HARI PAGERWESI MERIAH DI BULELENG, KENAPA?


– Catatan Harian: Sugi Lanus.

Kenapa Hari Raya Pagerwesi dirayakan dengan meriah di Buleleng, tidak kalah dengan perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan?

Jawaban pendeknya:

Ada petuah (wasiat dan nasehat) dari tetua Buleleng yang diwariskan turun-temurun yang mengamanatkan keturunannya untuk merayakan Pagerwesi secara sungguh-sungguh sebagai PERAYAAN PENEGUHAN LAHIR BATIN.

Pagerwesi adalah hari khusus memagari diri dengan puja dan persembahan banten “Sesayut Pageh Urip” (SESAJI PAGAR JIWA). SESAJI PAGAR JIWA adalah inti ritual perayaan Pagerwesi bagi umat kebanyakan. Bagi para pendeta (sulinggih) hari Pagerwesi adalah hari penegakan “diri sebagai Lingga”, “tubuh niskala Hyang Siwa”, dengan sesaji “Sesayut Panca Lingga” (SESAJI LIMA PILAR BATIN). Ini hari khusus meneguhkan diri Sulinggih menjadikan “diri sebagai poros/pilar semesta” lewat ritual “memutar aksara Brahma” atau “ngarga” dan “mapasang lingga”.

Marilah lebih rinci melihat perayaan Pagerwesi ini karena upacara peneguhan jiwa ini terlebih dahulu diawali oleh 2 perayaan sebelumnya yaitu: Soma Ribek dan Sabuh Mas. Dua perayaan ini pokok-pokok yang tidak terpisahkan dari hari peneguhan jiwa (Pagerwesi).

Apa itu Soma Ribek?

Soma Ribek jatuh pada hari Senin (Soma) wara Pon wuku Sinta, sehari setelah Banyu Pinaruh dan 2 hari setelah Hari Raya Saraswati.

Menurut lontar Sundarigama pada hari ini Sanghyang Tri Murti Amertha beryoga, dengan pulu /lumbung (tempat beras dan tempat padi) selaku tempatnya. Pada hari ini disarankan umat menyampaikan rasa syukur atas keberadaan pangan. Aspek perayaan pangan ini dirayakan dengan menghentikan aktivitas pertanian selama sehari, seperti: Dilarang menumbuk padi, menggiling beras dan sebagainya. Hari ini peralatan pertanian, seperti tengala, cangkul, lampit dstnya disucikan dengan sesaji dan doa-doa serta widhi widana dipusatkan pada persembahyangan di pulu, lumbung atau tempat-tempat penyimpanan padi dan beras.

Soma Ribek, bagi kalangan petani, adalah semacam Hari Pangan. Yang dipuja adalah Sang Hyang Tri Pramana yaitu: Dewi Sri, Bhatara Sadhana dan Dewi Saraswati, dengan menghaturkan upakara di lumbung dan di pulu (gentong beras). Banten atau sesaji yang dihaturkan adalah nyahnyah, gringsing, geti-geti, pisang mas dan wangi-wangian, tanda syukur atas waranugraha berupa amertha (makanan) dan kesuburan pertanian. Pada hari Soma Ribek, selain pantang untuk menumbuk padi dan serta aktivitas produksi pertanian lainnya, dilarang melakukan jual beli padi dan beras.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan perayaan Sabuh Mas.

Apa itu Sabuh Mas?

Sehari setelah Soma Ribek adalah Sabuh Mas. Jatuh pada hari Anggara wara Wage wuku Sinta merupakan Pesucian Sang Hyang Mahadewa dengan melimpahkan restunya pada “raja berana”, semua aset perhiasan berharga seperti segala perhiasan emas, perak, permata, manik-manik dan sebagainya. Benda-benda berharga ini dikumpulkan dan disucikan dengan upacara yadnya/widhi widhana. Bagi umat Hindu Bali hari ini semacam perayaan Hari Aset Berharga.

Hari Raya Pagerwesi

Setelah Soma Ribek, Sabun Mas, datanglah Hari Raya Pagerwesi. Lidah orang Buleleng kadang menyingkatnya jadi PAGORSI atau PEGORSI.

Lontar Sundarigama menyebutkan:

“Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwatumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh”.

Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Lontat ini juga mengamanatkan para sulinggih untuk melakukan puja khusus.

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”.

Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaam (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warga menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Pendeta diminta untuk melakukan upacara “Ngarga” dan “Mapasang Lingga”. Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan yoga-samadhi secara khusus. Banten utama bagi sulinggih adalah Sesayut Panca Lingga, sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Pras Penyeneng dan Banten Penek.

Pagerwesi, jika dilihat dari isi lontar ini, adalah hari puja para sulinggih, namun demikian umat diwajibkan ikut berdoa dan puja. Banten Pagerwesi untuk umat umum (bukan pandita atau sulinggih) adalah natab Sesayut Pageh Urip, Prayascita, Dapetan, dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan.

Pada puja atau persembahyangan Pagerwesi yang membedakan banten Sulinggih dan umat biasa adalah banten upacara “ngarga” dan “mapasang Lingga” (peneguhan dan pengukuhan diri ssbagai titik dari lingga dan hakikat Hyang Siwa) berupa banten Sesayut Panca Lingga untuk perlengkapan puja yang dilakukan pendeta, sementara untuk umat umumnya adalah upacara peneguhan diri berupa Sesayut Pageh Urip (Sesaji Pagar Jiwa).

Selamat merayakan Pagerwesi, selamat mengupayakan peneguhan lahir batin. Selamat merayakan ritual pagar jiwa…

Denpasar, 28 Juni 2016.

PAWUKON: KALENDER BUDAYA DAN IMAJINASI KEBANGSAAN


Oleh: Sugi Lanus

Di bawah ini hanya cuplikan dari working paper riset makna kultural dari pawukon di Lombok, Bali, Jawa, Sunda.

Suku Sunda, Jawa, Bali dan Lombok bisa dikatakan menjadi suku-suku yang sangat vital posisi tawarnya terbentuknya negara Indonesia. Hal ini mengingat warganya, khususnya Jawa dan Sunda, adalah mayoritas dan ‘penentu sejarah’ – baik dari segi jumlah dan juga dari segi panjangnya kesejarahan mereka sebagai sebuah rumpun bangsa serta pengalaman pengoranisasian mereka dari masa pre-historis sampai masa kerajaan kuna dan modern.

Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan bangsa Sunda, Jawa, Bali dan Lombok yang panjang itu diikat oleh sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu oleh pada sistem kalender pawukon – pawukon (30 x 7 hari = 210 hari) dan wewaran (terdiri dari siklus putaran 1 sampai siklus putaran 10) yang diikatkan atau dikombinasikan dengan sitem lunar dan solar – yang mulai dikenal semenjak jaman Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi.

