridnya meniru perangai pongah dan tak santun si Tulud Nyuh.”

Sebelum kembali ke alam dewa, Hyang Tunggal memberkati bunga-bunga. Semua bunga diberkati khasiat dan wewangian. Beberapa bunga seperti Padma, Sandat, dan Cempaka serta Jepun bahkan dikaruniai keistimewaan.

Bunga Sandat (Kenanga), sekalipun terkenal dengan bunga yang dengan keharuman tak tercela, dia rendah hati tidak membentangkan kelopaknya. Karena kesahajaannya ia diberkati menjadi satu-satunya bunga yang selayu-layunya masih tetap berbau harum. Ketika direndam dalam air harumnya menyusupi partikel-partikel air dan kelopaknya tak membusuk merusak air.

Bunga Cempaka terberkati keharuman yang mengheningkan pikiran yang menciumnya. Ia mendapat tempat terhormat di antara bunga-bunga karenatak sedikitpun ia menonjolkan diri sekalipun ia putih, harum dan indah. Sampai kini Cempaka memilih menarik diri dan semadi di balik keheningan daun-daunnya yang lebar, tebal dan hijau. Cempaka memiliki keindahan tak tercela, bersih dan harum, tapi tak pamer.

Bunga Jepun Bali yang rela menggugurkan daun-daunnya untuk menumbuhkan kuncup-kuncupnya diberkati keharuman niskala. Berkat karunia Dewata, harum bunga Jepun tak pecah saat ditiup angin. Harumnya bulat seperti kristal saat diterbangkan angin dan mampu menembus pintu surga dan alam leluhur.

Bunga Teratai yang tumbuh dalam sahaja di kerendahan air berlumpur, menjadi bunga yang diberkati dan dikasihi para Dewa. Sekalipun akarnya menapak lumpur, daun dan kelopak-kelopaknya tak tercela bertangkup menyembah langit. Kesuciannya yang tak tersentuh lumpur membuat para orang suci menyembutnya sebagai padma dan pangkaja; pusat semesta yang tak sentuh keruh. Orang Suci mengisahkan Hyang Dewata bisa dijumpai di jantung kesucian padma.

Kemulian hati mendatangkan berkat. Kepongahan dan kecongkakan membuat bunga Tulud Nyuh sampai kini tak dipakai dalam sesaji dan persembahyangan orang Bali. Demikianlah hikayat bunga-bunga.

Mataram, 6 Maret 2010

SIWA-DWARA: PINTU RUHANI MANUSIA BALI


Oleh: Sugi Lanus

Kemanapun orang Bali pergi, ia mengusung ‘jalan’ di ubun-ubunnnya.

Kelebutan (atau pabahan) atau ubun-ubun yang berdenyut ketika bayi masih merah dipercaya sebagai Siwadwara atau ‘jalan Siwa’. Bagian itu dipercaya sebagai jalan hilir mudik ‘ruh’ kita. Jalan menelusuri jagat batiniah, sampai masuk ke ‘alam Siwa’ atau alam kesejatian asal muasal kehidupan.

Ketika beranjak besar sang bayi kehilangan detak di ubun-ubunnya, konon, saat itulah semesta dirinya terputus dengan semesta kesejagatan batiniah. Terlebih setelah dewasa, sang manusia lengah melupakan ‘jalan’ itu, demi menempuh atau bertahan di dunia keseharian yang tidak mudah direngkuh.

Di Siwadwara tidak ada sosok dwarapala (patung penjaga pintu) layaknya sebuah jembatan atau kori puri atau pura. Kepala ditumbuhi rambut, dan rambut itulah yang menjadi semacam dwarapala bagi Siwadwara kita. Sang Biksu mencukur gundul rambutnya, menjadi pertanda ia telah ‘memilih jalan’ untuk kembali membuka Siwadwara yang telah dilebati dan ditutupi hutan rambut. Sang Rsi mengikat rambut dan mapusungan, seakan menandai semua kelebatan dan hutan rambut ‘merujuk’ ke arah Siwadwara.

Dalam praktek Sama-Adi cara Bali, proses ngili-atma atau nuntun-atma, kembali sang calon Pandita diajak ‘membuka kembali’ jalan itu. Merenungi ‘pipa gaib’ yang menjadi poros dan sekaligus pusaran diri. Tegak. Tunggal. Terhubung. Menelusuri hening diri dan titik terdalam di titik 0 kilometer ubun-ubun diri: Siwadwara.

