I dan Ni dalam Nama Orang Bali


Oleh Sugi Lanus

I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific.I semacam Mr dan Ni semacam Ms.

I dan Ni bukan hanya dicantumkan di depan Gede atau Putu, juga di depan Dewa dan Gusti, menjadi I Dewa dan I Gusti. I di depan Da menjadi I-Da (Ida). Ni dicantumkan di depan gelar lama seperti Ni Dyah Tantri. Ni-hyang menjadi Niyang.

Dalam Melayu Kuno dan Bali Kuno ada gelar Da, seperti dalam gelar Raja Sriwijaya Da-punta, gelar sungsungan di Trunyan Da-Tonta. Pejabat desa adat Bungaya dan desa-desa yang termasuk Bali Aga juga bergelar Da (Da Salah, Da Kebayan, Da Manten). Kemungkinan I-Da (Ida) sekarang gabungan dari honorific I + Da. Lama-lama menjadi Ida. Zaman Gelgel dan Majapahit raja bergelar I-Da Dalem. Da Hyang menjadi I-Da Hyang (Ida Hyang). Varian lain dari Da adalah Dang, ini berlaku ketika diikut oleh horific Hyang, menjadi Dang Hyang.

Pejabat Kuturan yang menjabat tahun 1001 di Er Bang (Batur) namanya I Dyah Kayup. Dyah bukan hanya gelar untuk perempuan tapi laki dan perempuan zaman dahulu. Hayam Wuruk juga gelarnya Dyah. Di depan gelar Dyah jika dipakai oleh perempuan maka ditambah Ni, jika laki ditambah I.

Jaman sekarang ingatan dan kemauan memahami sejarah tergolong rendah, honorific I dan Ni yang fungsi awalnya untuk memuliakan semua golongan dan bahkan para dewa serta leluhur di Bali terlupakan.

PARA PERINTIS PERS BALI & KAUM INTELEK BALI UTARA


Oleh Sugi Lanus*

Tahun 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954). Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha). Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah. Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra. Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.” Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955). Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan. Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng.

*Catatan harian ini pernah dimuat di Bali Post, Minggu beberapa tahun lalu.

PEMANGKU, KAUM PENDUSTA & DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN*


1. PEMANGKU

Pemangku adalah orang terpilih yang tugasnya memuja Tuhan, bukan yang lain.

Pemangku diharap menjadi pembimbing umat untuk senantiasa bakti pada Tuhan dan menjunjung nilai-nilai kebenaran dharma.

Lontar Kusumadewa mengatakan:

“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tatwa DewaDewa Tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana Tattwa, I Pamangku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi krama pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharmam, mangda patut pangambile mwang pamargine. “

Terjemahannya:

“Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma kahyangan Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti, paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya”.

Kitab Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma adalah pedoman pemangku dalam bertindak dan mengabdi kepada Beliau. Pemahaman mereka akan hakikat kesusilaan yang bisa mengantar pemangku tidak salah jalan, tidak terjebak urusan duniawi, dan menjadi lupa tugas utamanya sebagai orang terpilih untuk memuja Tuhan, dan bukan memuja yang lain-lain.

2. KAUM PENDUSTA

Pemangku wajib menjauhi kaum pendusta.

Hal ini jelas disebutkan dalam kutipan Lontar Tattwa Siwa Purana sebagai berikut:

“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarayudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta“.

Terjemahannya:

“Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan JANGAN MENGHADAP/DEKAT ATAU BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT (naya dusta).”

Pemangku diharapkan fokus dirinya keurusan ketuhanan, bukan lagi terjebak urusan duniawai dan dilarang bergaul dengan kaum pendusta.

Agar pemangku bisa lepas dari kaum pendusta dan godaan duniawi, pemangku diharapkan tidak menggarap sawah atau tegalan, yang kemungkinan milik orang lain sehingga kalau menggarap sawah orang artinya jadi anak buah orang. Pemangku dilarang jadi anak buah orang atau dilarang menjadi orang upahan.

Menjadi pemangku adalah perjanjian yang bersangkutan untuk menarik diri menjadi 100% abdi Tuhan, tidak jadi jongos siapapun, memuja setiap hari di hadapan “sesuhunan niskala” (keilahian tertinggi) dan mengabdi dalam pelayanan keagamaan.

Hal ini jelas disebutkan dalam lontar Tattwa Siwa Purana:

“SamaIih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer”.

Terjemahannya:

“Dan apa bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer”.

Dengan melepas pekerjaan duniawai itu diharapkan pemangku bisa ajeg memegang prinsip swadharma dan memegang prinsip bergaul benar: aja parek ri salwiring naya dusta” (TIDAK MENGABDI & BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG MEMANIPULASI KEBENARAN ATAU BERNIAT JAHAT).

3 DEMONSTRASI NILAI-NILAI KETUHANAN 

Pemangku wajib mendemontrasikan sikap terpuji di depan umat. Tidak mudah terhasut terjebak urusan duniawi, dan tetap berhati jernih.