Pawukon sampai saat ini masih sangat relevan mengatur kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok. Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih relevan dimainkan pawukon dan wewaran dalam kehidupan masyarakat Sunda, Jawa, Bali dan Lombok:
1. Mengatur kalender atau agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan (Padewan lan upacarane), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).
2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup, pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut dirangkai atau dilalui lewat slametan (Kabilaèn lan tulak slamêtane).
3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’ dan ruwatannya (Pacandran lan pralambange apadene pangruwate).
4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara jiwa dan obat penghilang lara (Sarat pangupajiwa lan tamba lêlara).
5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup dengan alam dan manusia lain, ini ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gêmêt sajroning wuku sawiji).

Pawukon adalah ‘sistem keyakinan bersama yang padu secara imajiner’ yang menyatukan ‘imajinasi’ mereka sebagai sebuah rumpun bangsa-bangsa. Dalam kehidupan rumpun manusia Sunda, Jawa, Bali dan Lombok (Indonesia), sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kebangsaannya’ masing-masing, mereka dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan bersama, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, ditambah ‘perangai’ wewaran yang memuat berbagai simbul kultural dan sarat mitos. Warga rumpun bangsa Sunda, Jawa, Bali dan Lombok yang lahir sebelum kemerdekaan Indonesia – yang nantinya membentuk negara Indonesia – dari berabad-abad lampau, semenjak nenek moyang mereka, telah diasah dan ‘bertemu’ dalam ‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut, dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh kedalaman rasa akibat berpedoman pada kalender pawukon yang sama.

Pawukon telah berperan sebagai untaian yang mempersatukan irama kehidupan rumpun manusia Sunda, Jawa, Bali dan Lombok secara ‘ritmik-kalenderik’: Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan ‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga berbagai mitologi yang melingkupinya; Bagaimana menemukan hari baik buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan dan berbagai ragam karya untuk kehidupan; Bagaimana memposisikan diri dan mengambil peran dalam memaknai gelagat dan perubahan bangsanya.

Pawukon secara ‘misterius’ menjadi salah-satu pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, dan memberi andil dalam membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang archaic dan kontekstual, namun kurang mendapat perhatian.

WEDA SATRIA


*Catatan Harian Sugi Lanus

Banyak lontar koleksi Raja Raja Bali dulu isinya KAVACA-MANTRA: Mantra Perang. Peneguhan hati. Mantra perlindungan batin dan sang diri. Di samping kavaca-mantra, para raja dan satria punya Weda Satria, puja pagi para sastria, yang dipanjatkan wajib sebagai berdoa dan puja pagi seorang satria.

Raja dalam prosesi pengangkatannya di-ABHISEKA. Lewat proses diksha. Sehingga wajib hukumnya bagi raja untuk melalukan “suryasewana” dengan pedoman Weda Satria, sama dengan sulinggih harus nyurya sewana, hanya beda manual book saja.
Puja pagi Raja ini yang membedakan Raja dengan satria biasa, atau orang kebanyakan, adalah seorang Raja melakukan puja pagi, pedomannya Weda Satria.

Wesya dan pedagang punya Puja Pagi tersendiri. Buka warung atau toko, di pasar dengan sembahyang di Pura Melanting dll.  Para tani dan pekerja pertanian punya Puja sesuai Dharma Pamaculan. Puja dari menjemput air, membenih, biyu kukung dstnya sampai panen dan meletakkan hasil di lumbung.

SEMUA WARNA PUNYA KEMULIAAN YANG SEPADAN DI HADAPAN SEMESTA ALAM. Semua punya puja pagi dan puja swadharmanya. Jika dijalankan dengan baik, seorang petani bisa mencapai kemuliaan tertinggi sebagaimana juga jika seorang sulinggih tekun melakukan puja.

Melihat Puja dari masing masing warna itu dengan pedomannya yang ada di berbagai lontar, sangat jelas, sangat rinci, semua warna menuju keheningan Puja dalam warna puja masing masing.

Keindahan puja petani luar biasa. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa BULIR-BULIR PADI yang dipetik dari lahan pertanian orang Bali, di tangan orang Hindu yang melakukan kerja keras dan puja mendalam, BULIR PADI adalah BULIR-BULIR DOA & KERINGAT.

Puja Satria atau Weda Satria telah banyak dilupakan. Jika trah para satria tiada paham puja (gegelaran) yang harus diujarkan sebagai doa kepada alam semesta dan jiwa umat manusia, masih adakah kaum satria?

Puja dan peneguhan batin yang kita ucapkan sebagai janji diri itulah yang membedakan kita dengan warna kekaryaan kita. Kekaryaan (jenis pekerjaan dalam mencari makan dan penghidupan) kita dan doa/puja yang menyertai tersebut yang disebut dalam terminologi kuno India sebagai Varna.

Tanpa doa puja dan kekaryaan kita tidak punya SWADHARMA, kita tidak punya VARNA, kita hanya penumpang gelap dalam kehidupan. Inilah visi Hindu klasik, agar kita punya atau memilih SVADHARMA dan VARNA, kekaryaan pengabdian dilengkapi puja doa bagi semua makhluk.

Puja Satria, Puja Wesya, Puja Sudra, Puja Brahmana, semuanya sama mulia: Sama-sama mendoakan kesucian dan keharmonisan semesta dan isinya. Secara instrinsik semua puja mantra mereka sepadan, setara, yang nantinya membedakan adalah dorongan niat apa yang memboncengi puja doa mereka. Tidak penting lagi kita trah Brahmin, Satria, Wesya, Sudra, atau lahir dari Candala: Ketulusan atau kepongahan kah yang memboncengi doa-doa kita itu? Di situlah letak pembedanya.

Doa-doa tertulus yang utama, bukan doa-doa yang diucapkan siapa.

Pesan dari sistem Varna adalah kekaryaan yang kita pilih (atau kita jadikan pekerjaan atau pengupa jiwa) adalah warna kita, apapun latar belakang historis leluhur kita. Mobilitas (perpindahan) warna dan swadharma terjadi dalam sejarah. Brahmana menjadi punggawa, petani menjadi pertapa atau biksu, satria menjadi candala karena berbuat di luar etika, dstnya.  Ini memang sulit menerima terutama yang masih berpikir ada warna yang lebih mulia dari yang satunya. Kalau berani berpikir merdeka, dan secara mendalam mengakui masing masing warna punya kemulian masing-masing, maka memilih doa sesuai swadharma kita masing masing sekarang bukan hal yang kontraversial.