Dalam praktek sederhana orang kebanyakan, jika mebayuh atau melukat, atau proses penyucian dengan air suci, yang dilukat adalah titik ubun-ubun itu juga. Titik itu kembali ‘dibasahi’ dan ‘diurap’ agar kembali lembek dan tidak ‘membatu’ alias tertutup rapat.

Jika kepala (ubun-ubun) membatu, merapat, atau tertutup, maka dipercaya tertutup pulalah hati dan jiwa serta ruhani kita. Tidak lagi terhubung dengan Jiwa Maha Tinggi itu, muasal kehidupan, Sangkan Paraning Dumadi. Ungkapan ‘berkepala batu’ yang mengandung arti keras tak mau mendengar, jika dihubungkan dengan Siwadwara, ia ‘tak mendengar yang batiniah’.

Perkara ubun-ubun sebagai titik tertinggi tubuh secara spiritual inilah yang menjadi salahsatu alasan kenapa orang Bali harus menjaga kepalanya: Tidak boleh sembarangan mesulub atau tidak boleh kena langkahan orang, atau lewat jemuran atau segala yang dianggap leteh (impure) alias kotor secara niskala. Semacam ‘amanat’ bagi orang Bali menjaga kesucian kepala, bahwa ada ‘jalan Siwa’ atau Siwadwara di pabahan (ubun-ubun) kita.

Ungkapan sederhana bahwa ‘Siwadwara ring pabahan’ (Jalan Siwa di bagian atas kepala) makin ditelisik makin tidak sederhana. Ini bisa dianggap metafor, namun di kalangan penekun kebatinan Bali menerima hal ini bukan sebatas metaphor, mereka bisa merasakan getaran ‘jalan Siwa’ kita usung kemana-mana, di atas kepala kita.

Merenungi Siwadwara ini, kembali terngiang tembang pembuka Geguritan Sucita Subudi:

“Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padma Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”.

[Termaktub di kuil-meru dalam diri, memohon pada Hyang Maha Suci, dengan sarana bunga Padma Hredaya, sarana harum kesejukan Budi, didasari tindakan mulia, berbija Menget Prakasa, berasapkan dupa Sad Ripu, berapikan pikiran terang].

Itulah ‘jalan dalam diri’. Geguritan tersebut lebih lanjut membabarkan bahwa di dalam diri Meru (tiang suci) itu tegak lurus bagai buluh berlubang membungbung ke akasa jiwa.

Warisan istilah dan ajaran tentang Siwadwara ini memberi kesadaran pada orang Bali bahwa disamping tubuh sebagai beban, tubuh sekaligus juga ‘jalan’. ‘Siwadwara’ (Jalan batin) tetap kita usung kemana-mana sekalipun kita ‘tertidur’ atau ‘lupa’, dan sampai akhirnya kita harus kembali ‘pulang’ lewat jalan itu pula.

BABAD PALELINTIHAN IDA HYANG YESUS KRISTUS


Tahun 1910 Injil Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Bali oleh Goesti Djilantik. Kitab terjemahan Goesti Djilantik ini dipublikasikan oleh ‘The British and Foreign Bible Society’.

Bagian Matius 1:1-25, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali**, disana disebutkan seperti ini:

1 Puniki babad palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus katurunan Daud, katurunan Abraham.

2 Abraham maputra Ishak, Ishak maputra Yakub, Yakub maputra Yehuda lan semeton-semeton danene.

3 Yehuda maputra Peres miwah Serah (saking rabine Diah Tamar). Peres maputra Hesron, Hesron maputra Ram.

4 Ram maputra Aminadab, Aminadab maputra Nahason, Nahason maputra Salmon.

5 Salmon maputra Boas (saking rabine Diah Rahab). Boas maputra Obed (saking rabine Diah Rut), Obed maputra Isai,

6 Isai maputra Sang Prabu Daud. Daud maputra Salomo (saking rabine sane pecak rabin Dane Uria).

7 Salomo maputra Rehabeam, Rehabeam maputra Abia, Abia maputra Asa.

8 Asa maputra Yosapat, Yosapat maputra Yoram, Yoram maputra Usia.

9 Usia maputra Yotam, Yotam maputra Ahas, Ahas maputra Hiskia.

10 Hiskia maputra Manase, Manase maputra Amon, Amon maputra Yosia.

11 Yosia maputra Yoyakin lan semetonsemeton danene. Daweg punika bangsa Israel kaselong ka Babel

12 Sasampune bangsa Israel maselong ring Babel, Yoyakin maputra Sealtiel, Sealtiel maputra Serubabel.

13 Serubabel maputra Abihud, Abihud maputra Elyakim, Elyakim maputra Asor.

14 Asor maputra Sadok, Sadok maputra Akim, Akim maputra Eliud.

15 Eliud maputra Eleasar, Eleasar maputra Matan, Matan maputra Yakub.

16 Yakub maputra Yusup rabin Diah Maria, sane ngembasang Ida Hyang Yesus sane mabiseka Sang Prabu Sane Kajanjiang antuk Ida Sang Hyang Widi Wasa.

17 Dadosipun ngawit saking Abraham rauh ring Daud, wenten patbelas turunan. Ngawit saking Daud, rauh ring masane kaselong ka Babel taler patbelas turunan. Tur saking masane maselong ka Babel rauh ring masan embas Ida Sang Prabu Sane Kajanjiang punika, taler patbelas turunan.

18 Indik embas Ida Hyang Yesus Kristus katuturanipun sapuniki: Daweg ibun Idane, Diah Maria sampun magegelan sareng Dane Yusup, sadurung dane marabian, Diah Maria jeg sampun mobot. Bobotan danene punika kawitnyane saking Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

19 Gegelan danene, inggih punika Dane Yusup anak sane tansah malaksana patut, nanging dane nenten mapakayunan jaga ngawinang Dane Diah Maria kimud, punika awinanipun Dane Yusup mapakayun megat gegelan danene saking silib.

20 Nanging ritatkala dane ngayun-ngayunin indike punika, raris dane karauhin antuk malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa sajeroning panyumpenan. Sang malaekat ngandika ring dane sapuniki: “Yusup sentanan Sang Prabu Daud, edaja takut nyuang Maria nganggon kurenan, sawireh rarene ane kaduta ento, uli Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

21 Maria lakar ngembasang putra lanang, tur kita patut marabin anake alit ento Yesus, sawireh Ida lakar ngrahayuang parakaulan Idane uli sakancan dosannyane.”

22 Paindikane punika mula wantah jaga mamargi sakadi asapunika, mangda tegep sabdan Ida Sang Hyang Widi Wasa sane kawarahang antuk nabine, sapuniki

23 “Daane ento lakar beling tur nglekadang pianak muani. Pianakne ento lakar kadanin Immanuel” (sane mateges: “Ida Sang Hyang Widi Wasa nyarengin iraga”)

24 Sasampun Dane Yusup matangi, raris dane ngambil Diah Maria, kanggen rabi satinut ring pangandikan malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa ring dane.

25 Nanging Dane Yusup tan matemu semara ring Diah Maria kantos putrane lanang punika embas. Dane Yusup marabin anake alit punika “Yesus”.

Jika saja kutipan Perjanjian Baru di atas, ditulis di atas daun lontar, dengan aksara Bali, lalu disimpan (disumbangkan) ke Gedung Kitya, mungkinkah naskah atau lontar Babad Palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus ini akan sama “tenget” dengan naskah Babad Dalem atau Purana Bali lainnya?

Catatan singkat ini hanya ingin memberi gambaran bahwa lontar adalah sama dengan buku biasa, karena jaman itu tak ada kertas untuk mencatat, maka semua “yang biasa” itu ditulis di atas daun lontar dan huruf Bali, aksara yang dipakai ketika itu.

Banyak lontar baru ditulis, tahun 1950-an yang mengkultuskan satu kelompok brahmana ditulis di Ubud telah jadi acuan keluarga tersebut, diserbarkan dan dicetak menjadi kultus bersama sepulau Bali, dan dianggap seolah-olah ratusan tahun silam.

