Nyastra: Merunut Kembali Arti Kata ‘Sastra’*


Oleh Sugi Lanus

BENTUKAN kata nyastra, dalam bahasa Bali, adalah hal yang sungguh menarik. Lihatlah kata nyaluk, berasal dari kata saluk (pakai). Nyaluk baju, artinya memakai baju. Nyampat berasal dari kata sampat (sapu); nyampat artinya menyapu. Nyastra asal katanya sastra. Nyastra berarti menekuni sastra, yang cenderung punya makna tersirat ”mengimani sastra”.

Seorang yang nyastra melakukan kegiatan brata (puasa) Siwa Latri berdasarkan pada panduan karya sastra Siwa Latri Kalpa. Berbagai purana, yang juga salah satu bentuk sastra, juga menjadi pedoman keimanan banyak orang. Demikian juga itihasa (epos) Ramayana dan Mahabharata, nilai-nilainya, menjadi pedoman hidup seseorang yang memahaminya sebagai Weda yang diurai ke dalam bentuk cerita.

Lantas, apa sebenarnya makna kata sastra pada bentukan kata nyastra? Bisakah seseorang yang menekuni karya-karya sastra modern disebut sebagai seorang yang nyastra? Katakanlah seseorang menekuni karya-karya Neitzsche, Kafka atau Salman Rusdie, dapatkah ia disebut sebagai orang yang nyastra?

Walaupun sulit untuk dijawab, nampaknya, kalau kita amati dengan seksama, seseorang dikatakan nyastra apabila ia menekuni karya-karya sastra religius yang bernuansa Hindu (Sanskrit, Jawa Kuna dan Bali). Orang yang menekuni kakawin Jawa Kuna, ia bisa dikatakan nyastra. Yang menekuni Ramayana, Sarasamuscaya dan serta berbagai tembang Jawa Kuna, bisa dilabeli sebagai orang yang nyastra. Sungguh sulit nampaknya bagi orang Bali bisa menyebut seseorang sebagai seorang yang nyastra bila ia menekuni karya-karya Neitzsche, Kafka atau Salman Rusdie, atau Ay Utami.

Keadaan ini akan menjadi jelas ketika kita mencari arti kata sastra dalam pembendaharaan bahasa Sanskrit atau Jawa Kuna. Kata sastra dalam arti ”aslinya” lebih banyak berarti teks-teks yang berasal dari kedewataan atau naskah-naskah suci. Kata nyastra mirip arti kata filologi dalam arti yang ”paling mula”, yaitu menekuni naskah-naskah atau file-file tua yang lebih banyak mengandung muatan keagamaan dan ketuhanan.

Karya-karya sastra yang lahir dari seorang yang nyastra, dari sisi makna kata ”asli” ini, akhirnya bisa dipahami, lebih banyak bermuatan pencarian religius-filosofis yang mengarah pada pencarian manusia yang merindukan perjumpaannya dengan penciptanya. Atau lebih mengarah pada pembabaran sila (etika spiritual) yang membimbing manusia, pembaca dan penulisnya, makin mendekatkan diri pada persoalan religiuisitas.

Bagi orang yang nyastra, atau yang terpengaruh dengan paham nyastra, teriakan dan kepongahan dalam berkarya adalah hal yang tampaknya harus dihindari. Hasil karya yang ia gubah pun cenderung mereka hindari sebagai kepemilikan pribadi. Karenanya, dalam banyak geguritan dan kakawin, nama pengarang disembunyikan atau anonim. Bagi mereka, karya sastra bukan pertunjukan kemahiran atau pencarian untuk pengakuan luar. Bukan pula diharapkan sebagai jalan meraih popularitas pengarangnya. Berkarya sastra adalah persoalan pencarian diri, sampai dalam berkarya ia merasakan bertemu dengan dirinya, bahkan pembebasan dirinya sampai sang atma (jiwa) menjelaskan hakikat dirinya, atutur ikang atma ri jatinya.