Pitutur dan petuah leluhur Bali: “Ngiring margiang swadharmane sowang-sowang”. Marilah jalankan swadharma kita masing-masing (tidak usah dipertentangkan tapi tekuni sedalam-dalamnya swadharma atau kekaryaan kita masing-masing).

HANACARAKA & DIALEKTIKA KEJAWEN


– Catatan Harian Sugi Lanus, Redite 17 Mei 2015.

Masuknya Islam ke Jawa menjadikan wilayah Jawa sebagai tempat dimana ajaran ketuhanan Islam harus disemai di atas sisa-sisa peninggalan peradaban Siwa dan Buddha.

Akasara Jawa pun tidak lepas dari strategi “dialektika politik Kejawen” yang menggarap urutan alphabet Jawa dari ‘ka-kha-ga-nga’ menjadi ‘ha-na-ca-ra-ka’.

Ada indikasi kuat setelah Islam hampir menguasai seluluh wilayah Jawa abad 17, urutan alphabet dan aksara Jawa dirubah dan “dimodernisasi”, disusupkan kisah baru tentang dua-caraka-yang-sama-sakti ‘Hanacaraka’. Munculah kisah caraka (abdi)-nya Aji Saka dan caraka-nya Muhammad yang bertarung ‘pada-jaya-nya’, pertarungan pilih tanding, sama saktinya.

Di bawah ini adalah alphabet Jawa Kuna (lihat foto/gambar).

Alphabet ‘ha-na-ca-ra-ka’ pun mempengaruhi pengajaran aksara Bali, baca tulis, dulunya perpedoman pada alphabet Jawa Kuno dan Bali Kuno, dengan pengajaran aksara diawali dengan menghafal dan menilis aksara “ka-ki-ku-ke-ko” lalu dilanjutkan dengan “ga-gi-gu-ge-go” dan seterusnya.

Pengajaran Hanacaraka di Bali dan kisah hilangnya 2 aksara, yang katanya hanyut di Selat Bali, diperkirakan baru muncul sekitar tahun 1875 seiring pendidikan sekolah rakyat kelas 2 di Bali (Buleleng) memakai/mengadopsi pengajaran aksara Jawa. Buku pedoman pengajaran sekolah rakyat selanjutnya disusun oleh I Ranta mengadopsi pengajaran baca tulis aksara Jawa. Sebelum itu pengajaran di kalangan Bali dengan cara “ka-ki-ku-ke-ko”. Tidak ada dulu kisah 2 aksara jatuh/hayut/kecag di Selat Bali. Aksara yang disebut hanyut itu masih tetap dipakai dalam lontar-lontar Bali sampai kini.

Alphabet Hanacaraka pertama kali muncul dalam karya “Serat Sastra Gending” karya salah satu Raja Jawa yang masyur yaitu Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma (1593-1645), dikenal sebagai Sultan Agung, memerintah Jawa pada tahun 1613 sampai 1645. Penyusunan Ha-na-ca-ra-ka itu termuat penjelasannya dalam karya tersebut sebagai berikut:

1. Bahasa Jawa.

“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.

Bahasa Indonesia.

“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (aksara) dan bunyi gending (macepat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”

2. Bahasa Jawa

“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.

Bahasa Indonesia

“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.

3. Bahasa Jawa.

“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”

Bahasa Indonesia

“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.

4. Bahasa Jawa.

“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.

Bahasa Indonesia.

“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.

5. Bahasa Jawa.

“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.

Bahasa Indonesia.

“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.

6. Bahasa Jawa.

“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.

Bahasa Indonesia

“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”.

SULTAN AGUNG menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending, beliau memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. istem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Sekalipun kalender dicampur, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke tahun 1547 Jawa.

Hanacaraka dan Kalender Jawa yang “direkomposisi” oleh Sultan Agung adalah sebuah “dialektika Kejawen”. Kalender Jawa ini mengakomodasi kalender kebudayaan Jawa sekaligus kalender Islam. Hancaraka memuat kisah bahwa aksara di Jawa dibawa oleh Aji Saka, sekaligus menyerap kisah kedatangan utusan Nabi Muhammad.

Apa yang kita bisa pelajari dari Sultan Agung: Beliau memilih “mendamaikan’ ajaran leluhur dengan “ajaran yang datang belakangan”, dibanding mempertentangkan keduanya.

LONTAR DUNIA MAYA


Kata ‘lontar’ dan ‘dunia maya’, jika sangat digabung, kesannya akan sangat ‘serem’. Tapi begitulah kenyataanya: Ribuan foto lontar, ratusan salinan lontar, juga transaksi penjualan lontar, bisa kita temukan lewat ‘dunia maya’.
 
Ini artinya, ada indikasi, bahwa dunia maya adalah masa depan penyimpanan lontar. Namun demikian, pesatnya perkembangan dunia maya sebagai ‘cloud memory’ penyimpan berbagai lontar, tidak menjanjikan bahwa masa depan atau nasib isi ajaran dan pengetahuan di dalamnya akan bisa dengan mudah dicerna generasi mendatang.
 
Kendala memasuki dunia pemikiran yang terkandung dalam lontar, umumnya:
  1. Lontar memakai aksara yang tidak lagi dipakai dalam penulisan sehari-hari.
  2. Sekalipun sudah ditranslitrasi (alih aksara ke aksara latin), bahasa yang dipakai dalam lontar-lontar itu umumnya bahasa daerah yang semakin menipis pemakaiannya. Bahkan lontar-lontar mengggunakan bahasa yang telah mati, seperti Sansekerta, Jawa-Sunda-Sasak-Batak-Bugis-Bali yang kuno, sehingga tidak mudah menembus artinya.
  3. Kalau paham atau mahir bahasanya, kemungkinan kita terhambat makna dan konteks dari konten (isi) dari lontar tersebut. Seperti lontar pengobatan yang peristilahan sangat esoterik, juga lontar mantra dan pengetahuan ‘kesastraan’ yang sangat tinggi konteks dan konten filsafatnya.
Di bawah ini adalah teks salinan lontar TUTUR SARINING PHALA yang saya temukan di dunia maya. Sebuah contoh bagaimana dengan mudah saya memulung salinan lontar di dunia maya. Isinya sangat luar biasa. Silahkan membacanya.
 
Silahkan lihat 3 kendala dalam memahami lontar yang saya uraikan di atas baca kembali: Kendala no. 1 bisa terlampau, karena sudah merupakan salinan lontar beraksara latin. Apakah kendala 2 dan 3 bisa Anda lampaui?
 