Pemangku yang terpuji dan dicintai umat Hindu tentulah pemangku yang bisa mendemontrasikan pemahamannya tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa Dharma; mampu memberi pencerahan umat tentang pedoman hidup lurus, filsafat ketuhanan dan kesusilaan di depan umat.

Demonstrasi pemangku sebagai pelopor pelaksanaan agama yang teguh memuja Tuhan sangat ditunggu kehadirannya di tengah zaman yang memuja kuasa dunia dan uang.

Pemangku yang mampu secara bijaksana mendemontrasikan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai suci itulah yang akan mengharumkan nama Agama Hindu Bali dan mengantar umat menuju jagat sukerta

Jagat sukerta atau jagat-hita-ya—the benefit of the whole universe—terjadi jika pemangku dan sulinggih memberi contoh (mendemontrasikan) pada umat bahwa dirinya adalah panutan yang bisa menjadi pelopor dalam penegakan jati diri, tidak terbayar dan tergiur uang, dan teguh untuk tidak mempolusi udara (dyauh santir), penyelamatan ozon (antariksam santih), ibu pertiwi (prthivi santir), menjaga air-sungai-danau-teluk-laut (apah santir), menjaga tumbuh-tumbuhan (osadhayah santih), dan hutan (vanaspatayah santir).

|| dyauh santir antariksam santih prthivi santir apah santir osadhayah santih I vanaspatayah santir visvedevah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi ll

Semoga ada kedamaian di langit

Semoga ada kedamaian di luar angkasa

Semoga ada kedamaian di bumi

Semoga air menjadi sumber kedamaian

Semoga tanaman obat menjadi sumber kedamaian

Semoga tumbuh-tumbuhan menjadi sumber kedamaian

Semoga para dewa-dewi melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga Brahman melimpahkan kedamaian kepada kita

Semoga semua mahluk ada dalam kedamaian

Semoga ada kedamaian dimana-mana

Semoga ada kedamaian dalam bathin saya.

[Yajur Veda 36.17]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 21 April 2015

HIKAYAT BUNGA-BUNGA


oleh Sugi Lanus

sebuah dongeng untuk Bhuja

Alkisah pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting dan daun-daun. Bunga-bunga berdatangan penuh senyum dan wewangian. Mereka berbaris pelan dan tertib memasuki balairung kerajaan atas angin.

Bunga Kenangan, Cempaka, Teratai, Jepun, Gemitir dan semua bunga lainnya saling menyapa, dengan sangat santun dan suara mereka seperti angin berdesir. Mereka bercengkrama dengan mesra tentang curah hujan, tiupan awan, turunnya kabut dan datangnya musim kumbang mengisap sari.

Di tengah perjamuan dan percakapan bunga-bunga itu, tiba-tiba datang si bunga putih berkelopak banyak. Sekalipun datang terlambat, dengan pongah ia mendongak dari daun-daunnya, ia pamer keindahan. Ia berjalan tanpa sedikitpun merunduk di tengah jamuan bunga-bunga, tanpa basa-basi memperkenalkan diri sambil tetap berjalan.

Hyang Tunggal, yang sedari tadi memperhatikan jalannya perjamuan bunga-bunga dari alam dewa, meniupkan angin ke arah bunga putih itu. Bunga itu terdorong (tulud) dan tersandung ke bawah pohon kelapa (nyuh). Bunga itu selanjutnya disebut bunga Tulud Nyuh.

Di akhir perjamuan itu Hyang Dewata Maha Tunggal menampakkan diri sebagai wangi maha suci dan bersabda:

“Kelak ketika telah kuciptakan manusia, mereka akan mengagumi kalian. Dalam jiwa manusia akan kutiupkan harum bunga-bunga, kelopak indah dan kesuburan putik sari. Kalau mereka rindu padaku, mereka akan mempersembahkan bunga-bunga untuk mewakili rindu mereka.

“Pada waktunya nanti akan terlahir seorang guru batin yang mampu melihat perangai bunga-bunga dan menurunkan ilmu sesaji dan bunga-bunga pada murid-muridnya. Guru batin itu akan melarang murid-muridnya memakai bunga Tulud Nyuh sebagai sesaji karena ia tak ingin murid-muridnya meniru perangai pongah dan tak santun si Tulud Nyuh.”

Sebelum kembali ke alam dewa, Hyang Tunggal memberkati bunga-bunga. Semua bunga diberkati khasiat dan wewangian. Beberapa bunga seperti Padma, Sandat, dan Cempaka serta Jepun bahkan dikaruniai keistimewaan.

Bunga Sandat (Kenanga), sekalipun terkenal dengan bunga yang dengan keharuman tak tercela, dia rendah hati tidak membentangkan kelopaknya. Karena kesahajaannya ia diberkati menjadi satu-satunya bunga yang selayu-layunya masih tetap berbau harum. Ketika direndam dalam air harumnya menyusupi partikel-partikel air dan kelopaknya tak membusuk merusak air.