Demikian juga sebuah lontar yang ditulis teman sebangku saya di SMP yang sekarang kebetulan kami sama-sama menekuni sastra Bali, lontar itu telah dijadikan proyek oleh Pusat Dokumentasi untuk diterjemahkan, seolah-olah lontar tersebut telah ratusan tahun usianya.

Almarhum Guru Ktut Ginarsa menulis babad tentang Bhujangga Waisnawa, semasa hidup beliau, dengan bahasa Jawa Kuna yang sangat tinggi pencapaian bahasanya, sehingga hampir sama dengan bahasa di Jaman Majapahit, jika saja itu ditulis dalam lontar dan dikatakan bahwa itu adalah karya Jawa Kuna, maka bisa jadi akan mempengaruhi studi kesejarahan Bali, dan telah banyak yang mengutip tanpa tahu sumbernya hanyalah tulisan tahun 1970-an. Bersyukur beliau dengan jujur mengatakan bahwa itu adalah karya beliau.

Lontar lelintihan atau babad adalah sebuah “buku silsilah biasa”, penulisannya banyak menggunakan imajinasi penulis yang tidak ketat secara kesejarahan, kadang tak ada dasarnya, kadang diadakan atau dibuat, dikira-kira, dikait-kaitkan. Babad adalah sejarah lisan yang dicatat di atas daun lontar, perlu kritis membacanya, bisa membuat tersesat jika ditelan mentah-mentah.

*Pada tahun 1950-1959, J.L. Swellengrebel di Jakarta turut mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Swellengrebel pernah tinggal di Bali 20 tahun, mulai sekitar dari tahun 1930-an. Untuk lebih jelas tentang penterjemahan alkitab silahkan baca “Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

NABI BERCUKUR: LONTAR ISLAMI LOMBOK UTARA


Lontar Sasak-Nabi Haparas-Hikayat Nabi Yusuf

Suatu hari saya mendapat kesempatan tak terduga membaca lontar koleksi keluarga warga Sasak Daya (Utara).

Awalnya saya hanya datang mengantar teman saya seorang pendeta Kristen yang mendapat undangan ke acara “penurunan pusaka” di Lombok Utara. Saya memposisikan diri sebagai sahabat pendeta yang mendapat undangan dan saya ikut mendokumentasikan.

Sebelum pusakan diturunkan diadakan upacara adat dengan korban kambing 3 ekor, doa bersama, dan dihadiri para sesepuh dan warga, termasuk para santri setempat.

Pusaka mereka ternyata lontar ditambah beberapa permata. Ketika lontar itu hendak dibersihkan (hendak dicelup ke air), sontak saya bergerak dan melarang mereka “membersihkan” dengan cara “tidak standar”. Kamera saya taruh. Saya ikut membersihkan dengan kapas dan minyak kemiri yang kami buat dengan mendadak. Saat itulah saya katakan pada keluarga pemilik kalau saya kebetulan bisa membaca aksara yang dipakai dalam lontar tersebut.

Lontar yang saya baca 2 buah. Hikayat Nabi Yusuf dan Nabi Haparas. Naskah Nabi Haparas masih bagus, sementara Lontar Hikayat Nabi Yusuf sudah banyak yang berlubang.

Menariknya, kedua naskah dimulai dengan Kalimat Syahadat atau Syahadatain. Saya membaca kedua naskah tersebut, dengan sendirinya telah membaca kalimat Syahadat (dua kali) di hadapan para memuka adat dan warga Sasak. Teman saya berkelakar: “Bli sudah sah masuk Islam.” Lanjutnya, “Apalagi disertai potong kambing dan saksi adat”. Semua yang mendengar tersenyum. Saya juga tersenyum. Sebelumnya saya telah membaca beberapa lontar dengan pembukan Kalimat Syahadat, yaitu lontar koleksi Gedong Kirtya Buleleng dan koleksi Museum NTB, Mataram.

Naskah Nabi Haparas (Nabi Bercukur) ini bukan satu-satu naskah yang pernah saya lihat. Saya temukan lontar sejenis menjadi koleksi Museum NTB. Baik lontar di keluarga ini dan koleksi Museum NTB beraksara Jajawen (Sasak) tidak jauh beda dengan aksara Bali dan Jawa. Ada pula beberapa naskah Nabi Haparas yang beraksara Jawi atau Arab Gundul yang salah satunya disimpan di salah satu museum di Malaysia.