Saya banyak menjumpai bahkan penyalin atau ‘tukang transkrip’ lontar sendiri tidak sepenuhnya paham isi yang disalinnya. Mereka kebanyakan bisa membacanya tapi belum ada jaminan paham isi dan bisa memasuki “dunia makna” dalam lontar tersebut. Saya yakin, pertemuan “lontar dunia maya” dengan seseorang yang paham “dunia makna lontar” bersangkutan adalah “kerja kosmik”, seperti juga sebuah perjodohan pasangan hidup.
 
Selamat (mencoba) membaca dan memasuki “dunia makna lontar” di bawah ini…
 
SALINAN LONTAR ‘TUTUR SARINING ADHI PHALA’.
 
Iki panugrahan Bhatara ring Dalem, nga. sarining adhi phala nia, temah, wisya, dusta ring awak ngawe gering salah beda, buduh, kalanan, ampah yusa, kohos ring brana mulya. Yan sira pingit nganggo panugrahan iki, moga sidhi ngucap, akadang Dewa, katwaning jagat kabeh,wenang sira nunas ica ring Dewa, wus mangkana wenang sira nuduh Sang Hyang Panca Maha Bhuta, wenang ngasorang sehananig tenung, sakeluiring mantra, tutur satus cakep alah denia, banten asoroh alah denig ajuman adulang, mangkana uttama nia ya sira ngangge panugrahan iki, nanging sira tan weruh ring kawisesanta, yan genahang ring umah, Sang Ratuning sarira, dadi pangijeng umah, sedaging pekarangan kaempu denia, nanging elingakna baktinin dening banten ngangken dina rahayu, wenang sira ngangge pangijeng umah, tan kewasa sira kelangkahin, tan keneng wisya, pepasagan, papendeman, acep-acepan, umik-umikan, sakwehig pagawe ala alah denia.
 
Malih yan sira astiti bakti ring Ida, wenang gawenang Khayangan, nista nia, Turus lumbung, Madya nia Gedong, Padma Uttama nia, aywa lupa ring bebanten nia, ngangken dina rahayu, dadi sakti kiwa tengen, tan kasoran dening sarwaning sakti, katekanig Desti, Leak, Bebai, pada nembah ring sira, dadi kauttamanig balian. kauttamanig mantra, kauttamaning kamoksan sekala niskala, sira mungguh suwaha, mangkana uttamnig tutur iki.
 
Iki kaweruhakna, pewarah Bhatara ring Dalem, duk sira wawu mijil ring madya pada dadi manusa, Sang Hyang Tiga Sakti sareng mijil, kairing dening Sang Hyang Panca Maha Bhuta, Ida Sang Hyang Tiga Sakti anerus ring buwana agung, dadi panembahan jagat, malingga ring Pura Dalem, nga. Sang Hyang Sunia Mretta. Ne malingga rig Pura Puseh, nga, Sang Hyang Legi Swara. Ne malingga rig Pura Desa, nga, Sang Hyang Manu Ida, Sang Hyang Tiga Sakti tunasin kasidian, reh Ida Sakti sidhi ngucap, Ida punika susupang ring raga, Bhtara Dalem adegang ring Siwadwara, nga, Ayu Mas Rangda. Bhatara Puseh adegang ring uswan, nga, Sang Hyang Nila Sraya, Bhatara ring Desa adegang ring selanig lelata, nga, Sang Hyang Smara Bhawa. Ida sakti ring sarira, tan hana wani ring sira.
 
Muang Sang Hyag Panca Maha Bhuta, weruh akna kawisesan nia sowang-sowang, muah pasurupan nia kabeh ring sarira, iki luir nia: Ikang panuwa meraga Yeh Nyom, Dadi Bhuta Putih, dadi Bhuta Anggapati, nga, Sang Sidarasa, madeg patih rig Pura Ulun Swi, nga, I Ratu gurah Tangkeb Langit. dadi Dewan Tugu, Dewan Badugul, dadi dewan Sedahan Sawah, muah dadi Dewa pangempu Gumi, dadi Dewa Sarwa sato, yan ring raga magenah ring Kulit. pewayangan nia, segara tanpa tepi, aksara nia SANG meraga mretta sanji wani, trebasan nia dadi peluh, wenang nglukat saletehing sarira, sarat mangan, yadyan kena saupedrawaning Pitara, kalukat denia, Pewayangan nia katon kadi langit galang, kadi kukus, kadi damuh kumaretes, Lelaban nia, ketipat dampulan, taluh bekasem, canang pasucian, segehan nasi kepelan, iwak bawang jahe tasik ireng.
 
Sane paling wayahan, mawak getih, dadi Bhuta Bang, dadi Bhuta Mrajapati, nga, Sang Sidha Sakti, madeg pepatih ring Pura Sada, nga, I Ratu Wayan Teba, dadi Dewan gunung-gunung, Dewan alas, Dewan Marga, Dewan Geluh, yan ring rag Ida magenah ring getih, nga, Tampaking Kuntul ngelayang, aksara nia, BANG, meraga mretta kamandalu, trebasan nia dadi bayu, Wisesa nia nyaga satru rahina wengi, anulak sakeluirig dusta durjana, sekaryaning ala wedi denia, pewayangan nia katon kadi geni, kadi gunung, kadi alas, kadi taru mageng, kadi marga lor. Laba nia, ketipat galeng, ulam taluh, canang pasucian, segehan nasi kepelan barak, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Sane madenan, mawak ari-ari, dadi Bhuta Kuning, dadi Bhuta Banaspati, nga, Ratu Maskuwanda, madeg pepatih ring Pura Puseh, meparab Ratu Made Jelawung, dadi Dewan karang, Dewan tegal peabianan, dadi Dewan Mala Hening, ring ragane magenah ring daging, nga, Galihing Kangkung, Aksara nia, TANG, meraga mretta kundalini, trebasan nia ring bulu, rambut, wisesa nia nulak sakeluirin upas, wisesa nia, mandi teka tawar denia, pewayangan nia katon kadi tegal, kadi angin, kadi umah, kadi tembok tegeh, lelaban nia, ketipat gangsa, iwak sate gede, canang pasucian, segehan nasi kepelan warna kuning, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Sane nyomanan, mawak lamas, dadi Bhuta Ireng, dadi Bhuta Banaspati Raja, nga, Sang Aji Putih, madeg pepatih ring Pura Dalem, meparab, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, Ida sakti tan kena winilang, sakti sekama-kama, Ida dadi Dewan Sema, Dewan Tukad, Dewan pangulun pangkung, dadi dewan Detya Tonya, dadi Dewan Samar, dadi Dewan Taksu, unen-unen, taksu dalang, taksun balian, tenung, saluiring balian sakti, ida ngelancubin, sakti nerus, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yan ring raga magenah ring otot, nga, galihig kangkung, aksara nia, ANG, meraga tirta amretta, trebasan nia dadi banyu, Ida wenang ngasorang saluiring mantra uttama. Ida wenang ngawe piolas, ngawe pangedeg, ngawe ujan, manerang, Ida wenang impasin grubug, saluiring panca baya ring sarira, teka tingglar denia, wenang ngawe pangidep ati, wenang ngawe peglantih medagang, maha sakti maya-maya, wenang ngawe koos, ngawe inih, pewayangan nia katon kadi paksi, kadi manusa patuh ring ragane, kadi anak lingsir masaput poleng, kadi sarwa sekar, laba nia ketipat gong, iwak nia taluh maguling, canang pasucian, segehan nasi kepelan ireng, iwak bawang jahe, tasik ireng.
 