Bunga Cempaka terberkati keharuman yang mengheningkan pikiran yang menciumnya. Ia mendapat tempat terhormat di antara bunga-bunga karenatak sedikitpun ia menonjolkan diri sekalipun ia putih, harum dan indah. Sampai kini Cempaka memilih menarik diri dan semadi di balik keheningan daun-daunnya yang lebar, tebal dan hijau. Cempaka memiliki keindahan tak tercela, bersih dan harum, tapi tak pamer.

Bunga Jepun Bali yang rela menggugurkan daun-daunnya untuk menumbuhkan kuncup-kuncupnya diberkati keharuman niskala. Berkat karunia Dewata, harum bunga Jepun tak pecah saat ditiup angin. Harumnya bulat seperti kristal saat diterbangkan angin dan mampu menembus pintu surga dan alam leluhur.

Bunga Teratai yang tumbuh dalam sahaja di kerendahan air berlumpur, menjadi bunga yang diberkati dan dikasihi para Dewa. Sekalipun akarnya menapak lumpur, daun dan kelopak-kelopaknya tak tercela bertangkup menyembah langit. Kesuciannya yang tak tersentuh lumpur membuat para orang suci menyembutnya sebagai padma dan pangkaja; pusat semesta yang tak sentuh keruh. Orang Suci mengisahkan Hyang Dewata bisa dijumpai di jantung kesucian padma.

Kemulian hati mendatangkan berkat. Kepongahan dan kecongkakan membuat bunga Tulud Nyuh sampai kini tak dipakai dalam sesaji dan persembahyangan orang Bali. Demikianlah hikayat bunga-bunga.

Mataram, 6 Maret 2010

SIWA-DWARA: PINTU RUHANI MANUSIA BALI


Oleh: Sugi Lanus

Kemanapun orang Bali pergi, ia mengusung ‘jalan’ di ubun-ubunnnya.

Kelebutan (atau pabahan) atau ubun-ubun yang berdenyut ketika bayi masih merah dipercaya sebagai Siwadwara atau ‘jalan Siwa’. Bagian itu dipercaya sebagai jalan hilir mudik ‘ruh’ kita. Jalan menelusuri jagat batiniah, sampai masuk ke ‘alam Siwa’ atau alam kesejatian asal muasal kehidupan.

Ketika beranjak besar sang bayi kehilangan detak di ubun-ubunnya, konon, saat itulah semesta dirinya terputus dengan semesta kesejagatan batiniah. Terlebih setelah dewasa, sang manusia lengah melupakan ‘jalan’ itu, demi menempuh atau bertahan di dunia keseharian yang tidak mudah direngkuh.

Di Siwadwara tidak ada sosok dwarapala (patung penjaga pintu) layaknya sebuah jembatan atau kori puri atau pura. Kepala ditumbuhi rambut, dan rambut itulah yang menjadi semacam dwarapala bagi Siwadwara kita. Sang Biksu mencukur gundul rambutnya, menjadi pertanda ia telah ‘memilih jalan’ untuk kembali membuka Siwadwara yang telah dilebati dan ditutupi hutan rambut. Sang Rsi mengikat rambut dan mapusungan, seakan menandai semua kelebatan dan hutan rambut ‘merujuk’ ke arah Siwadwara.

Dalam praktek Sama-Adi cara Bali, proses ngili-atma atau nuntun-atma, kembali sang calon Pandita diajak ‘membuka kembali’ jalan itu. Merenungi ‘pipa gaib’ yang menjadi poros dan sekaligus pusaran diri. Tegak. Tunggal. Terhubung. Menelusuri hening diri dan titik terdalam di titik 0 kilometer ubun-ubun diri: Siwadwara.

Dalam praktek sederhana orang kebanyakan, jika mebayuh atau melukat, atau proses penyucian dengan air suci, yang dilukat adalah titik ubun-ubun itu juga. Titik itu kembali ‘dibasahi’ dan ‘diurap’ agar kembali lembek dan tidak ‘membatu’ alias tertutup rapat.

Jika kepala (ubun-ubun) membatu, merapat, atau tertutup, maka dipercaya tertutup pulalah hati dan jiwa serta ruhani kita. Tidak lagi terhubung dengan Jiwa Maha Tinggi itu, muasal kehidupan, Sangkan Paraning Dumadi. Ungkapan ‘berkepala batu’ yang mengandung arti keras tak mau mendengar, jika dihubungkan dengan Siwadwara, ia ‘tak mendengar yang batiniah’.

Perkara ubun-ubun sebagai titik tertinggi tubuh secara spiritual inilah yang menjadi salahsatu alasan kenapa orang Bali harus menjaga kepalanya: Tidak boleh sembarangan mesulub atau tidak boleh kena langkahan orang, atau lewat jemuran atau segala yang dianggap leteh (impure) alias kotor secara niskala. Semacam ‘amanat’ bagi orang Bali menjaga kesucian kepala, bahwa ada ‘jalan Siwa’ atau Siwadwara di pabahan (ubun-ubun) kita.