Ini juga yang barangkali membayang-bayangi para penyair yang beragama Hindu (Bali), menjadikan kegiatan menyair sebagai sebuah ”ritus” pencarian diri. Barangkali juga berapa penyair menekuni kegiatan menyair sebagai sebuah ikhtiar ”menemukan” Tuhannya. Karenanya, ia tak ingin masuk ke dalam riuh publikasi. Walaupun ini semua tidak sepenuhnya benar, tapi ada gejala seperti itu yang berhembus. Penyair puisi modern yang bersuku Bali seakan ”malu” untuk bersaing memasuki wilayah persaingan publikasi, walaupun banyak juga yang menikmatinya dan atau tidak ”mengharamkan” publikasi.

Dalam bayang-bayang paham nyastra (atau sebut saja aliran ini sebagai “nyastra-isme”), banyak penulis-penulis puisi berbahasa Bali, pada awal-awalnya memakai nama samaran. Namun, gejala ini nampaknya kian mulai memudar. Kebiasaan mengekspresikan diri dengan menyertakan nama mereka secara terang-terangan sudah makin meluas, sudah menjadi hal yang lumrah.

Nyastraisme pun nampaknya sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas, menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan ”mencari Tuhan”. Barangkali sastra sekarang ini, lebih tepat  dilihat sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi pengarangnya, ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi kadang sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian.

Zaman ini tidak terdengar lagi (hampir tak ada) orang-orangtua Bali menganjurkan anak-anaknya menjalani kehidupan nyastra. Padahal sebelum kemerdekaan dan ”pembakuan” agama dalam wilayah Republik, nyastra adalah jalan yang wajib dijalani untuk menjadi makhluk yang mumpuni dan beriman. Barangkali karena konotasi sastra bukan lagi sebagai holy text, sehingga nyastraisme ikut kehilangan maknanya. Orang Bali pun lebih banyak menyarankan anaknya untuk baik-baik belajar agama, bukan lagi menganjurkan mereka menekuni naskah-naskah religius (nyastra).

Rasanya yang berlebihan kalau mengharap orang-orang tua Bali sekarang menyuruh anaknya untuk nyastra, mereka saja kebanyakan tidak paham makna kata bentukan ini. Nyastra barangkali akan menjadi kata yang hilang digilas perubahan semantis, dimana kata sastra tidak lagi punya konotasi dengan kitab-kitab suci atau teks-teks religius.

Perkembangan semantis kata sastra sungguh menarik. Dari berarti teks atau kitab sakral, kini bermakna meluas, bahkan tercakup di dalamnya karya-karya Neitzsche dan agnotisme, yang ”menghasut” pembaca untuk tidak peduli bahkan menentang Tuhan! Dulu seorang yang ahli sastra dalam Sanskrit dan Jawa Kuna disebut sastradaksa, berarti ahli kitab suci, cenderung bermakna orang suci, sekarang ahli sastra bisa jadi seorang yang anti Tuhan!?

Jangan-jangan Tuhan pun tertawa melihat perkembangan kata sastra! Tidakkah perkembangan semantis kata ini telah menandai arah perkembangan peradaban kita secara keseluruhan?

*Artikel singkat ini pernah dimuat dalam Bali Post Minggu, 5 Juni 2005, di halaman apresiasi sastra yang digawangin oleh Umbu Landu Paranggi.

Workshop dan Bimbingan Teknis Metode Penyusunan Kamus Bali


Workshop on Balinese Lexicography

March 20, 9:00 a.m. – 12.30 a.m. at Ruang Auditorium, Kampus Institute Hindu Dharma Negeri Denpasar, Jalan Ratna No. 51, Denpasar.

Moderator:
Sugi Lanus (IHDN)

Speakers:
1. Prof. I Gusti Made Sutjaja (Udayana University)
2. Prof. Hara Mayuko (Osaka University)

No prior registration is necessary. Anyone is welcome. The working language is Indonesia and Balinese.