Malih sane pinih ketutan, meraga yeh heningan sarira, dadi Bhuta Manca Warna, nga, Bhuta Tiga Sakti, dadi Bhuta Dengen, madeg patih ring Pura Desa, meparab I Ketut Petung, dadi Pagempu anak beling, dadi pangempu rare, dadi pangempu raga, tan sangsaya ring paran-paran, muang dadi sarwa karya, dadi sangging, dadi tukang, dadi pande, yan ring raga magenah ring jajah, nga, Lontar tanpa tulis, Aksara nia, ING. meraga mretta pawitra, trebasan nia dadi rasa, Ida dadi pengasih jagat, wenang ngalahang satru sakti, pewayangan nia katon kadi peken, katon kadi rare, kadi anak luh jegeg, dadi Dewan gumatap gumitip, laba nia ketipat lepet, ketipat nasi pada-pada akelan, ulam taluh bebek, canang pasucian, segehan nasi kepelan brumbun, iwak bawang jahe tasik ireng,
 
Pangredanan nia, panugrahan Bhtara ring Dalem. I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Ratu Made Jelawung, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, I Ratu Ketut Petung, aja sira lali asanak ring ulun, apan ingulun tan lali bakti astiti ring sira, lah pada metuta sira maring sunianing adnyana, wehan ulun wara lugraha sakti sidhi ngucap, Wong winursita rahasya muka, angamet sarining mretta kesuma namah swaha.
 
Malih hana pangredanan nia liyan. wenang dulurin antuk atur polos. saha pinunase, yan sampun patut upekarane, dadi sidhi sakti sakeluiring tunas, yan sira kurang kasidhian, arad Ida, mangda gelis manyeneng ring raganta, karyaninn ketipat kadi munggah ring arep, dulurin rayunan apajeg kadi katur ring anak agung, ulam bawi, bebek, pada wenang, olah dena sregep, mangda sami becik, maduluran peras ajuman, suci asoroh, daksina, sarwa rantasan, kampuh poleng, tetabuhan genep, arak, tuak, brem, yeh, mangkana krama nia, yan makayun ngadegang kasidhian ring ragane, ayat Ida, Sang Hyang Panca Maha Bhuta muang Ida Bhatara ring Dalem, Puseh, Desa, sami susupang ring raga, mangda sami Ida sweca, ngawijilang iyuse. Mekadi pangenter kesaktiane, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, sareng sameton sami, sane sampun madeg patih, nampihi I Ratu Nyoman.
 
Iki tatenger nia ring raga.
 
Yan kerasa gede raganta, muah metu peluh tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Ngurah Tangkeb Langit malancub ring raganta, sakwehing leteh ring raga ilang de nia.
 
Yan kerasa kebus bahang murub, ika cihna nia I Ratu Wayan Teba melancub ring raganta, sakwehing satru muang gering kalukat den nia,
 
Yan kerasa makesyab awakta, muah mabuah-buah kulit bulunta jering-jering, ika cihna I Ratu Made Jelawung melancub ring raganta, sakwehing wisya, upas, lebur den nia.
 
Yan kerasa makleteg tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan melancub ring raganta, sakwehing wisya pada ilang den nia.
 
Yan kerasa teteh mangrawos, ika cihna nia I Ratu Ketut Petung melancub ring raganta, sakeluiring satru pada asih den nia, muang sanak raman nia, mangkana kramania sowang-sowang aywa lupa, ingeta akna.
 
Puput kesalin manut ring babon nia,
olih Mangku Tude Gembrong.
Saking Banjar Nyuh. Desa Pakraman Nyuh Kukuh.
Desa Ped. Kec. Nusa Penida. Kab. Klungkung. Bali.
ring dina Sukra, Wuku Dukut, Sasih Kalima, Isaka 1929.
Tanggal Masehi 2 Nopember 2007.
 

“NANDURIN KARANG AWAK”: MENYEMAI DI LADANG DIRI.


Oleh Sugi Lanus
 
Nandurin Karang Awak” diambil dari sebaris kalimat yang ditulis Ida Pedanda Made Sidemen dalam puisi (geguritan) berjudul “Selampah Laku“.
 
Karang‘ berarti tanah, ‘awak‘ berarti diri (di dalamnya mencakup diri saya, kamu atau pribadi lainnya), sedangkan ‘nandurin’ berarti mengolah atau menanam. Frase “nandurin karang awak” merupakan ucapan atau nasihat sang penyair kepada sang istri ketika memulai pengisahan perjalanan hidupnya, sebagaimana yang disurat dalam Geguritan Selampah Laku.
 
Kutipan sebait bait lengkap dari Geguritan Selampah lagu yang berisi ‘karang awak’ sebagai berikut:
 
“Beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo ring desa-desa.”
 
Syair itu dapat diartikan:
 
“Kanda sekarang, bersiap menjalani hidup dalam kesederhanaan, tidak punya tanah sawah, pekarangan badan-lah yang (kita) tanami, menjalani hidup dengan pedoman pengetahuan dan kesahajaan pedesaan, sebagaimana berlaku di desa-desa.”
 
Entitas ‘karang‘, ‘awak‘ dan ‘tandurin‘ sebenarnya independen. Namun, dalam kehidupan, ketiganya justru saling tergantung satu sama lain, dalam relasi oleh manusia dengan alam dan budaya agraris. ‘Nandurin‘ menjadi representasi dari kegiatan pertanian, ‘karang‘ menjadi representasi alam, dan ‘awak‘ adalah representasi diri manusia.
 
Melalui gagasan ini, Ida Pedanda Made Sidemen mengajak setiap pembacanya untuk melihat ke dalam diri sendiri dan tidak lagi menoleh ke mana-mana untuk memulai hidup yang bersahaja.
 