Ungkapan sederhana bahwa ‘Siwadwara ring pabahan’ (Jalan Siwa di bagian atas kepala) makin ditelisik makin tidak sederhana. Ini bisa dianggap metafor, namun di kalangan penekun kebatinan Bali menerima hal ini bukan sebatas metaphor, mereka bisa merasakan getaran ‘jalan Siwa’ kita usung kemana-mana, di atas kepala kita.

Merenungi Siwadwara ini, kembali terngiang tembang pembuka Geguritan Sucita Subudi:

“Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padma Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”.

[Termaktub di kuil-meru dalam diri, memohon pada Hyang Maha Suci, dengan sarana bunga Padma Hredaya, sarana harum kesejukan Budi, didasari tindakan mulia, berbija Menget Prakasa, berasapkan dupa Sad Ripu, berapikan pikiran terang].

Itulah ‘jalan dalam diri’. Geguritan tersebut lebih lanjut membabarkan bahwa di dalam diri Meru (tiang suci) itu tegak lurus bagai buluh berlubang membungbung ke akasa jiwa.

Warisan istilah dan ajaran tentang Siwadwara ini memberi kesadaran pada orang Bali bahwa disamping tubuh sebagai beban, tubuh sekaligus juga ‘jalan’. ‘Siwadwara’ (Jalan batin) tetap kita usung kemana-mana sekalipun kita ‘tertidur’ atau ‘lupa’, dan sampai akhirnya kita harus kembali ‘pulang’ lewat jalan itu pula.

BABAD PALELINTIHAN IDA HYANG YESUS KRISTUS


Tahun 1910 Injil Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Bali oleh Goesti Djilantik. Kitab terjemahan Goesti Djilantik ini dipublikasikan oleh ‘The British and Foreign Bible Society’.

Bagian Matius 1:1-25, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali**, disana disebutkan seperti ini:

1 Puniki babad palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus katurunan Daud, katurunan Abraham.

2 Abraham maputra Ishak, Ishak maputra Yakub, Yakub maputra Yehuda lan semeton-semeton danene.

3 Yehuda maputra Peres miwah Serah (saking rabine Diah Tamar). Peres maputra Hesron, Hesron maputra Ram.

4 Ram maputra Aminadab, Aminadab maputra Nahason, Nahason maputra Salmon.

5 Salmon maputra Boas (saking rabine Diah Rahab). Boas maputra Obed (saking rabine Diah Rut), Obed maputra Isai,

6 Isai maputra Sang Prabu Daud. Daud maputra Salomo (saking rabine sane pecak rabin Dane Uria).

7 Salomo maputra Rehabeam, Rehabeam maputra Abia, Abia maputra Asa.

8 Asa maputra Yosapat, Yosapat maputra Yoram, Yoram maputra Usia.

9 Usia maputra Yotam, Yotam maputra Ahas, Ahas maputra Hiskia.

10 Hiskia maputra Manase, Manase maputra Amon, Amon maputra Yosia.

11 Yosia maputra Yoyakin lan semetonsemeton danene. Daweg punika bangsa Israel kaselong ka Babel

12 Sasampune bangsa Israel maselong ring Babel, Yoyakin maputra Sealtiel, Sealtiel maputra Serubabel.

13 Serubabel maputra Abihud, Abihud maputra Elyakim, Elyakim maputra Asor.

14 Asor maputra Sadok, Sadok maputra Akim, Akim maputra Eliud.

15 Eliud maputra Eleasar, Eleasar maputra Matan, Matan maputra Yakub.

16 Yakub maputra Yusup rabin Diah Maria, sane ngembasang Ida Hyang Yesus sane mabiseka Sang Prabu Sane Kajanjiang antuk Ida Sang Hyang Widi Wasa.

17 Dadosipun ngawit saking Abraham rauh ring Daud, wenten patbelas turunan. Ngawit saking Daud, rauh ring masane kaselong ka Babel taler patbelas turunan. Tur saking masane maselong ka Babel rauh ring masan embas Ida Sang Prabu Sane Kajanjiang punika, taler patbelas turunan.

18 Indik embas Ida Hyang Yesus Kristus katuturanipun sapuniki: Daweg ibun Idane, Diah Maria sampun magegelan sareng Dane Yusup, sadurung dane marabian, Diah Maria jeg sampun mobot. Bobotan danene punika kawitnyane saking Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

19 Gegelan danene, inggih punika Dane Yusup anak sane tansah malaksana patut, nanging dane nenten mapakayunan jaga ngawinang Dane Diah Maria kimud, punika awinanipun Dane Yusup mapakayun megat gegelan danene saking silib.