Naskah tersebut saya salinan dan saya kerjakan sangat tergesa, dan sampai saat belum sempat saya lengkapi dengan tanda diakritik [daɪ.əˈkrɪtɨk]. Ketika itu salah satu anggota keluarga pemilik lontar sangat ingin segera tahu isinya. Risalah di bawah ini saya serahkan pada keluarga pemilik lontar tersebut, setidaknya memberi gambaran isi naskah Nabi Haparas:

PEMBUKAAN DIMULAI DENGAN KALIMAT SYAHADAT

Lontar Nabi Haparas-Lombok

Dini kaule hanurun, ceritane Nabi Haparas. Dining wanghangapus ringgite, cerite handike nabi, pakse langkunging sang kakot, moge dohing tulak sari, pinatut basa Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring brangti, singamaca moga doh bale hing dunia

(Saya menurunkan, cerita Nabi Bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari balak, menggunakan bahasa Jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari balak dunia).

POKOK-POKOK ISI

a. Perintah langsung dari Allah untuk bercukur.

Hiye Nabi Muhamamad Mursal, punike sabde hiyang widi, wonten hing dalem surat, pinasti hing tuan singgih, tuan kinen hakuris.

(Karena Muhammad adalah Rasul, itu firmannya Allah, yang ada di dalam surat (Al-Qur’an), yang dipastikan oleh tuan sendiri, baginda disuruh bercukur).

b. Destar (sorban/ikat) kepala yang dipakai Nabi setelah dicukur di ambil langsung dari surga.

Pengandikanire Yang Sukseme, mangke maring Jibril, sireng mangkate den henggal, manjinge hing suargiki, hangambile sireki, selembar godonging kayu, godonging kastube, lahambilen din hagelis, mungulembar hiku karya- nane destar.

(Tuhan berfirman, kepada malaikat Jibril, kamu segera berangkat, masuk ke dalam surga, kemudian kamu ambil, selembar daun kayu, namanya daun kastube, cepat kamu ambilkan, hanya selembar untuk destar).

c. Peralatan untuk mencukur dari surga yang langsung dianugerah- kan oleh Allah.

Kinendere yang sukseme, pengangge saking suargi, saking nugrahaning mare hing tuan.

(Perintah dari Yang Kuasa, semua peralatannya dari surga, dianugerahkan oleh Tuhan kepadamu).

d. Malaikat Jibril yang mencukur Nabi.

Lingire Nabi Muhammad, maring sire Jibrail, sape kang amaras hambe, jibril humatur aris, saking pakoning Yang Widi, kangambe kinen hacukur,

(Sabda Nabi Muhammad, kepada Jibril, siapa yang mencukur hamba, jibril menjawab, karena perintah dari Yang Kuasa, hamba yang mencukur tuanku)

e. Rambut Nabi tidak ada yang jatuh ke tanah

Mulane tan tibeng lemah, mankin remantuan singgih, dening samiye tinam- panan, dening sakeh widadari,

(Sebabnya tidak ada yang jatuh ke tanah, semua rambut tuanku, semuanya itu, diambil semua oleh bidadari)

f. Rambut Nabi dijadikan azimat dan gelang tangan oleh bidadari.

Firmaning Yang Maha Muliye, mangke aring widedari, pade mangkate de- nenggal, maring kekasih sun singgih, sire lungake sami, hamupue remanipun, pade kinarye jimat, remane kekasih mami, pade talikne aring egennire, o,

(Firman Yang Kuasa, kepada semua bidadari, kamu semua berangkat, ke- pada kekasihku, kamu sama-sama berangkat, mengambil rambut kekasihku, kamu jadikan azimat, rambutnya kekasihku, kamu jadikan gelang tangan- mu).