Ketika beliau mengatakan bahwa “karang awake tandurin” ketika itu beliau menganjurkan kita utk tak menoleh kemana-mana, bahkan tidak lagi perlu kita melanjutkan kalimat2 dalam karya sastra beliau yang sedang kita baca: “Masuki diri sendiri, pahami diri, renungi sampai ke akar-akarnya diri”.
 
Beliau menulis sastra untuk berhenti “bersastra” lalu menuju “laku diri”.
 
Kesastraan kita, jika bercermin dari karya Selampah Laku, sejauh ini cenderung bersastra utk ‘mendebat’. Menjadi rumit dengan diri. Peranda Made dalam karya-karya beliau–Selampah Laku dll– mengembalikan esensi kata ‘sastra’, yang berakar pada SAS-TRA, yaitu aliran yang membebaskan..
 
Beliau mengajak kita menuju ke aliran sastra yang mengalir di bumi bermuara di dalam hulu diri. Yang paling radikal, beliau mengajak kita terbebas dari sastra itu sendiri, setelah cukup mengantar kita di tepian diri, kita dimintanya meletakkan ‘perahu sastra’ itu di luar, utk menjadi berani berhadap-hadapan dg diri sendiri, merenungi diri. Jika bandingkan dg filsafat Barat, “Selampah Laku” adalah karya perenungan essensialis sekaligus ekstensialis. Essensi dan eksistensi diri direnungi, dimasuki, lebih jauh untuk ditanami (tandurin).
 
Bagi anak petani seperti saya, kata ‘karang‘ dan ‘awak‘ itu adalah ‘variable identitas’ dan ‘variable spiritualitas’; petani ‘mengada’ dengan adanya ‘awak‘ dan ‘karang‘. Jika petani ‘tanpa karang’ ia bukan petani. Jika petani tanpa ‘awak’, ia bukan manusia berkesadaran. Ketika 2 kata ini (karang+awak) digabung menjadi phrase “Karang awak“, phrase ini telah berdiri dan mengkristal menjadi formula filsafati yang berakar pada masyarakat pertanian yang menjungjung harga diri petani, petani yang menempuh jalan ‘ketuhanan’ dengan cara memasuki diri. Menjadi petani, dengan berbekal petunjuk sastra filsafati ini artinya petani mencangkul dan menyemai benih-benih di ladang tegalan dan sawah di luar, sekaligus berladang-tegalan-sawah di dalam diri ‘karang awak‘.
 
Ida Pedanda Made Sidemen mewariskan karya-karya filsafati yang sangat mendalam. Kadang kita baru membacanya sepenggal-sepenggal, tapi sudah latah mendiskusikan dan pongah menjadikannya slogan atau pamflet; akibatnya kitapun terhantar menuju pemahaman “sepenggal-sepenggal”, dan melahirkan pola tingkah “setengah-setengah” (nyalah-nyalah).
 
Ida Pedanda Made Sidemen lahir pada tahun 1878 di Intaran, Sanur, Bali, dan berpulang pada tahun 1984. Selain menghasilkan geguritan, beliau juga mencipta kidung, teks religius, dan puisi tradisional yang biasa disebut kakawin. Selain dikenal luas sebagai penulis karya tulis di atas daun lontar, Ida Pedanda juga dikenal sebagai pengukir topeng, pembuat kulkul (kentongan dari kayu), arsitek tradisional atau undagi yang banyak merestorasi dan renovasi Pura-Pura di Sanur sampai Gianyar.
 
“Nandurin Karang Awak” adalah metafor dunia agraris, metafor yang memancing kerinduan kita untuk menengok hijau sawah dan kemuning tegalan. Ida Pedanda Made Sidemen mengajak kita kembali membumi. Setelah kita menginjakkan kaki pikiran kita di atas di bumi, beliau menyapa kita untuk ingat diri, kembali ke ‘awak’, yang ternyata di dalamnya menunggu bentangan ‘karang’ persawahan yang harus kita garap sendiri, dalam sunyi, dan harus kita garap sendiri.
 
*Versi Inggeris catatan ini dibaca dalam acara ‘tribute night’ untuk Ida Pedanda Made Sidemen, digelar pada malam pertama penyelenggaraan ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’, Selasa (5/10/2011), di Pura Dalem Ubud sekitar pukul 19.30 WITA. Tema dari ‘Ubud Writers and Readers Festival 2011’ adalah “Nandurin Karang Awak: Cultivate The Land Within”.

INI BUKAN SOAL “KARANG AWAK”, TAPI SOAL “NGADEP KARANG”


Oleh Sugi Lanus

*Catatan Harian Januari 2003.

Karena saya mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Bali (dan Jawa Kuno), semasa kuliah saya diajak mengkaji kemuliaan pemikiran dan konsepsi filosofis “KARANG AWAK” (dikutip dari ‘Geguritan Salampah Laku’ karya Ida Pedanda Made Sidemen).”KARANG AWAK” terjemahannya adalah ‘ladang diri’ atau ‘pekarangan diri’, di dalamnya menyentuh persoalan akar keimanan, pekerti, hati nurani, pintu menuju kemuliaan di dalam diri.

Belakangan saya perhatikan “KARANG AWAK” (ladang diri: keimanan, pekerti, hati nurani, pintu menuju kemuliaan di dalam diri) begitu kerap disitir-sitir banyak menjadi jargon dan pemanis pidato.

Tapi catatan saya ini bukan soal “KARANG AWAK” tapi bahaya laten “NGADEP KARANG” (menjual tanah leluhur) yang justru telah memporak-poranda “KARANG AWAK” manusia Bali dewasa ini.

NGADEP KARANG (menjual tanah) Bali menjadi persoalan laten Bali, dan kita sering terpancing, bukan menjadi penahan derasnya arus ngadep tanah, tapi mencari untung sendiri, dengan menjadi maklar dan agen-agen yang memancing di air keruh.

“Orang Bali akan terpinggirkan di pulaunya sendiri”.

“Kita akan tergusur oleh pendatang. Pulau Bali akan dipenuhi bangunan-bangunan wisata dan ruko-ruko, sementara tempat tempat suci akan terhimpit di antara pusat-pusat bisnis itu”.

“Kita akan seperti orang Betawi, yang terpinggirkan dan tak punya tanah di pulau kelahirannya sendiri”.

Kalimat-kalimat tersebut, semakin sering kita dengar sebagai ungkapan “putus asa” orang Bali. Ungkapan-ungkapan itu mengabstraksikan keresahan masyarakat Bali terhadap kerusakan pulau yang dihuninya. Keresahan terhadap nasib bangunan-bangunan suci atau pura yang memang kian terhimpit bangunan-bangunan yang didirikan untuk kepentingan bisnis atau pariwisata. Keresahan masyarakat Denpasar terhadap kian berjubelnya para pendatang dari pulau lain.