Workshop dan Bimbingan Teknis Metode Penyusunan Kamus Bali

Tanggal: 20 Maret 2012. Pukul: 9:00 – 12.30 Wita. Tempat: Ruang Auditorium, Kampus Institute Hindu Dharma Negeri Denpasar, Jalan Ratna No. 51, Denpasar.

Moderator:
Sugi Lanus (IHDN)

Narasumber:
1. Prof. I Gusti Made Sutjaja (Udayana University)*
2. Prof. Hara Mayuko (Osaka University)**

* Profesor Sutjaja adalah professor bidang lingusitik, lulusan S2-S3 Universitas Sydney di bawah bimbingan mahaguru M. Halliday. Prof Sutjaja telah menerbitkan belasan kamus Bali-Indonesia-Inggeris/ Inggeris-Indonesia-Bali dan berbagai buku lainnya terkait bidang ilmu kebahasaan dan sastra. Kamus beliau yang mendapat tanggapan besar dari kalangan internasional adalah Tuttle Concise Balinese Dictionary: Balinese-Indonesian-English/ English-Balinese-Indonesian, 2009, Tuttle
Publication: http://www.ebay.com/itm/TUTTLE-CONCISE-BALINESE-DICTIONARY-GUSTI-MADE-SUTJAJA-PAPERBACK-NEW-/320861299334?pt=US_Nonfiction_Book&hash=item4ab4d2e286#ht_1387wt_1141

** Profesor Mayuko Hara mengenyam pendidikan S1-S2-S3 di Jurusan Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies. Tesis S1-S2-S3nya mengenai Bahasa Bali. Semasa studi S1 sempat mengikuti kuliah di Jurusan Bahasa Bali di Universitas Udayana selama 2 tahun. Menulis di berbagai jurnal internasional terkait Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali. Disertasinya telah terbit dan tersebar secara luas dengan topik Alihkode (code-switching) dan Bentuk Halus dalam Bahasa Bali. Sekarang beliau menjabat sebagai Profesor Madia dan Ketua Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Osaka. Penelitian terkininya perihal kebahasaan masyarakat Bali Aga. Sedang menulis Kamus Bali-Jepang/Jepang-Bali, bersama Prof. Sutjaja.

Workshop terbuka untuk umum. Tidak dikenai biaya. Ruangan workshop memuat sampai 400 orang.

Untuk informasi lebih lengkap hubungi Ms. Seriadi, HP: 081 803 800970; Mr. Nanduq, HP: 0361-876 5491

PUH, KAPUPUHAN dan PUPUH


PUH, KAPUPUHAN & PUPUH

Sugi Lanus | Sarjana Sastra Bali

Apakah kesedihan menjadi pokok persoalan atau pokok (pohon) tumbuhnya kemajuan renungan manusia?

Dalam Bahasa Jawa Kuna, kata PUH dalam Bahasa Jawa Kuna berarti: “Patah, putus, retak, remuk, hancur, patah hati, putus semangat, perasaan hancur, tak berdaya, kehilangan semua daya, lelah sama sekali”. Tapi jika kata ini ditambahi KA (pada awal) dan AN (pada akhir), jadi KA+PUH+AN, berputar balik 180 derajat (menjelma menjadi sosok lain) bermakna: “Keheranan sekali, kagum, tercengang, ternganga, terpesona, terkesima”. Dari KAPUHAN inilah kekuatan ke-bangkit-an itu datang. Lalu yang patah jadi tumbuh dan terkesima, yang rapuh menjadi ternganga. Yang lelah sungguh jadi terkagum. Dan kita terjaga (jagra), bangun dan bangkit, lalu tersenyum melampaui PUH! Menyanyikan PUPUH (kidung) pujian kehidupan.