20 Nanging ritatkala dane ngayun-ngayunin indike punika, raris dane karauhin antuk malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa sajeroning panyumpenan. Sang malaekat ngandika ring dane sapuniki: “Yusup sentanan Sang Prabu Daud, edaja takut nyuang Maria nganggon kurenan, sawireh rarene ane kaduta ento, uli Roh Ida Sang Hyang Widi Wasa.

21 Maria lakar ngembasang putra lanang, tur kita patut marabin anake alit ento Yesus, sawireh Ida lakar ngrahayuang parakaulan Idane uli sakancan dosannyane.”

22 Paindikane punika mula wantah jaga mamargi sakadi asapunika, mangda tegep sabdan Ida Sang Hyang Widi Wasa sane kawarahang antuk nabine, sapuniki

23 “Daane ento lakar beling tur nglekadang pianak muani. Pianakne ento lakar kadanin Immanuel” (sane mateges: “Ida Sang Hyang Widi Wasa nyarengin iraga”)

24 Sasampun Dane Yusup matangi, raris dane ngambil Diah Maria, kanggen rabi satinut ring pangandikan malaekat Ida Sang Hyang Widi Wasa ring dane.

25 Nanging Dane Yusup tan matemu semara ring Diah Maria kantos putrane lanang punika embas. Dane Yusup marabin anake alit punika “Yesus”.

Jika saja kutipan Perjanjian Baru di atas, ditulis di atas daun lontar, dengan aksara Bali, lalu disimpan (disumbangkan) ke Gedung Kitya, mungkinkah naskah atau lontar Babad Palelintihan Ida Hyang Yesus Kristus ini akan sama “tenget” dengan naskah Babad Dalem atau Purana Bali lainnya?

Catatan singkat ini hanya ingin memberi gambaran bahwa lontar adalah sama dengan buku biasa, karena jaman itu tak ada kertas untuk mencatat, maka semua “yang biasa” itu ditulis di atas daun lontar dan huruf Bali, aksara yang dipakai ketika itu.

Banyak lontar baru ditulis, tahun 1950-an yang mengkultuskan satu kelompok brahmana ditulis di Ubud telah jadi acuan keluarga tersebut, diserbarkan dan dicetak menjadi kultus bersama sepulau Bali, dan dianggap seolah-olah ratusan tahun silam.

Demikian juga sebuah lontar yang ditulis teman sebangku saya di SMP yang sekarang kebetulan kami sama-sama menekuni sastra Bali, lontar itu telah dijadikan proyek oleh Pusat Dokumentasi untuk diterjemahkan, seolah-olah lontar tersebut telah ratusan tahun usianya.

Almarhum Guru Ktut Ginarsa menulis babad tentang Bhujangga Waisnawa, semasa hidup beliau, dengan bahasa Jawa Kuna yang sangat tinggi pencapaian bahasanya, sehingga hampir sama dengan bahasa di Jaman Majapahit, jika saja itu ditulis dalam lontar dan dikatakan bahwa itu adalah karya Jawa Kuna, maka bisa jadi akan mempengaruhi studi kesejarahan Bali, dan telah banyak yang mengutip tanpa tahu sumbernya hanyalah tulisan tahun 1970-an. Bersyukur beliau dengan jujur mengatakan bahwa itu adalah karya beliau.

Lontar lelintihan atau babad adalah sebuah “buku silsilah biasa”, penulisannya banyak menggunakan imajinasi penulis yang tidak ketat secara kesejarahan, kadang tak ada dasarnya, kadang diadakan atau dibuat, dikira-kira, dikait-kaitkan. Babad adalah sejarah lisan yang dicatat di atas daun lontar, perlu kritis membacanya, bisa membuat tersesat jika ditelan mentah-mentah.

*Pada tahun 1950-1959, J.L. Swellengrebel di Jakarta turut mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Swellengrebel pernah tinggal di Bali 20 tahun, mulai sekitar dari tahun 1930-an. Untuk lebih jelas tentang penterjemahan alkitab silahkan baca “Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

NABI BERCUKUR: LONTAR ISLAMI LOMBOK UTARA


Lontar Sasak-Nabi Haparas-Hikayat Nabi Yusuf

Suatu hari saya mendapat kesempatan tak terduga membaca lontar koleksi keluarga warga Sasak Daya (Utara).

Awalnya saya hanya datang mengantar teman saya seorang pendeta Kristen yang mendapat undangan ke acara “penurunan pusaka” di Lombok Utara. Saya memposisikan diri sebagai sahabat pendeta yang mendapat undangan dan saya ikut mendokumentasikan.

Sebelum pusakan diturunkan diadakan upacara adat dengan korban kambing 3 ekor, doa bersama, dan dihadiri para sesepuh dan warga, termasuk para santri setempat.