KEKUATAN GAIB DAN PERLINDUNGAN 

Lontar ini di dalamnya menjanjikan manfaat besar bagi siapa saja yang menulis/menyalin, menyimpan, membaca, mendengar, membawa, dan percaya akan cerita Nabi Haparas, yaitu:

1. Terhindar dari siksa api neraka dan bebas dari penyakit.

Supaye sire sedaye, sunluput aken hing berajung, saking hing api nera- ke,pome sing sapi nimpeni, hing cerite hiki, kekasih ing sun hacukur, sa- king enggeni satungagal, sun luput aken penyakit,

(Supaya kamu semua, kelak aku ampuni, dari siksa api neraka, jadi siapa saja yang menyimpan, ceritanya ini, kekasih (nabi) bercukur, dari tem- pat yang satu, aku bebaskan dari penyakit)

2. Terhindar dari rasa sakit ketika dicabut nyawanya.

Sun luputaken penyakit, tatkalanire sekarat, lagi pinecat rohe, benjang ingsun wihi sapeat,

(Saya bebaskan dari penyakit, nanti di waktu sakaratul maut, waktu dicabut nyawanya, kelak akan mendapat safaat)

3. Akan mendapat keselamatan.

Make sakowehing kang muliye,o. sun selamet aken sami, hing dunie te-keng aherat, sun luput aken sakowehin sikse,

(Semua akan mendapatkan keselamatan. Akan saya selamatkan semua- nya, dari dunia sampai akhirat, aku bebaskan dari segala galanya, dari bermacam siksa).

4. Terhindar dari pertanyaan kubur dan semua siksa sampai hari kiamat.

Mung Karun Nakirun hike, lan sakowehing sikse kubur, miwahing dine kiyamat,

(soal/pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, semua siksa akan lebur, sampai hari kiyamat).

5. Mendapat Rahmat dan selamat dari bencana.

Lan tan pegat sun tingali, tan pegat sakowehing rahmat, lan sun rakes bencanane, jelme lawan belis lamat,

(Dan tetap saya awasi, dan tidak putus rahmatku, juga saya pelihara dari bencana, dari manusia iblis dan setan laknat)

6. Dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan

Lamun wong ingetene, siren sun weki rahayu, aduh saking duke cipte,

(kalau selalu ingat [cerita Nabi Haparas ini], saya berikan keselamatan, dan dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan).

7. Dipelihara isi rumahmu dan terhindar dari kebakaran

Miwah cerita puniki, simpening wismanire, sun raksanen se isine, wi- smanire sun raksehe, aduk aken hing bale, asal api tan tumuwuh, geni padam dening tirte,

(Dan juga yang menyimpan cerita ini, saya pelihara isi rumahmu, dan rumahnya akan saya jaga, rumahnya dijauhkan dari penyakit, bila di- simpan di dalam rumah, rumahmu tidak akan kebakaran, seperti api di- siram oleh air).

8. Dilipatgandakan harta bendanya

Lamun cerite punike, ginawe aken lelampah, dening pekir miskin teko, hiku sami asung ene, pire hing pawihire, maring pekir miskin iku, hing- sun hangiline sire, o. Upame arte sedemi sun iline itung dase, saking pundi kang pawehe, saking kudrate Yang Sukseme.

(Kalau cerita ini dibawa musafir, oleh para fakir atau miskin, semua akan diberikan, keistimewaan kepadanya, kepada fakir miskin itu, saya yang menggantikannya. Umpamanya harta benda seribu, saya gantikan dengan tujuh ribu, karena besar pemberiannya, sebab semua dari Allah).

9. Akan mendapat syafaat Nabi.

Lan antuk sapaat nabi, lanang sulan sesimungan,samiye antuk berkat karone,lan asung lan kang sinungan,

(Dan juga akan mendapat syafaat nabi,langsung diberikan, semua men- dapatkan berkah,dan bagi yang menyimpan akan diberikan,)

10. Akan mendapatkan rezeki.

Datunging cerite nabi, tatkalanire pinaras, katuranane gelis meng- ko,rahmat ingkang nunggaldine, serte rezekinire, selakse sedine rauh, tanane tuwanging rahmat.

(Tentang ceritanya nabi, diwaktu bercukur, segera akan diberikan, rah- mat yang tiada putusnya, serta rezekinya, tiap hari akan datang, tidak ada putus rahmat-Nya turun)

11. Akan dijaga dari hantu dan binatang buas.

Yen binakte jimat iki, hing karang pringgepunike, hingkang akih durbik- sane, miwah sakoweh sato galak, pade wedi sedayu,

(Dan kalau dipakai menjadi jimat, atau pergi ke tempat yang angkar, tempat itu banyak hantunya, dan banyak binatang buas, semua tidak berani)

12. Akan mendapat keselamatan saat berperang.

Lamun binakte hajurit, sakowehe satru te sirne, bedil wahos pedang totok, tanane hamuyatane, tur kuat paudaniore, saking nugrahaning yang agung, kang hambakte cerite.