Salahkah masyarakat yang resah? Kita tak bisa menyalahkan mereka. Keresahan ini akan terasa wajar seandainya kita lebih jauh menelisik “sejarah keresahan” mereka.

TERBUKANYA BENTENG BALI

Dalam sejarah Bali, umumnya warga desa adat di seantero Bali sebelum era Belanda, sangat mensakralkan dan menjaga kawasan pura-pura mereka. Ini bisa kita lihat bagaimana kisah peneliti-peneliti Bali asal Belanda, seperti Stutterhim dan juga Dr Goris yang begitu susah untuk meneliti pura-pura yang menyimpan prasasti-prasasti. Pada awal-awalnya, masyarakat Bali tidak mengijinkan warga desa lain masuk wilayah pura mereka tanpa alasan yang jelas. Apalagi buat orang asing yang ingin membaca prasasti-prasasti mereka. Namun berkat “pendekatan” para peneliti-peneliti Belanda waktu itu begitu kukuh, dengan keahlian mereka terhadap budaya dan pembacaan prasasti, ditambah lagi kekuasaan Belanda yang mencengkram Bali ketika itu, maka terbukalah pura-pura itu buat mereka. (Sisi baiknya, terbukalah juga isi-isi puluhan prasasti-prasasti yang sangat dikeramatkan itu).

Semenjak itu, era Belanda, pura-pura di Bali mulai “dibuka” untuk orang asing. Dan, tentu saat itu tidak semua orang bisa asing bisa masuk pura. Seorang pelukis Eropa, Niewankamp, yang pertama masuk Bali tahun 1904, setelah beberapa kali kembali datang ke Bali, dan beberapa kali mendatangi Pura Pucak Penulisan, di kawasan Kintamani, tidak diijinkan masuk pura itu. Ia sempat diusir oleh kelompok warga adat.Ia akhirnya diam-diam dengan masuk pura itu dan melukis beberapa bagian bangunannya, tanpa pengetahuan warga adat.

Terbukanya beberapa pura-pura Bali untuk dijadikan sight seeing atau objek kunjungan wisatawan pada awal era pariwisata tak lepas dari polemik dan perdebatan warga atau penyungsungnya. Kalau kini banyak pura-pura sudah masuk brosur-brosur agen perjalanan wisata, “penjualan” seperti ini telah memakan banyak perseteruan warganya. Apakah warga setuju membuka pura mereka untuk orang asing atau tidak? Di beberapa tempat, ini menjadi sumber konflik yang laten memecah warga desa adat. Pura Besakih yang kini menjadi objek favorit kunjungan para wisatawan, apakah memang dari semula bisa dimasuki pengunjung-pengunjung yang tidak sembahyang? Silahkan pembaca jawab sendiri.

PURA-PURA TERGUSUR (TERHIMPIT) HOTEL

Setelah beberapa pura-pura mulai terbuka buat orang asing, yang hanya alasan sebagai wisatawan dan tidak sembahyang bisa leluasa masuk pura-pura yang dulu disakralkan, Bali semenjak era tahu 1970-an memasuki tahap persoalan lebih gawat: terhimpitnya pura-pura. Beberapa Pura Segara di kawasan-kawasan wisata, seperti di Sanur, Legian dan Kuta, kian terhimpit. Sekarang beberapa pura-pura tersebut sulit dibedakan halamannya dengan halaman hotel atau resort yang menghimpitnya. Beberapa pura-pura di pantai-pantai yang dipenuhi hotel-hotel dan restoran, pura seolah-olah adalah pelengkap atau “taman bunga” dari hotel-hotel yang berdiri tinggi menggangkang.

Ketika BNR (Bali Nirwana Resort) beserta lapangan golfnya dibangun, baru saat itu keresahan masyarakat Bali meletus jadi demo besar-besaran. Tapi, demo tinggal demo, kafilah tetap berlalu. Pembangunan BNR jalan terus, pendemo menggerutu sendiri, kehabisan tenaga, kemarahan masa atas terganggunya Kawasan Suci Pura Tanah Lot, seperti bisul saja, meletus lalu “sembuh” sendirinya. Turun Bhisama PHDI. Tak lama saja, kemarahan massa terdiam sendiri. Proyek jalan terus.

[Reklamasi Serangan menuai penolakan dan mangkrak semenjak 1996. Kini, tambahan catatan untuk meng-update catatan ini: Semenjak 2013 sampai 2016 rencana reklamasi mendapat penolakan massif dari NGOs, pemuda, pemerintah lokal (Pemkab Badung dan Pemerintah Kodya Denpasar), serta  desa-desa pakraman yang secara formal lewat rapat atau paruman desa, serta surat ke Presiden RI ditayangkan secara formal oleh 30 desa pakraman].

PURA SUBAK KEHILANGAN SAWAH

Di wilayah perkotaan, semenjak pengembangan Kota Denpasar dan Bandung, dari awalnya sudah mengorbankan Subak. Pusat pemerintahan (kantor gubernuran) di Kawasan Renon, sebelumnya adalah lahan persawahan yang produktif. Kini, Pura Subak di kawasan Renon itu tak punya “penyungsung”. Kalau sawah-sawah telah jadi bangunan-bangunan dan perumahan, lalu Pura Subak apa fungsinya? Sudah belasan Subak yang punah di Denpasar dan Badung. Banyak yang menunggu giliran untuk “dieksekusi mati”. Artinya, telah banyak Pura Subak telah kehilangan fungsi. Silahkan tanya orang-orang tua warga Denpasar dan Badung, berapa subak telah lenyap? Lalu, mari kita bersama-sama berhitung berapa Pura Subak yang “nganggur” (Akan digusurkah? Dijadikan ruko-ruko, KFC atau Dunkin Donuts?)

Mungkin kita semua bertanya: “kemana” Ida Betara-Betari kalau pura-pura Beliau kehilangan sawahnya, kekeramatannya dan kehilangan fungsinya?

MENJUAL NATAH KARANG

Bukan hanya wilayah perkotaan, di desa-desa seantero Bali, pendatang memang datang. Pendatang punya hak untuk datang dan membeli tanah, bangunan, pakarangan (yang tentunya ada sanggah dan tugu keluarga di dalamnya), sebab Pulau Bali adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mereka (pendatang-pendatang itu) adalah warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka punya hak, seperti juga orang Bali punya hak merantau mencari penghidupan ke Sulawesi, Sumatera, Jakarta, Surabaya, Flores, Papua, serta pulau dan kota-kota di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak ada salahnya mereka, tak bisa juga disalahkan masyarakat Bali (Denpasar) yang kian resah karena pendatang. Setiap tahun pertumbuhan penduduk Denpasar cukup tinggi, sebesar 3,1 % pertahun. Ini terdiri dari 0,7 % secara alami (kelahiran), dan 2,4 % karena migran (pendatang). Sekarang penduduk Denpasar 65% kelahiran Denpasar dan 35% pendatang. Tidak dapat disalahkan juga penduduk pulau lain datang sebab Bali (sekali lagi) adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka ingin juga “berebut gula” di Bali yang perkapitanya cukup baik dibanding rata-rata wilayah Indonesia.