Pusaka mereka ternyata lontar ditambah beberapa permata. Ketika lontar itu hendak dibersihkan (hendak dicelup ke air), sontak saya bergerak dan melarang mereka “membersihkan” dengan cara “tidak standar”. Kamera saya taruh. Saya ikut membersihkan dengan kapas dan minyak kemiri yang kami buat dengan mendadak. Saat itulah saya katakan pada keluarga pemilik kalau saya kebetulan bisa membaca aksara yang dipakai dalam lontar tersebut.

Lontar yang saya baca 2 buah. Hikayat Nabi Yusuf dan Nabi Haparas. Naskah Nabi Haparas masih bagus, sementara Lontar Hikayat Nabi Yusuf sudah banyak yang berlubang.

Menariknya, kedua naskah dimulai dengan Kalimat Syahadat atau Syahadatain. Saya membaca kedua naskah tersebut, dengan sendirinya telah membaca kalimat Syahadat (dua kali) di hadapan para memuka adat dan warga Sasak. Teman saya berkelakar: “Bli sudah sah masuk Islam.” Lanjutnya, “Apalagi disertai potong kambing dan saksi adat”. Semua yang mendengar tersenyum. Saya juga tersenyum. Sebelumnya saya telah membaca beberapa lontar dengan pembukan Kalimat Syahadat, yaitu lontar koleksi Gedong Kirtya Buleleng dan koleksi Museum NTB, Mataram.

Naskah Nabi Haparas (Nabi Bercukur) ini bukan satu-satu naskah yang pernah saya lihat. Saya temukan lontar sejenis menjadi koleksi Museum NTB. Baik lontar di keluarga ini dan koleksi Museum NTB beraksara Jajawen (Sasak) tidak jauh beda dengan aksara Bali dan Jawa. Ada pula beberapa naskah Nabi Haparas yang beraksara Jawi atau Arab Gundul yang salah satunya disimpan di salah satu museum di Malaysia.

Naskah tersebut saya salinan dan saya kerjakan sangat tergesa, dan sampai saat belum sempat saya lengkapi dengan tanda diakritik [daɪ.əˈkrɪtɨk]. Ketika itu salah satu anggota keluarga pemilik lontar sangat ingin segera tahu isinya. Risalah di bawah ini saya serahkan pada keluarga pemilik lontar tersebut, setidaknya memberi gambaran isi naskah Nabi Haparas:

PEMBUKAAN DIMULAI DENGAN KALIMAT SYAHADAT

Lontar Nabi Haparas-Lombok

Dini kaule hanurun, ceritane Nabi Haparas. Dining wanghangapus ringgite, cerite handike nabi, pakse langkunging sang kakot, moge dohing tulak sari, pinatut basa Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring brangti, singamaca moga doh bale hing dunia

(Saya menurunkan, cerita Nabi Bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari balak, menggunakan bahasa Jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari balak dunia).

POKOK-POKOK ISI

a. Perintah langsung dari Allah untuk bercukur.

Hiye Nabi Muhamamad Mursal, punike sabde hiyang widi, wonten hing dalem surat, pinasti hing tuan singgih, tuan kinen hakuris.

(Karena Muhammad adalah Rasul, itu firmannya Allah, yang ada di dalam surat (Al-Qur’an), yang dipastikan oleh tuan sendiri, baginda disuruh bercukur).

b. Destar (sorban/ikat) kepala yang dipakai Nabi setelah dicukur di ambil langsung dari surga.

Pengandikanire Yang Sukseme, mangke maring Jibril, sireng mangkate den henggal, manjinge hing suargiki, hangambile sireki, selembar godonging kayu, godonging kastube, lahambilen din hagelis, mungulembar hiku karya- nane destar.

(Tuhan berfirman, kepada malaikat Jibril, kamu segera berangkat, masuk ke dalam surga, kemudian kamu ambil, selembar daun kayu, namanya daun kastube, cepat kamu ambilkan, hanya selembar untuk destar).

c. Peralatan untuk mencukur dari surga yang langsung dianugerah- kan oleh Allah.

Kinendere yang sukseme, pengangge saking suargi, saking nugrahaning mare hing tuan.

(Perintah dari Yang Kuasa, semua peralatannya dari surga, dianugerahkan oleh Tuhan kepadamu).

d. Malaikat Jibril yang mencukur Nabi.

Lingire Nabi Muhammad, maring sire Jibrail, sape kang amaras hambe, jibril humatur aris, saking pakoning Yang Widi, kangambe kinen hacukur,

(Sabda Nabi Muhammad, kepada Jibril, siapa yang mencukur hamba, jibril menjawab, karena perintah dari Yang Kuasa, hamba yang mencukur tuanku)

e. Rambut Nabi tidak ada yang jatuh ke tanah

Mulane tan tibeng lemah, mankin remantuan singgih, dening samiye tinam- panan, dening sakeh widadari,

(Sebabnya tidak ada yang jatuh ke tanah, semua rambut tuanku, semuanya itu, diambil semua oleh bidadari)

f. Rambut Nabi dijadikan azimat dan gelang tangan oleh bidadari.