(Dan kalau kita bawa berperang, musuh tidak ada yang berani, bedil pedang panah tidak mempan, semua tidak berguna, yang berperang diberikan kekuatan, karena pertolongan dari Tuhan, bila membawa cerita ini).

13. Akan mendapat kebahagian dan disukai banyak orang.

Lamun ane karyaniki, atawe yen gegaweyan, hiku dadiye glis mangko, lan hamanggiye reki rahayu, akih wongike welas, tanane bendoning ra- tu, mpergaule kinasihan.

(Kalau ada pekerjaan, ataupun ada masalah, semuanya cepat selesai, kita dapat kebahagiaan, banyak yang senang pada kita, tidak ada yang ragu, kita semua dikasihani).

14. Akan mati syahid.

Lan manggih benjang yen mati, tan manggih merge kesasar, wong iku sahid patine, hingkang hagaduh cerite,

(Dan kalau meninggal, tidak akan kesasar, disebut juga mati syahid, bagi yang meyakini cerita ini)

h. Bagi yang tidak percaya terhadap cerita ini akan di benci Tuhan dan akan menemui jalan sesat serta dikategorikan sebagai mu- nafik.

Lanore percaya malih, miwah tan harse miyarse, hiku pasti wong munapik, hasengit ingsun kalintang,

(Bila tidak percaya, dan tidak mau mendengarkan, itulah orang munafik namanya, Saya sangat benci, )

Sing sape mahido rike, yadiyan sriking manak, lamun hamakidoe, seyektine wong puniku, pasti manggih marge pape

(Barang siapa yang tidak percaya, atau ragu-ragu dalam hati, dan yang mere- mehkan cerita ini, orang itu nantinya, pasti menemui jalan sesat)

POKOK-POKOK AJARAN KEAGAMAAN

Dalam teks Nabi Haparas ini tegas terdapat pesan-pesan keagamaan Islam:

a. Ajakan untuk mengesakan Allah serta meyakini Allah dan Rasul- nya.

Asyhaduanla puniki, ilaha illallah hike, arti kuketahui reko, dengan hati putih suciye, hiye putus sinak iman, bahwe punike sungguh, tiada tuhan hingkang muliye.

(Aku bersaksi bahwa, ilaha illaallah itu, artinya aku bersaksi, dan diyakinkan dengan hati suci, keyakinan yang sesungguhnya, tiada Tuhan selain Allah, yang paling mulia).

Kang sinembak kang pinuji, setuhu ne ye allah, wajibul ujud te teko, jadikan sakowehing alam, kekak adanye sadiye, wa asyhadu ane puniku, muhammad rasulullah.

(Yang disembah dan dipuji, hanya Allah yang sebenarnya, hukumnya wajib diyakini (percaya), dia pencipta alam semesta, menguasai semua isinya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah).

Artinya kuketahui, dengan hati putih suciye, punike te setuhune, Nabi Muhammad utusan, hing yang kang murbing jagat, kang dadi julme tu wuwuh, hambawe iman Islam.

(Aku mengetahui (meyakini), dengan hati yang suci, dan sebenar-benarnya, Nabi Muhammad utusan-Nya, Allah yang mencipta alam ini, baik manusia jin dan alam semesta serta isinya, memberikan iman dan Islam)

b. Larangan menyekutukan Allah dengan makhluk hidup serta saran untuk selalu mengingat dosa.

Hangesakan sang widi, ngestokan raje kaula, hilingene yen ginawe. setuhune temak rasan, apan hakoweh dumadiye, kurip mati temah hipun, hiling rage nandang dose.

(Bila mau mengesakan Allah, jangan samakan antara raja dengan rakyatnya, sebagai hamba Allah kita selalu ingat pada-Nya, bisa berbicara dan dilihat, adalah pencipta semesta, sejak masih hidup sampai mati, kita selalu ingat dengan dosa).

c. Saran untuk membersihkan diri dan mendengarkan kata hati.