PUH dan PUPUH

Biasanya dalam perbincangan dan literatur yang tersedia, pupuh diartikan sebagai aturan tembang yang mengikat sebuah geguritan. Berakar dari pupu adalah koleksi atau kumpulan, atau rumpun. Lalu mupu berarti berbuah atau berhasil. Yak mupupu padine? (Bahasa Bali: Apakah padinya mau berhasil?) Pupuan adalah sebuah nama desa di kaki barat pegunungan Batukaru, di titik tengah pulau Bali. Di sana salah tanah persawahan subur membentang, air berlimpah, dan apa yang ditanam selalu mupu.

Kembali ke pupuh, saya lebih terkesima mengkaitkannya dengan Puh dan Kapupuhan. Saya menulis karena KAPUPUHAN, terkesima bertanya dalam hati: Apa sekiranya kaitan PUH dan KAPUPUHAN dan aturan tembang macepat atau geguritan yang disebut PUPUH?

Perjalanan dari PUH menuju KAPUPUHAN dan tercipta PUPUH menjadi sebuah perjalanan yang (biasa) dialami para kawya atau kawi (pengarang Jawa Kuna). Mereka menulis karena “rindu” dan “duka-lara-kangen” lalu “terkesima dan terharu, hanyut dalam rasa keindahan”. Rangkuman perasaan “terkesima dalam keindahan” atau mungkin juga “dalam keindahan terkesima” ini, dalam Bahasa Jawa Kuna, disebut dengan LANGO, lebih jauh disebut KALANGON (tahap batin hanyut kesima keindahan). Di Bali kami mengenal kata KALANGEN (terharu oleh berbagai sebab, termasuk keindahan alam dan kepedihan hidup).

KALANGON adalah sebuah kesadaran batin akibat hentakan kesima, kagum dan terperanjat. Murung dan kesedihan atau duka, PUH, buduh paling kasmaran ring lango, gundah-gulana menyulut seseorang masuk ke tahap kesadaran batin yang KALANGON tersebut. Seorang peneliti terbaik Jawa Kuna Prof. Zoetmulder, menulis SELAYANG PANDANG SASTRA JAWA KUNA, dengan judul besar: KALANGWAN. Menurut beliau, penulisan sastra Jawa Kuna, baik jenis sastra tembang kakawin dan kidung, digerakkan oleh lango. Dalam bentuk karya sastra inilah pencapaian renungan kebudayaan Jawa dan Bali mencapai titik tertinggi secara estetik dan filosofis. Di sini “rindu” dan “kesepian” manusia Jawa (Kuna) dan Bali menjadi pokok (pohon) tumbuhnya “ilmu” dan “kearifan”.

Memasuki Dunia Pupuh

Di alam budaya Sunda, Jawa, Bali dan Sasak, pupuh masih hidup (ditulis dan ditembangkan) dalam bahasa daerah masing-masing.

Di tengah masyarakat Bali, pupuh disebut Sekar Alit, dan identik dengan kegiatan menembangkannya/melagukannya: macapat atau magaguritan.  Dalam pupuh kita mengenal pada-lingsa, atau bisa dikatakan sebagai “paragraf dan anak kalimat”. Guru wilang merupakan ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh , menyangkut banyaknya suku kata setiap barisnya. Elung (patah) adalah istilah yang digunakan apa bila sebuah pupuh melakukan atau melangar guru wilang. Guru dingdong adalah aturan yang mengatur huruf hidup (vokal) pada tiap-tiap akhir suku kata dalam baris-baris kalimat dalam pupuh. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang (membentang-menghalang).