Firmaning Yang Maha Muliye, mangke aring widedari, pade mangkate de- nenggal, maring kekasih sun singgih, sire lungake sami, hamupue remanipun, pade kinarye jimat, remane kekasih mami, pade talikne aring egennire, o,

(Firman Yang Kuasa, kepada semua bidadari, kamu semua berangkat, ke- pada kekasihku, kamu sama-sama berangkat, mengambil rambut kekasihku, kamu jadikan azimat, rambutnya kekasihku, kamu jadikan gelang tangan- mu).

KEKUATAN GAIB DAN PERLINDUNGAN 

Lontar ini di dalamnya menjanjikan manfaat besar bagi siapa saja yang menulis/menyalin, menyimpan, membaca, mendengar, membawa, dan percaya akan cerita Nabi Haparas, yaitu:

1. Terhindar dari siksa api neraka dan bebas dari penyakit.

Supaye sire sedaye, sunluput aken hing berajung, saking hing api nera- ke,pome sing sapi nimpeni, hing cerite hiki, kekasih ing sun hacukur, sa- king enggeni satungagal, sun luput aken penyakit,

(Supaya kamu semua, kelak aku ampuni, dari siksa api neraka, jadi siapa saja yang menyimpan, ceritanya ini, kekasih (nabi) bercukur, dari tem- pat yang satu, aku bebaskan dari penyakit)

2. Terhindar dari rasa sakit ketika dicabut nyawanya.

Sun luputaken penyakit, tatkalanire sekarat, lagi pinecat rohe, benjang ingsun wihi sapeat,

(Saya bebaskan dari penyakit, nanti di waktu sakaratul maut, waktu dicabut nyawanya, kelak akan mendapat safaat)

3. Akan mendapat keselamatan.

Make sakowehing kang muliye,o. sun selamet aken sami, hing dunie te-keng aherat, sun luput aken sakowehin sikse,

(Semua akan mendapatkan keselamatan. Akan saya selamatkan semua- nya, dari dunia sampai akhirat, aku bebaskan dari segala galanya, dari bermacam siksa).

4. Terhindar dari pertanyaan kubur dan semua siksa sampai hari kiamat.

Mung Karun Nakirun hike, lan sakowehing sikse kubur, miwahing dine kiyamat,

(soal/pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, semua siksa akan lebur, sampai hari kiyamat).

5. Mendapat Rahmat dan selamat dari bencana.

Lan tan pegat sun tingali, tan pegat sakowehing rahmat, lan sun rakes bencanane, jelme lawan belis lamat,

(Dan tetap saya awasi, dan tidak putus rahmatku, juga saya pelihara dari bencana, dari manusia iblis dan setan laknat)

6. Dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan

Lamun wong ingetene, siren sun weki rahayu, aduh saking duke cipte,

(kalau selalu ingat [cerita Nabi Haparas ini], saya berikan keselamatan, dan dijauhkan dari kesusahan dan kemiskinan).

7. Dipelihara isi rumahmu dan terhindar dari kebakaran

Miwah cerita puniki, simpening wismanire, sun raksanen se isine, wi- smanire sun raksehe, aduk aken hing bale, asal api tan tumuwuh, geni padam dening tirte,

(Dan juga yang menyimpan cerita ini, saya pelihara isi rumahmu, dan rumahnya akan saya jaga, rumahnya dijauhkan dari penyakit, bila di- simpan di dalam rumah, rumahmu tidak akan kebakaran, seperti api di- siram oleh air).

8. Dilipatgandakan harta bendanya

Lamun cerite punike, ginawe aken lelampah, dening pekir miskin teko, hiku sami asung ene, pire hing pawihire, maring pekir miskin iku, hing- sun hangiline sire, o. Upame arte sedemi sun iline itung dase, saking pundi kang pawehe, saking kudrate Yang Sukseme.

(Kalau cerita ini dibawa musafir, oleh para fakir atau miskin, semua akan diberikan, keistimewaan kepadanya, kepada fakir miskin itu, saya yang menggantikannya. Umpamanya harta benda seribu, saya gantikan dengan tujuh ribu, karena besar pemberiannya, sebab semua dari Allah).

9. Akan mendapat syafaat Nabi.

Lan antuk sapaat nabi, lanang sulan sesimungan,samiye antuk berkat karone,lan asung lan kang sinungan,

(Dan juga akan mendapat syafaat nabi,langsung diberikan, semua men- dapatkan berkah,dan bagi yang menyimpan akan diberikan,)

10. Akan mendapatkan rezeki.

Datunging cerite nabi, tatkalanire pinaras, katuranane gelis meng- ko,rahmat ingkang nunggaldine, serte rezekinire, selakse sedine rauh, tanane tuwanging rahmat.