Hiku titah hing dumadi, marmane langsahing awak, inget rage tanpe gawe, dadi hane linur brangte,

(Semua itu adalah perintah-Nya, marilah bersihkan diri, ingatlah bahwa jiwa ini tidak ada gunanya, kita harus mendengarkan kata hati, diceritakan tentang nabi Allah, akan saya kisahkan, di saat bercukur).

Kosmologi dan Arsitektur Sasak


BAGIAN PERTAMA

Bentuk, Fungsi dan Makna Rumah Sasak

Bagi masyarakat Sasak tradisional, rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.

Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan lantai. Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati. Juga sebagai keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu rumah), dan sebaginya.

Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.

Lombok Traditional House with Ann Dunhan (Hawaii University)

Kosmologi: Ruang dan Waktu

Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.

Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug. Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).

Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.(*)

arsitektur sasak-simpan air

Tempat air di sebelah lumbung dan rumah ini penciri rumah Sasak. Sadar sholat dan sembahyang, juga cuci kaki ketika datang dari tempat jauh. Semacam pemisahan dunia luar dan dunia dalam ketika membasuh muka dan kaki memasuki pekarangan.

BAGIAN KEDUA

Pranata dan Ragam Rumah Suku Sasak

Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale Tajuk.

Nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing tempat.

a. Bale Tani

Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi. Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.

Pondasi bale tani terbuat dari tanah, desain atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok) sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak-undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.

b. Bale Jajar

Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap. Penggunaan alang-alang saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq dengan tiang berjumlah enam.

c. Berugaq / Sekepat

Berugaq/sekepat mempunyai bentuk bujur sangkar tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40-50 cm di atas permukaan tanah.

Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq/sekepat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

d. Sekenam

Sekenam bentuknya sama dengan berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

e. Bale Bonter

Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/pejabat desa, dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan desa/kampung. Bale bonter dipergunakan sebagai temopat pesangkepan/persidangan adat, seperti tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat dan sebagainya.

Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak atapnya menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.

f. Bale Beleq Bencingah

Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Bencingah.” Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:

  • Pelantikan pejabat kerajaan
  • Penobatan Putra Mahkota Kerajaan
  • Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan
  • Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan

g. Bale Tajuk

Bale tajuk merupakan salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale

tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

h. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, jenis bangunan lain dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun dengan tujuan untuk menghindari bencana banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk rumah panggung.

Bangunan Pendukung

Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat Sasak membuat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti sambi, alang, dan lombung.

a. Sambi

Sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian masyarakat. Ada beberapa macam bentuk sambi, antara lain sambi sejenis lumbung berbentuk rumah panggung. Bagian atas sambi ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.

Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.

b. Alang

Alang sama dengan lumbung, berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian. Hanya saja alang mempunyai bentuk yang khas, yaitu beratapkan alang-alang dengan lengkungan kira-kira ¾ lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam ke atas. Konstruksi bawahnya menggunakan empat tiang yang ujung tiang bagian atasnya dipadu dengan jelepeng (diikat menjadi satu). Bagian bawah bangunan alang biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat baik siang atau malam hari. Alang biasanya diletakkan di halaman belakang rumah atau dekat dengan kandang hewan.

c. Lumbung

Lumbung adalah tempat untuk menyimpan segala kebutuhan. Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang, karena lumbung biasanya diletakkan di dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. Lumbung berbentuk bulat, dibuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter 1,5 meter untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan berdiameter 3 meter jika diletakkan di luar rumah.

Bahan untuk membuat lumbung adalah bambu, bedek, dan papan kayu sebagai lantai. Di bawah papan lantainya dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudutnya. Atapnya disangga dengan tiang kayu atau bambu berbentuk seperti atap rumah tinggal.

Di samping adanya bangunan pendukung, orang Sasak sangat memperhatikan tanaman yang ada di sekitarnya, karena mereka meyakini bahwa ada beberapa tanaman yang jika ditanam dapat mengundang malapetaka. Tanaman yang tidak boleh ditanam di sekitar rumah adat, antara lain pohon nangka, pohon sawo, pohon jambu air, pohon kelor, pohon kedondong, pohon ceremai, pohon johar, dan pohon maja.

Tulisan ini dihimpun oleh SUGI LANUS dari berbagai sumber on-line dan off-line