Ada beberapa pupuh yang terdapat di Bali yang masih ditembangkan di pesantian (kelompok pengajian sastra tembang di Bali) atau di radio-radio, seperti: Pupuh Sinom [terbagi dalam varian-ragam irama atau laras Pelog dan Slendro, seperti: Sinom Lumrah , Sinom Genjek (pelog) dan Sinom Wug Payangan, Sinom Dingdang, Sinom Sasak, Sinom Lawe, Sinom Silir (Slendro)], Pupuh Ginada [Ginada Basur, Ginada Linggar Petak, Ginada Jayapura, Ginada Bagus Umbara, Ginada Candrawati (irama Pelog) dan Ginada Eman-eman/Bungkling (irama Slendro)], Pupuh Durma [Durma Lumrah, Durma Lawe (Pelog)], Pupuh Dandang [Dangdang Gula (Pelog)], Pupuh Pangkur [Pangkur Lumrah (Pelog), Pangkur Jawa / Kakidungan (Slendro)], Pupuh Ginanti [Ginanti Lumrah (Pelog & Slendro) dan Ginanti Pangalang (Pelog & Slendro)], Pupuh Semarandana [Ginanti Lumrah (Pelog) dan Semarandana Mendut (Slendro)], Pupuh Pucung (Slendro dan Pelog), Pupuh Megatruh (Laras Pelog), Pupuh Gambuh (Laras Pelog), Pupuh Adri (Laras Pelog), dan Pupuh Demung (Laras Slendro).

Setiap pupuh mengandung jiwa-semangat-suasana yang mampu membangkitkan suasana jiwa. Di atas panggung suasana duka (sedih, kecewa, tertekan, rindu-duka) dibangun dengan dengan menembangkan Pupuh Sinom Lumrah, Sinom Wug Payangan, Semarandana, Ginada Eman-eman, Maskumambang, Demung yang berkarakter haru dan sedih-miris. Pupuh Sinom Lawe, Pucung, Mijil, Ginada Candrawati akan ditembangkan saat berkisah tentang suasana aman, tenang, dan tentram. Lalu untuk tegang, cekam, dan marah (kroda) ditembangkan Pupuh Durma dan Sinom Lumrah. Kegembiraan, suasana meriah, sorak senang (ramiya) dalam Sinom Lumrah, Sinom Genjek, Sinom Lawe, Ginada Basur, Adri, Megatruh. Sekalipun salah satu dari pupuh tersebut bisa saling menggantikan, biasanya para penembang atau penulis geguritan paham pergantian tersebut. Memang tidak ada aturan baku tentang pemilihan pupuh untuk membangun suasana hati dan suasana panggung, tapi begitulah apa yang disinggung di atas menjadi semacam acuan yang bersifat umum dalam “pemanggungan perasaan”, dalam arja, drama gong, pewayangan atau pentas teater tradisional lainnya di Bali. Setiap daerah atau kabupaten di Bali punya cengkok dan elogan yang bervariasi sehingga style melantunkan pupuh sangat kaya dan semuannya mendapat tempat di hati masyarakat.

Memasuki dunia pupuh kita diajak mengenal, bukan hanya renungan dan pemikiran, tapi kita memasuki jagat perasaan (sedih, kecewa, tertekan, rindu-duka, suasana aman, tenang, tentram, tegang, cekam, marah (kroda), kegembiraan, suasana meriah, sorak senang (ramia), kangen, patah hati, dstnya), yang menjadi titik berangkat penulisnya dalam menyusun dan membangun PUPUH. Dunia pupuh telah menjadi kendaraan para sastrawan-wati Bali (serta Sunda, Jawa dan Sasak) memasuki dunia rasa dan dan renungan.

Di dalam pupuh semua perasaan sedih-patah-retak (PUH) dan terheran-agob-ngon-kelangen-kangen dikawinkan. Pupuh menjadi ruang bagi rasa (rasa), basa (bahasa) dan basita (inti dan puncak keindahan rasa-bahasa) untuk saling bertautan. Ketika rasa, basa dan basita saling bertaut, maka apa yang patah, putus, retak, remuk, hancur, patah hati, putus semangat, perasaan hancur, tak berdaya, kehilangan semua daya, dan lelah sama sekali, semuanya terhalus-baur digiling jadi keindahan. Dalam ikatan rasa-basa-basita kita diajak menjejak pendakian PUH menuju KAPUPUHAN, dari jagat KAPUPUHAN kita diajak untuk bangkit berjalan, menyanyi dan menulis PUPUH. ©SL