Artinya: Masalah kependudukan di Denpasar adalah sangat serius. Ini sebuah potensi konflik yang besar kalau tidak ditangani secara arif. Kalau penangannya tak arif, justru penanganan yang berlebihan dan petugas-petugas yang sebelumnya digaji dan dibentuk untuk mengatasi persoalan ini mempercepat dan memicu meledaknya konflik. Kita dituntun untuk kembali meninjau peraturan yang telah membuat “sewot” pendatang, sekaligus kita perlu kembali menertibkan petugas-petugas penertib yang tak sopan. Perlu pelibatan banyak pemikiran.

Dan masalah kependudukan ini, akan menjadi sebuah persoalan besar kalau ditarik-tarik menjadi persoalan agama dan etnis. Peristiwa pengeksekusian Sanggah keluarga di natah Nyoman Netri (yang sempat dipolemikkan di koran pada awal tahun 2003), yang kemungkinan sudah dibeli secara sah oleh warga yang kebetulan bukan warga Bali itu. Jangan sampai persoalan ini ditarik-tarik menjadi persoalan antar warga pendatang (non-Hindu) dengan persoalan warga adat (Hindu). Ini persoalan penjualan natah pekarangan/ halaman rumah keluarga dengan pembelinya. Masalah pembongkaran sanggah tersebut dapat bisa dipecahkan dengan mendengar petuah para Sadhaka dan Sulinggih serta pengelingsir desa Adat. Bukan dengan pengerahan massa. Bukan dengan meletikkan atau menyulut sentiment umat.

Penjualan tanah natah ini bukan hal yang baru di Denpasar. Berkali terjadi. Bedanya, sempat menjadi kasus dan diberitakan media. Puluhan, mungkin ratusan natah karang dan rumah umat Hindu telah beralih tangan (dijual) ke umat lain. Kalau umat lain telah membeli tanah pekarangan kita yang ada penumun karang atau tugunya, apakah umat lain yang membeli itu kita wajibkan untuk merawatnya atau mertenin? Kita wajibkan mereka mebanten pada tugu itu? Buat umat lain, sanggah dan tugu tentu “tidak punya fungsi”. Seperti juga warga Bali yang membeli rumah warga Muslim di Jakarta yang ada musholla (ruang sholat) keluarganya. Apakah kita (warga Hindu) yang membeli rumah itu akan memfungsikan musholanya tetap sebagai musholla?

Setelah peristiwa ini, sebaiknya pemuka adat dan agama, serta kita semua, harus duduk bersama membicarakan hal ini. Mencarikan jalan tengahnya. Walaupun kita tidak berharap warga Bali menjual karang natahnya, setidaknya kalau mereka terjepit atau terpaksa menjual rumahnya, mereka tahu mau kemana mereka minta petunjuk penyelesaian sekala niskala yang mereka hadapi.

PERSOALAN TANAH ADALAH PERSOALAN AGAMA

Sebagai warga Bali, dengan melihat sejarah “terbukanya” pura-pura buat orang asing dan selanjutnya dijadikannya pura-pura sebagai objek wisata, terhimpitnya banyak pura-pura di tengah ruko-ruko, mal-mal, hotel-hotel dan resort wisata, punahnya subak-subak beserta Pura Subak-nya di perkotaan-perkotaan Pulau Bali, dan terjadinya fenomena masyarakat urban berupa beralih tangan (dijualnya) karang natah umat Hindu ke umat lain, kita dituntut lebih bijak mengurusi persoalan palemahan gumi Bali kita.

Buat kita orang Bali, persoalan natah dan tanah adalah “persoalan agama”, menyangkut keimanan dan ketuhanan manusia Bali. Di tanah dan natah masyarakat Bali, tegak berdiri ribuan tugu dan Sanggah. Lebih besar lagi, berdiri Pura-pura Puseh, sungsungan warga desa adat. Semua pura-pura Sad Kayangan dan pura-pura (parahyangan-parahyangan) lainnya bergantung dari “keutuhan” tanah Bali. Persoalan pelemahan (tanah) adalah persoalan parahyangan (tatanan religiusitas).

Kalau kita menyadari bahwa semua umat Hindu Bali keutuhan lahir-batinnya tergantung parahyangannya, kita dituntut bersikap arif terhadap persoalan tanah dan palemahan di mana parayangan kita berpijak. Kalau kita tidak secara serius memahami dan menyikapi dengan arif persoalan-persoalan yang terkait dengan tanah dan natah kita, dimasa depan benturan terbesar yang terjadi di tengah masyarakat Bali akan muncul dari tanah dan natah. Ini adalah cikal-bakal pecahnya umat Hindu sendiri, telah terlihat dari pecahnya keluarga-keluarga karena sengketa tanah dan natah. Kemalangan kita akan makin bertambah, kalau kita mencari kambing hitam, menjadikan warga perantauan (warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pulau-pulau lain yang merantau ke Bali) menjadi sasaran kemarahan kita.

Dari waktu ke waktu, semakin menumpuk persoalan di pulau yang kita cintai bersama ini. Karenanya, kita mesti lebih banyak merenung: Tidakkah kita sendiri yang teledor?

Leluhur Bali berjuang keras mempertahankan tanah Bali lewat hukum adat dan awig-awig pakraman, bahkan perang perlawanan melawan penjajah: Kenapa kita begitu mudah menjual karang tanah leluhur kita? Begitu mudah menyerahkan tanah air Bali ke pihak-pihak yang datang dengan berbagai upaya menguasai ruang hidup dan tempat-tempat yang disucikan serta wilayah dwe (tanah warisan dan milik desa serta wilayah ulayat Pura), bengang serta karang suwung (tanah atau wilayah konservasi) kita? Kenapa?

Jangan-jangan “ngadep karang” (menjual tanah leluhur) ini terjadi karena semakin banyak wong Bali telah menjual “karang awak-” (ladang diri: keimanan dan pekerti serta hati nurani) -nya sendiri? “Ngadep karang” yang dianggap “hal biasa” pun telah memporak-porandakan “karang awak” dan masa depan manusia Bali.