(Tentang ceritanya nabi, diwaktu bercukur, segera akan diberikan, rah- mat yang tiada putusnya, serta rezekinya, tiap hari akan datang, tidak ada putus rahmat-Nya turun)

11. Akan dijaga dari hantu dan binatang buas.

Yen binakte jimat iki, hing karang pringgepunike, hingkang akih durbik- sane, miwah sakoweh sato galak, pade wedi sedayu,

(Dan kalau dipakai menjadi jimat, atau pergi ke tempat yang angkar, tempat itu banyak hantunya, dan banyak binatang buas, semua tidak berani)

12. Akan mendapat keselamatan saat berperang.

Lamun binakte hajurit, sakowehe satru te sirne, bedil wahos pedang totok, tanane hamuyatane, tur kuat paudaniore, saking nugrahaning yang agung, kang hambakte cerite.

(Dan kalau kita bawa berperang, musuh tidak ada yang berani, bedil pedang panah tidak mempan, semua tidak berguna, yang berperang diberikan kekuatan, karena pertolongan dari Tuhan, bila membawa cerita ini).

13. Akan mendapat kebahagian dan disukai banyak orang.

Lamun ane karyaniki, atawe yen gegaweyan, hiku dadiye glis mangko, lan hamanggiye reki rahayu, akih wongike welas, tanane bendoning ra- tu, mpergaule kinasihan.

(Kalau ada pekerjaan, ataupun ada masalah, semuanya cepat selesai, kita dapat kebahagiaan, banyak yang senang pada kita, tidak ada yang ragu, kita semua dikasihani).

14. Akan mati syahid.

Lan manggih benjang yen mati, tan manggih merge kesasar, wong iku sahid patine, hingkang hagaduh cerite,

(Dan kalau meninggal, tidak akan kesasar, disebut juga mati syahid, bagi yang meyakini cerita ini)

h. Bagi yang tidak percaya terhadap cerita ini akan di benci Tuhan dan akan menemui jalan sesat serta dikategorikan sebagai mu- nafik.

Lanore percaya malih, miwah tan harse miyarse, hiku pasti wong munapik, hasengit ingsun kalintang,

(Bila tidak percaya, dan tidak mau mendengarkan, itulah orang munafik namanya, Saya sangat benci, )

Sing sape mahido rike, yadiyan sriking manak, lamun hamakidoe, seyektine wong puniku, pasti manggih marge pape

(Barang siapa yang tidak percaya, atau ragu-ragu dalam hati, dan yang mere- mehkan cerita ini, orang itu nantinya, pasti menemui jalan sesat)

POKOK-POKOK AJARAN KEAGAMAAN

Dalam teks Nabi Haparas ini tegas terdapat pesan-pesan keagamaan Islam:

a. Ajakan untuk mengesakan Allah serta meyakini Allah dan Rasul- nya.

Asyhaduanla puniki, ilaha illallah hike, arti kuketahui reko, dengan hati putih suciye, hiye putus sinak iman, bahwe punike sungguh, tiada tuhan hingkang muliye.

(Aku bersaksi bahwa, ilaha illaallah itu, artinya aku bersaksi, dan diyakinkan dengan hati suci, keyakinan yang sesungguhnya, tiada Tuhan selain Allah, yang paling mulia).

Kang sinembak kang pinuji, setuhu ne ye allah, wajibul ujud te teko, jadikan sakowehing alam, kekak adanye sadiye, wa asyhadu ane puniku, muhammad rasulullah.

(Yang disembah dan dipuji, hanya Allah yang sebenarnya, hukumnya wajib diyakini (percaya), dia pencipta alam semesta, menguasai semua isinya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah).

Artinya kuketahui, dengan hati putih suciye, punike te setuhune, Nabi Muhammad utusan, hing yang kang murbing jagat, kang dadi julme tu wuwuh, hambawe iman Islam.

(Aku mengetahui (meyakini), dengan hati yang suci, dan sebenar-benarnya, Nabi Muhammad utusan-Nya, Allah yang mencipta alam ini, baik manusia jin dan alam semesta serta isinya, memberikan iman dan Islam)

b. Larangan menyekutukan Allah dengan makhluk hidup serta saran untuk selalu mengingat dosa.

Hangesakan sang widi, ngestokan raje kaula, hilingene yen ginawe. setuhune temak rasan, apan hakoweh dumadiye, kurip mati temah hipun, hiling rage nandang dose.

(Bila mau mengesakan Allah, jangan samakan antara raja dengan rakyatnya, sebagai hamba Allah kita selalu ingat pada-Nya, bisa berbicara dan dilihat, adalah pencipta semesta, sejak masih hidup sampai mati, kita selalu ingat dengan dosa).

c. Saran untuk membersihkan diri dan mendengarkan kata hati.

Hiku titah hing dumadi, marmane langsahing awak, inget rage tanpe gawe, dadi hane linur brangte,

(Semua itu adalah perintah-Nya, marilah bersihkan diri, ingatlah bahwa jiwa ini tidak ada gunanya, kita harus mendengarkan kata hati, diceritakan tentang nabi Allah, akan saya kisahkan, di saat bercukur).